RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 30 Januari 2009

Love Love Love Eps 1

Love for you Love for my family Love for my friend

written by: Glorious Angel
helped by : Prince Novel


1.

SMP Harapan Bangsa

Dear diary,

Ini adalah hari pertama aku menginjakan kaki untuk memasuki masa SMP

Kuharap ada sesuatu yang menyenangkan…

Love you….

***

Aula, SMP Harapan Bangsa

“Siswa-siswi baru yang akan memasuki SMP, harap segera duduk ditempat yang telah ditentukan,” suara Sang Ketua OSIS dari depan podium. Dia memegang mic ditangan kanan, sementara tangan yang satu lagi melambai-lambai tak sabar. “Ayo, cepat! Sepuluh menit lagi kita mulai!”

Grace menghela napas lelah. Panas. Dia mengikat rambut panjang hitam kecoklatannya dengan ikat rambut pink yang kemarin dibelikan salah satu abangnya.

“Minggir.” Ada suara lain.

Grace menoleh. Dia membulatkan mata melihat sosok dibelakangnya.

OMG! Keren! Batinnya.

Grace terpaku. Dia memperhatikan cowok itu. Cowok tinggi dengan wajah tampan dan dingin. Rambutnya hitam kecoklatan. Tatapan masa bodoh dan agak nyeremin. Cool! Jika diperhatikan baik-baik, sepertinya blasteran karena dia bermata biru.

Wah, baru masuk udah lihat yang seger-seger, nih, batinnya lagi.

“Heh! Minggir!” kata anak itu lagi karena Grace belum juga berpindah tempat. “Kau menghabiskan tempat untuk dirimu sendiri tahu!”

Grace mendengus. Ganteng sih ganteng… tapi cara ngomongnya itu, loh…

Anak itu melewati Grace setelah dia memberi jalan. Anak itu duduk di barisan paling belakang, disudut. Dan dia tidak kelihatan karena gelap.

Grace mengikik. Hehe, ganteng-ganteng tapi nggak kelihatan. Giginya aja tuh yang nongol.

“Cepat ambil tempat duduk!” Sang Ketua OSIS merepet lagi. Kali ini dia berteriak, membuat loudspeaker melengking tinggi.

Grace segera mengambil tempat. Dia duduk disamping cewek berambut hitam-panjang-lurus, bak iklan shampoo yang ditv-tv itu loh.

“Halo,” katanya. “Gue Ananda.”

“Grace,” sambut Grace menjabat tangan gadis itu.

“Harap semua mendengar dan memperhatikan kemari!” kata Si Ketua OSIS lagi.

“Iiih, bawel banget sih!” celetuk Ananda. “Nggak dikasih tahu juga, yang dilihat pasti depan. Kan cuma itu yang dikasih lampu!”

“Iya juga ya.” Grace menimpali.

“Tapi, Ketua OSIS-nya boleh juga tuh buat dijadiin pajangan. Iya kan, Grace?”

“Entahlah.”

“Yah… ganteng, sih. Tapi kalau dibandingin sama Daniel, sih beda jauh. Elo tahu Daniel kan? Itu loh yang jadi model internasional itu.”

“Iya. Aku tahu kok.”

Siapa yang nggak tahu Daniel? Dia kan….

“Tapi, kalau dibandingin sama Mark, siapa yang ganteng?”

“Mana kutahu.”

“Kalau gue sih suka body Daniel, tapi suaranya gue suka Mark.”

Yeeee… semua orang juga tahu. Mark itu kan penyanyi dan Daniel itu kan model. Ya jelas beda lah… pertanyaan yang aneh.

“Ehm,” sang Kepala Sekolah memunculkan diri. Dia disoroti lampu di tiga penjuru—sesuatu yang menurut Ananda tidak perlu (“Ngapain, sih pake sorot-sorot segala? Dia kan bukan artis!” komentarnya).

Ya ampun Ananda, protes mulu sih?

“Anak-anakku yang terkasih. Selamat datang ke SMP Harapan Bangsa. Sesuai dengan namanya, Bapak dan para guru disini berharap agar kalian dapat menjadi harapan bangsa yang sesungguhnya. Bapak yakin kalau kalian adalah penerus yang akan dapat dibanggakan.” Dia mengambil napas. “Bapak juga berharap, para senior kalian dapat mendidik kalian. Jika ada hal-hal yang tidak kalian ketahui mengenai sekolah ini. Kalian dapat bertanya pada para senior kalian. Mereka pasti akan senang seklai membantu kalian, baik suka maupun duka.”

Sang Kepala Sekolah menelengkan kepala dan tersenyum pada anak-anak kelas dua dan tiga. Sang Ketua OSIS merapikan dasinya. Terlihat bangga.

“Tanpa berlama-lama lagi, Bapak akan memanggil siswa baru yang akan memberikan sepatah dua patah kata ke depan. Ehm… Bapak persilakan Z. Refan. H untuk maju ke depan.”

Suasana heboh. Terutama bagian kelas tiga. Yang mereka tahu adalah kesempatan langka sekali ada anak kelas satu yang membawa pidato. Sekali seumur hidup. Dan biasanya, hanya anak yang benar-benar terpilih saja yang bisa ditampilkan ke depan. Hm…

Suara histeris tak jelas kedengaran dari arah kelas dua. Karena bagian itu paling dekat dengan wilayah kelas satu. Dan Grace tahu alasan kenapa ada yang seperti itu.

Well, you know… cowok berwajah sadis itulah yang bernama Z. Refan. H.

Fantastic sekali melihat dia berjalan dari atas sampai ke bawah menuju podium. Semua pasang mata mengikuti langkah dia. Dia bahkan berjalan dengan angkuh dan tidak mempedulikan sekelilingnya.

“Oh… gosh!” Ananda mencengkram lengan Grace. “Ganteng banget!”

Grace mengakui. Tapi tidak mau bilang. Sori ajalah, ya, aku udah tahu sifatnya tadi. Masih lebih ganteng lagi si Daniel dan si Mark. Hehehe…

Refan naik ke podium. Lampu sorot yang berlebihan membuat wajahnya bercahaya mirip malaikat—istilahnya nggak kelihatan, gitu. Dia memegang ujung-ujung meja, menarik napas sejenka dan mulai berpidato.

“Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu guru. Karena telah memberikan saya kesempatan untuk mengucapakan sepatah dua kata,di depan podium ini. Saya sebagai murid baru akan berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi murid terbaik disekolah ini, mematuhi peraturan-peraturan sekolah,mengikuti sebaik-baiknya kegiatan sekolah dan segala hal tentang pelajaran. Sekian pidato dari saya,akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu guru”.

Barisan bertepuk tangan, riuh sekali. Grace mengerutkan dahi. Dan suasana heboh itu ditambahi lagi dari wilayah senior.

“Pidato yang keren,” desah Ananda dengan wajah berbinar.

“Rasanya ada yang kurang,” kata Grace. “Dia cuma berbicara mengenai dirinya sendiri tahu.”

Refan mengerutkan dahi saat melewati tempat mereka. Pandangan mata mereka bertemu.

“Cowok sombong,” kata Grace dari sudut mulutnya.

Refan berhenti. “Kau bilang apa?”

“Nggak,” kata Grace mengalihkan pandangannya.

***

Grace diperkenalkan pada teman-teman Ananda yang ternyata merupakan satu gengnya dulu di SD. Mereka semua cewek dengan wajah cantik, kulit mulus, langsing, centil dan penuh gaya: Rati, Rita, Yani dan Ananda merupakan bos dari geng itu.

Sebenarnya mereka semua tidak cocok dengan Grace. Bukan kehidupan Grace yang lebih suka tampil biasa saja. Tapi, yah… karena teman pertama…

“Dia cool, cakep, keren, pintar—“

“Pidatonya itu keren banget—“

I love him—“

Angel smile… would u be my boyfriend?

“Dia nggak mungkin mau sama kalian,” kata Grace menjatuhkan angan-angan mereka.

“Kok ngomong gitu, sih?” kata mereka berempat berbarengan.

“Coba lihat, tuh,” Grace menunjuk ke depan. “Dia dari tadi duduk disana dan tidak memperhatikan sekelilingnya. Cowok kayak gitu ma—“

“Foto. Foto.” Kata Rati.

“Zoom-in,” kata Yani mengeluarkan hapenya yang nggak seberapa.

“Kalian ngapain, sih?” kata Grace heran.

Refan, sepertinya, tidak menyadari sekelilingnya. Dia duduk membaca buku coklat tebal tua di bawah pohon rindang. Beberapa cewek hilir mudik disekelilingnya. Mirip setrikaan. Grace menggeleng.

Ya ampun… cowok kayak gitu apa bagusnya, sih?

Angin berhembus.

Ananda, dan para cewek-cewek dekat Refan, termasuk Grace terpana. Diam tanpa kata.

Angin menerbangkan rambut coklat Refan yang menutupi dahinya. Daun-daun yang berguguran membuat dia terlihat berkilau. Apalagi cahaya matahari yang masuk dari celah-celah daun di pepohonan membuat dia terlihat… oh….

“Keren, bo!” bisik Ananda melihat sosok Refan dari hapenya. “Keren banget malah.”

Grace, sayang… jangan mudah jatuh cinta sama cowok keren, ya?

Grace menggeleng. Dia ingat salah satu perkataan Abangnya. Gampang jatuh cinta pasti gampang putus juga. Huh! Apalagi yang model kayak gitu. Di pasar loak pun ada.

“Eh, udah belum?” kata Grace.

“Bentar. Dikit lagi” kata Rati masih memotret. Bunyi ceklak-ceklik hapenya seakan dibesarkan beberapa kali lipat karena suasana yang sunyi.

“Cepetan!” desak Grace.

PRAK, hape Yani jatuh dan terinjak Ananda. Kontan Yani menjerit histeris.

“AH!! REFAN!!”

Refan menoleh. Dengan sigap keempat orang itu ngilang dibalik semak—mereka ada bakat buat jadi ninja tuh—dan meninggalkan Grace sendirian yang mencoba mengambil hape Yani.

“Apa?” kata Refan, bangkit menuju kearahnya.

“Hah? Aku?” Tanya Grace heran menunjuk dirinya sendiri

“Iya. Kau yang memanggil ku kan?”

Grace celingak celinguk,bingung dengan pertanyaan Refan.

“Kalau gak ada perlu gak usah manggil-manggil”

Grace kesal setengah mati mendengar ucapan Refan

“Huh! Ganteng-ganteng mulutnya tajam”

“Apa kau bilang?” Tanya Refan yang tidak sengaja mendengar ucapan Grce

“Eh? Gak..gak ada kok..hehe” kata Grace ketakutan langsung pergi dari tempat itu.

***

“Gue adalah Reliz,ketua tim basket di sekolah ini. Untuk masuk ke tim basket gue,lo lo pada harus mematuhi segala peraturan yang berlaku. Peraturan peraturan itu akan di beri tahu oleh wakil gue,Steve. Dia juga yang akan mengurus siapa siapa saja yang akan masuk ke tim inti. Soalnya sebentar lagi pertandingan basket antar sekolah akan di mulai. Jadi gue minta pada lo dan elo semua agar ada kerjasama yang baik dan tunjukkan bakat lo semua. Ngerti?!” kata Reliz berjalan mondar mandir di antara calon anggota basket.

“Ngerti kak!” jawab calon anggota dengan sigap,kecuali Refan yang berdiri santai tidak memerhatikan anak anak basket yang sinis melihatnya dan siswi-siswi yang terkagum kagum melihatnya.

“Gue kayaknya pernah melihat lo deh?” kata Reliz memerhatikan Refan dari belakang,depan,dan sikap Refan yang tak acuh. “Tapi di mana ya?”

“KYAAAAAAAAAA!!!! REFAN SEMANGAT YA!!!” Kata Ananda berteriak histeris bersama siswi-siswi lainnya.

“Berisik” Gumam Grace

Reliz melirik ke arah Ananda yang gila-gilaan mensuport Refan.

Sialan,anak ini lebih beken dari gue! Batin Reliz

“Baiklah, elo itu siapa gak penting bagi gue. Sekarang gue ingin kalian memperkenalkan diri kalian. Mulai dari yang ujung!”

“Aku Choki. Dari kelas 1-3” kata anak yang berambut hitam legam,mata coklatnya tertutupi oleh kacamata minusnya yang tebal dan kulit kuning langsatnya terbakar oleh sinar matahari.

“Lanjut” kata Reliz balik kearah tim nya.

“Rofaldo”

“Sammy,1-1”

“Joshua 1-5”

“Refan”

“KYAAAAA!!!!!” Siswi siswi berteriak histeris ketika Refan mengucapkan namanya

“DIAM!!BERISIK TAU!!” Kata Reliz kesal kepada siswi siswi yang menonton

“Yeee.. sibuk banget sih?!”jawab Ananda

“Sialan! anak yang bernama Refan itu lebih beken dari gue” kata Reliz kepada anggota timnya.

“Sabar bro. Biar kita kerjain dia,gimana?”

“Boleh juga tuh!”

Reliz mengambil bola dari keranjang yang ada di belakangnya, lalu memantul-mantulkannya.

“Untuk mengetahui kemampuan kalian,Gue akan mengadakan tanding sesama anggota baru. Tapi sebelum itu Gue ingin mengetahui kemampuan fisik kalian.Push up tanpa sepatu sebanyak 30 kali! Cepat!!!”

Para calon anggota membuka sepatunya dengan terburu buru. Sedangkan Refan melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan Reliz.

“Heh!cepat buka sepatu mu!” kata seseorang dari anggota tim

“ Gak salah??” Tanya Refan tidak percaya

“Kenapa? Mau protes??” Tanya Reliz “Yang tidak mau, bisa mencoba tahun depan,” katanya lagi tidak memperdulikan Refan yang dengan jijik melihat orang orang mulai push up.

Refan membuka sepatunya dengan kesal,kulit kakinya terlihat sangat mulus,sehingg menginjak tanah yng berbatun kerikilpun tak sanggup.

“Adudududuh!!!!!!” keluhnya

“Hmpf!!!” Reliz dan anak anak basket lainnya menahan tawa melihat Refan .

“Ya ampun kasihan banget Refan! Tega banget sih!!!” Protes Ananda dan siswi siswi lainnya.

“Satu…dua….tiga…empat…lima…”

Refan dapat mendengar Choki menghitung dengan susah payah

“Apa?” Tanya Choki saat Refan terus memandangnya

“Kau berisik sekali” kata refan datar

“Uuugh!!” Choki menggenggam rumput dengan kesal

“Baiklah baiklah. Gue senang melihat kalian sangat bersemangat ingin masuk ke tim,” kata Reliz memandangi wajah wajah calon anggota.

“Hm… lo yang botak, hitam, lalu yang kriting terus yang boneng dan juga yang kurus kalian berlima masuk kelompok pertama, selebihnya masuk kelompok dua. Pertandingan antar kelompok akan diadakan 10 menit lagi. Bersiap siaplah.”

“Aku mau protes,” kata Refan

“ Apa?” Tanya Reliz santai

“Ini tidak adil. Aku ingin pergantian pemain.”

Reliz melihat orang-orang yang ada di belakang Refan,pendek,cupu,dan tidak bisa diharapkan. Dia geli sendiri.

“Tidak ada pergantian pemain disini gue yang ngatur!” tegas Reliz memperjelas kata disini.

“Tapi timku tidak bisa diharapkan”

Orang orang yang ada di belakang Refan tampak tersinggung dengan ucapan Refan.

“ Hei! Maksud mu apa?!” Tanya Choki kesal

Sombong sekali anak ini batin Reliz

“ Tidak ada pergantian. Lima menit lagi pertandingan akan dimulai,” Jawab Reliz pergi meninggalkan Refan.

Refan balik kekelompoknya dengan kesal.

“Sekarang, siapa yang akan menjadi kaptennya?” tanya Choki membuka pembicaran.

“Terserah!” jawab dony jutek.

“Gimana kalau Refan?”

“Aku tidak mau,” jawab Refan cepat

“Tapi diantara kami hanya kau yang bisa,” kata choki

“Bukankah kau tadi mengatakan kami tidak bisa diharapkan?” kata Joshua

Tidak ada jawaban dari Refan.

“Pertandingan akan dimulai. Harap kapten kedua tim maju ketengah lapangan.”

Terdengar suara Reliz dari mikrofon sekolah. Murid murid langsung bersorak gembira.

“ YEEEEE!!!!AYO SEMANGAT REFAN!!!” Sorak Ananda dan Rati bersaman.

Berisik!! batin Grace

“Ayo Refan. Cepat maju ke lapangan!” perintah Choki mulai panik mendorong tubuh ke Refan ke lapangan.

“Oh. Jadi elo kaptennya?” kata Reliz

Refan menatap kesal Choki yang hanya cengengesan bersama timnya.

“Baiklah! Pertandingan akan dimulai. Peraturannya adalah, bagi tim siapa yang kalah tidak akan diterima masuk tim basket sekolah ini!”

“Apa?” kata Choki tidak percaya

“Pertandingan dimulai!!”

PRIIIIIIITT!!!!!

Reliz meniup peluit bersamaan dengan melambungnya sebuah bola basket di antara Refan dan kapten tim 1. Refan dan kapten sang lawan melompat secara bersamaan. Tapi sayang lompatan Refan jauh lebih tinggi dari pada sang lawan.

Refan mendrible bola berlari melewati lawan. Keren sekali!!!

Belum 5 menit pertandingan berlangsung Refan sudah berhasil mencetak angka dengan 3 poin untuk lemparan jarak jauh. Murid-murid yang menonton langsung bersorak heboh.

“ YEEEE!!!! SEMANGAT REFAN!!!” Teriak Ananda dan Rati secara bersamaan.

Anak anak basket melotot tidak percaya. Karna Refan mencetak angka dengan sangat cepat.

Hebat juga tuh anak…batin Reliz

Pertandingan di mulai lagi, kini bola ada di tangan lawan yaitu si kurus. Refan hampir mendapat bola dari si kurus tapi gagal karena kakinya menginjak batu kerikil yang ada di dekat keranjang.

“Aduh aduh aduh!!” keluh Refan memegangi kakinya

Reliz dan timnya tertawa terbahak bahak “HAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!!”

Brengsek!! Batin Refan melihat anak anak basket dengan kesal.

“Kasihan banget ya Refan,” kata Ananda tidak tega melihat penderitaan Refan.

Rati mengangguk setuju “kakak kelas tega banget ya??” tambah Rati matanya berkaca-kaca.

Grace mengangkat sebelah alisnya “Masa nginjak tanah aja sakit??” gumamnya

“Kau gak apa apa kan?” Tanya Doni menghampiri Refan.

“Ya,” jawab Refan datar.

“ DONI AMBIL BOLANYA!!!!” Teriak Choki dari seberang melempar bola dengan sangat kuat. Doni tidak dapat menggapainya sehingga mengenai kepala Refan.

DUAK!!!!

Anak anak basket semakin tertawa melihat Refan terjatuh ke tanah.

Murid murid yang nge-Fans sama Refan merasa kasihan dan tidak tega melihatnya.

“Kasihan banget Refan..” kata Ananda

Grace menutup mulutnya menahan tawa.

“Kau baik baik saja kan?” Tanya Choki menghampiri Refan yang di tolong berdiri oleh Doni ”Sakit?” Katanya lagi

“Jangan sentuh aku” kata Refan menepis tangan Choki saat ia mau milihat luka di kepala Refan.

“Jutek amat sih? Akukan dah minta maaf” kata Choki dengan nada sedikit menyesal.

“Gak butuh” jawab Refan langsung meninggalkan Choki dan Doni.

“Buruk bangat sih sifatnya?” keluh Doni.

“Biarin aja.” Jawab Choki berlari menuju posisinya.

Hasil pertandingan amat tidak memuaskan penonton. Yah… apa boleh buat jika hanya Refan yang bisa diandalkan.

“Kumpul!” Reliz mengatasi suara gemuruh siswa yang protes.

“Tega banget, sih? Masa maen basket nggak pake sepatu!”

“Disumpahin elo jadi kodok entar!”

“Nggak berprikemanusiaan!”

“Penyiksaan, tuh! Penganiayaan!”

“Brisik!!!” Reliz berteriak.

Suasana hening.

“Oke. Tadi itu permainan yang menarik,” kata Reliz mengecak pinggang. “Lo ngapain hah Pangeran?” katanya sama Refan.

Refan menggerutu pelan. Dia memegang telapak kakinya yang merah-merah dan berdebu. Sakit banget…

“Masa lari dilapangan berpasir aja nggak bisa? Manja banget, sih? Masih bisa lanjut nggak?” kata Reliz memantulkan bola basket.

“Aku mau tanding denganmu saja,” kata Refan datar. “Kau berani tidak?”

“Boleh. Pake sandal mau nggak?” Reliz bermaksud bercanda tapi Refan rupanya tipikal orang yang tidak bisa diajak bercanda.

Wajah Refan seram sekali.

“Kalau kau bisa memasukan satu tembakan ke ring yang kujaga, aku baru menganggapmu Kapten,” kata Refan datar.

“Lo pikir gue itu lemah?” Reliz tersinggung.

“Aku nggak melihat kehebatanmu sebagai Kapten selain mengancam anggota.”

“Sabar… sabar…” Steve berbisik. “Jangan diladeni… jangan diladeni…”

“Oke! Gue akan menyerahkan jabatan Kapten sama elo kalau gue nggak bisa memasukkan satu bola pun ke ring elo. Tapi sebagai gantinya, elo harus jadi pelayan gue untuk setahun non stop. Mau lo?”

Refan tersenyum kecil. Cewek-cewek histeris.

“Boleh.”

Reliz melepas jeketnya. Dia maju ke depan.

“Tunggu.” Kata Refan.

“Apalagi? Takut lo? Udah telat buat mundur.”

“Bukan. Lepas sepatumu sekarang juga supaya seimbang.”

Reliz terpaksa menurut. Dia melepas sepatunya dan melemparnya kearah Steve yang langsung pingsan mencium aroma kaos kaki Reliz.

Sial, sakit juga! Gerutu Reliz.

“Mulai, ya?” Choki jadi wasit. Dia melempar bola basket ke atas, dengan sigap Refan melompat dan menangkap bola itu.

Dalam waktu beberapa detik dia sudah melesat dan mencetak three point.

“YEAH!!” Ananda melompat-lompat. Para anggota tim basket mengeluh. Refan juga melompat-lompat, untuk alasan yang lain. Kakinya sakit sekali. Dia tadi memaksakan diri mencetak angka. Sampai mati dia nggak akan mau Reliz yang jadi Kapten!

Giliran Reliz yang membawa bola basket. Dia mencoba menerobos pertahanan Refan. Tapi percuma saja. Walaupun Refan sudah main sejak tadi, pertahanannya tidak ada celah, bahkan dia tidak kelihatan lelah sedikitpun.

Plok, Refan mengambil bola Reliz.

Penonton bersorak lagi saat Refan mencetak three point.

“Enam kosong. You lose,” kata Refan.

Reliz melepas tanda kaptennya dan melemparnya ke tanah.

Sifatnya itu agak mirip sama seseorang ya? Batin Grace.

***

Grace Home, Perumahan Keluarga

“Aku pulang,” Grace membuka pintu rumah. Dia melepas sepatunya dan masuk ke rumah. Dia meletakan ranselnya di atas sofa.

“Ngapain, Bang?” tanya Grace sama anak cowok yang sibuk ngotak-atik remote control.

“Main game.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari game itu. Rambutnya masih berantakan. Badannya juga bau.

“Gimana tadi sekolahnya, Dek?” tanya anak laki-laki yang berwajah manis.

“Menyenangkan. Kalau Bang Kim?” jawab Grace naik ke tangga.

“Yah… begitulah,” kata Kim tersenyum manis. “Cepat turun, ya, Dek. Temanin Abang ke toko buku.”

“Oke, deh.” Grace masuk ke kamar. Dia cepat-cepat mengganti pakaiannya dan segera turun. “Ma, Bang Kim mana?”

“Ngapain, sih nyariin cowok lembek itu? Udah lembek, lemot lagi,” timpal anak laki-laki yang masih bermain remote control.

“Evan, kamu ini!” tegur Papa. “Setidaknya, Kim masih lebih baik darimu. Mandi sana! Dari kemarin belum mandi. Mau jadi apa kamu?”

“Tadi Kim ada di perpus,” kata Mama membawa cake yang wanginya mengundang selera. “Kim! Nak!” panggil Mama.

“Cake? Mahakarya terbesar dari Mama,” kata anak laki-laki yang lain. Matanya berbinar melihat cake yang dibuat Mama.

“Jaga sikapmu, Harry. Gimana kau bisa jadi penerus Papa kalau sikapmu begitu? Kakimu Altrax!” Papa memukul kaki anak laki-laki lain yang membaca sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja makan.

Altrax memonyongkan mulutnya. Tapi dia menurunkan kakinya dan kembali membaca buku yang berjudul: Daniel Biography.

“Udah siap, Dek?” kata Kim keluar dari perpustakaan. “Yuk berangkat.”

“Buku apa, sih yang dicari? Memangnya persediaan buku di perpustakaan nggak mencukupi apa? Daripada beli ke toko buku, pesan aja langsung dari direkturnya. Iya kan, Pa?” kata Evan. Dia masih sibuk dengan gamenya.

“Mandi sana!” kata Papa mengambil game-nya.

“Yah…yah… udah mau high score tuh!” kata Evan merengek.

“Mandi!” kata Papa. Harry ikut-ikutan mencolekkan krim coklat ke wajah Evan.

“Biar ganteng kau.” Kata Harry.

“AAAAAAAAHH!!”

“AAAA… IIIIII….UUUUU….EEEEEE…..OOOO”

Suara Evan terputus mendengar suara dari ruang tengah.

“Makan tuh cake!” Harry ikut-ikutan menjahili Mark yang mencoba menarik nada.

“Harry brengsek!” gerutu Mark membersihkan sisa gula di mulutnya.

Grace dan Kim menggeleng perlahan.

“Yuk,” ajak Kim.

“Grace, jangan sampai hilang ya Abang tercintamu itu?”

“Evan, MANDI!!”

***

Toko Buku

Grace bosan. Dia udah mutar-mutar nyari buku yang dimaksud Kim, tapi belum ketemu-ketumu juga. Katanya sih buku langka. Kalo buku langka, harusnya cari aja di toko barang antik, pasti ada, tuh! Bikin bête aja!

“Bang, masih lama nih nyari bukunya? Pegal, nih…” keluh Grace.

“Sabar, ya, Dek. Bukunya belum ketemu, nih,” kata Kim. Kepalnya celingak-celinguk kesana-kemari. Grace juga melakukan hal yang sama. Bedanya, Kim mencari buku sedangkan Grace menghitung berapa banyak cewek yang melihat kearah Kim.

“Kalo gitu, Grace duluan ke mobil ya?” kata Grace. Kim hanya mengangguk. Belum lagi Grace keluar dari Toko Buku, seorang mbak-mbak penjaga menghampiri Kim.

Ada yang bisa saya bantu, Mas?” katanya centil.

“Oh… Tuhan… lindungilah Abangku yang polos itu,” gumam Grace.

Dia berjalan turun dan melewati anak laki-laki yang bertengkar dengan wanita cantik.

“Mummy? Please, dong!” kata anak laki-laki itu. “Aku sendirian juga nggak apa-apa!”

“No, honey. Indonesia is so big!”

Anak laki-laki itu mendengus.

“Pulang ke Prancis ya, Sweety?” kata yang perempuan itu. “Racha kan sudah tinggal di Mesir selama enam bulan, jadi sekarang giliran Mummy, ya?”

“Siapa yang ke Mesir?” kata anaknya. “Papi malah ngirim aku ke Swiss!”

“WHAT? DASAR PAPI!”

Grace tidak mendengar lagi pertengkaran mereka, tapi yang pasti suara mereka menarik perhatian disana-sini. Ada seorang satpam berlari-lari, kelihatannya berusaha mengusir mereka.

“Oh iya, ya… kuncinya kan sama Bang Kim,” gumam Grace setelah dia ada di depan mobil BMW hitam milik Kim. “Nunggu, deh…”

Grace duduk di tangga terdekat sambil menopang kepala dengan kedua tangannya. Tiba-tiba aja ada selembar uang jatuh ke atas kepalanya. Grace mengambil uang itu dan memperhatikannya. Ada lima angka nol yang tertulis disitu. Hah? Seratus ribu? Siapa orang bodoh yang membuang-buang duit?

“Heh!” Grace kontan berdiri dan berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang berani-beraninya memberi dia uang. Papanya bahkan bisa membeli orang itu. Dan ternyata orang itu, tak lain dan tak bukan adalah Refan! Sang Iblis!

Untuk sepersekian detik Grace terpana melihat penampilan Refan. Penampilan Refan amat berbeda dengan pakaian rakyat biasa. Grace pikir dia pake jas kemana-mana, tahunya bisa juga dia pake kaos oblong.

Grace, sayang… jangan mudah jatuh cinta sama cowok keren, ya?

Grace menggeleng untuk membuatnya kembali ke alam sadar.

“Heh! Orang aneh!”

Refan menaikkan alisnya. Dia menoleh kebelakang. “Siapa? Aku?”

“Memangnya ada orang lain?” Grace naik pitam. “Apa maksudmu melempar uang ini padaku? Kau pikir aku pengemis?”

Dahi Refan terangkat lagi.

“Loh, bukakah setiap orang yang duduk dipinggir jalan adalah pengemis?” katanya.

“Apa? Kurang ajar banget, sih!” kata Grace. “Nggak pernah diajarin cara membedakan manusia ya? Tidak semua yang duduk dipinggir jalan itu pengemis tahu! Nih, uangmu! Aku nggak butuh! Sok kaya!” Grace meremas uang itu dan melemparnya ke wajah Refan.

Grace berbalik kesal. Refan mengikuti.

“Mau kemana?”

“Bukan urusanmu!” kata Grace membuka pintu mobil dengan paksa.

DIN…DIN…DIN…DIN…

Suara sirine berbunyi karena dibuka paksa. Refan menutup kedua telinganya dengan tenang. Grace panik.

“Eh? Diam. Diam! Aduuuh! Grace tolol! Kuncinya kan masih sama Bang Kim…. Aduuuh!! Diam, dong!” keluh Grace mondar-mandir. “Bantuin, dong!”

“Kau ngomong samaku?” kata Refan masih menutup telinga. Hebat juga pendengarannya.

“Pencuri! Sini kamu!” teriak Satpam menuju kearah Grace. Dia menarik Grace dan Refan. “Dasar maling! Siang-siang udah mencuri! Mau jadi apa anak gadis seperti kamu mencuri?”

“Tapi, Pak, saya bukan pencuri! Saya pemilik mobil—“

“Mana ada maling yang mau ngaku!”

“Salahku apa, Pak?” kata Refan yang nurut aja ditarik-tarik Satpam.

“Kau itu bersekongkol dengan kumpulan perampok tahu!”

“Yang benar saja, Pak. Saya punya mobil sendiri. Buat apa nyuri mobil orang? Papa kan bisa beli sepuluh buatku.”

“Tidak perlu berlagak kaya!”

Grace dan Refan didudukan di tempat yang telah tersedia. Ada tiga satpam lagi disitu.

Ada apa, nih?” kata yang satu.

“Ini, dua anak ini mau mencuri!”

“Masa? Ya ampun, harusnya kalian sekolah bukannya mencuri. Atau jangan-jangan, kaialn masuk sekolah pencuri, ya?”

“Tapi saya tidak mencuri! Itu mobil Abang saya! Hanya saja, orang ini,” Grace menunjuk Refan dengan nada berapi-api,” mengira saya pengemis! Kurang ajar banget kan, Pak? Masa uang seratus ribu dibuang-buang?”

“Baik. Berarti anak laki-laki ini bebas dari tuduhan,” kata Pak Satpam.

“Loh, kok begitu?” tuntut Grace.

“Soalnya kamu sendiri yang membuktikan kalau dia tidak punya motif,” kata Pak Satpam. “Saya tidak menyangka gadis sekecil kamu sudah mencuri.”

Refan memainkan alisnya sambil tersenyum menang. Huh!!! Rese!!!

“Pak, harus berapa kali saya katakan kalau saya bukan pencuri?”

“Sudah berapa kali kamu mencuri?”

“Pak, itu mobil Abang saya.”

“Di daerah mana saja kamu beroperasi?”

“Pak! Saya bukan pencuri!”

“Apa motif kamu sehingga kamu mencuri?”

Grace menggebrak meja. Refan sampai melonjak kaget, dia mengelus-elus dadanya. Grace menijit-mijit kepalanya. Dia pusing mengurusi Satpam yang tidak punya kuping ini. Apalagi ada cowok rese disampingnya.

Refan terkikik geli melihat ekspresi Grace.

“Jangan tertawa! Nggak ada yang lucu!” kata Grace.

“Jangan membentak orang yang tidak bersalah! Apapun yang kamu katakan, tersangkanya adalah kamu dan dia adalah saksinya!”

“Pak!!”

“APA?”

Grace terdiam. Baru kali ini dia dibentak dan membentak orang. Refan masih saja tetap tertawa. Nggak sakit apa perutnya tertawa mulu? Batinnya sebal. Tapi kesalnya hilang ketika melihat Refan yang tertawa. Belum pernah sejarahnya, ada orang yang melihat dia tertawa.

Refan berhenti tertawa ketika dia menyadari kalau Grace mengawasinya. “Apa?” katanya datar.

“Ini orang kayak karet ya ekspresinya?” gumam Grace geleng-geleng kepala. Dia membuang muka dengan cepat. “Begini saja, deh, Pak. Saya pinjam ponsel untuk menghubungi Abang saya itu, bagaimana?”

“Kalau itu mobilmu, harusnya kau punya ponsel sendiri,” kata Refan.

Ini orang cari penyakit!!!! Awas entar!!!

“Ponselku tertinggal di mobil.” Kata Grace.

“Alasan,” katanya.

TUHAAAN!!! Apa, sih salahku?

“Gimana, Pak? Bisa tidak? Sebaiknya, kalau Anda waras, Anda mendengar saya. Orang ini musuh saya, Pak!”

Dahi Refan terangkat.

“Musuh? Aku saja tidak tahu kau itu siapa.” Kata Refan.

Grace mengepalkan tangan. Sabar… Sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar….

“Bagaimana, Pak?” kata Grace mencoba sabar.

“Nggak usah, Pak. Bohong, tuh,” Refan mengompori lagi. “Paling yang dipanggilnya itu komplotannya. Disuruh menyamar jadi orang kaya, mungkin.”

EKSTRA SABAAAAAAAAAAAAAR!

“Benar juga,” kata Sang Satpam.

“Pak, setidaknya saya diberi kesempatan untuk membela diri. Bukankah diperaturan perundangan para tersangka dipersilakan untuk menunjukkan pembelaan diri?” kata Grace mengopi perkataan Harry dulu. Darahnya sudah mendidih. Sedikit lagi digerecoki, dia pasti sudah meledak.

Refan menaikan alis lagi.

“Kau mau bilang apa lagi ha?” kata Grace dengan gigi hampir menyatu.

Refan mengerutkan dahi. Agak takut. Dia bahkan melihat ada api yang membara dibelakang punggung Grace, tanduk di kepala dan ekor serta sayap kelelawar. Seraaaaam.

“Aku cuma bilang kalau itu benar,” kata Refan kalem.

Emosi Grace mereda.

“Tapi,” sambungnya lagi. “Sebaiknya kau tidak terlalu berharap. Mana ada Abang yang mau mengakui kalau ada adiknya yang mencuri.”

HU!!! Terkutuklah kau, nak!! Semoga Tuhan menyadarkan dirimu!!!

“Kau ini sekarang belain aku atau nggak, sih?” kata Grace.

“Aku netral.”

NETRAL???? KAU HAMPIR MEMBUATKU DI PENJARA!!!

Refan mengalihkan pandangan ketika melihat Grace melotot marah padanya.

“Baiklah. Silakan hubungi komplotan kamu,” kata Pak Satpam.

“Bukan komplotan, Pak! Tapi Abang saya!” Grace memperbaiki. “Heh, pinjam ponselmu. Orang kaya pasti punya ponselkan?”

“Apa seperti itu cara meminta?” kata Refan angkuh.

“Kau mau aku ngapain, ha?” kata Grace. Rasanya darahnya akan segera meledak. Tinggal beberapa detik lagi.

“Pakai cara meminta yang manis.”

Kalau aku bisa… aku sudah membunuhmu dari tadi!!

“Refan… pinjam hape, dong…. Pleaaaaaaaaaaaaaaaaaase…. Semoga Tuhan membalas!” kata Grace memaksa tersenyum. Refan menaikan alis lagi.

OH TUHAN!! JANGAN LAGI!

“Nih,” Refan merogoh kantongnya dan memberikan ponsel metalik peraknya pada Grace.

Grace menarik napas dalam-dalam sebelum dia mengambil ponsel itu. Saat dia mau mengambilnya, Refan mengedikan tangannya sedikit.

APA LAGI, SIH!!!

“Apa kata sihirnya?” kata Refan.

“Makasih…. Sekarang aku bisa pinjam kan?” kata Grace lagi. Dia menyambar ponsel Refan dan cepat-cepat menghubungi Kim.

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif…”

TIDAK!!!

Grace mematikan ponsel. Tidak kurang akal, dia menghubungi salah satu penyelamat yang lain: Harry!

“Halo?” kata Harry dari seberang.

“Kak Harry, ini Grace!”

“Grace? Pake nomor siapa, nih?”

“Nggak penting! Nomor setan nggak perlu dibahas,” kata Grace cepat mengalihkan pandangannya dari Refan yang mengerutkan dahi tidak terima dibilang setan.

“Nomor setan?” ulang Harry bingung.

“Kak, datang ke Pos Satpam—“

“Pos Satpam? Ngapain? Aku nggak punya urusan datang kesana. Kim mana? Bukannya kau pergi sama dia? Ah, nggak bertanggung jawab tuh anak. Kalo pulang kumarahi dia.”

“Bukan. Bukan.”

“Lama banget, sih?” celetuk Refan. “Komplotan yang mau datang nggak ada yang mau ya?”

“Apa, sih? Komplotan?” kata Harry bingung.

“Tolong, deh, Bang. Grace dituduh nyuri mobil Bang Kim, nih. Sekarang sama Bocah Iblis cari masalah, jadi Grace disini terus.”

“Siapa yang kau katai bocah iblis?” kata Refan mengerutkan dahi.

“Masa Kim nuduh adek sendiri nyuri mobilnya? Nggak waras tuh si Kim!” kata Harry.

“Aduh, Kak… nomor Bang Kim nggak aktif. Diluar area.”

“Si Kim tuh yang tolol. Udah dibilangin ganti hape nggak mau. Jadi gini akibatnya!”

Kak Harry kok jadi marahin Bang Kim sih?

“Kak, sekarang mau nolongin gak?” kata Grace.

“Entar. Aku kesana.” Kata Harry.

Grace memutuskan hubungan. Dia menghela napas berat.

“Nih. Makasih.” Kata Grace lemas memberi ponsel Refan.

Tanpa komentar, Refan mengambil ponselnya dan mulai mengotak-atik.

“Berapa lama Abangmu datang?” kata Sang Satpam.

“Kira-kira empat puluh lima menit kalau dari rumah. Satu jam kalau dari kantor,” jawab Grace.

“Kantor apa? Kantor pencuri?” kata Refan.

“Kau ini cari gara-gara melulu ya?” emosi Grace naik lagi.

“Pulsaku habis, nih. Ganti.” Kata Refan.

“Nanti diganti Abangku lima kali lipat!” timpal Grace.

“Permisi, Pak. Saya kehilangan—loh, Grace?”

Hati Grace bersorak melihat siapa yang datang ke kantor Satpam. Kim! Grace segara berlari ke arahnya dan memeluknya. Hampir menangis. Untuk pertama kalinya dia senang ada Kim sebagai super hero.

“Aduh, Dek. Kalo mau kesini nelpon, dong!” keluh Kim mengusap-usap rambut Grace. Aduh, Bang! Aku udah nelpon Abang tahu!! Bajunya basah karena keringat. “Aku nyariin keliling mall. Bahkan sampai pake radio panggil!”

“Anda kenal gadis ini?” kata Pak Satpam.

“Tentu saja. Dia kan adik saya,” kata Kim. “Loh, siapa dia?”

“Makhluk asing yang membuat Grace disini. Gara-gara dia, Grace dituduh mencuri mobil Abang!” gerutu Grace masih memeluk Kim.

“Mobil BMW hitam metalik dengan plat K 1 M itu milik Anda?” kata Pak Satpam.

“Iya. Eh… ini SIM dan STNK,” Kim memberikan dompetnya. “jangan nangis, dong, Dek. Lain kali Abang nggak akan ninggalin kamu, deh.”

“Yah… kami mengerti. Dan kami minta maaf atas kesalahpahaman ini.” Kata Pak Satpam memberikan kembali dompet Kim.

Grace melihat Refan mengerutkan dahi. Mau apa lagi, nih orang?

“Bang, pinjam ponsel.”

“Buat apa?”

“Pinjam aja,” kata Grace.

Kim memberikan posel 3G-nya. Grace kearah Refan dan memberikan ponsel Kim.

“Nih, makan tuh hape!” kata Grace memberikan hape Kim pada Refan.

“Loh?” Kim terbengong.

“Yuk pergi, Bang!”

Grace menarik tangan Kim.

“Aku cuma butuh pulsa nggak butuh hape. Nih, kubalikin!” kata Refan memberikan hape ketangan Kim. “lagipula, aku nggak butuh hape murahan.”

Kim mengerutkan dahi. “Sombong ya?”

MEMANG!!! AWAS DIA!!!

Grace mengikuti Kim menuju mobi BMW Kim. Kim hanya geleng-geleng kepala saja sambil cekikan mendengar cerita Grace saat menuju rumah.

Mengenai Harry…

“Kalau kalian tidak memberitahu dimana adikku! Kupecat kalian!!!”

***

Grace melempar tubuhnya ke kasur. Capek.

Oh my God, aku baru merasa kalau lebih enak di rumah daripada di penjara…

BLAK! Pintu kamar terbuka. Harry muncul dengan wajah ngos-ngosan. Grace refleks terduduk. “Ya ampun, Dek! Kau ini bikin aku jantungan! Gimana ceritanya kok bisa di kantor Satpam? Sial banget sih kalau jalan sama Kim.”

“Bukan gitu, Kak—“

“Nomor yang dipake tadi Bocah Iblis siapa?”

Grace baru ingat kalau dia mendapat nomor Refan tanpa dia inginkan. Idih, siapa yang mau punya nomor hape manusia tidak punya hati nurani bak iblis bangkit dari liang kubur seperti dia? Ogah aja ye………. Tapi………

“Bang, pinjam hape.”

“Buat apa?”

Harry memberikan ponsel terbaru perusahaan tanpa menunggu jawaban dari Grace. Grace melihat list telepon masuk.

Ini, dia ZRH15021990A… nomor yang aneh…

“Kok tersenyum, Dek?” dahi Harry mengerut.

“Soalnya orang ini mirip banget sama Kakak.”

“Masa?”

Grace mengingat wajah Refan yang terkikik geli waktu di pos Satpam.

Kalau diperhatikan… dia emang ganteng kok, walau nyebelin.

***


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.