RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label L3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label L3. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Love Love Love by Glorious Angel

 


















Love Love Love
by: Glorious Angel
Helped by: Prince Novel

Grace Richard menjadi murid SMP juga! Hari-hari SMP yang diimpikan akhirnya menjadi kenyataan! Sudah lama dia menginginkan hal ini!
Tapi, di hari pertama sekolah, ada seorang cowok yang menarik perhatiannya. Dia adalah si Mr. Cool Refan. Untuk pertama kalinya Grace menyadari yang namanya naksir sama cowok. Namun, Refan ternyata tidak seperti yang dia bayangkan selama ini. Dan perkataan Abang-abangnya yang memintanya untuk tidak gampang jatuh cinta membuatnya sadar bahwa Refan bukan orang yang akan ditakdirkan untuknya.
Hanya saja terjadi yang tak terduga, Pangeran Perancis Super Romantis Rachael pindah ke sekolahnya bahkan tinggal di depan rumahnya!
Inilah kisah Grace bersama dengan teman-temannya, keluarganya yang besar dan perasaan pertama untuk cowok yang dia taksir

Read Link

L3 eps 1
L3 eps 2
L3 eps 3
L3 eps 4
L3 eps 5
L3 eps 6
L3 eps 7
L3 eps 8
L3 eps 9
L3 eps 10
L3 eps 11
L3 eps 12
L3 eps 13
L3 eps 14
L3 eps 15(End)


Minggu, 29 Mei 2011

Love Love Love Eps 15

Love for you Love for my family Love for my friend

written by: Glorious Angel

helped by: Prince Novel

15.

Refan with Grace

Refan mengambil soal itu dan duduk untuk mengerjakan soal itu. Berulang kali dia melempar kertas karena tidak menemukan jalan yang sesuai. Berulang kali dia membaca maksud soal dan berulang kali itu pula dia terdiam sambil berpikir. Dia juga tidak menyadari ketika Kim bolak balik mengantarkan minuman dan makanan.

“Papa pulang... aduh, pegal...” kata Geon yang baru datang dari kantor. Grace menyambutnya sambil mengambil kopor ditangan Geon. “Makasih, Sayang...loh?” Geon terheran saat melihat Refan yang berdiri. “Kau anak Hezekiel kan?”

“Ah, iya.”

“Waktu habis. Udah pulang, Pa?” kata Evan ramah sambil mengambil kertas di tangan Refan.

“Papa curiga melihat senyummu itu, Evan,” kata Geon ketika melihat senyuman Evan.

Evan mengerutkan dahinya melihat soal yang dijawab Refan. Baru separoh jalan, itupun cuma benar lima baris doang.

“Yah... gatot. Nilai lima,” kata Evan. “Laksanakan ujian yang selanjutnya.”

“Tapi—”

“Mi—”

“Baik-baik,” kata Refan memotong. Evan tersenyum penuh kemangan. Refan sama sekali tidak menyadari waktu karena tadi mengerjakan soal milik Evan. Udah jam delapan malam.

“Anak Hezekiel, ayo makan dulu,” kata Geon memanggil dari dapur.

Evan mengedip pada Refan.

Keluarga Grace sudah berkumpul di meja makan. Mau tak mau Refan juga menuju meja makan. Dia duduk disamping Daniel—Harry memelototinya ketika dia hendak duduk disamping Grace.

“Rasanya ada yang aneh disini, Ma,” kata Geon heran. “Harry, ada apa?”

“Nggak ada apa-apa,” kata Harry cepat.

“Harry marah karena Anak Hezekiel mengalahkannya dalam hal memasak, Pa,” kata Mark. “ADUH!” Mark mengeluh karena Harry baru saja menginjak kakinya.

“Wah... ada yang bisa mengalahkan Harry ya... tidak disangka,” kata Geon kagum. “Sekali-kali aku juga ingin mencicipi masakanmu.”

“Ini semua masakan Refan, Pa,” kata Kim menujukan makanan di meja makan. “Iya kan, Fan?” dia tersenyum pada Refan.

“Loh, Kim, bukannya kau marah padanya karena merusak senar biolamu?” kata Evan.

“Oooh, senarnya udah diperbaiki, jadi nggak masalah lagi sekarang,” kata Kim.

“Kau selalu menggampangkan permasalahan, ya?” gumam Daniel mengambil sayur.

Dalam acara makan malam itu tidak ada yang bicara kecuali dentang-denting sendok. Grace berdeham dan berkata dengan Papanya, “Pa, apa sih artinya leidu?”

Goen mengerutkan dahi. Abang-abangnya berhenti makan. Refan sampai terbatuk-batuk.

“Leidu?” Geon mengulang. “Papa tidak pernah dengar ada kata itu di kosakata bahasa Inggris. Kamu salah dengar kali sayang.”

“Iya, Grace. Nggak usah dipikirin,” kata Evan cepat. “Kayak mana di sekolah, Dek?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” kata Grace sebal. “Pa, kata Bang Kim itu bahasa Jerman. Leidu itu.. atau ih liebe du... pokoknya yang itu...”

“Dek, kayak mana pelajaranmu?” kata Evan lagi. Harry membantu, “Oh, ya, Dek, tadi ada yang nelepon loh. Rachael. Dia bilang ada urusan penting yang mau dibicarain.”

“Kim, memangnya apa yang dimaksud Grace?” Geon bertanya pada Kim yang sedari tadi kelihatan hendak menghilangkan keberadaan.

“Aduh, Pa. Nggak usah dipikirin,” Mark memotong Kim yang mau bicara. “Papa makan aja dulu makanannya entar dingin udah nggak enak lagi.”

“Mama tidak mengerti kalian bilang apa!” kata Tarandra. “Kalau mau ngomong satu-satu dong!” meja makan sunyi dalam sekejap. “Kita lagi makan anak-anak.”

“Iya, Ma,” kata Harry meminum tehnya.

“Nah, Kim?” Geon menoleh lagi pada Kim. Gawat. Kalau Kim yang ditanya pasti langsung ketahuan. Soalnya dia kan lemot.

“Itu, Pa. Grace tanya apa arti dari ‘Ich leibe du’,” kata Kim polos.

Tuh, kan...

Geon manggut-manggut. “Lalu, apa artinya?”

“Eh?” Kim bengong, begitu juga dengan anak-anaknya yang lain. “Papa nggak bisa bahasa Jerman ya?”

“Hahaha, Papa cuma bisa bahasa Inggris dan Prancis. Bahasa Jerman itu susah. Lalu, apa artinya, Nak?” kata Geon.

“Artinya Aduh!!” Kim meringis ketika Daniel menusuk kaki Kim dengn garpu.

“Aduh? Arti ich leibe du itu aduh ya? Agak mirip, sih,” kata Geon lagi.

Fiuh....

“Masa sih?” Grace tidak percaya. “Masa Refan bilang aduh padahal dia nggak kesakitan apa-apa padaku,” katanya lagi. Refan terbatuk lagi.

“Eh? Yang bilang itu Anak Hezekiel ya?” kata Geon lagi.

“Namaku Refan, Oom bukan Anak Hezekiel.” Kata Refan sebal menyeka air di mulutnya.

“Refan...? Mirip dengan nama anjingmu ya, Kim?” kata Geon pada Kim yang nyengir bersalah—kakinya masih sakit. “Lalu, apa artinya? Apa ada arti lain? Kalau kamu yang bilang kamu pasti tahu artinya kan?”

WHAAAAAAAAAAAT?

“Eh? Eh... ng... itu...” Refan menelan ludah sambil melihat kesana kemari.

Rrrrrrrrrrrr....rrrrrrrrrrrrrrrrrrr.....

Fiuh...... lagi.....

“Mark, angkat teleponnya,” kata Geon. Mark bangkit dan mengangkat telepon cepat-cepat. “Lalu, tadi apa artinya?”

Aduh!! Papa keras kepala banget!!

“Pa, ada telepon dari Hezekiel!” Mark berteriak.

Geon geleng-geleng kepala. Ya ampun. Dia bangkit dan mengangkat telepon.

Selamat....

“Ya halo?” Geon mengangkat telepon itu.

“Geon, apa anakku ada di rumahmu?”

“Iya. Dia ada.”

“Bisa aku bicara dengannya?”

“Oh sebentar. ANAK HEZEKIEL! Telepon!” kata Geon. Dia meletakan gagangnya dan menekan tombol speaker. Dia berselisih jalan dengan Refan saat hendak kembali ke meja makan.

“Halo?”

“ADA DIMANA KAMU? KENAPA BELUM PULANG?”

Refan menyingkirkan gagang teleponnya. Dia menoleh kebelakang dimana keluarga Richard kelihatan shock mendengar suara Hezekiel. “Pa, jangan teriak-teriak di depan telepon.”

“PAPA TIDAK PEDULI! SEKARANG PULANG! DARI TADI MAIN MELULU! KAMU—”

Refan sudah menutup teleponnya sebelum Papanya selesai berceramah.

“Oom, Refan pulang dulu,” Refan sengaja menyebut namanya supaya diingat Geon.

“Papanya seram,” komentar Drew.

***

Minggu. Ujian Kedua.

Setelah keluar dari ibadah Minggu, Refan datang lagi ke rumah Grace. Kali ini dia langsung datang menemui Geon.

“Oom, Refan disuruh untuk mengerjai Anda oleh Evan.”

Tidak bisa dipungkiri kalau Geon marah besar. Hehe, rasain. Dia langsung turun dari tempat Geon dan menemui Daniel.

“Apa?” tanya Daniel heran.

“Ujian.”

“Sama Evan udah selesai?”

“Udah.”

“Tapi Evan masih keluar loh. Dia melapor sama dosen.”

“Aku udah selesai ujian,” Refan mengulang.

“Ya udah. Aku cuma bentar kok. Paling cuma lima menit,” kata Daniel. “Aku cuma menilai penampilanmu sama ekspresi wajahmu doang.”

“Ya udah.”

“Hm...” Daniel mengitari Refan. “Gaya oke, penampilan oke, tampang oke. Nilai tiga puluh.”

“Ha? Kok gitu?”

“Soalnya aku nggak suka punya saingan,” kata Daniel. “Nah, ujian yang kedua cukup gampang. Coba kamu tersenyum yang tulus kayak malaikat.”

Refan terpaku. “Aku nggak bisa.”

“Kau pasti bisa. Masa tersenyum aja nggak bisa?” kata Daniel. “Cepetan. Aku bakal nungguin dengan setia sampai kamu tersenyum.”

Refan mencoba lima menit... sepuluh menit... setengah jam.... satu jam....

“AAH! AKU BOSAN! Mana senyummu? Kau itu kayak patung tahu!” kata Daniel sebal. “Cuma menarik ujung-ujung bibirmu aja susahnya minta ampun!”

Refan menarik ujungt-ujung bibirnya sesuai dengan perkataan Daniel.

“Mirip orang sakit gigi,” komentar Daniel. “Nilai minus empat.”

“Ap—”

“Hay, Fan,” Grace turun dari tangga sambil tersenyum. “Selamat berjuang ya.”

“Makasih,” kata Refan tersenyum.

Daniel terpelongo. “Ya ampun... kau cuma tersenyum kalau ada Grace doang ya?”

Refan terdiam.

“Ya udah. Plus sepuluh kalau gitu. Ujian dariku selesai.”

Refan menghela napas lega. Selesai juga ujiannya.

“Ah, Refan anak Hezekiel, coba kemari sebentar,” Geon memanggilnya dari atas tangga. Baru pertama kali Geon memanggil namanya, tapi tetap saja ada embel-embel Anak Hezekiel di belakangnya.

“Kenapa, Oom?” kata Refan.

“Aku sudah tahu arti Ich leibe du. Kau suka Grace kan? Nah, Oom akan memberimu nilai kalau begitu. Tolong kamu bersihkan kamar Evan ya? Nanti kamu Oom kasih nilai seratus.”

“Dua ratus.”

“Baik. Dua ratus.” Geon setuju. “Ini kamarnya. Aku ngeri melihat kamarnya. Selamat berjuang ya.”

Geon turun sambil bersiul-siul.

Refan membuka pintu kamar Evan. Dia memandang jijik setiap barang yang tergeletak begitu saja di kamar Evan. Ada debu... pakaian, kaca pecah, kabel... ada ya orang yang bisa tidur di tempat seperti ini? Refan benar-benar tidak percaya.

Refan mulai membersihkan kamar Evan. Pertama-tama dia mengumpulkan pakaian kotor Evan yang setelah ditotal memenuhi sepuluh ember. Dia mengumpulkan buku-buku Evan yang berdebu—sempat dia ingin membaca tapi dia harus segera menepis keinginan itu. Lalu dia mulai menyapu, mengepel, melipat, menyusun...

Dia selesai ketika sore tiba.

“Capek...” keluh Refan.

“Wah... bersih...” Geon terlihat senang. “Nilai dua ratus. Hebat sekali.”

Refan tersenyum. Biar, deh... yang penting dapat nilai.

“Harry sudah masak cake. Ayo makan sama-sama, Refan.”

Keluarga Refan minus Evan mengadakan acara minum teh. Rasanya di rumah Grace nyaman sekali. Seperti tidak ada kekurangannya. Dia juga sempat makan malam di rumah Grace. Evan pulang ketika pukul delapan dan langsung berteriak mengagetkan.

“AAAAAAAAAAAAAAARGH!! KAMARKU!!”

Evan menuruni tangga. Wajahnya berang sekali.

“SIAPA YANG MEMBERSIHKAN KAMARKU?”

“Refan,” kata Geon.

“KAU—”

“Papa yang nyuruh, Evan.”

“Aku kan udah bilang kalo kamarku nggak usah dipegang-pegang! Aku nggak bisa mencari barang yang kutemukan kalau bersih begitu!”

Dahi Refan mengerut.

“Kau gila ya? Justru berantakan begitu nggak bisa dicari tahu,” kata Harry. “Udah untung ada yang bersedia membersihkan kamarmu.”

“Aku memang sengaja meletakannya disana supaya mudah dijangkau! Nggak usah ikut-ikut! Aku kehilangan dataku tahu!” kata Evan sebal. “Nilaimu minus dua ratus!”

“Tapi aku—”

“Dan karena kau tidak melaksanakan ujian pertama, nilaimu minus lagi dua ratus!”

“Tidak bo—”

“Melawan Juri! Minus SERATUS!!!”

Refan terdiam.

Evan berbalik dan naik ke kamarnya dengan langkah dihentak-hentak.

“Baiklah,” kata Harry tersenyum senang. “Kurasa sudah saatnya melaksanakan perhitungan nilai. Kita ke halaman belakang.”

“Evan?” kata Kim.

“Dia masih marah. Nggak usah diganggu,” kata Harry.

Mereka pergi ke halaman belakang. Kim membawa catatan.

“Nilai dari Harry dua ratus tujuh puluh,” kata Kim membaca catatannya. “Nilai dari Mark delapan puluh lalu minus enam puluh karena Refan melawan juri minus sepuluh. Nilai dariku minus seratus. Lalu nilai dari Evan plus lima, kemudian minus dua ratus karena tidak melaksanakan tugas pertama dan minus dua ratus karena membersihkan kamarnya lalu minus seratus karena membantah. Nilai dari Daniel tiga puluh untuk penampilan, minus empat karena senyuman yang kayak orang sakit gigi dan plus sepuluh karena tersenyum malaikat. Lalu nilai dari Papa ada dua ratus. Total...ehm minus tujuh puluh sembilan.”

Refan hampir pingsan saat mendengar total nilainya.

“Yah... nilai yang sangat mengecewakan,” kata Harry. “Bahkan nilaimu tidak menyanggupi nilai nol.”

Daniel geleng-geleng kepala.

“Tapi walaupun begitu, kami menerimamu kok.” Kata Mark.

“Eh?” Refan terbengong.

“Biar bagaimanapun, Grace akan memberimu nilai yang lebih dari kami,” kata Kim tersenyum. “Dan itu memenuhi nilai yang kami inginkan.”

“Yah... selamat bergabung dalam keluarga kami, Refan.”

Refan tidak bisa berkata apa-apa saat abang-abang Grace tersenyum padanya dan menyemangatinya.

“Terima kasih.”

“Tapi tampaknya kau harus menembak Grace lagi, deh. Soalnya Grace sama sekali nggak ngerti kau bilang apa. Jangan pake bahasa Jerman. Pake bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang dimengerti!” kata Evan dari lantai atas.

Mereka menatap Evan dan tertawa terbahak.

***

Refan memasuki kelas sambil memasukan tangannya ke kantong celana.

“Pagi, Pangeran!” sapa Pecinrai dan Evol.

“Selamat pagi,” balas Refan sambil melayangkan senyum menawannya. Pecinrai dan Evol nyaris pingsan saat melihat Refan tersenyum.

Anak-anak basket yang melihat adegan itu terbengong.

“Fan, kau sakit?” kata Choki heran. Disampingnya ada Rachael yang sama bingungnya dengan Choki.

“Nggak,” dahi Refan mengerut. “Kenapa?”

“Wajahmu ceria sekali. Jadi takut aku melihatnya,” kata Rachael bingung.

“Soalnya aku sudah dapat tepukan tangan, Rachael, tinggal mawar merahnya doang,” kata Refan.

Rachael terdiam.

“Begitu ya... yah.... mungkin memang waktunya. Kau sudah seharusnya mendapat itu kan?” kata Rachael lagi. “Kuharap kau menjaga mawarnya agak tidak layu.”

Refan tersenyum padanya.

“Tentu saja mawarnya tidak akan kubiarkan layu.”

Refan melewatinya. Tiba-tiba Rachael mendapat pencerahan. Dia merangkul Refan dan berkata, “Bagaimana kalau sekarang kita sobatan aja? Kita kan nggak bersaing lagi soal mawar merah. Gimana?”

“Lepaskan aku!”

“Kalau tidak mau rangkulannya nggak bakal kulepas.”

“Iya, iya!”

“Asiiik.”

***

“Loh? Refan?” Grace terheran ketika melihat Refan ada di pintu depan gerbang rumahnya ketika malam tiba. “Ngapain?”

“Ada yang mau aku tunjukin. Kau mau ikut kan? Sebentar aja.” Kata Refan.

“Tapi ini udah setengah dua belas, Fan.” Kata Grace melihat ke dalam rumah.

“Sebentar aja.” Refan memohon.

“Ya udah, deh.”

Refan menarik tangan Grace.

“Eh? Mau kemana, Fan? Pelan pelan dong!”

Grace harus berusaha menyejajarkan langkah panjang Refan dengan langkahnya yang pendek. Dia menurut saja ketika Refan membawanya ke salah satu helikopter yang baling-balingnya bergerak di lapangan bola.

“Ayo, naik!”

Di badan helikopter ada tulisan. “Hezekiel Heli”.

“Ketempat utama, Pak.” Kata Refan.

“Baik, Tuan.” Kata pilot di depan.

“Kita mau kemana?” kata Grace heran.

“Aku mau menunjukan sesuatu yang lebih indah dari yang pernah dipersembahkan Rachael untukmu.”

Grace terpaku.

Refan tersenyum dan mengacak rambut Grace.

Helikopter mereka terbang tinggi dan membawa mereka melewati lampu-lampu yang terang benderang dibawah. Grace menggumam takjub melihat kecantikan kota waktu malam. Dia juga takjub melihat bangunan yang menjulang tinggi. Angin menghembuskan udara yang dingin, Refan melepas jeketnya dan memberikannya pada Grace.

“Eh, makasih...” kata Grace gugup. Jantungnya berdegup kencang.

“Saatnya pertunjukan!” kata Refan meekan tombol di dekat kursinya. Kursi mereka bergerak dan memasang pegangan. Lalu dalam sekejap mereka berputar ke belakang. Di belakang mereka meluncur semburat kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam diantara gedung-gedung bertingkat yang tinggi.

“Wow..., ” Grace mendesah kagum. “Keren!!”

Di kembang api ada tulisan...

Happy Birthday...

“Eh?”

“Sekarang tepat jam dua belas malam kan?” kata Refan tersenyum lagi. “Hari ulang tahun Grace kan?”

Grace terharu. Dia tidak bisa mengatakan ketika Refan ebrkata itu. Refan ingat padahal Grace sama sekali tidak pernah tahu apa-apa tentang Refan.

Refan menyodorkan pot bunga yang sudah dibungkus Refan.

“Apa ini?” kata Grace heran.

“Bibit bunga Agapanthus. Semoga bunganya bisa mekar dengan indah. Rawat baik-baik ya?” kata Refan lagi.

Grace menerima bunga itu sambil mengangguk. “Tentu.

Ting...

Tiba-tiba kedua bangunan tinggi yang mengapit itu menyala. Setiap jendela menghidupkan lampu masing-masing. Bangunan yang disebelah kiri membentuk huruf I. Bangunan disebelah kanan membentuk huruf U. Lalu kembang api berbentuk hati muncul di tengah-tengah.

“Eh... itu.”

Refan memegang tangan Grace. Jantung Grace seakan hendak keluar ketika melihat wajah Refan yang serius diantara temarang sinar.

“Aku memang tidak peka dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Sifatku jelek dan kadang aku bisa membuatmu kesal. Mungkin aku sering mengecewakanmu atau malah membuatmu merasa tersakiti. Tapi disamping itu semua aku senang bersamamu,” Refan meletakan tangan Grace didada kirinya.

Grace dapat merasakan detak jantung Refan yang cepat.

“Inilah perasaanku. Mungkin aku bukan yang terbaik, tapi aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Grace. Aku sayang Grace karena itu... maukah Grace disisiku? Disampingku? Aku ingin menjaga Grace. Kalau bisa selamanya...”

Grace meneteskan air mata. Dia tertunduk malu pada Refan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Refan bakal membalas perasaannya.

“Aku juga sayang Refan.”

Refan tersenyum dan memeluk Grace.

***

TAMAT

Senin, 28 September 2009

Love Love Love Eps 14


Love for you Love for my family Love for my friend


written by: Glorious Angel

helped by: Prince Novel


14.
Refan versus Richard’s Family + Drew


Grace memegang dahinya dan mencoba mengingat-ingat perkataan Refan sebelum berpisah dengannya hari ini. Sepertinya ada yang aneh dengan diri Refan. Dia tidak tahu apa, tapi yang pasti sangat aneh. Kalau saja kelima abang-abangnya tidak mengganggu tentunya dia bisa mendengar secara pasti Refan bilang apa.
Grace bangkit mengambil kamus bahasa Inggrisnya dan membuka kamus. Leidu... memangnya ada bahasa Inggris leidu? Kayaknya Grace baru dengar itu hari ini, deh. Tapi ternyata tidak ada kosakata leidu. Refan tadi sore bilang ih lei du, leidu atau apa, sih?
Grace mengacak rambutnya. Hari ini menyenangkan sekali. Dia bisa melihat ekspresi Refan yang seperti itu benar-benar lucu. Grace ingin melihat ekspresi yang lain dari Refan.
***
Beberapa jam lalu...
“Ich leibe du.”
Grace mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti. Leidu? Refan ngomong apa, sih?
“Leidu...?”
“Leibe du! Ich leibe du!” kata Refan lagi.
“Leidi du?” kata Grace heran, bingung.
“Leibe, Grace. Aisiteru.” Refan kelihatan putus asa sekali “Aku su—”
“JANGAN MACAM-MACAM, JELEK!”
Abang-abang Grace muncul kayak ninja. Mereka datang secepat kilat dan membentengi Grace sehingga Grace tidak bisa melihat Refan begitu juga sebaliknya.
“Apaan, sih? Aku mau ngomong sama Grace,” kata Refan. “Minggir.”
“Mana mungkin kami mau minggir!” kata Drew keras kepala.
“Apa tadi yang kau katakan pada Adikku yang paling cantik sedunia ini hah? Kau mau bergombal ya? Tidak akan kami ijinkan kau dengan bidadari secantik Grace. Langkahi mayat kami kalau mau dengannya!” kata Mark geram.
“Benar!” Daniel mengangguk setuju.
“Apaan, sih ini? Bang, ada apa?” kata Grace heran.
“Kim! Bawa Tuan Putri ke dalam. Jangan sampai Pangeran Serigala nyasar ini menangkapnya!” kata Harry cepat.
“Baik. Mari, Dek,” Kim menarik Grace masuk ke dalam gerbang rumahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Grace hanya mendengar Refan yang bilang. “Aku tidak akan kalah!”
***
Refan menutup bukunya. Dia tidak konsentrasi membaca. Pikirannya masih tertinggal di depan pintu gerbang rumah Grace.
“Heh, Nak. Kau ini masih SMP kalau mau pacaran tunggulah sampai kau berusia dua puluh tahunan. Masih sepuluh tahun lagi sebelum kau merasakan hal-hal seperti itu.” Kata Mark.
“Apa?”
“Benar. Kami tidak akan mengizinkan kau dengan adik kami.” Kata Harry.
“Aku tahu Grace menyukaiku.”
“Geer,” kata Daniel.
“Aku tidak akan kalah!”
Dia harus melakukan sesuatu pada kelima biang kerok pengganggu itu—kecuali Kim, sepertinya dia hanya ikut-ikutan saja. Dia juga memikirkan keberadaan Rachael yang mengganggu sekali, berisik, sok tahu... menyebalkan...
Refan menggertakan giginya.
Aku tidak mau kalah. Kalau aku kalah maka aku tidak bisa naik ke atas panggung dan mendapatkan tepukan tangan apalagi mawar merah. Tapi menghadapi kelima orang itu tidaklah main-main. Tidak boleh main belakang. Itu pengecut namanya. Aku akan menghadapinya secara langsung. Lima lawan satu. Huh, keroyokan... tapi tidak apa...
Aku akan mengalahkan mereka semua. Pasti!
***
“Hah? Hari ini kita pulang bareng lagi?” Grace terheran-heran ketika Refan menunggunya di gerbang sekolah. “Bukannya kau harus melatih anak-anak basket? Jangan sampai kau melipat gandakan latihan mereka lagi.”
“Ada urusan yang lebih penting dari basket. Lagian mereka bisa latihan sendiri. Aku malas meladeni mereka,” kata Refan datar. “Kelima biang kerok berisik itu ada di rumahmu kan?”
Grace mengerutkan dahi. “Lima biang kerok berisik?” ulangnya heran. “Maksudmu abang-abangku? Tega banget, sih, Fan! Itu kan abangku! Masa dikata-katai di depanku!” kata Grace kesal. Enak banget, sih mengejek-ejek abangnya. Huh! Tidak bisa dimaafkan.
“Jangan marah, dong!” kata Refan ikut-ikutan kesal sekaligus salah tingkah. “Aku ada urusan dengan mereka—maksudku abang-abangmu,” Refan memperjelas ketika melihat raut wajah Grace. “Mereka ada di rumah kan?”
“Ya kalau siang mereka pulang. Katanya makan siang di rumah. Memangnya ada urusan apa, sih?” kata Grace heran.
“Aku mau menantang mereka.”
“Heh? Buat apa?”
“Untuk mendapatkanmu tahu! Ayo cepat pergi! Aku udah nggak sabar membungkam mulut mereka!” Refan menarik tangan Grace yang mengerjap sambil terbengong-bengong.
Mendapatkanku? MENDAPATKANKU? Astaga! Refan suka padaku ya?
Nggak. Nggak. Itu pasti mustahil. Suara hatinya yang lain berbicara. Dia cuma mau menantang kelima abang-abangku. Dia tidak punya maksud sama sekali untuk berkata begitu. Aku salah dengar. Pasti begitu.
Tapi entah kenapa Grace semakin deg-degan ketika Refan sama sekali tidak mau melepas pegangannya dan tetap menarik Grace menuju rumahnya.
***
Harry, Mark, Kim, Evan, Daniel dan Drew menatap Refan dengan tajam tanpa berkedip. Rasanya mereka akan menelan Refan hidup-hidup. Grace sendiri takut melihat aura mereka yang tidak biasa. Mereka berenam menyambut Grace di depan pintu dengan tangan dilipat dan tubuh tegap yang siap tempur.
“Mau apa lagi kau datang kesini, hah? Belum cukup penjelasan yang kukatakan tempo hari?” Harry berbicara dengan nada datar membuat bulu kuduk Grace merinding.
“Belum. Aku menantang kalian dan akan kubuktikan aku bisa melakukan hal yang kalian suruh. Jika aku memuaskan maka kalian harus menerimaku,” kata Refan ikut-ikutan datar.
“Ini bukan permainan anak kecil,” kata Mark dalam. “Kau ini masih cencen. Kim, suruh Grace masuk ke dalam.”
“Aku mau disini. Kalian sebenarnya ada masalah apa, sih? Kok seram banget,” kata Grace menuntut. “Fan, ada masalah apa, sih?”
“Kemarin dia mengatakan hal yang tidak pantas untuk Tuan Putri sepertimu.” Kata Drew. “Masuk ke dalam, Grace. Ini urusan orang dewasa.”
“Refan dan Bang Daniel kan belum dewasa. Bang Evan masih delapan belas tahun! Itu juga belum dibilang dewasa!” kata Grace bersikeras. Daniel menyikut perut Drew. Payah banget kalo ngomong sama Grace.
“Ini urusan laki-laki kalau begitu. Anak perempuan nggak perlu ikut campur,” kata Daniel memperbaiki ucapan Drew.
“Aku mau tanya. Memangnya kemarin Refan bilang apa? Aku sama sekali nggak ngerti.” Kata Grace. Refan dan keenam orang itu melotot padanya.
“Kau tak tahu artinya?” kata Kim heran. “Dek, itu bahasa Jerman.”
“Yang aku tahu cuma bahasa Inggris doang! Jadi apa artinya?” kata Grace lagi.
“A—”
“Itu nggak penting. Dek, masuk ke kamar,” kata Harry dalam dan menatap Grace dengan tatapan sengit. Grace menciut dan segera naik ke tangga.
“Kalian membuatnya takut,” kata Refan melihat Grace yang membanting pintu kamarnya.
“Kau yang membuat kami takut, Anak Kecil. Kau keras kepala sekali. Ngeri rasanya melihatmu. Kau kayak bayangan yang membuntuti Grace kemanapun dia pergi, tahu.” Kata Mark.
Refan kesal. Tapi dia lebih memilih untuk diam. Jangan sampai dia membuat masalah jadi lebih buruk.
“Baik, begini saja,” Harry berbicara masih dengan nada dalam. Refan malah bisa melihat sosok Papanya dibelakang Harry. “Kalau kau benar-benar ingin mendapat izin dari kami maka kau harus diujiankan.”
“Ujian?” ulang Refan.
“Kau selalu mendapat nilai yang baik dalam tiap ujian kan? Maka tentunya tidak masalah kalau diujiankan. Setiap kali kau melakukan hal yang baik sesuai dengan perintah yang kami berikan maka kami akan memberimu nilai plus. Kami berhak mengurangi nilai yang kau dapatkan. Kau setuju?”
“Bagaimana dengan nilainya?”
“Oh, itu sih terserah oleh pemberi nilai. Mau memberimu nilai seratus atau seribu atau malah nilai minus. Kami berlima akan memberi ujian yang masing-masing harus dilakukan olehmu. Kalau kau tidak bisa, maka kau gagal.”
Refan menelan ludah.
“Baik! Aku terima!”
“Oke. Pertama-tama dimulai olehku.” Kata Harry. Dia pura-pura berpikir. “Aku ingin kau datang besok pagi karena besok hari Sabtu. Langsung saja datang ke halaman belakang rumahku ya?”
“Harry, memangnya kau mau membuat ujian yang bagaimana?” Mark bertanya setelah Refan pulang beberapa menit kemudian. “Kau yakin dengan begini bisa membuatnya jera.”
“Yah... kita lihat saja. Kalaupun dia tidak jera, setidaknya kita tahu dia benar-benar memiliki perasaan yang sama seperti Grace atau tidak,” kata Harry melipat tangan dengan pasti. “Kalian pikirkan saja ujian yang akan kalian berikan pada dia. Kalau bisa, bikin dia cepat jera. Sesekali mengusili anak itu boleh juga.”
“Benar!” kata Evan setuju.
***
Sabtu. Ujian Pertama.
Refan menatap perlengkapan yang sudah disediakan oleh Harry dilapangan. Ada meja, pisau, sendok, wajan, kompor, berbagai macam bahan makan dan sayuran, ember dan entah apa lagi. Evan dan Mark yang hari ini libur melihat barang-barang itu dengan dahi mengerut. Mereka sudah memperkirakan apa yang akan diujiankan Harry.
“Ujian pertama, memasak,” kata Harry melipat tangan.
Dahi Refan mengerut.
“Aku ingin kau memasak sesuatu dengan bahan yang sudah kusediakan. Kau tidak memakai dapur karena aku takut kalau-kalau meledakan dapur nanti. Nah, sekarang segera masak apapun yang kau bisa.”
Harry menyingkir dan segera kearah saudara-saudaranya.
“Kejam kau, Harry. Dia mana bisa masak,” kata Mark geleng-geleng kepala. “Tega banget, sih? Kalau nanti dia luka gimana?”
“Emang aku pikirin,” kata Harry cuek.
Mereka melihat Refan memegang pisau dan menatap pisau itu. Dia memegang tepi pisau—sepertinya berusaha untuk menguji ketajaman pisau itu. Dia lalu melihat sayur, melihat wajan, daging, kompor.
“Dia ngapain, sih? Lagi masa penyelidikan ya?” kata Evan heran.
“Mungkin dia sedang mengenal nama bahan-bahan.” Kata Harry mengangkat bahu.
“Yah... aku juga tidak meragukan kalau nanti dia meledakan kompor atau masakan gosong atau malah tidak ada yang bisa dimakan. Keasinan atau malah hambar.”
Tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak.
Mereka bertiga mengerjap ketika Refan memotong bawang dengan cepat lagaknya koki profesional. Dia memasukan bawang yang sudah diiris itu ke dalam wajan dalam ukuran yang sama panjang. Dia lalu memotong cabai, daun sop, dan entah apa lagi dalam potongan cepat.
Crang... crang... bwosh!!
Refan membalikan tumisannya dengan cepat. Dia menggerakan wajannya sedikit dan membuat wajannya terbakar api. Harry melotot, bola matanya hampir keluar ketika Refan menyiram air dan memasukan helaian daging dan sayur ke dalam, garam, merica, kaldu dan bumbu-bumbu lainnya. Dia membaliknya lagi dan aroma yang tidak biasa tercium di lapangan.
“Wangi banget aromanya. Jadi lapar,” kata Evan memegang perutnya. “Iya kan, Harry?” Evan menoleh kesisinya tapi Harry sudah tidak ada disisinya. “Harry?”
“Dia ada disana,” kata Mark menunjuk ke arah pohon dimana Harry terpuruk dibawahnya. “Dia sama sekali nggak nyangka kalau Refan bisa masak. Harga dirinya terlanjur hancur.”
Evan terkikik geli. “Tahu rasa. Siapa suruh menyombongkan diri.”
Dalam waktu satu jam, lima hidangan berbeda sudah tersedia diatas meja. Semuanya ditata dengan cantik dan sangat mengundang selera.
“Yah... aku akan memberi nilai kalau manusia yang ada di rumah ini menyukai masakanmu,” kata Harry mencoba menekan rasa malunya. “Aku hanya akan memberi nilai pada salah satu kepribadianmu dengan nilai seratus lima puluh.”
Evan melotot. “Seratus lima puluh? Kau gila ya? Anak yang sifatnya jelek begini kau beri nilai seratus lima puluh?”
“Soalnya dia mirip aku,” kata Harry membela diri. “Tunggu saja penilaian orang terhadap masakannya. Apakah enak atau malah bikin orang keracunan.”
Refan tersenyum puas. Hehe, dia sudah mendapat nilai seratus lima puluh dalam waktu singkat, padat dan mudah. Ujiannya yang sama sekali tidak diperkirakan Refan. Kalau sama Refan sih urusan masak itu sebesar debu dipantai. Keciiiiiiiiiiiiiiiil banget.
“Aku pulang. Aduh, capek banget...”
Daniel memasuki rumah dan melemparkan tasnya yang berat ke atas sofa. Dia melepas sepatunya di pintu depan dan masuk setelah dia melepas kacamatanya. Indera penciumannya langsung merasakan aroma yang sangat enak.
“Masak apa, Har? Lapar nih, belum makan sama sekali,” kata Daniel melangkahkan kakinya ke dapur. Dia melihat makanan di atas meja dan bersiul kagum. “Tumben masak banyak biasanya cuma sedikit.”
Evan memberikan Daniel piring sambil tersenyum-senyum. Dahi Daniel mengerut heran sekaligus curiga. Belum pernah dalam sejarah kehidupannya kalau Evan mau memberinya piring dengan sukarela.
“Dicicipin, Dan,” Evan menyuruh Daniel duduk. Dia menyendokan makanan yang ada di atas meja ke piring Daniel dengan buru-buru.
“Ada apa-apanya kan?” kata Daniel menatap Mark yang tersenyum geli. “Kalian mau meracuniku ya?”
“Nggak kok. Makan aja. Dijamin enak.” Kata Mark menyendok nasi. “atau mau kusuapin, Dan? Aaaah... buka mulutnya.”
“Hentikan itu. Aku bisa makan sendiri,” Daniel mengambil sendok yang dipegang Mark. Dia menatap Refan yang ada di depannya. Daniel menyendokan makanan itu ke mulutnya dan mengunyahnya beberapa saat. “Kok rasanya lain?”
Harry tersenyum senang. Tamat riwayatmu, Anak Kecil.
“Enak banget!” kata Daniel mengunyah cepat. “Tahu aja kalo aku lagi lapar, Har. Sejak kemarin malam aku cuma makan roti doang. Pelit banget produsernya beli nasi bungkus!” Daniel mengambil lauk lebih banyak lagi. “Rasanya beda dari yang biasa, Har. Rasa jeruknya terasa banget. Resep baru ya? Kau menjadikan aku kelinci percobaan ceritanya, nih?”
“Jeruk?” Harry mengulang sementara senyumnya menghilang.
Mark dan Evan menahan tawa mereka.
“Aku mencium bau yang enak,” Kim datang masih menenteng kotak biolanya. Tadi pagi dia mendapat panggilan untuk latihan dan pulangnya baru sekarang. “Kebetulan aku lagi lapar.”
Evan memberikannya piring. Kim mengerutkan dahi.
“Kok aneh, ya?” kata Kim heran. “Rasanya enak, Dan?”
“Luar biasa!” kata Daniel dalam usahanya menelan makanannya.
Kim menyuap makanan yang ditawarkan Mark.
“Hm... excellent!! Harry bisa jadi calon isteri yang baik, nih. Enak banget!” kata Kim dengan polosnya. Mark dan Evan tertawa terbahak tapi Harry tidak.
“Katakan itu pada anak itu!” Harry sebal sambil menunjuk Refan.
“Eh?” Daniel dan Kim terbengong. “Dia yang masak?”
“Iya,” kata Refan mengangguk. “Ujian.”
“Diluar dugaan,” gumam Daniel tidak percaya.
“Kalau begitu kau harus memberinya nilai sempurna, Har. Masakannya enak banget tahu,” kata Kim tersenyum pada Refan. Refan balas tersenyum padanya.
“Ehm... ya... baiklah,” Harry menyerah. “Nilai seratus dua puluh kalau begitu...”
Kim bertepuk tangan. “Jadi berapa nilaimu sekarang?”
“Dua ratus tujuh puluh,” kata Refan datar.
Daniel terbatuk. Dia menatap Harry dengan tidak percaya. “Dua ratus tujuh puluh? Harry, kau gila ya? Nilaimu biasanya yang paling susah di dapat! Sekarang dia malah dapat dua ratus tujuh puluh dalam satu hari?”
“Biarkan saja. Harga diri Harry kan terlanjur hancur,” kata Mark lagi. Evan mengangguk setuju. “Selanjutnya aku yang akan mengujiankanmu.”
Refan menelan ludah. Lidah Mark yang tajam kayak pisau bisa membuatnya terpuruk. Sebenarnya dia lebih takut ujian bareng Mark ketimbang Harry. Dia tahu kalau Harry akan adil padanya, tapi Mark... selalu saja bisa membuat kupingnya panas dengan kata-kata yang amat menusuk perasaan. Kayak duri yang beracun.
“Kita ujian di ruang tengah aja sambil bersantai,” Mark merangkul Refan dengan ramah. “Kurasa kau pasti bisa melakukan ini dengan baik kok.”
Itu yang paling ditakutkan Refan. Ujian mudah justru adalah ujian yang tersulit.
“Nih, mainkanlah sebuah lagu,” Mark memberikan gitar pada Refan.
“Aku nggak bisa nyanyi,” kata Refan menerima gitar itu. “Aku cuma bisa main gitar.”
“Ya sudah. Mainkan saja lagu yang kau bisa,” kata Mark menopang dagunya.
Refan memetik gitar itu dan mendengarkan nadanya. Sudah disetel dengan baik. Ternyata dia salah menduga kalau ujian dengan Mark akan sangat buruk. Dia memilih satu lagu dan dia memilih lagu “Sempurna” milik Andra and the Backbone.
Suara gitarnya membuat Grace turun dari kamarnya walaupun dia sudah dilarang Harry. Bodoh amat, deh. Suara gitar Refan itu amat tidak biasa. Refan kelihatan amat menikmati permainannya begitu juga dengan orang-orang yang mendengar. Mark sesekali terdengar menyanyikan liriknya. Perpaduan yang sangat sempurna.
“Bravo!” Mark bertepuk tangan. Kim juga ikut-ikutan. “Nilai delapan puluh. Soalnya masih ada nada yang datar. Nah, ujian selanjutnya.”
“Ada lagi?” kata Refan.
“Tentu saja. Ini gampang kok. Aku cuma pengen mendengar kau melantunkan nada do rendah sampai do tinggi dimana C = do. Gampang kan?”
O-ow.
“Aku nggak bisa nyanyi.” Kata Refan mengulang kata-katanya.
“Aku nggak menyuruhmu nyanyi. Aku menyuruhmu melantunkan nada do sampai do lagi dimana C=do,” Mark mengulang dengan nada sebal. “Kalau kau tidak mau, nilaimu minus lima puluh.”
“Baik baik. Aku lantunkan,” Refan menyerah. Wuiih... Grace girangnya bukan main. Jarang-jarang Refan mau nyanyi di depan orang.
“Do,” Refan memulai. “Re. Mi. Fa. Sol.”
Daniel menganga. Mark melotot. Evan mengerjap. Harry memegang telinganya.
“Berhenti!” kata Mark. “Aku bilang lantunkan! Bukannya dibaca!”
“Sudah!” kata Refan. “Do. Re. Mi!”
“Nada datar semua,” komentar Kim. Dia tersinggung karena dia juga bergelutr di dunia musik. “Itu sih bukan melantunkan tapi menyebutkan satu per satu.”
“Lantunkan, Anak Bodoh!” kata Mark sebal. “Doremi aja nggak bisa! Masa main gitar bisa tapi bilang doremi nadanya sama dari do sampai ke do lagi. Pita suaramu rusak ya?”
Hal yang ditakutkan Refan terjadi juga.
“Nilaimu minus enam puluh!” kata Mark.
“Ap—? Aku kan tadi sudah bagus main gitar!” Refan protes.
“Ya dan aku sudah memberimu nilai delapan puluh. Sekarang kau gagal diujian kedua jadi aku memberimu nilai minus.”
“Tapi—”
“Membantah juri! Minus sepuluh!”
Refan terdiam. Sial! Nilainya berkurang dengan sangat cepat. “Selesai.”
“Kalau begitu berikutnya giliranku,” kata Evan.
“Tidak. Ini giliran Kim,” kata Daniel menyikut perutnya.
“Eh? Aku?” kata Kim. “Aku sama sekali belum memikirkan ujian untuk Refan,” Kim menopang dagunya sambil berpikir. “Um... begini aja, deh, ujian Refan main biola aja sambil melihat not balok. Refan bisa main biola kan?”
“Baca not balok bisa.... tapi kalau biola....” Refan menatap Evan yang berbisik keras-keras. “Kasih nilai minus.” Sehingga membuat Refan berkata. “Aku bisa! Pasti bisa!” urusan jelek atau nggak itu urusan belakangan, deh.
“Ah! Kalau begitu pakai biola ini saja. Aku malas naik ke atas,” kata Kim membuka kotak biola yang dia bawa-bawa dari tadi. Dia membuka kotak itu. Terlihatlah biola coklat yang cantik dan berkilat disitu.
“Biola baru, Kim?” tanya Evan. “Keren...”
“Ah, ini hadiah ultah dari Lo—tidak penting! Mainin aja!” wajah Kim merah padam. Evan merangkulnya.
“Lo? Lo siapa? Cowok, ya? Aku nggak sudi punya kakak ipar cowok,” kata Evan.
“Cewek, dong! Enak aja!” Kim menutup mulutnya. Mark dan Evan mengerubutinya. “Apaan, sih?”
“Seperti apa wajahnya? Cantik nggak?” kata Harry ikutan. “atau jelek?”
“Aku nggak akan bilang apapun. Lepaskan!” kata Kim.
Ngeok.... ngiiiik.... ngeeoook....
Grace memegang pipinya. “Gigiku ngilu.”
Evan dan Mark tertawa.
“Eh, Fan. Kalau nggak bisa main biola bilang aja! Kau pikir biola itu sama dengan gitar asal gesek aja,” kata Mark melihat hasil pekerjaan Refan.
Tung. Toing toing.
Mereka terdiam ketika salah satu senar biola yang tadi digesek Refan putus. Itu karena Refan terlalu keras menggesek karena sebal dengan perkataan Mark.
“AAAARGH!!!” Kim berteriak. Dia mengambil biola dari tangan Refan. Cepat sekali. Dia menatap Refan dengan marah. “Kau memutuskan senarnya! Nilaimu minus dua ratus!”
“Aku—”
“Tidak ada bantahan!” Kim memotong. Dia memasukan biolanya ke dalam kotaknya lalu menghilang menerobos saudara-saudaranya yang masih terbengong takjub. Mereka masih bisa mendengar suara pintu yang dibanting Kim.
Diluar dugaan justru Kim yang membuat Refan kehilangan banyak nilai.
“Selanjutnya aku!” kata Evan senang. Akhirnya kesempatannya untuk mengerjai Refan datang juga. “Aku dan Drew cuma memberimu satu ujian saja.”
Refan tidak senang sama sekali melihat senyum diwajah Evan.
“Yah... coba kau kerjain Papaku.”
JEDEGER. Refan terpaku kayak batu.
“Evan, itu mustahil,” kata Harry. “Masa kau menyuruh dia mengerjai Papa? Bisa dibunuh Papa dia. Anak itu kan bukan kau yang mudah saja mengerjai orang lain tanpa pandang bulu.”
“Aku minta ganti.”
“Aku nggak akan ganti,” Evan bersikeras. “Tapi kalau kau mau ujiannya ditambah boleh juga. Selagi menunggu Papa pulang, kau bisa mengerjakan soal yang kuberikan. Ujiannya selesai sampai Papa datang. Tunggu ya kuambil soalnya dulu,” kata Evan santai.
Kalau soal sih gampang.
Tapi saat Refan melihat soal yang diberikan Evan, Refan terpelongo.
“Itu soal yang sulit bahkan para professor belum bisa menyelesaikannya tapi ada seorang mahasiswa yang bisa menyelesaikannya.” Kata Evan.
“Siapa?” kata Refa.
“Aku,” kata Evan bangga.
“Tidak mungkin.”
“Walau jelek begini, aku seorang asisten dosen loh. Malah mau dinobatkan jadi dosen tetap malah. Jadi jangan melecehkanku ya, Anak Kecil.”
Refan melirik ke arah yang lain dimana mereka mengangguk-angguk.
Pantas saja waktu dia memeriksa seluruh isi rumah Grace ada buku-buku tebal. Ternyata itu buku-buku milik Evan yang mau diajarkan pada mahasiswa, ya? Mahasiswa mengajar mahasiswa.... benar-benar hebat...
***
 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.