RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label derren dan rai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label derren dan rai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Derren dan Rai by Prince Novel


 

















Derren dan Rai
by Prince Novel

Hanya karena menjadi seorang pemegang saham, nyawa Derren dalam bahaya. Dia dikejar-kejar gerombolan yang menginginkan nyawanya. Tapi, di saat dia mencoba menyelamatkan diri, dia menemukan hal yang tak terduga: seseorang yang mirip dirinya. Orang itu Rai.

Ternyata ada banyak misteri yang belum terungkap. Dan saatnya menolong Ayahnya yang terkena tuduhan korupsi!


Reading Link

D&R(1),
D&R(2),
D&R(3),
D&R(4),
D&R(5),
D&R(6),
D&R(7),
D&R(8),
D&R(9),
D&R(10)(END)



Derren dan Rai (Eps 10 - End)


10.
Akhir Yang Mengecewakan
Langit-langit bolong seketika. Derren dan Dirsa masih berkutat untuk memperebutkan pistol itu. Pistol itu turun dan sekarang ada ditengah-tengah mereka. Tak berapa lama kemudian terdengar suara tembakan.
Suasana hening seketika. Jantung Daris, Rai dan Sandra serasa membeku. Mereka mengintip dari tempat persembunyian masing-masing. Ada tetesan darah berjatuhan ke atas lantai.
Siapa... siapa yang kena tembak...? batin Rai. Derren atau...
Derren mundur perlahan. Tangannya memegangi perutnya. Ada rembesan darah yang melumuri pakaian putihnya. Dia jatuh.
“Tidak! Derren!” Daris berteriak. Dia keluar dari tempat persembuyiannya dan segera kearah Derren. Dirsa tersenyum penuh kemenangan. “Derren! Derren bangun!” air mata Daris berlinang ketika melihat wajah Derren yang pucat. “Nak, jangan mati. Kau tidak boleh meninggalkan Ayah. Tidak boleh!”
“Ayah... aku...,” suara Derren melemah.
“Kau akan baik-baik saja. Ayah janji.”
“Bagaimana, Pak Presidir? Kau akan melihat Putramu mati secara perlahan-lahan!” kata Dirsa penuh kemenangan. Dia tertawa seperti orang gila.
“Putraku tidak salah apapun! Kalau kau begitu dendam padaku, jangan lampiaskan pada Putraku!” Daris berang. “Kau pengecut! Kau pengecut! Kau boleh membunuhku asal jangan melibatkan keluargaku!”
“Baik. Kalau begitu kubunuh juga kau,” Dirsa menarik pelatuknya.
PRAAANK
Seseorang masuk dari jendela dan menerjang Dirsa. Pistol ditangan Dirsa jatuh. Orang itu, dengan sigap, mengunci tangan Dirsa dan memborgol tangannya.
“Apa-apaan ini?” Dirsa berkutat. Dia berteriak marah. “Siapa kau?”
“Jermy Nicolen, Polisi sekaligus pengawal pribadi Hosea Derren Harryawan,” kata Jermy. Seseorang yang lain masuk, kali ini Ello. “Kau ditangkap atas tuduhan penculikan, pencobaan pembunuhan, penipuan, pembunuhan, korupsi dan entah apa lagi. Kelihatannya kau harus betah di penjara dalam waktu lama. Dasar penjahat.”
Ello melihat keadaan Derren yang tidak sadarkan diri.
“Dia harus dibawa ke rumah sakit,” gumam Ello. “Jermy, kau urus di sini. Aku akan membawa Hosea Derren ke rumah sakit,” kata Ello menggendong Derren. “Doktor Daris, ikut aku. Kalian juga,” tambahnya pada Sandra dan Rai.
Rai, Sandra dan Daris mengikuti Ello yang berlari sambil menggendong Derren. Langkahnya cepat dan panjang. Sulit dikejar. Kondisi Derren kelihatan lemah sekali. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun. Ketika mereka sudah keluar dari ruangan itu, sudah ada helikopter yang terparkir di lapangan, berpuluh-puluh pasukan berseragam yang menodongkan pistol pada anak buah Dirsa dan mobil-mobil polisi. Baling-baling helikopter itu masih berputar.
“Kalian berdua masuk ke mobil sana. Aku dan Doktor Daris akan mengantar Derren dengan helikopter!” Ello berteriak diantara bunyi baling-baling yang berisik.
Sandra menarik Rai menuju mobil polisi. Rai melihat Daris dan Ello membawa Derren ke dalam helikopter.
“Apa kondisi Derren akan baik-baik saja?” Rai bertanya pada Sandra.
Sandra menggeleng, wajahnya pucat. “Kita doakan saja.”
Beberapa mobil TNI tiba-tiba masuk dan mengeluarkan berpuluh-puluh pasukan berpakaian seragam dan membawa senjata. Mereka masuk secara bergilir dan menyergap pengawal-pengawal Dirsa yang masih tersisa.
“Sebaiknya Anda segera masuk!” salah seorang anggota kepolisian memaksa Sandra dan Rai masuk ke mobil polisi. “Sangat berbahaya berada di luar.”
Rai melihat kearah luar jendela. Ada banyak wartawan datang dan reporter yang meliput disekitar mereka. Pengawal-pengawal Dirsa yang berhasil ditangkap keluar dengan tangan terangkat ke atas dan dimasukan ke dalam mobil besar. Hiruk pikuk wartawan semakin menjadi ketika Jermy menggiring Dirsa ke dalam mobil polisi.
“Minggir! Minggir kataku!” Jermy berteriak.
Satuan keamanan membatasi para wartawan dan reporter untuk memberi jalan bagi Jermy dan Dirsa.
“Bertanyanya nanti saja! Masih ada yang harus diurus!” Jermy menutup pintu mobil dan memerintahkan salah seorang polisi mengawal Dirsa. Jermy harus bersusah payah menghindari para reporter dan wartawan itu agar dapat menemui Rai dan Sandra.
“Hari ini sibuk sekali. Para wartawan itu seperti lebah yang berdengung di telingaku,” komentar Jermy menyeka keringatnya, “Aku dapat kabar dari Ello kalau mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Sekarang Derren sedang dioperasi dan kondisinya kritis. Dia kehilangan banyak darah.”
“Apa?” kata Rai dan Sandra bersamaan.
“Tenang saja. Ello itu pintar. Dia mengajak Doktor Daris, jadi Doktor Daris bisa melakukan transfusi darah. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar Derren baik-baik saja,” kata Jermy lagi.
“Apa kami bisa bertemu dengan Derren?” kata Rai ragu.
“Ya, tentu saja. Tapi kalian harus menunggu sebentar lagi. Para wartawan dan reporter itu bisa curiga kalau ada mobil polisi yang meninggalkan TKP saat kondisi begini. Nanti mereka malah mengikuti kalian. Mohon bersabar.”
Rai dan Sandra menurut. Dengan perasan takut dan shock, mereka menunggu apa yang akan terjadi pada kondisi Derren. Semoga Derren tidak apa-apa. Setelah menunggu selama setengah jam—yang rasanya seperti seabad—Jermy datang dan berkata kalau mereka sudah boleh pergi dari TKP.
Mobil mereka dan tiga mobil truk lain mengikuti dari belakang. Hanya saja mobil mereka berbelok ke kanan—menuju rumah sakit—sementara mobil-mobil di belakang mereka lurus terus—menuju Kepolisian Pusat.
Rai dan Sandra segera keluar dari dalam mobil dan berlari menemui Daris. Mereka melewati lorong panjang rumah sakit dan rasanya selalu bertubrukan dengan pasien atau perawat atau malah dokter. Sudah ada Deva, Mike dan Ello yang menemani Daris di depan sebuah pintu yang menyala merah.
“Bagaimana dengan Derren?” Sandra bertanya.
Daris diam seperti patung dan tidak menjawab.
“Kritis. Dari tadi suster keluar masuk mengambil kantong darah entah sudah berapa kantong. Kelihatannya Derren banyak mengeluarkan darah,” jawab Deva dengan wajah pucat.
Sandra menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Paman, “ Rai buka mulut. “Aku yakin Derren akan baik-baik saja.”
“Ya. Pasti begitu,” gumam Daris.
Sebenarnya Rai tadi ingin memanggil Daris dengan sebutan Papa tapi yang keluar justru kata Paman.
“Pa—Paman,” Rai mencoba lagi.
“Jangan memaksakan sebutan Paman untukku. Kau punya hak memanggilku dengan sebutan Papa. Walau bagaimanapun, kau itu anak kandungku,” kata Daris menatap mata Rai dalam-dalam. “Aku sama sekali tidak keberatan.”
Deva menatap Rai dan Daris secara bergantian. Bingung. Mereka ayah dan anak?
“Daris, kurasa aku harus memberitahumu satu hal. Mungkin kau belum tahu. Aku tak tahu apakah Ayahmu sudah mengatakan hal ini atau belum, tapi Derren tahu satu hal yang kau tak tahu,” Mike tiba-tiba bicara.
Daris mengerutkan dahinya. “Apa yang mau kau bilang?”
“Derren punya saudara kembar.”
Daris seperti tersengat listrik. Deva menganga. Rai melotot. Ello dan Sandra terbengong.
“Apa?” kata Daris memecahkan kesunyian. “Kau—”
“Aku merawat saudara kembar Derren. Derren cuma tahu kalau saudara kembarnya meninggal, tapi dia masih hidup. Ayahmu mengira kalau saudara kembar Derren sudah meninggal, tapi nyawanya masih bisa diselamatkan. Dia kakak Derren, namanya Joshea. Dia mirip seperti Derren.” Kata Mike lagi.
Daris bangkit. “Kau bohong...”
“Aku tidak bohong. Jermy dan Ello adalah saksinya, mereka sudah melihat anak itu. Anak yang bertolak belakang dengan Derren karena dibesarkan olehku.”
“Bagaimana caranya saudara kembar Derren ada padamu?” kata Daris tidak percaya. “Bagaimana mungkin Ayahku tidak menceritakan hal ini?”
“Kau ingat saat Derren lahir? Kau tidak datang dan Elliana meneleponmu untuk menanyakan nama anaknya?” kata Mike lagi.
“Ya, aku ingat,” kata Daris dengan suara gemetar.
“Kondisi Joshea menurun secara drastis seiring dengan menurunnya kondisi Elliana. Awalnya Ayahmu membawa Joshea ke rumahmu dan menyerahkan Derren padaku. Ayahmu bilang, kau mungkin tidak akan menerima kalau kau punya anak kembar. Tapi kau membuang Joshea ke panti asuhan. Saat itu hujan, kondisi Joshea yang buruk semakin buruk karena hal itu. Dia mengalami kesulitan bernapas dan kritis. Ayahmu mengira kalau mustahil menyelamatkan Joshea lalu dia meminta Derren padaku.” Mike menatap mata Daris.
“Awalnya aku tidak memberikannya karena aku ragu. Tapi Elliana mencintaimu dan aku menjadi yakin kalau kau bisa menjaga Derren. Derren kuberikan, tapi Ayahmu tidak kembali lagi untuk melihat kondisi Joshea. Ayahmu pikir Joshea sudah meniggal. Kau sama dengannya, itu sebabnya dia bilang pada Derren kalau saudara kembarnya sudah meninggal di saat-saat terakhirnya. Tapi Joshea bisa selamat. Kau tidak tahu kan perjuangan anak itu sekeras apa?”
Daris gemetaran.
“Ya, Daris. Kau menyakiti semua orang. Kau menyakiti perasaan Derren dan tanpa sadar kau menyakiti Putramu yang satu lagi. Aku belum menceritakan ini pada Derren karena takut dia akan terluka. Tapi dia sudah terlalu banyak tahu, entah apakah dia tahu hal ini atau tidak.”
“Aku ingin bertemu Joshea,” kata Daris pelan.
Mike tersenyum. “Sayang sekali, Daris. Joshea tidak mau.”
Daris mengerutkan dahinya.
“Sudah kukatakan Joshea berbeda dengan Hosea,” kata Mike lagi. “Hosea sangat mudah memaafkan orang, Joshea tidak. Joshea tidak secerdas Hosea, tapi temannya melebihi Hosea. Aku sudah bertanya terlebih dahulu mengenai hal ini padanya dan dia bilang kalau dia tak mau bertemu denganmu, karena baginya hanya aku Ayahnya. Bukan siapa-siapa.”
Daris menunduk bersalah. “Mungkin ini hukuman Tuhan untukku sampai anakku sama sekali tidak mau melihatku.”
Mike tersenyum dan menepuk bahu Daris. “Aku akan membujuk Joshea lagi. Kau jadilah Ayah yang baik untuk Derren. Derren adalah anak yang terbaik yang sudah diberikan Tuhan padamu.”
“Aku tidak akan menyia-nyiakan Derren lagi.”
***
Derren membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih kabur dan kelopak matanya terasa berat. Derren dapat melihat langit-langit dan jarum infus yang tergantung, seketika itu pula otaknya bekerja.
Di rumah sakit... ternyata aku tidak jadi mati...
Derren menggerakan tangannya. Rasa sakit di perutnya masih berdenyut-denyut. Derren menggerakan kepalanya sedikit dan melihat Daris yang tertidur disisi tempat tidurnya.
“Ayah?” gumam Derren. Suaranya serak dan kerongkongannnya terasa kering. Derren mengangkat tangannya dan mengusap-usap kepala Daris. Seketika itu pula Daris bangun.
“Derren? Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?” kata Daris cemas.
“Sudah tak apa-apa,” kata Derren lemah. “Ayah menjagaiku?”
“Tentu saja, kau Putraku. Tunggu, aku panggilkan Dokter untuk memeriksamu. Tahan disini ya?” kata Daris beranjak pergi. Beberapa menit kemudian dia datang dengan Dokter dan Perawat.
“Bagaimana?” tanya Daris ketika Dokter meletakan stetoskop ke dada Derren. “Anakku baik-baik saja kan?”
“Anda tenang saja, Tuan Daris. Anak Anda sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia hanya butuh cukup istirahat untuk penyembuhan lebih lanjut,” kata Dokter itu sambil tersenyum.
“Sudah berapa lama aku koma?” kata Derren. Dokter manatap Daris seakan bertanya apakah diijinkan menjawab pertanyaan Derren atau tidak. “Lebih dari seminggu ya?”
“Sekitar dua belas hari,” jawab Dokter ketika melihat anggukan Daris.
“Kalau begitu Ayah sudah bebas dari segala tuduhan kan?” kata Derren menatap Daris.
“Jangan membahas itu dulu. Kau butuh istirahat,” kata Daris menyudahi perkataan Derren.
“Bagaimana dengan Rai dan Ibunya? Apa mereka baik-baik saja? Lalu apakah Dirsa sudah ditangkap?”
“Anak Muda, kau butuh istirahat!” kata Daris jengkel.
“Aku akan istirahat kalau Ayah mau cerita!” Derren balas berteriak.
“Keras kepala!” gerutu Daris. “Baiklah kalau menurutmu cerita itu adalah dongeng sebelum tidur. Aku akan bercerita. Sikapmu itu mirip dengan Ibumu.”
Derren hanya mendengar samar-samar kalau Daris dinyatakan bebas dari segala tuduhan mengingat bukti-bukti yang ada justru mengarah pada Dirsa. Pihak pengadilan meminta maaf secara penuh dan mengembalikan nama baik Daris. Dirsa dituntut penjara dengan banyak pasal dan tuduhan yang melilitnya. Lalu mengenai Derren dan Rai... Derren tidak mendengarkan karena dia sudah tertidur.
“Derren, senang rasanya melihatmu masih hidup, Sobat!” Deva—yang hari ini tidak memakai kursi roda—memeluk Derren dengan senang.
“Lepaskan aku, Holmes. Bekas lukaku belum sembuh!” Derren mentah-mentah melepaskan pelukan Deva. “Mana Rai?”
“Di luar. Dia malu bertemu denganmu,” kata Deva menunjuk sosok gelap di luar jendela. “Katanya sebagai Abang, dia sama sekali tak bisa melindungimu.”
“Itu perkataan bodoh,” gumam Derren. “Rai, cepat masuk! Buat apa kau datang kemari kalau tidak menemuiku?” kata Derren.
Rai memunculkan kepalanya dari balik pintu.
“Yah... baiklah...” kata Rai. Dia masuk bersama-sama dengan Sandra.
“Kau baik-baik saja?” kata Derren.
“Harusnya aku yang tanya begitu kan?” kata Rai. Derren tersenyum. Rai mencubit pipi Derren. Gemas. “Huh! Aku sebal melihat wajah santaimu itu! Kenapa kau menyimpan semua sendirian hah? Dasar bodoh! Kalau kau mati aku juga akan mati! Bodoh! Idiot!”
Derren memegang kedua pipinya yang merah. Sakit sekali cubitan Rai.
“Jangan lakukan itu lagi. Kau mengerti?” kata Rai lagi. “Mulai sekarang aku yang akan menjagamu karena aku ini Abangmu! Jadi dengarkan apa yang akan kukatakan!”
“Aku tidak mau,” kata Derren cuek mengambil iPodnya.
“Kenapa?” Rai merampas iPod Derren dengan kesal. Dia tahu kalau sifat cuek Derren mulai kumat lagi.
“Setiap kali mendengarkanmu pasti akan kacau,” tukas Derren. “Kembalikan iPodku. Lebih baik mendengarkan musik daripada omelanmu.”
Rai mencubit pipi Derren lagi.
“Sakit tahu!” gerutu Derren mengusap-usap pipinya. “Lalu, apakah kalian berdua akan tinggal bersama kami lagi?”
Sandra menelan ludah. Daris—yang sedang makan disudut ruangan—tersedak. Rai menarik napas. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Derren akan bertanya langsung.
“Aku sama sekali tidak keberatan menambah dua orang lagi di rumah besar kami,” kata Derren memain-mainkan iPod-nya.
Sandra tersenyum. Sepertinya dia sudah menyusun kata-kata di kepalanya untuk menjawab Derren. “Derren,” dia memulai. “Aku berterima kasih karena kau berlapang dada untuk menerima kami. Tapi aku tidak bisa. Ada beberapa luka yang tidak dapat disembuhkan semudah itu. Namun, jika Rai ingin merasakan kehangatan Daris sebagai Papanya, aku tidak keberatan dan tidak melarangnya untuk tinggal di rumah itu.”
Derren ganti menatap Rai, meminta jawaban.
“Ah, gimana ya?” Rai gelagapan. Dia sama sekali belum siap menjawab pertanyaan Derren. “Sebenarnya aku sangat senang kau jadi saudaraku. Aku juga sangat senang Paman Daris—eh, maksudku Papa—mengakuiku. Tapi—”
“Jangan diteruskan. Kalau pakai tapi, ujung-ujungnya pasti jelek,” kata Derren memakai earphone-nya.
“Kebiasaanmu yang satu ini jelek sekali!” Rai kembali menarik earphone Derren. “Dengarkan aku sampai aku selesai!” katanya jengkel.
“Aku tak mau dengar kalau kabar jelek,” kata Derren cuek.
“Walau bagaimanapun aku adalah abangmu. Bagiku sosok Mama sudah cukup sama sepertimu yang hanya butuh Papa. Aku tak bisa mengambil semuanya, Derren. Aku tak mau membagi kasih sayangku dari Mama.”
Derren menatap lantai. Rai semakin merasa bersalah. Kelihatannya kata-kata Rai barusan melukai perasaan Derren.
“Baiklah aku mengerti,” Derren mengangkat bahu dengan tidak peduli. “Tapi kau tidak boleh menolak kalau sekolahmu dibiayai Ayah dan sisa saham Ayah akan diberikan padamu ya?” katanya lagi.
“Apa?” kata Rai, Deva dan Sandra kaget.
“Jawab saja ‘iya’! Aku tak butuh kata ‘apa’!” tandas Derren.
“I, iya baiklah,” kata Rai bingung.
“Ayah, kelihatannya hanya aku yang ikut Ayah,” kata Derren merebahkan tubuhnya ke bantal lagi.
“Apa maksudnya?” kata Deva yang akhirnya buka mulut.
“Ayah dan aku akan pindah ke Swiss akhir semester ini,” jawab Derren.
“Apa?” lagi-lagi mereka dikagetkan dengan kabar ini. “Kenapa harus pindah?”
“Derren mendapat beasiswa untuk sekolah disana,” jawab Daris tenang. Dia kembali meminum airnya. “Dan dia memutuskan ke sana untuk meraih impiannya.”
“Apa? Impian? Impian yang mana?” Deva menatap Rai dengan penuh tanda tanya. “Kau punya impian juga, ternyata.”
“Dia ingin jadi Detektif Internasional. Untuk meraih itu, kemampuannya harus lebih dari ini. Aku tak bisa melarangnya, yang bisa kulakukan saat ini hanya mendukungnya,” kata Daris.
Derren tersenyum padanya.
***
Dua bulan kemudian
Deva, Derren dan Rai tidur di atas rumput halaman di belakang rumah Derren sambil melihat langit malam penuh bintang. Selain angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambut mereka secara perlahan, tidak ada yang ada hal lain yang terdengar—suara jangkrik pun tidak.
“Besok kau akan berangkat, ya? Kau begitu ingin jadi Detektif Internasional? Itu kan sulit,” kata Deva tiba-tiba mengusik kesunyian yang damai itu.
“Sesulit apapun pasti kutempuh. Pasti,” gumam Derren.
“Kapan kau akan kembali?” tanya Rai.
“Entahlah,” jawab Derren singat.
“Kalau kau pulang setelah sepuluh tahun, aku pasti sudah jadi dokter yang hebat,” kata Rai pelan. “Kau tunggu saja.”
“Oh, jadi cita-citamu jadi Dokter ya? Holmes?” Derren menoleh pada Deva yang ada disisi kirinya.
“Kalau kau pulang setelah sepuluh tahun... hum... aku akan jadi teknisi handal,” jawab Deva penuh keyakinan.
“Kupikir kau akan mengikuti jejakku jadi detektif, eh maksudku, Sherlock Holmes betulan,” kata Derren.
“Sori, deh, aku lebih suka mempunyai dua kerjaan sekaligus,” kata Deva sambil terkekeh.
Derren mengangkat kedua tangannya ke atas langit. Sambil tersenyum dia bilang, “Kalau begitu aku akan pulang dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Dan aku pasti bisa menemukan kalian dimanapun berada saat masa itu tiba.”
Deva, Rai dan Sandra mengantar kepergian Derren dan Daris keesokan harinya di bandara. Tidak ada air mata kecuali senyum kebahagiaan dan lambaian tangan.
***



Enam tahun kemudian
“Hosea!”
Rai berbalik sambil mengecak pinggang. Dia menaikan kacamatanya ketika gadis cantik itu berlari mengejarnya. “Berapa kali harus kukatakan kalau aku bukan Hosea? Aku Rai!” serunya jengkel.
“Maaf, aku kangen sama Hosea, sih. Lagian kalau kau pakai kacamata begitu jadi makin mirip Hosea,” kata Astyn merangkul tangan Rai dengan senang. Rai mengerutu sambil memperbaiki letak kacamatanya yang melorot lagi.
“Kau ini kan pacarku bukan pacarnya Derren!”
“Iya, iya, Pak Dokter,” Astyn manggut-manggut. “Jangan marah-marah begitu, dong. Hari ini masih ada kelas?”
“Ya, ada praktek. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang.”
“Tak apa kok. Kau kan sedang belajar dengan gigih untuk menyelesaikan janjimu pada Hosea. Bagaimana dengan Deva?”
“Deva sih sudah bekerja menjadi teknisi otomotif sejak sebulan lalu. Dia benar-benar gila bisa menyelesaikan studi S1 dan S2 dalam waktu lima tahun.”
“Kabar Hosea gimana?”
“Entahlah,” Rai kembali menggerutu. “Sejak pindah ke Swiss, dia tidak memberi kabar. Tak ada surat, tak ada telepon bahkan Papa juga tak beri kabar mengenai keberadaan mereka sekarang. Jangan-jangan mereka sudah mati.”
“Dia benar-benar menyebalkan, ya,” Deva tiba-tiba muncul untuk mengikuti pembicaraan mereka berdia. Bikin kaget saja. “Si Adikmu itu. Oh, halo. Lama tak jumpa ya?”
“Deva, kau tak kerja?” kata Astyn heran.
“Aku bosan makanya aku bolos,” jawab Deva.
Deva sekarang memiliki body ideal, wajahnya juga lebih imut-imut. Dia tidak suka lagi duduk di atas kursi roda melainkan di atas mobil mewah. Deva lagi suka-sukanya dengan mobil—terutama mobil-mobil mahal yang berkelas.
“Kalau sudah seperti itu kau bisa dipecat loh.”
“Tinggal cari aja perusahaan yang baru.” Timpal Deva enteng.
Astyn, Rai dan Deva mengerutkan dahi saat ada suara yang tiba-tiba mengikuti perkataan mereka. Mereka bertiga menoleh ke belakang dan melihat ada tiga sosok sama tinggi di belakang mereka. Sosok paling kiri berwajah cantik dengan rambut bergaya harajuku panjang yang diikat. Di sebelah paling kanan memiliki otot besar dan berwajah sangar. Yang ada ditengah-tengah mereka berwajah tampan dengan kulit pucat dan ikat kepala putih melilit di kepalanya. Rambut hitamnya berantakan sekali.
“Jermy Nicolen, Ello Koyja dan... kau?” Rai bertanya pada sosok yang ada di tengah.
“Kau lupa padaku ya? Memangnya kita tidak kelihatan mirip, Rai?”
Rai memperhatikan postur tubuh cowok itu. Cowok itu lebih tinggi sekitar lima senti darinya. Tubuhnya lebih oke dan atletis. Rambut hitam legamnya pendek dan sedikit mencuat karena ikat kepala di dahinya. Wajahnya yang tampan, suaranya yang tenang dan dalam.
Siapa ya? Rai berpikir.
Namun ketika Rai melihat tatapan dingin mata biru itu, Rai tercengang. “Derren...?” katanya ragu.
“Ah, akhirnya ingat juga. Apa kabar? Aku sudah jadi Detektif In—”
Rai memeluk Derren.
“Selamat datang, Derren.”
***
TAMAT

Medan, Minggu, 2 Agustus 2009

Derren dan Rai (Eps 9)


9.
Analisis Derren
Daris masuk ke ruangan khusus diantar oleh dua orang sipir. Tiba-tiba saja ada telepon dari seseorang untuknya, padahal ini sudah tengah malam. Orang-orang seperti dia mendapat dispensasi khusus mengenai segala aspek yang berhubungan dengan kasus, soalnya dia belum terbukti bersalah.
“Halo?” Daris mengangkat telepon yang terletak di meja.
“Daris Harryawan, berhentilah bersifat keras kepala,” Daris mendengar suara yang aneh. Suara yang dimodifikasi dengan alat.
“Aku tidak bersalah,” kata Daris tenang.
“Putramu Derren ada ditanganku. Kalau kau masih keras kepala, akan kukirim mayatnya padamu ditambah dengan mayat Sandra, cintamu itu.”
Daris menelan ludah. “Apa kau mencoba mengancamku?”
“Aku tidak mengancam. Aku memerintahmu. Kuberi kau waktu sampai pengadilan besok. Jika kau tidak mengaku bersalah maka aku akan membunuh mereka berdua. Pikirkan dan silakan pilih sendiri. Nyawa Putramu atau penjara. Tentunya kau orang yang tidak bisa membohongi perasaan di hatimu kan?”
Air mata Daris menetes.
***
“Holmes... Holmes...”
Deva mendengar suara di dekat telinganya.
“Holmes bangun. Ini sudah tengah hari.”
Deva membuka matanya yang terasa berat dan melihat sosok kabur berpakaian putih. Deva mengucek matanya dan menjernihkan penglihatannya. Dia melihat Derren.
“Derren? Astaga! Kau dari mana saja?” Deva terduduk. Kondisi Derren masih sama seperti kemarin malam. “Kau baik-baik saja kan? Tidak luka kan? Kata Rai kau diculik! Aku panik setengah mati! Si—siapa mereka?” pandangan Deva teralih melihat dua pemuda di belakang Derren.
“Mereka...”
“Kami pengawal pribadi Hosea Derren Harryawan yang diperintahkan Agen Mike Gregor  untuk menjaganya. Namaku Jermy Nicolen dan yang disampingku ini Ello Koyja,” kata yang berwajah cantik. “Dan kamu, sahabat Hosea Derren Harryawan, siapa namamu?”
“Deva ‘Sherlock Holmes’,” jawab Deva. Dia menatap Derren dengan tatapan meminta penjelasan. “Derren, apa maksudnya ini?”
“Mereka suruhan Agen Mike yang ditugaskan untuk menculikku agar tidak melakukan tindakan yang bodoh, tapi yang kena masalah justru Rai. Dia diculik kan?”
“Dari mana kau tahu?”
“Rai tidak ada disini saja sudah membuktikan analisisku.”
“Kalau boleh aku tahu Hosea Derren Harryawan, siapa itu Rai?” tanya Ello dengan suaranya yang berat dan serak.
“Rai Azusha, orang yang punya wajah mirip denganku,” jawab Derren. “Kalau sudah seperti ini, jika dugaanku benar, pelakunya sudah bertindak.”
“Maksudmu?”
Derren mengambil remote dan menghidupkan televisi yang memunculkan berita hari ini. Deva mengerutkan dahinya melihat isi berita itu.
“Daris Harryawan mengaku menggelapkan keuntungan Crystal Pertam Group. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak disangka oleh pihak pengadilan. Daris Harryawan akan dikenai hukuman penjara selama sembilan tahun. Pihak kepolisian masih akan menyelidiki keberadaan uang yang menjadi bukti kesalahan Daris.”
“Mustahil...” gumam Deva. “Ayahmu kan tak salah apapun!”
“Ya, kecuali si Pelaku bilang kalau aku ada ditangannya,” kata Derren. Dia hendak mematikan layar televisi ketika muncul berita lain.
“Berita terbaru. Reporter kami baru saja mendapatkan berita bahwa Daris Harryawan yang sudah dikenai hukuman penjara, melarikan diri dari mobil kepolisian saat menuju ke kantor kepolisian pusat. Diduga aksi tersebut sudah direncakan dengan sempurna oleh Daris dan Pemegang Saham Rahasia yang tidak terima mengenai keputusan Pengadilan dan—”
“Hosea!” Jermy menangkap tubuh Derren yang hampir jatuh. Derren memegang jeket Jermy, tangannya gemetaran. “Kau tidak apa-apa?”
“Derren, kau baik-baik saja? Deva ikut-ikutan. Deva khawatir melihat wajah Derren yang pucat pasi menatap layar televisi.
“Ini diluar dugaan,” gumam Derren. “Dirsa akan membunuh Ayahku.”
“Apa? Dirsa?” ulang Deva tidak percaya. “Jadi pelakunya Dirsa?”
Derren berpikir cepat. “Aku punya rencana. Jermy dan Ello akan ikut aku dan kau disini untuk menunggu sinyal dariku,” kata Derren dengan suara bergetar.
“Kenapa aku harus menunggu? Aku mau ikut!” Deva bersikeras.
“Tidak! Kau tetap disini dan menunggu sinyal dariku untuk mengirim bukti pada polisi! Kau satu-satunya orang yang bisa mengoperasikan komputer dengan baik sehingga bisa masuk ke data rahasia polisi!” kata Derren tegas.
Deva terdiam.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” kata Jermy.
“Kembali ke rencana awalku,” jawab Derren.
“Kau pikir kami akan menyetujui rencana gila yang akan mengantarkan nyawamu pada Tuhan?” kata Jermy pedas. “Kau mau kuborgol lagi?”
“Ya, kau akan setuju karena kali ini aku butuh bantuan kalian disaat terakhir,” kata Derren tersenyum kecil. “Ini pertarungan hidup dan mati untuk sebuah bukti. Ada banyak musuh disana.”
“Tapi—”
Jermy terdiam ketika Ello mengangkat tangannya untuk menyuruh Jermy diam.
“Masalah ini tidak akan selesai kalau Hosea Derren diam saja,” kata Ello. Dia menatap mata Derren yang kelihatan sangat pasti dengan kemampuannya. Tidak ada rasa ragu dari kata-katanya. “Lakukan yang ingin kau lakukan.”
Derren mengangguk.
“Kali ini aku pasti menang.”
Derren akan mempertaruhkan nyawanya untuk nyawa tiga orang, ah bukan tapi empat orang. Dia tidak akan mau kalah kalau ada nyawa sebanyak itu yang akan bisa dia selamatkan.
Ibu, mungkin aku akan menyusulmu.
***
Rai menatap Daris dan Sandra secara bergilir. Ketika dia dipaksa masuk ke dalam ruangan gelap ini. Dia melihat kedua orang ini sudah ada. Mereka tidak bicara satu sama lain. Tapi Rai yakin kalau mereka saling mengenal. Beberapa kali Rai memergoki Daris mencuri pandang pada Sandra, begitu juga sebaliknya.
“Kalian saling kenal?” tanya Rai setelah sunyi beberapa saat. Daris dan Sandra saling pandang tapi mereka tidak menjawab pertanyaan Rai. “Tolong jawab pertanyaanku!”
“Rai—”
“Kami masih terikat hubungan pernikahan sampai saat ini,” Daris menjawab sebelum Sandra mengalihkan pembicaraan.
“Apa?” kata Rai tidak percaya. Kata-kata itu serasa berdengung di telinganya.
“Aku Ayahmu, jika Sandra tidak menikah lagi dengan orang lain tentunya,” lanjut Daris sambil menghela napas.
Rai seakan berhenti bernapas, untuk beberapa saat rasanya otaknya berhenti bekerja. Tadi dia bilang apa?
“Aku—a-apa maksudnya?” Rai bingung. Dia berbicara dengan nada gugup. “Anda sedang bercanda kan? Anda—tunggu—aku tidak mengerti.”
“Ibumu meninggalkanku setelah tiga bulan pernikahan kami.”
“Daris!”
“Aku harus menceritakannya!” kata Daris tegas. “Aku ingin menyelesaikan semua masalah ini! Dari dulu aku bertanya-tanya kenapa kau meninggalkanku! Dan kau bahkan tidak memberitahuku soal kandunganmu!”
Sandra membuka mulutnya, menutup, lalu membukanya dan menutupnya kembali. Sandra menatap Rai kemudian pada Daris.
“Mama benar-benar menikahi dia?” kata Rai tidak percaya. “Dia Papaku?” tuntut Rai lagi. “Ma, jawab pertanyaanku! Aku butuh penjelasan!”
Mata Sandra berkaca-kaca. Namun, dia tetap mengangguk.
Rai lemas. “Lalu kenapa Mama tidak pernah cerita? Kenapa? Apa Mama tahu kalau aku mencari sosok Papa selama ini?”
“Rai, ini tidak semudah yang kau pikirkan.”
“Mungkin bagi Mama tidak mudah. Lalu bagaimana denganku?”
“Rai, Mama tidak bermaksud begitu. Mama tahu kalau kau amat butuh seorang Papa. Mama ingin sekali menceritakannya. Hanya saja Mama takut. Mama takut kau membenci Daris dan Derren,” kata Sandra. Air matanya berlinang, membasahi pipinya. “Ini salahku.”
“Kau ini ngomong apa? Kau tidak salah apapun!” kata Daris.
“Salahku Daris!” teriak Sandra. “Aku tahu kau dan Elliana saling mencintai tapi aku pura-pura tidak mengetahuinya! Aku malah meminta Elliana membantuku agar kau mencintaiku. Aku yang salah. Kalau saja aku tidak melakukan hal itu. Mungkin saat ini Elliana masih hidup. Mungkin dia bisa hidup bahagia denganmu dan Derren!”
“Hentikan, Sandra! Jangan membahas Elliana,” kata Daris frustasi. Dia menutup telinganya. Dia kelihatan sakit.
“Tolong jelaskan! Aku masih belum mengerti apa yang terjadi! Siapa itu Elliana?” kata Rai sebal. Dia butuh penjelasan. Penjelasan yang spesifik. Saat ini dia haus informasi. Dia tidak ingin jadi orang yang tidak tahu apapun. Dia benci perasaan itu.
“Elliana itu Mama Derren,” jawab Sandra terisak.
“Mama Derren?” Rai mengulang. “Maksudnya dia menikah dua kali?” Rai menunjuk Daris dengan heran.
“Sopanlah pada Papamu, Rai!” kata Sandra memukul tangan Rai.
“Aku masih belum mengerti apapun!” kata Rai bolak balik. “Aku—Derren—dia bilang kalau Anda tidak mencintai Mamanya!”
“Aku menikah dengan Sandra sekitar tujuh belas tahun yang lalu,” kata Daris menjelaskan dengan nada tenang. “Hanya saja tiga bulan setelah pernikahan itu dia meninggalkan aku. Kemudian terjadi sesuatu yang tidak terduga. Waktu itu aku mabuk dan frustasi dan tanpa sadar—pokoknya saat itu, aku sudah bersama Elliana. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku menikahi Elliana. Itu pernikahan yang amat menyakiti Elliana—walau aku sangat mencintainya sejak dulu. Aku merasa kalau dia sama sekali tidak mau menikah denganku. Aku pikir dia cuma terpaksa menikah denganku karena kejadian itu. Karena kesalahanku dia tidak jadi menikah dengan Mike Gregor.”
Agen Mike adalah sahabat karib Ibu. Mereka mantan kekasih
Itu kata-kata Derren dulu. Rai ingat betul semua perkataan Derren.
“Daris, Elliana mencintaimu!” kata Sandra. “Hanya saja—dia orang yang baik. Karena dia tidak mau merusak pernikahan kita, maka dia memilih untuk menikah dengan orang lain untuk menunjukan kalau dia baik-baik saja!”
“Itu masalahnya, Sandra! Aku baru sadar hal itu ketika dia meninggal. Aku baru sadar ketika dia—aku tidak sadar dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Aku kacau!” kata Daris. Tubuhnya gemetaran. “Aku tidak bisa menerima kematiannya. Dia bahkan masih sempat bertanya padaku siapa nama anak yang telah dilahirkannya sebelum meninggal. Aku masih ingat suaranya yang lemah itu. Aku menyiksanya sampai dia mati!”
“Anak kita laki-laki.”
“Oh, lalu?”
“Kau ingin memberi dia nama?”
“Aku tidak peduli kau memberi dia nama Hosea atau Derren atau yang lain. Terserah!”
Rai benar-benar tidak mempercayai pendengarannya.
“Aku menyesal,” Daris terisak. “Aku menyakiti Elliana. Dia wanita yang baik. Aku juga tidak datang ke pemakamannya. Aku tidak mau melihat mayatnya. Lalu, Derren—ketika dia dibawa pulang—”
Daris berhenti. Dia masih bisa mengingat hari itu. Tangisan Derren yang memenuhi seluruh ruangan rumahnya ketika dia dibawa di depan rumahnya.
“Tangisannya membuatku gila! Aku dihantui rasa bersalah! Aku tak mau anak itu merasakan hal yang sama! Aku merasa kotor dan hina, jadi kuputuskan dia agar dibawa ke panti asuhan. Dia akan mendapat banyak kebahagiaan daripada memiliki Ayah yang sama sekali tidak mau menerimanya bahkan tidak mau melihatnya lahir!”
Daris mengambil napas. Wajahnya kacau. “Ayahku membawanya pulang. Dia membentakku. Dia marah besar. Aku tahu kalau aku salah. Tapi aku tidak bisa mengatakan perasaanku. Dan perbuatanku membuat rasa bersalahku semakin besar.” Daris menarik rambutnya. “Derren tidak pernah kurawat—dia selalu dirawat oleh pengasuh yang banyak. Aku tidak mau menyentuhnya karena bagiku menyentuhnya sama saja dengan membuatnya jadi kotor. Aku tidak pantas jadi Ayahnya.”
Rai menelan ludahnya. Dia mundur sampai merapat ke dinding. Dia merasa kalau keringatnya juga bercucuran. Tangannya gemetaran.
Sandra kearah Daris dan mengelus punggungnya. Dia menarik Daris ke dalam pelukannya. Tubuh keduanya bergetar.
“Derren tahu semuanya, Daris,” bisik Sandra.
Daris mengadah. “Apa?”
“Dia tidak menyalahkanmu,” kata Sandra tersenyum kecil. “Dia bilang kalau kau akan selalu menjadi Ayahnya tidak peduli apapun yang terjadi. Dia mengerti Daris. Dia mengerti apa yang kau rasakan. Jadi sebaiknya kau tidak menyalahkan diri sendiri karena Derren menginginkan kau merasakan hal yang dia rasakan saat ini.”
Air mata Daris kembali menetes. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan kembali memeluk Sandra.
Rai tersenyum melihat adegan mengharukan itu. Ruangan itu jadi terasa hangat. Rai puas ketika mengetahui kebenaran. Itu berarti dia dan Derren adalah saudara beda Mama. Rai—entah kenapa—senang mendengar kenyataan itu. Derren adalah adiknya. Kata-kata itu terus berulang dalam kepalanya. Adik. Derren adalah adiknya.
Pintu ruangan tempat mereka dikurung terbuka. Mereka bertiga segera menoleh kearah suara itu. Sekitar tiga orang bersenjata menodongkan pistol kearah mereka.
“Cepat berdiri. Kalian akan dihadapkan pada Bos dan jangan banyak tanya.”
***
Dirsa kaget melihat kemunculan Derren yang tiba-tiba. Awalnya dia tidak percaya karena dia yakin kalau dia sudah menangkap Derren, tapi akhirnya dia tahu kalau dia beruntung. Derren datang sendiri kehadapannya dengan sukarela. Dia tidak menyangka kalau Derren punya saudara kembar.
“Saudara kembarku sudah meninggal,” kata Derren tenang. Dia menerima teh yang ditawarkan Dirsa.
Dirsa kagum dengan ketenangan Derren. “Kau yakin?”
“Tentu saja,” kata Derren lagi. Dia menghirup tehnya.
“Kalau begitu siapa anak laki-laki yang kuculik kemarin ya?” kata Daris sopan. Dia duduk di sofa yang menghadapi Derren.
“Dia Rai, Kakakku, dari Ibu yang berbeda dan masih darah daging Ayah,” kata Derren lagi meletakan tehnya.
“Ah, begitu rupanya,” kata Dirsa menepuk tangannya. “Aku heran kenapa kau mau datang dengan sukarela kemari tanpa penjagaan dan sangat tenang. Apa kau tak takut kalau kau kuracuni, Derren?”
“Tidak,” kata Derren lagi. “Karena aku tahu sebelum aku memberikan aset saham itu, kau tidak akan mengapa-apakan aku. Lagipula Dirsa, aku ingin kau melepaskan tiga orang yang kau sandera itu. Aku sudah datang jadi kau tidak perlu membuat mereka menderita lagi.”
“Kenapa kau bisa bersikap setenang ini, Derren?” kata Dirsa sedikit memiringkan kepalanya.
“Karena kau belum menujukan taringmu jadi aku masih bisa tenang. Aku akan mati kan? Jadi buat apa panik segala.”
Dirsa bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. “Kau benar-benar Tuan Muda kebanggaan Daris. Daris pasti bangga padamu.”
“Ceritakan padaku satu hal, Dirsa,” kata Derren lagi. “Kenapa kau begitu ngotot untuk memilki aset saham Crystal? Padahal kalau kau menunggu, kau juga bisa jadi Presidir di Crystal. Tentunya kau tahu kalau semua orang bisa jadi Presidir di Crystal kerena yang ditunjuk di Crystal adalah orang yang memiliki kemampuan, bukan begitu?”
“Yah... aku punya alasan tersendiri,” kata Dirsa lagi.
“Misalnya mengubah kembali nama Crystal Pertama Group menjadi Limit Circle Corporation?” kata Derren lagi dengan senyuman kecil di bibirnya.
Senyuman di wajah Dirsa hilang, tapi hanya sepersekian detik karena wajahnya kembali dipenuhi senyuman. “Kira-kira begitu. Dari mana kau tahu, Derren?”
“Aku cuma mencari dari data rahasia Crystal Pertama Group saja. Masih banyak penyidik yang mau membantuku. Apalagi urusan kematian Nico yang pada kenyataan kau sendiri yang melakukannya, bukan Ayah. Iya kan?”
Wajah Dirsa kembali menunjukan kekagetan. “Sepertinya aku meremehkanmu ya? Sejauh mana kau tahu tentang kasus Ayahmu, Derren?”
“Sangat jauh dan dalam,” kata Derren lagi. “Kalau tidak aku tidak mungkin ada disini dengan sukarela kan?”
“Baiklah, Derren, sebentar lagi aku akan mendengar semua kata-katamu setelah keluarga besarmu datang, kau tak keberatan kan?” kata Daris lagi.
“Tentu,” kata Derren ramah.
Dirsa bangkit dari tempatnya. Dia berjalan ke balik meja kerjanya dan mengambil sesuatu keluar dari dalam laci. Sebuah pistol.
“Aku tidak akan lari,” kata Derren meneguk tehnya ketika Dirsa menodongkan pistol perak itu padanya.
“Kau tidak akan lari tapi kau bisa sangat berbahaya jika menyerang, apalagi kau bisa beladiri,” kata Dirsa enteng. “Ayo berdiri, Derren.”
Derren meletakan tehnya kembali dan bangkit. Dia mengawasi gerakan pistol dan tangan Dirsa. Kelihatannya Dirsa bisa menembak, cara dia memegang pistol sangat mantap. Derren mengikuti gerakan Dirsa untuk mendekat tepat saat pintu di ruangan itu terbuka.
Daris, Rai dan Sandra memasuki ruangan itu.
“Dirsa?” gumam Daris tidak percaya. Ada kekagetan dalam dirinya ketika melihat pistol di tangan Dirsa yang ditodongkan pada Derren.
“Benar, Pak Presidir, akulah yang menjebakmu,” kata Dirsa terkekeh. “Putra Tersayangmu ini sudah tahu kalau aku Pelakunya dan dengan sukarela datang kesini. Dia tahu kalau aku mau tak mau akan membunuh juga,” Dirsa geleng-geleng kepala. “Dia anak pintar, sayang kurang cerdas.”
“Salah. Bukan mau tak mau, kau memang ingin membunuh Ayahku dan orang-orang yang berhubungan dengannya: aku, Rai, Sandra dan Nona Ellena. Saat ini kau menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhnya di suatu tempat,” kata Derren.
“Wah, aku ingin tahu Derren sampai sejauh mana analisismu, Hosea Derren.”
“Dirsa Lenon Syaputra, Putra dari Presidir Perusahaan Besar Limit Circle Corporation, Vedo Lenon Syaputra. Sekitar sepuluh tahun lalu, Limit Circle Corporation mengalami penurunan drastis sehingga membuat perusahaan itu bangkrut dan Presidirnya bunuh diri akibat stres. Alasannya adalah bahwa ada penjualan saham ilegal oleh salah seorang direksi yang membuat fondasi Limit Circle mengalami kepincangan. Disaat yang berbahaya itu, Vedo Lenon Syaputra melakukan investasi yang menghabiskan seluruh aset untuk mengembalikan produktifitas Limit Circle Corporation. Tapi sayang investasi itu gagal dan menghancurkan segalanya.”
Dirsa menurunkan pistolnya lalu tersenyum sinis.
“Dari mana kau dapat informasi itu?”
“Kan aku sudah bilang, dari data rahasia Crystal Pertama Group. Kau membenci Crystal bukan karena Ayah tapi karena separuh karyawan Crystal adalah mantan karyawan Circle. Kau dendam pada Ayahku yang membeli aset Limit Circle dan menggantikan posisi Vedo Lenon yang sudah didepak dari kursi Presidir dan mengubah nama Limit Circle menjadi Crystal Pertama, iya kan?”
“Benar.”
“Kau semakin dendam pada Ayahku karena kau melihat dia tidak menghargai keluarganya, soalnya tidak ada kabar mengenai kami. Kau menyamakan Ayahku dengan Ibumu yang dulu pernah meninggalkanmu, iya kan?”
“Itu juga benar.”
“Kau membunuh Nico karena Nico dulunya adalah karyawan Ayahmu dan Nico-lah yang menjual saham Limit Circle secara ilegal. Kau berniat melakukan hal yang sama pada Crystal, hanya saja Nico tidak mau.”
“Ya. Waktu itu dia bilang ‘aku sudah bertobat. Aku hidup dengan enak di Crystal’. Tanpa sadar aku sudah membunuhnya.”
“Kau ingin membunuh Nona Ellena karena Nona Ellena adalah anak tiri dari Ibumu yang dulu meninggalkanmu.”
“Wah, kau juga tahu sampai kesitu. Aku salut Derren.”
“Kau juga ingin menghabisi nyawa kami, disini, untuk mendapatkan Crystal sehingga kau bisa menjadi Presidir dan menghidupkan kembali Limit Circle.”
Dirsa tersenyum. “Kau terlalu banyak tahu. Baklah, aku mengaku. Semua yang kau katakan itu benar. Tapi dengan latar belakang seperti itu, aku tidak bisa dijadikan pelaku, hanya tersangka, sama seperti pada direksi yang bermasalah. Kau tidak punya bukti.”
Derren menatap Dirsa dengan dingin.
“Nah, apa kira-kira yang membuatmu yakin kalau aku bisa masuk penjara?”
Dying Messagge Nico,” kata Derren.
Dahi Dirsa mengerut.
“Sudah kuduga kau tak tahu apa-apa soal itu karena kepolisian Spanyol menyembunyikannya. Di situ tertulis namamu dengan sangat jelas karena aku berhasil memecahkan kodenya,” Derren mengeluarkan kertas dari balik jeket putihnya dan melempar kertas itu pada Dirsa.
Dirsa membuka kertas itu.
“Dalam kode itu ada syarat 2/ itu artinya tarik garis dari sudut kiri bawah sampai sudut kanan atas. Setelah itu coret setiap huruf kedua dan kelipatannya. Tidak jauh berbeda juga dengan 2\, yaitu tarik garis dari sudut kanan bawah sampai ke sudut kiri atas,” Derren melanjutkan dengan tenang. Ada senyuman tersungging di bibirnya.
“Untuk 2\ kita mendapat D0ITRCSKA. D-I-R-S-A. Dirsa.”
Rai menganga. Dalam hati memuji otak Derren.
“Lalu 2/ adalah IOB8RGD2-, karena hurufnya cuma empat makanya dibuat tanda kurang. I-B-R-D. International Bank for Reconstruction and Development. IBRD adalah organisasi yang memberikan kredit kepada negara-negara anggota, terutama untuk memberi jaminan atas kredit-kredit pada pihak lain. Disitulah kau menyimpan uang tersebut.”
Derren mengambil jeda sejenak untuk menarik napas.
“Kode yang dibawah merupakan password untuk membuka brankas uang tersebut. Jika dilihat dari bentuk kodenya yang seperti kode statistik, kita cukup mengalikan setiap angka dan menggabungkannya, sehingga menjadi XO586810364924 FR. FR adalah code name untuk Prancis. Jadi, jika kita membuka kode XO5868103649 24FR, kita akan menemukan nama Daris Lenon Syaputra sebagai pemilik brankas tersebut. Kecuali kau bisa menjelaskan kenapa kau bisa memiliki uang yang memiliki jumlah yang sama dengan keuntungan Crystal Pertama Group pada polisi. Atau menjelaskan kenapa kau diam-diam memiliki tabungan di Prancis. Aku tidak tahu dari mana Nico mengetahui tabunganmu, tapi yang pasti dia menyadari kalau kau akan berkhianat cepat atau lambat dan dia memberitahu hal ini pada Ayah sehingga Ayah bisa mengantisipasi masalah. Aku benar kan?”
“Harus kuakui kau benar lagi. Tidak disangka kau lebih cerdas dari dugaanku.”
Derren tersenyum, senyum kemenangan.
Well, walaupun kau tahu semuanya, kau tak akan bisa menjebloskanku ke penjara. Tidak ada bukti. Dan aku akan membunuh kalian semua. Sayang sekali ya padahal kau sudah tahu semuanya tapi kau tak bisa menangkapku.”
Derren masih tersenyum. Melihat itu, Dirsa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. “Kau merencanakan sesuatu,” gumam Dirsa menodongkan pistolnya lagi. “Cepat katakan apa yang sudah kau perbuat!”
“Kau tahu kalau aku sudah tahu kalau kau adalah pelakunya dan pernyataanmu barusan justru akan membawamu ke penjara,” kata Derren dengan santai memasukan tangannya ke kantong jeketnya dan mengeluarkan iPod miliknya. “Ini iPod kesayangan, bukan karena musik yang dia berikan sangat enak di dengar serta tahan lama, tapi juga karena bisa merekam selama lebih dari tiga jam.” Derren mengotak-atik iPodnya. “Aku juga sudah memodifikasinya sedikit dengan beberapa sinyal terpancar. Aku sudah merekam semua pernyataanmu dan mengirimkan rekaman itu pada temanku yang menunggu sinyal dariku. Dia akan mengirimkan rekaman itu pada agen pilihanku untuk mengambil segala bukti dan membawanya ke kantor polisi. Sayang sekali, Dirsa. Kau kalah satu langkah.”
Dirsa menggertaka giginya melihat senyuman di wajah Derren. “Brengsek...”
Dirsa menarik pelatuknya dan menembak kearah Derren yang sigap menghindar. Sandra menjerit panik.
“Lari!” Derren berteriak. “Cepat!”
“Kalian tidak akan semudah itu lari dari sini!” kata Dirsa naik pitam, menembak kearah Daris. Nyaris saja. Peluru itu mengenai tembok.
Suasana menjadi kacau dan tidak terkendali. Dirsa menembak secara membabi buta. Rai dan Sandra bersembunyi di balik sofa. Daris ada dibalik meja yang dibalikan, sudah ada tiga lubang bekas tembakan disana. Derren melompat ketika Dirsa lengah dan memegangi Dirsa.
Dirsa berkutat. Derren kewalahan dan mengambil ancang-ancang untuk menendang perut Dirsa. Tapi dengan mudah Dirsa bangkit dan meninju Derren.
Derren menghapus darah yang keluar dari bibirnya dan kembali menerjang Dirsa. Dia harus merebut kembali pistol itu sebelum ada yang Dirsa tembak.
Dor dor
 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.