RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label philia-chiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label philia-chiko. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Philia-Chiko by Prince Novel



















Philia-Chiko
by: Prince Novel

Philia harus sering naik darah sejak kemunculan murid baru dari Kanada. Cowok sialan itu bernama Chiko. Kenapa dia membenci cowok itu? Karena Chiko selalu bisa mendepaknya dari nilai-nilai terbaik, membuat ubun-ubun Philia meledak marah jika melihatnya.

Tapi, hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Chiko naksir padanya.

Yang benar saja! Ini tak bisa dibiarkan. Philia harus melakukan sesuatu. Dan rencananya hanya satu: menceritakan masalah ini pada dua sahabatnya: Shan dan Septo.

Tapi yang menyebalkan, kenapa Shan dan Septo justru berteman akrab dengan Chiko? Setelah berusaha mendepakku, sekarang dia mau mengambil sahabat-sahabatku lagi? Tak bisa dibiarkan!


Reading Link

Philia-Chiko (Prolog)
Philia-Chiko (Paper 1) 
Philia-Chiko (Paper 2)
Philia-Chiko (Paper 3)
Philia-Chiko (Paper 4)
Philia-Chiko (Paper 5)
Philia-Chiko (Paper 6)
Philia-Chiko (Paper 7)



Senin, 14 Mei 2012

Philia-Chiko (Paper 6)


by: prince novel
Enam
Shan tercengang melihat Chiko tiba-tiba nongol di depan pintu rumahnya. Tanpa banyak bicara lagi, cowok itu langsung memintanya ikut untuk memata-matai Septo dan Philia.
“Dengar,” Shan mendengus jengkel sambil memperbaiki letak kacamata hitamnya. Dia mendelik jengkel pada Chiko sementara Philia dan Septo duduk berhadapan, tepat dua meja dari belakang mereka. “Aku sama sekali nggak tertarik buat menguntit mereka. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.”
Chiko membasahi bibirnya. “Kau tahu kalau aku tak bisa melakukannya. Aku akan kehilangan kesempatan.”
Shan memutar bola matanya. “Chik, kau sadar nggak sih kita berdua justru terlihat paling mencurigakan disini? Dua orang cowok duduk bersama di café buat orang pacaran,” lalu Shan melepas kaca matanya. “Aku juga tak bisa lihat apa-apa kalo gelap begini apalagi ditambahi kaca mata hitam. Kenapa kau tak mengajak teman wanitamu saja?”
“Masalahnya, kalo aku mengajak cewek kemari, mereka akan berpikir kalo aku tertarik pada mereka. Aku cuma tertarik pada Philia,” lalu dia terlonjak saat seorang pelayan datang.
“Mau pesan apa?” katanya dengan alis menaik dan penuh kecurigaan.
Shan buru-buru melihat menunya. “Lebih baik aku menikmati suasana daripada terjebak bersamamu, Chik,” tambahnya. “Aku pesan teh jahe hangat dan bisakah aku pesan lampu?”
Pelayan itu tersenyum kecil, “Ini tempat untuk pasangan.” Lalu dia pergi ke dalam.
“Oke. Sekarang tenang, kita tak akan bisa mendengarkan apapun yang mereka katakan kalau kau berisik.” Chiko melirik lagi pada Philia dan Septo yang didatangi seorang cowok berwajah tampan.
“Dia Mikho. Dia cowok brondong yang aku ceritakan waktu itu. Manis kan?” terdengar suara Philia.
Chiko dan Shan ternganga. Mereka bisa melihat jelas wajah kekagetan dari Septo.
“Wah Kak, pacarnya bisa cemburu kalo kau bilang aku ganteng di depan dia,” kata Mikho terkekeh.
“Kami nggak pacaran kok,” kata Philia cepat.
Alis Mikho menaik. “Oh, bukan ya?” kata Mikho lalu tertawa. “Aku masih punya harapan kalau begitu.”
Chiko mengepalkan tangannya.
“Tapi, waktu Kakak tepat banget datang kemari,” kata Mikho melirik ke dalam. “Bentar lagi band kami manggung. Ada acara live sedikit. Mungkin bakal ramai. Kak Philia nonton kan?”
“Kau masuk band?” kata Philia dengan mata membulat.
“Cuma band kecil-kecilan kok,” kata Mikho. Setelah itu ada suara yang memanggilnya dari dalam. “Aku pergi dulu ya. Selamat bersenang-senang,” setelah itu dia memberikan senyuman manisnya pada Philia.
Sekarang setelah Mikho pergi, Philia ganti menatap Septo. “Kita disini sampe nonton band mereka ya? Aku nggak pernah nonton live.”
Septo sebenarnya lebih sudi untuk angkat kaki dari tempat ini. Tapi, mengingat kalau Philia dan dia juga tak pernah nonton band apapun secara langsung kecuali di tv, Septo memilih untuk mengikuti suasana.
“Oke,” katanya mengangkat kedua bahunya. “Nggak masalah.”
Ariel datang membawa pesanan mereka. “Jika ada hal lain yang ingin kalian butuhkan, kalian bisa memanggilku atau pada temanku yang lain.”
“Thanks,” kata Philia memakan es krimnya lalu berkata, “Enak sekali.”
Ariel memberikan senyuman kecilnya lalu masuk ke dalam, melayani pelanggan baru yang masuk.
“Nah, kau mau bicara apa?” kata Philia memotong cakenya dan kelihatan begitu terpesona pada kecantikan isi di dalamnya.
Septo menyingkirkan kopinya yang baru sedikit diteguk. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup tak karuan. Setelah teralihkan dengan Mikho, dia baru sadar kalau dia punya urusan disini.
“Kau sering berhubungan dengan Mikho?” kata Septo.
“Iya,” Philia mengangguk. “Kami SMS-an tiap hari,” Philia mengangguk.
“Mereka SMS-an tiap hari?” ulang Shan tak percaya.
“Dan Philia tak pernah membalas SMS-ku,” kata Chiko lemas.
“Dia membencimu, ingat?” gumam Shan lagi.
Mereka melihat Septo melotot. “Apa dia mengirim SMS merayu?”
Philia menggeleng. “Dia cuma SMS hal biasa,” dia mencuil es krimnya lagi. “Aku mau tanya resepnya. Es krim dan kuenya enak sekali. Kau memilih tempat yang bagus, Septo. Lain kali kau harus ajak pacarmu kemari.”
Pacar, Septo mengulang dalam hati. Kata itu seperti mengatakan padanya untuk melihat bahwa ada orang yang bersedia menunggu di hadapannya.
“Ini yang ingin kukatakan padamu, Philia,” kata Septo serius.
“Apa? Mengenai pacar?” canda Philia, lalu dia tiba-tiba serius. “Kau sudah punya pacar? Kenapa kau nggak bilang padaku? Siapa?”
“Bukan, bukan aku. Aku sama sekali nggak punya pacar,” kata Septo cepat. “Ini mengenai kau. Aku mau tanya apa kau sudah punya pacar.”
Philia terheran. “Nggak ada,” katanya. “Kalau aku punya pacar, kau orang pertama yang akan kuberitahu.”
Septo menggangguk penuh perhatian. Dia membasahi bibirnya. “Aku mau tanya satu hal padamu. Jika kau tak keberatan, Philia.”
“Oke.”
“Apa kau punya orang yang kau suka?”
Ketika melihat wajah kekagetan di wajah Philia, Septo yakin kalau pertanyaan tepat sasaran. Philia menyukai seseorang. Itu sudah pasti!
“Kau tahu darimana?” kata Philia dengan tampang curiga. “Gina saja nggak tahu kalau aku punya orang yang kusuka.”
Septo mengangkat bahunya, menjawab dengan asal, “Aku rasa semua orang punya seseorang yang dia suka. Itu sudah ada sebagai sebuah peraturan yang tak bisa lagi dicegah. Jika kau tahu maksudku.”
Anehnya, Philia tertawa, “Ya ampun. Kau baca buku apa lagi sih? Emangnya buku elektronik nggak cukup untukmu?”
Wajah Septo bersemu merah. “Siapa cowok yang kau suka?”
Philia menggigit bibirnya. “Kalau aku bilang, kau nggak bakal marah kan?”
Septo menggeleng. Deg-degan tak karuan.
“Kalau aku bilang, kau nggak bakal tertawa kan?” kata Philia memastikan.
Septo menggeleng lagi. “Aku nggak bakal bilang apa-apa.”
Philia mencondongkan tubuhnya, sehingga Septo juga ikut-ikutan mencondongkan tubuhnya. Kemudian Philia berbisik pelan ke telinganya dan tak bisa kedengaran oleh Shan dan Chiko yang mengawasi mereka. Namun, mereka tak bertanya-tanya siapa cowok yang disebutkan oleh Philia karena Septo duduk terkaget dan berteriak sehingga dapat didengar semua orang, “HAH? SHAN? KAU SUKA SHAN?”
Shan yang sedang meminum teh jahenya menyemburkan semua isinya sampai dia tersedak. Sedangkan Chiko yang duduk di dekatnya ternganga. Wajahnya penuh kekagetan.
“Ssssh!” kata Philia jengkel. “Jangan teriak-teriak!”
Jadi, selama ini Philia naksir sama Shan? Shan sialan. Kenapa dia bilang kalau Philia naksir padaku? Batin Septo jengkel. Hampir aja aku melakukan hal gila.
“Kenapa-kenapa-kenapa kau suka padanya?” kata Septo tercengang. “Kau bahkan selalu datang padaku kalau kau punya masalah, ya kan?”
Wajah Philia bersemu merah. “Begini, Sep. Aku nggak mau menunjukan kelemahan pada Shan. Kau tahu kan kalau dia punya banyak penggemar. Aku kan nggak mungkin manja-manja padanya. Nanti dia mikir aku cewek pecicilan lagi.”
Septo mengerjapkan mata nggak percaya. “Kau serius suka beneran pada Shan?”
Philia mengangguk pelan. “Udahlah. Itu bukan apa-apa lagi. Sekarang, kita lupakan masalah itu dan aku mau nanya, apa kau punya cewek yang kau suka?”
Kali ini giliran wajah Septo yang memerah, “Aku kan udah bilang nggak ada,” gumamnya. Tapi dia merasa ada yang tak beres dengan dadanya. Ng? Apa ini? Apa ini sakitnya sakit hati? Atau jangan-jangan ini perasaan orang yang sedang patah hati? Patah hati? PATAH HATI? GARA-GARA SIAPA?
Septo melirik sedikit pada Philia yang sibuk memakan es krimnya. Sial. Kalau bukan perkataan Chiko dan kalau saja bukan karena perkataan Philia yang jujur, dia tak mungkin merasakan hal yang begini.
Tamu-tamu berdatangan lagi. Kali ini suasana lebih ramai daripada sebelumnya. Terdengar suara dari dalam yang meminta mereka untuk masuk. Acara manggung secara live akan segera dimulai. Meja-meja bundar kecil yang sebelumnya memenuhi ruangan dalam entah sejak kapan digeser dan menempatkan sebuah drum, gitar, keyboard dan beberapa sound system dikelilingi oleh penonton.
Dengan sangat bersemangat, Philia menarik Septo untuk ikutan masuk ke kerumunan. Shan dan Chiko memilih saat ini untuk mengendap-endap kabur dari café. Misi mereka sudah terlaksana.
Tapi walau Philia menikmati suasana musiknya, Septo tidak sama sekali. Dia ingin cepat-cepat pulang dan menghajar Shan. Lalu dia berpikir kalau dia tak akan mungkin bisa melakukannya. Shan sahabatnya. Begitu juga dengan Philia. Jika dia memberitahu Shan apa yang terjadi pada malam ini, maka Philia yang akan tersakiti. Dia sudah berjanji pada Philia untuk tak mengatakan apa-apa.
Namun, lagi-lagi Septo bertanya pada hati dan pikirannya sendiri. Apakah dia bisa bersikap biasa saja pada Philia dan Shan untuk seterusnya? Apakah persahabatan mereka masih bisa utuh walau sudah tercampur dengan roman picisan? Bagaimana dia bisa bersikap seolah tak tahu apa-apa sementara hatinya sendiri berontak dengan pilihan Philia?
Septo terdiam lagi. Dia melirik Philia yang ikut berjoget mengikuti irama musik. Mungkin dia memang patah hati. Tapi ketika melihat kegembiraan di wajah Philia, entah kenapa dia bisa meyakini kalau dia akan baik-baik saja.
^^^***^^^
“Yang dikatakan Septo waktu di festival sekolahmu memang benar. Kau cowok bego yang buta. Kau sama sekali tak bisa melihat cinta di mata Philia,” kata Chiko mencengkram setirnya. Rahangnya mengeras. Entah bagaimana caranya dia bisa menahan emosinya hingga tidak melayangkan tinjunya pada Shan dan justru dengan aman ada di mobil, mengantar Shan pulang.
Shan sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun sejak Septo meneriaki kalau Philia menyukainya. Otaknya terasa membeku. Seperti es. Dia bahkan tak bisa merasakan apa-apa.
“Aku heran melihat persahabatan kalian berdua. Ada dua orang cowok yang selalu menjaga seorang cewek. Tidak satupun dari kalian yang menyukai Philia lebih dari seorang sahabat? Kalau aku sih aku bakal tak menyia-nyiakan kesempatan ini,” kata Chiko jengkel.
Shan akhirnya menemukan kemampuannya berbicara, “Aku sedang bermimpi.”
Chiko mencubit pipi Shan sampai cowok itu mengerang, “Sakit kan? Itu bukti kalau kau tak bermimpi. Mimpi gundulmu. Aku sama sekali tak ingin ada di mimpimu, tahu.”
Shan mengelus pipinya yang dicubit Chiko. “Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sama sekali tak menyangka kalau Philia menyukaiku.”
“Terus menurutmu apa yang harus kukatakan? Aku melihat cewek yang kusukai menyatakan cinta pada orang yang saat ini duduk disampingku. Apa menurutmu aku harus mendukungmu? Yang benar saja. Aku tak mungkin sebaik itu. Udah untung kau tak kutinju.”
Kepala Shan terkulai lemas ke kaca jendela. “Aku juga sudah mengatakan hal yang aneh pada Septo. Aku yakin dia akan menghajarku setelah ini. Dia sudah mendengar hal yang tak seharusnya dia dengar.” Kemudian dia mengerang. “Ya ampun. Kenapa kejadiannya jadi berantakan begini sih?”
Chiko memindahkan kopling dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menatap Shan dan berteriak jengkel, “Kaulah yang membuat ini semua terjadi!”
Shan menghela napas. “Chik, aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa lagi. Aku bahkan nggak tahu apa aku bisa melihat wajah Philia lagi.”
“Kau tak suka Philia?”
“Aku tak punya alasan untuk membencinya.”
Chiko memutar bola matanya. Dia kembali menghidupkan mesin mobilnya dan membawanya ke rumah Shan tanpa banyak bicara lagi.
“Bye, Chik. Thanks udah ngantarin aku,” kata Shan dengan nada lemas. Dia menutup pintu di belakangnya dan tak melihat mobil Chiko yang pergi.
^^^***^^^
Gina dan Philia terkaget ketika Chiko muncul tiba-tiba dari balik koridor. Cowok itu emang selalu bikin kaget. Tapi yang mengagetkan bukan hanya itu saja, melainkan karena auranya juga buruk. Mukanya ditekuk dan kantong matanya terlihat berat. Mungkin dia nggak tidur semalaman.
“Mukamu jelek banget,” komentar Philia dengan nada pedas.
Chiko menatapnya sejenak. “Thanks,” katanya.
Gina dan Philia saling pandang. Nggak biasanya Chiko bertingkah seperti ini. Dia selalu tersenyum nggak jelas, tebar-tebar pesona dan bertingkah sebagai cowok paling cakep di muka bumi ini. Bukannya kayak cowok nggak punya harapan.
“Kau kenapa?” kata Philia dengan dahi mengerut.
Chiko tersenyum kecil, “Aku nggak apa-apa.” Setelah itu dia melewati mereka berdua dan berjalan dengan lunglai ke kelasnya.
“Dia kenapa sih?” kata Philia heran.
Gina mengangkat kedua bahunya. “Dia kayak orang frustasi,” komentar Gina.
Philia mengakuinya. Muka Chiko kayak orang yang baru saja terkena badai yang luar biasa. Manyuuuuuuun sepanjang hari, setidaknya itulah yang dikatakan teman-temannya padanya. Rasanya mengherankan sekali melihat cowok “periang” kayak Chiko tiba-tiba jadi pemurung yang nggak punya nyawa.
Aku ini kenapa sih? Aku harus peduli apa padanya? Dia mau murung kek, mau happy kek, mau frustasi kek atau apapun yang dia lakukan, itu nggak ada urusannya denganku. Kenapa pula aku repot-repot memikirkan cowok itu?
Harusnya aku lebih berbahagia karena dia nggak berisik!
Tapi Philia entah kenapa merasa kesepian melihat tingkah cowok itu nggak seperti biasa. Melihat cowok itu nggak bertebaran di sekitarnya seperti ruang kosong yang belum terpenuhi. Philia merengut masuk ke kamar Septo bahkan sebelum dia masuk ke rumahnya.
Septo berteriak, memakai kembali celananya yang nyaris saja dia buka. Wajahnya merah padam saat berkata jengkel, “Philia, ingat kata ketuk pintu nggak sih?”
Philia duduk di tempat tidur. “Kita bertiga kan dulu sering mandi bareng.”
“Waktu kita umur tiga tahun,” kata Septo menarik risleting. Dia duduk di dekat meja komputer, masih memakai seragam sekolahnya. “Nah, ada apa sekarang?”
“Kau mengatakan sesuatu pada Chiko ya?” kata Philia.
“Nggak. Aku nggak pernah ketemu dia akhir-akhir ini.”
“Yakin?” kata Philia dengan nada penuh curiga. “Kau belum melakukan apa-apa untuk membuatnya jauh dariku kan?”
“Belum tuh. Emang kenapa?” kata Septo penasaran.
Philia berpikir sejenak. “Hari ini dia agak aneh.”
Septo mengerutkan dahi. Jangan-jangan Shan mengatakan sesuatu soal aku? Apa Shan bilang sama Chiko mengenai telepon itu? Tapi kan kenyataan sebenarnya Philia suka pada Shan, bukan padaku—hal yang tak diketahui Shan maupun Chiko. Septo bahkan nggak bertemu Shan dan membicarakan masalah ini lebih lanjut sejak dua hari lalu.
“Menurutku, dia pasti mengalami masalah di keluarganya. Aku yakin,” kata Septo dengan sok tahu. “Kadang-kadang, masalah keluarga bisa membuat seseorang menjadi jauh lebih buruk. Aku punya beberapa contoh yang bisa terjadi pada perubahan sifat seseorang karena masalah keluarga—”
“Ok, ok,” kata Philia mengangkat tangannya. “I got it.”
Septo mengerucutkan bibirnya. “Aku pengen balik ke café kemarin. Cake mereka membuatku ingin makan lagi. Jadi aku beli cake mereka tadi sepulang sekolah. Kau mau makan?”
Mata Philia berbinar. “Kau bawa apa?”
“Hari ini aku mau coba Angelicake sama Banana Pastriy,” kata Septo. “Mereka menyarankan padaku untuk beli. Kata mereka rasanya enak.”
“Aku mau,” kata Philia menarik Septo untuk segera turun ke bawah. Pikirannya mengenai Chiko hilang dalam sekejap.
^^^***^^^
We need to talk,” Shan menerobos masuk ke kamar Chiko. Dengan gelisah dia duduk di bangku computer Chiko. Chiko sendiri kelihatan tidak begitu meresponnya—anak itu menaikan alis melihat Shan nongol lalu memunggunginya dengan tampang bermusuhan. “Dengar, aku tahu kau masih marah soal kemarin. Tapi aku sudah memikirkan masak-masak apa yang harus kulakukan.”
Chiko tak merespon. Ia masih memunggungi Shan.
“Mengenai Philia, setelah kurenungkan dengan lebih seksama, aku hanya menganggap dia sebagai sahabat. Tak lebih.”
Chiko merespon. Ia berbalik dengan alis menaik. “Kau pikir aku bisa percaya dengan omong kosong itu?”
“Ini bukan omong kosong. Ini kenyataan. Aku cuma menganggap Philia sebagai teman. Dan aku sangat yakin mengenai hal itu,” kata Shan mantap.
“Ha,” Chiko geleng-geleng kepala. “Aku tak percaya mengenai itu. Jika kau tanya aku, aku bisa melihat kalau kau sangat menyukai Philia.”
“Aku menyukai Philia sebagai teman!” ulang Shan dengan nada jengkel.
“Kita lihat saja nanti. Waktu Philia tiba-tiba dekat dengan cowok, kau bakal kebakaran jenggot,” Chiko berjalan menyebrangi ruangan, mengambil buku tebal dan membolak-balik isinya dengan tidak focus.
Shan membasahi bibirnya dengan gelisah. “Tapi kenyataannya waktu kau coba-coba mendekati Philia, aku tak merasa kebakaran jenggot.”
“Itu karena Philia tak menyukaiku. Dia membenciku,” Chiko menyerah mengalihkan perhatiannya dari buku. Kali ini dia menatap Shan secara langsung. “Ah, sudahlah, kenapa aku justru membahas hal tak penting? Kalian saling mencintai dan aku cuma pengganggu. Tamat.”
“Kau cuma terlalu berlebihan dan cepat menyerah. Tunggu—” Shan mengangkat tangannya, menghentikan ocehan Chiko yang hendak keluar ketika ponselnya berbunyi. “Dari Philia,” katanya.
“Nah, kan? Apa kau sekarang mau pamer?” gerutu Chiko duduk di atas tempat tidurnya sambil melipat tangan dengan jengkel.
“Sssshhh,” desis Shan. “Ya, Philia?”
“Kau ada dimana?” suara Philia terdengar di seberang.
Shan memutar otak. “Erm, aku masih di sekolah. Perpustakaan.” Shan mengacuhkan dengusan Chiko. “Emangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa sih,” kata Philia. “Aku lagi bareng Septo sekarang.”
“Oh,” Shan menanggapi dengan bingung. “Terus?”
“Septo minta aku jadi pasangannya. Bagaimana menurutmu?”
Shan melongo. Otaknya terasa macet. Dia menatap Chiko yang sama bengongnya dengan dia.
“A-a-a-apa?” kata Shan tergagap. “S-S-Septo bilang a-a-apa?”
“Septo minta aku jadi pasangannya dan dia tanya apa kau mengizinkanku pergi berdua dengan dia sebagai pasangan.”
Shan kehabisan kata-kata. Dia harus bilang apa?
“Apa kubilang? Kau bakal kebakaran jenggot,” kata Chiko dengan nada menyebalkan.
^^^***^^^

Minggu, 22 Januari 2012

Philia-Chiko (Paper 5)

by: Prince Novel

Lima

Septo mondar-mandir di kamarnya. Otaknya berpikir cepat. Bagaimana cara dia mengabulkan permintaan Philia? Chiko anak yang menyenangkan dan Septo sama sekali tak keberatan kalau Chiko dekat-dekat Philia. Tapi sikap Philia pada Chiko benar-benar diluar dugaan. Dia juga tak ingin Philia stres karena Chiko.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Septo mengambil ponselnya, menghubungi cepat nomor seseorang dan menunggu beberapa saat sampai orang di seberang berkata, “Apa, Sep? Aku lagi sibuk nih.”

“Sibuk? Aku bahkan nggak mendengar suara biolamu,” balas Septo berjalan ke depan jendela dan menyingkirkan gordennya.

Shan mendesah di seberang. “Aku lagi ngerjain PR nih. Ada apa?” katanya pelan dan sebelum Septo menjawab, Shan buru-buru menambahkan, “Kuharap ini bukan mengenai arus bolak-balik atau automatisasi robotika, atau struktur elektronik dan sejenisnya. Aku nggak ada waktu buat mendengarkannya sekarang.”

“Ini mengenai Philia,” kata Septo jengkel.

“Oh, kenapa dengan dia?”

“Dia minta aku ngusir Chiko dari kehidupannya. Apa Philia juga minta kau melakukan hal yang sama? Aku nggak tahu harus berbuat apa nih.”

Hening sejenak. Kemudian Shan menjawab pelan. “Datang ke rumahku gih. Aku tunggu di depan pintu ya.”

“Ngomong disini aja bisa kan?” kata Septo heran.

“Nggak ah. Kalo Philia dengar kan nggak enak,” kata Shan. “Udahlah. Kau kesini aja apa susahnya sih? Entar aku kasih kau makan pudding lezat buatan Mama deh.”

Septo mengiyakan permintaan Shan dengan cepat, lalu dia meloncat dari kamarnya sambil mengambil jeketnya. Maltesa mengikutinya dari belakang ketika dia keluar dari rumahnya sambil berteriak kalau dia mau ke rumah Shan sebentar sambil mengangkat Maltesa di tangannya yang kokoh.

“Aku cuma mengundangmu, bukan Maltesa,” kata Shan saat dia membuka pintu dan melirik Maltesa—yang mengulurkan lidahnya lalu menggong-gong dengan senang.

“Dia suka pudding,” Septo nyengir lebar.

“Tinggalkan dia di lapangan bersama Dhito. Dhito nanti jadi ikut-ikutan masuk ke kamar kalo Maltesa juga ikut,” kata Shan menyerah.

Septo nyengir lebar dan meletakan Maltesa ke bawah. Anjing mungil itu berlari ke kandang Dhito dan Dhito menyambutnya dengan ekor bergoyang.

“Kau naik ke kamarku. Aku ambil pudding dulu,” kata Shan membuka sedikit pintunya untuk membiarkan Septo masuk. “Kau mau minum apa?”

Milk shake dan kalau kau tak keberatan, sedikit hangat dengan aroma menawan,” kata Septo, berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Shan.

Shan geleng-geleng kepala dan sedikit terkikik geli mendengar permintaan Septo.

Septo masuk ke kamar Shan yang bersih bernuansa kebiruan yang tenang dan menyejukan. AC tidak menyala, sebagai gantinya angin masuk dari jendela balkon yang luas. Meja belajarnya penuh dengan buku. Tempat tidurnya juga rapi, luas dengan seprai coklat yang lembut. Ada kumpulan miniature alat musik di salah satu lemari kecil, koleksi Shan yang sangat mahal.

Philia sempat menyikat habis semua mainan itu waktu mereka berusia delapan tahun sehingga bentuknya jadi kumal tak jelas. Shan hampir pingsan begitu melihat kalau koleksinya berubah menjadi satu warna. Namun berkat kejeniusan Septo, semua koleksi itu berhasil menjadi berwarna lagi dengan sedikit cat warna.

Septo tersenyum, mengambil salah satu foto yang diambil satu tahun lalu. Saat itu mereka liburan ke Danau Toba dan Shan berhasil menangkap ikan dengan ukuran sangat besar. Kenangan yang menyenangkan, apalagi jika ditambahi dengan munculnya kembang api di langit.

Ponsel Shan berdering dan bergetar di meja belajar. Perhatian Septo teralih dan menuju ponsel Shan. Septo mengintip sedikit pada pintu yang tertutup, kemudian dia mengalihkan matanya pada ponsel Shan.

Ada satu pesan yang masuk. Dari Chiko.

“Loh?” Septo terheran. “Jadi selama ini Chiko berhubungan dengan Shan? Hebat juga si Chiko langsung dekat-dekat Shan yang tahu jiwa Philia dengan baik,” Speto terkekeh, lalu duduk di atas tempat tidur sambil bersiul.

Dia dapat mendengar suara Maltesa dan Dhito yang saling menggonggong. Terry juga membalas dari seberang. Dan suara Philia yang menyuruhnya diam membuat Septo tersenyum lagi.

Philia memang lucu. Yang mengherankan kenapa tak ada juga cowok yang menyadari itu ya? Masa cuma Chiko yang sadar sih? Padahal kan Philia gadis manis.

Septo menguap, melirik jam dinding yang tertempel dengan apik di seberang ruangan. Jam sepuluh. Pantas saja dia merasa capek. Tadi di sekolah ada olahraga yang menyita habis tenaganya, belum lagi ada praktikum yang menyita pikirannya.

Ponsel Shan berdering lagi. Kali ini lebih lama dan ringtone-nya berbeda dengan yang sebelumnya. Septo bangkit dan mendapati kalau nama Chiko tertera lagi di layar.

Septo menunggu beberapa saat sampai ponsel Shan berhenti, tapi setelah beberapa detik berhenti, ponsel Shan berdering lagi dan masih dari Chiko. Memastikan kalau Shan mungkin masih lama karena milk shake, Septo mengambil ponsel Shan dan mengangkatnya.

“Shan, kenapa kau nggak balas SMS-ku sih?” gerutu Chiko dari seberang. “Dengar, aku tahu kau ini teman Septo tapi kau juga harus kasihan pada Philia.”

Ha? Septo terbengong.

“Aku ngerti posisimu yang terjepit diantara mereka bertiga. Tapi kau harus menolongku membuat Philia melupakan Septo—”

Pintu terbuka dan Shan masuk membawa pudding dan milk shake yang mengepul dengan wangi yang enak.

Tapi pikiran Septo saat ini sekarang ada pada pembicaraan Chiko.

“—kan kasihan si Philia cintanya nggak terbalas-balas dari si Septo. Septo sendiri juga nggak sadar dengan perasaan si Philia.”

“Aku bawa pesananmu nih,” kata Shan meletakan nampan ke meja belajarnya. “Kau pasti suka. Kau kenapa?” kata Shan dengan dahi mengerut. “Kau teleponan dengan siapa?”

Septo menurunkan ponsel Shan dari telinganya dan memberikannya pada Shan. Shan masih mengerutkan dahi saat menempelkan telinganya ke telepon dan mendengar suara Chiko di seberang.

“Shan? Kau masih disana kan?”

“Eh? Apa?” kata Shan bingung.

“Ya ampun. Aku tanya apa yang harus kulakukan mengenai si Philia nih.”

Shan menatap Septo. Septo kelihatan tidak seperti lima belas menit lalu. Wajahnya tegang dan tangannya terkepal sementara berulang kali dia menelan ludah. Ada sesuatu yang terjadi.

“Sori, Chik. Emangnya tadi kau bilang apa sih? Aku nggak konsentrasi,” kata Shan was-was. Ekspresi Septo menunjukan kalau pembicaraan Chiko sangat berbahaya.

“Aku tanya apa kau bisa membantuku jadi mak comblang antara aku sama si Philia. Tapi nggak masalah sih kalo kau tak mau. Aku ngerti kok posisimu diantara Septo dan Philia. Ya—”

“Shan, apa benar Philia suka sama aku?” kata Septo tiba-tiba.

Shan tercengang. Astaga. Jadi Septo benar-benar mendengar semuanya?

“Halo Shan? Kau masih disana?” kata Chiko lagi diseberang.

“Um, Chik. Entar aku hubungi lagi ya. Ada emergency nih,” kata Shan dan tanpa menunggu jawaban, dia menutup telepon Chiko. Shan melirik Septo pelan-pelan, kemudian dia membasahi bibirnya dan berkata, “Apa yang ingin kaubicarakan?”

“Aku tanya apa benar Philia suka sama aku,” ulang Septo dengan nada lambat dan jelas.

Shan kembali membasahi bibirnya. “Kau datang kemari cuma untuk bertanya itu?”

Septo mengalihkan perhatiannya ke balkon. Shan menduga kalau Septo pastilah berupaya untuk menjaga emosinya agar tetap tenang. Dia tahu walau bagaimanapun keadaannya, Septo tak ingin bertengkar dengannya hanya karena masalah sepele.

Setelah beberapa detik, Septo kembali menatap Shan dengan ekspresi yang lebih tenang.

“Awalnya aku datang kemari untuk meminta bantuanmu mengenai Philia. Tapi aku nggak tahu lagi apakah pembicaraan ini menjadi penting setelah aku mendengar perkataan Chiko tadi,” kata Septo pelan.

“Philia bilang apa?” kata Shan.

“Philia minta aku untuk mengusir Chiko dari kehidupannya,” Septo menjawab blak-blakan, sesuai sifatnya. “Tapi aku cukup menyukai Chiko dan mendukung hubungan mereka jika suatu hari nanti mereka jadian. Masalahnya—aaah!” Septo kembali tak terkontrol. “Aku tanya padamu sekali lagi, apa yang dikatakan Chiko barusan itu benar?”

Shan menggigit bibir. “Aku juga nggak tahu secara pasti, Sep. Aku cuma menduga.”

“Terus kenapa dugaanmu mengarah padaku?” kata Septo tak sabar. “Kenapa bukan kau?”

“Aku mengenal Philia sejak kecil, Sep. Aku tahu kalau dia memang sering naksir cowok tapi semuanya itu tak lebih dari cara dia naksir padamu.”

Septo mengerutkan dahi, masih tak mengerti.

“Aku cuma melihat dari ekspresi Philia kalau dia benar-benar suka padamu,” kata Shan duduk di meja belajar. “Dan kau tak peka. Setiap kali dia merasa terancam dan butuh sesuatu yang mendesak, dia akan mengandalkanmu lebih daripada aku. Contohnya ya sekarang. Saat ini. Philia memintamu untuk mengusir Chiko kan? Kenapa dia tak memintaku juga? Kenapa dia cuma meminta padamu?”

“Philia mungkin lupa untuk memberitahumu,” kata Septo mondar-mandir.

Shan menggeleng. “Kenyataannya, aku selalu jadi nomor dua saat Philia memberitahu hal penting. Kau selalu jadi nomor satu. Terima saja kenyataan itu.”

Septo masih mondar-mandir. “Ini tidak benar. Sama sekali tak benar. Aku tak percaya kalau Philia suka padaku. Seleranya sangat tinggi dan Chiko memiliki kemampuan yang lebih daripadaku. Kenapa dia justru memilihku?”

Shan menghela napas. “Aku juga nggak tahu, Sep. Kenapa kau tak tanya saja sama Philia secara langsung?” canda Shan.

Septo berhenti melangkah dan mengangguk mantap. “Aku akan melakukannya.”

Shan tercengang. “Kau akan melakukannya?” ulangnya ngeri. “Sekarang?”

Septo menggeleng. “Nggak. Besok. Aku ingin malam ini Philia tidur dengan tenang.”

Shan mengerjap tak percaya. Septo benar-benar menganggap serius perkataannya. “Dan apa yang akan kau lakukan jika Philia benar-benar naksir padamu?”

“Aku tak yakin mengenai itu,” kata Septo mantap. “Dia suka sama si Brondong.”

“Tapi bagaimana kalau dugaanku benar? Apa yang akan kau lakukan? Membalas cintanya? Menolak Philia? Apa kau sendiri sudah yakin dengan perasaanmu saat ini? Memangnya apa yang kau jawab kalau Philia tanya mengenai perasaanmu?” kata Shan serius.

Septo terdiam beberapa saat. Otaknya kembali mencerna perkataan Shan.

Selama ini dia memang menganggap Philia sebagai teman baik. Teman baik pertamanya yang berjenis kelamin wanita. Bersama Philia sangat menyenangkan sekaligus seru juga. Dia tak pernah berpikir mengenai hal lain selain sahabat.

Tapi, jika Philia melihatnya sebagai seorang cowok, bagaimana caranya sendiri melihat Philia?

Oh, Tuhan, ini mengerikan. Tak pernah terbayang dalam pikirannya kalau Philia suka padanya. Berharap saja dia tak pernah.

Dan Philia suka padanya.

Sejak kapan? Sudah berapa lama? Dan kenapa dia tak menyadarinya?

Philia pastilah sudah memendam perasaan apapun itu sejak lama. Entah berapa banyak penderitaan yang ditanggung cewek itu.

Dan ini juga salahnya sendiri karena tidak peka terhadap keadaan sekitarnya.

Septo rasanya ingin membenamkan dirinya ke sungai terdekat. Atau melemparkan dirinya dari gedung yang tinggi. Atau mungkin menguburkan dirinya ke tempat terdalam. Pokoknya kemana saja untuk lari dari masalah ini.

“Nah?” kata Shan saat Septo melihatnya.

Tapi Septo tak bisa lari.

Jika dia lari maka Philia akan tersiksa lebih lama dan dia benci jika dirinya menjadi pengecut. Masalah ini harus diluruskan secepatnya. Dia harus melakukan sesuatu.

Tapi, bagaimana caranya?

“Kurasa aku mau makan pudding,” kata Septo mengambil pudding di atas meja dan memakannya dalam diam. Benaknya dipenuhi dengan algoritma kemungkinan.

^^^***^^^

Chiko tak tenang. Berulang kali dia menatap ponselnya dengan kerutan di dahi yang makin lama semakin dalam.

Sejak kemarin malam Shan sama sekali tak bisa dihubungi. Bahkan saat pesan masuk dari Shan keesokan harinya, beberapa detik setelahnya, nomornya tak bisa dihubungi lagi. Pesan dari SMS Shan membuatnya gundah. Isinya:

Sori, Chik. Aku nggak bisa bantu apapun sampai masalah emergency selesai. Kau siap-siap aja untuk kemungkinan terburuk.

Tapi, kemungkinan terburuk apa? Apa Philia tahu kalo selama ini dia mendapat bantuan dari Shan?

“Woi, aura lo nggak enak tahu,” Steave mendatanginya sambil menggetoknya dengan buku absensi. “Kenapa lo? Dari pagi manyun mulu. Elo nggak ketemu bidadari lo? Biasanya elo langsung ngacir kalo udah bel begini.”

Chiko meliriknya sejenak tapi memilih tak menjawab.

“Gue tahu. Elo kalah saing sama teman si Philia kan?” Steave ngakak. “Kan udah gue bilang, elo lebih baik nyerah aja deh. Ada dua cowok cakep yang bersedia mati demi dia. Nggak ada elo si Philia juga senang-senang aja tuh.”

“Rese lo. Gue lagi bête tahu.”

Steave nyengir lagi. “Marahan lagi sama si Philia?”

Chiko menghela napas.

Dengan lagak kebapakan Steave menepuk bahu Chiko. “Salah lo sendiri sih pake acara main sikat aja. Dia kan jadi sensi ngeliat elo. Cewek itu butuh slow motion tahu. Tarik… ulur… tarik… ulur… gitu.”

Chiko menatap Steave lagi. “Lo kira layangan? Steave, elo nggak tahu masalahnya jadi lebih baik elo diam aja deh. Gue nunggu telepon penting nih?”

“Oh, ya? Dari siapa?”

“Shan.”

“Shan? Si Shandy maksud lo? Wah…” Steave tercengang. “Sejak kapan elo jadi akrab sama sobatnya si Philia. Hebat juga lo. Nggak bisa pedekate lewat Philia, elo pedekate lewat temannya. Salut gue/”

“Aduh, elo berisik tahu nggak,” gerutu Chiko.

Steave ngakak lagi. “Tadi gue keluar. Terus ngga sengaja dengan ceritanya si Philia di telepon sama si Septo. Elo mau tahu nggak mereka cerita apa?”

“Nggak. Dan gue nggak peduli.”

“Masa sih?” kata Steave dengan alis menaik. “Ya udah deh, gue ninggalin elo sendiri buat nunggu teleponnya si Shandy. Lo aneh deh, padahal yang dekat banget sama si Philia kan Septo bukan Shandy. Harusnya elo dekatin Septo bukan Shandy.”

Namun tiba-tiba saja Chiko merasa tertarik dengan perkataan Steave. “Eh, tunggu tunggu tunggu. Gue berubah pikiran. Mereka ngomong apaan?”

Steave ngakak, “Yeee, elo, kalo udah berurusan sama Philia aja, lupa sekitar lo,” lalu dia buru-buru menambahkan saat melihat tampang seram Chiko yang nongol. “Oke. Gue dengar tadi kalo Philia sama Septo janjian ke Café. Amour Café. Lo tahu kan tempatnya?”

Chiko menggeleng. “Gue masih belum sempat jalan-jalan.”

Steave memutar bola matanya, “Itu Café terkenal. Coba elo cek di sekitar Kelapa Gading. Tempatnya tepat di sudut dan terpencil. Elo tanya orang di pinggir jalan juga pada tahu kok.”

“Oke deh,” Chiko mencatat alamatnya dengan cepat. “Thanks ya.”

“Tapi gue minta elo siap-siap buat kemungkinan terburuk deh.”

“Emang kenapa?” kata Chiko.

“Itu kan café buat orang pacaran. Biasanya orang datang kesana buat nembak cewek, bikin lamaran, atau sejenisnya. Istilahnya, berpasangan,” kata Steave. Lalu dia menambahkan, “Tapi, ehm, itu cuma gosip,” saat melihat wajah kaget Chiko.

Café buat pasangan? Chiko mengulang ngeri dalam otaknya. Ini tak berarti kalo Philia bakal nembak Septo kan? Atau malah lebih parah, Septo ternyata suka beneran pada Philia!

^^^***^^^

Septo merapikan rambutnya di depan cermin. Kegugupan tampak jelas di wajahnya. Bahkan dengan pakaian yang terlalu rapi dan tak biasa itu membuatnya jadi kelihatan aneh. Akhirnya, dengan tampang putus asa, Septo kembali ke depan lemarinya dan mengeluarkan kaos dan jeketnya lalu memakainya dengan cepat.

Sekali lagi Septo memerhatikan dirinya di depan cermin dan merasa tak puas. Dia ke depan lemari lagi dan mencari pakaian yang lain. Akhirnya, setelah berpikir kalau dia lebih baik memakai kaos longgar dan celana jeans sobek—soalnya Maltesa sudah berniat untuk menarik-narik bajunya yang berantakan di lantai—Septo pun mengambil kunci motornya dan turun dengan tergesa.

Dia sudah terlambat. Philia pasti sudah menunggunya terlalu lama.

“Kok lama sih? Ngapain aja?” kata Philia saat Philia membuka pintu.

Septo tak bisa menjawab. Bibirnya ternganga takjub ketika mengetahui kalau sahabatnya ternyata terlihat cantik sekali hari ini.

Hari ini Philia mengenakan terusan coklat pendek dengan celana panjang sampai ke mata kaki. Rambutnya sudah diikat setengah dengan jepitan manis yang menghiasi kepalanya. Bibirnya bahkan dipoles dengan lipstik pink yang memperlihatkan ke naturalan wajahnya. Belum lagi wangi parfumnya Philia yang sangat menggoda dari jarak sedekat ini.

Sobatnya kelihatan terlalu sempurna baginya yang hanya mengenakan kaos dan celana robek. Andai saja dia tahu kalau Philia bakal dandan manis begini, dia pasti tak akan menyesal dengan pakaian yang pertama.

“Septo?” kata Philia mengguncang-guncang bahunya.

Bego! Septo berusaha membuat dirinya sadar. Dia jadi aneh karena perkataan Chiko kemarin. Bukannya Philia emang selalu cantik? Bahkan dandanannya sekarang nggak jauh beda waktu mereka jalan-jalan bertiga waktu piknik empat bulan lalu. Ada yang salah dengan otakku!

“Eh, oh,” Septo tercekat. Dia seakan tak mampu bernapas. “Sori. Em—ketiduran.”

Alasan bodoh dari mana pula itu?

“Ya ampun. Harusnya tadi aku nelpon,” kata Philia berjalan mendahuluinya. “Terus kita kemana? Kau mau bicara apa sih? Kok rasanya penting banget?”

Septo jadi tidak yakin dengan keputusan yang dia buat semalam jika kondisinya begini. Tiba-tiba saja tubuhnya mendingin.

“Em… ada sesuatu yang harus kukatakan. Ini—eh, bakal lebih enak diomongin kalo kita cuma bicara berdua,” kata Septo mendekat ke arah motornya.

Philia menaikan alisnya. “Iya. Tapi kemana?”

“Kita ke café aja ya?” Septo naik ke motornya.

Philia menaikan bahunya. Tanda bahwa dia setuju. Setelah itu dia naik ke boncengan dan mendekap Septo dari belakang.

Tangan Philia yang biasanya tak berasa apa-apa kini bahkan membuat seluruh darah di nadi Septo berdenyut cepat dan memompa dengan tak terkendali. Sudah bertahun-tahun Philia melakukannya. Dia juga sering memeluk Philia tanpa perasaan. Sebagai seorang sahabat. Tapi sekarang? Dia seakan hendak mati karena sesuatu yang tak dia mengerti. Bahkan dia merasakan kalau udara yang ada di paru-parunya seakan habis. Atau jangan-jangan Bumi sendiri yang tak mendapatkan oksigen.

Namun untunglah dia masih bisa berkonsentrasi di jalan. Walau ada dua tiga orang meneriakinya dari belakang atau mungkin saat dia terlalu berjalan terlalu ke tengah, atau saat dia melewati lampu hijau yang tiba-tiba saja menyala merah. Untung saja dia tak segera dikejar polisi.

Philia memberikan helmnya pada Septo dan dahinya mengerut saat mereka memasuki café klasik yang cantik sekali. Mengingatkan Philia dengan sebuah kastil tua kecil.

“Yuk,” Septo menaiki anak tangga yang berderit dan membukakan pintu bagi Philia untuk masuk terlebih dahulu.

“Selamat datang!” seorang cowok menyambut mereka dengan senyuman menawan. “Apakah Anda sudah pesan meja sebelumnya?”

“Ehm, belum,” jawab Septo gugup.

“Kalau begitu, silakan lewat sini,” kata cowok itu lagi.

Philia memberikan tanda untuk mengikuti cowok itu. Mereka mengekor di belakang saat mereka di bawa ke belakang café yang penuh dengan sulur tanaman yang sudah dihias dengan lampu yang indah. Bahkan ada kolam ikan yang dikelilingi batu koral di samping mereka.

“Café ini keren!” kata Philia bersemangat. Dia duduk dengan wajah penuh kepuasan dan membuka menu yang sudah diletakan terlebih dahulu oleh cowok itu. “Siapa namamu?”

“Ariel,” katanya ramah. “Jadi, apa pesanannya?”

Philia dan Septo membaca menunya. Tapi Septo sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Bagaimana cara dia makan jika seluruh isi perutnya ingin keluar dari mulutnya? Akhirnya dia memilih pesanan yang ditawarkan Ariel. Cowok itu malah memberikan senyuman penuh pengertian dan tepukan hangat seolah-olah dia mengerti apa yang terjadi.

Sialan! Emangnya aku kelihatan kayak orang yang mau nembak?

“Sep, kau tahu darimana kalo ada café oke kayak begini?” kata Philia luar biasa girang. Sore sudah menjelang dan lampu-lampu di sekitar mereka memberikan penerangan dalam kegelapan yang justru membuat Septo merasa semakin parah.

Kenapa Ariel justru memberikan mereka nuansa paling romantis sih? Gelap. Hanya ada lampu-lampu kecil dan sebuah lampu berbentuk lilin di meja mereka. Kolam ikan yang bersinar. Dan—Ya Tuhan—kunang-kunang! Hebat sekali café ini merancang semuanya. Bahkan tak ada nyamuk satupun yang mengganggu.

“Oh, dari teman,” kata Septo singkat. “Dia bilang ada café oke. Jadi aku mau coba.”

“Jadi kau ngajak aku? Tapi kok nggak ngajak Shan? Ini nih yang mau kau ceritakan padaku?” kata Philia bersemangat.

Septo mencengkram tangannya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan khawtir sambil bertanya-tanya apakah keputusan yang akan dia buat ini benar atau tidak. Bertanya-tanya apakah pertanyaanya tak akan mengejutkan Philia—atau lebih parah membuatnya menangis. Dan bertanya-tanya apakah dia dapat memberanikan dirinya untuk menanyai Philia soal masalah yang membuatnya tak tidur semalaman.

Sudahlah! Beranikan diri aja daripada aku penasaran setengah mati!

“Anu—sebenarnya aku mau tanya—”

“Loh? Kak Philia?”

Kalimat Septo terpotong saat mendengar ada suara yang memanggil nama Philia. Suara yang sangat hangat. Terdengar sangat menawan di telinga. Mereka mengadah dan Septo terpelongo melihat ada seorang Pemuda dengan tampang kayak pangeran berdiri di dekat mereka.

“Mikho?” Philia terheran. “Ngapain kau disini?”

“Aku kerja,” kata anak yang bernama Mikho itu. Dia memakai seragam yang sama persis dengan Ariel dan memegang nampan kosong. Dia melirik Septo dan terkekeh, “Wah, Kak Lia rupanya udah punya gandengan juga ya. Kok nggak cerita sih? Cakep juga. Kapan jadiannya? Udah lama?”

“Siapa?” kata Septo memotong sebelum Philia menjawab.

“Dia Mikho. Dia cowok brondong yang aku ceritakan waktu itu. Manis kan?” kata Philia.

Septo terpelongo. Otaknya serasa macet.

APAAAAAAAA?

^^^***^^^

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.