RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 19 Oktober 2013

TBMB [07]

07
Blind Date
==========
FRAN(POV)
Dear God! Kenapa aku mengiyakan apa yang dikatakan Jeremiah? Bila aku bisa mengulang waktu, aku akan melakukannya karena sekarang aku hanya ingin melarikan diri, jika tidak, mengubur diriku hidup-hidup.
“Fran! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya!”
Aku melonjak, kemudian mengerang jengkel. Jeremiah berteriak dari luar pintu kamarku. Dengan kekuatan penuh dia memukul pintu. Suaranya tak kalah jengkel dengan suara yang hendak kulontarkan padanya.
“Berapa kali aku harus bilang kalau aku tak berminat, Jerry?” balasku jengkel, melindungi diri dengan bersembunyi di selimut. Pintuku sudah kukunci dan tentu saja sudah keletakkan meja sebagai brikade, siapa tahu nanti Jeremiah berniat mendobrak.
“Kau sudah janji padaku untuk setuju dan jangan panggil aku ‘Jerry’ kalau kau tak ingin aku merontokkan gigimu!” Dia berteriak seperti orang gila. Grandel pintuku berbunyi berisik.
“Aku tak mau pergi!” kataku, lalu menutup kepalaku dengan bantal, berusaha menghilangkan suara Jeremiah yang menjadi-jadi.
“Kau harus pergi! Sampai kapan kau akan jadi jomblo seumur hidup?”
Brengsek! Memangnya kenapa kalau aku ingin jomblo seumur hidup? Aku merasa hidupku baik-baik saja. Aku tak merasa bahwa aku kesepian. Aku punya Gabrielle. Dia hal terindah yang ada dalam hidupku. Aku tak butuh wanita untuk—
“FRAN! BUKA PINTUNYA!”
Jeremiah mendobrak pintu, membuat meja di depan pintu bergetar, tapi tentu saja, pintu tak terbuka. Kuharap dia segera berhenti mendobrak pintuku. Aku tak ingin membuat pintu baru. Dia pikir gampang sekali menginvasi rumah orang?
Sejak kepulangan kami seminggu yang lalu, Jeremiah ngotot untuk mengajakku kencan dengan orang tak dikenal. Dia muncul ke kantorku jika ada kesempatan, meneleponku setiap hari, bahkan nongol dirumahku, hanya untuk membicarakan masalah ini. Jika saja bukan karena dia selalu menanyakan hal yang sama, maka aku tak akan terlibat hal seperti ini. Karena bosan mendengar dia memohon, akhirnya aku mengiyakan apa yang dia katakan.
Dan sekarang masalah dimulai.
“Fran, buka pintunya! Apa kau tahu sangat tak sopan bagi seorang gantleman untuk terlambat?”
Kemarin dia bilang kalau dia sudah membuat janji dengan seorang wanita. Aku tak ingat siapa namanya karena aku begitu sibuk melongo dengan apa yang dia katakan. Aku tak menyangka kalau dia akan serius mengenalkan seseorang padaku. Dan belum lagi aku sempat mengolah apa yang terjadi, Jeremiah sudah mengatakan, “Kita akan makan malam dengannya besok.”
Aku ingin mati saja saat dia bilang begitu. Memang tidak ada yang salah dengan ajakannya. Tapi aku belum siap untuk berkencan dengan seseorang. Aku merasa tak ada yang salah dengan kehidupanku. Aku merasa baik-baik saja dengan apa yang kudapat selama ini. Kenapa dia begitu keras kepala menjodohkanku dengan seseorang? Apa dia tak tahu kalau dia baru saja mengganggu privasiku? Bagaimana kalau wanita yang dia undang itu sama sekali tak menganggap aku cocok untuknya? Aku kan membosankan!
“Dad, percuma kau mendobrak pintunya. Dia pasti sudah meletakkan meja ke depan pintu.” Suara Gabrielle terdengar dari balik pintu.
“Fran, bertingkahlah sebagai orang dewasa dan hadapi aku! Jangan seperti anak kecil!”
Aku menggerutu, tapi tidak menurut.
“Omong-omong, jendela kamarnya tidak terkunci dan kau bisa lewat dari balkon kamarku, Dad, bila kau ingin menyeretnya keluar dari kamar.” Lagi-lagi terdengar suara Gabrielle. Seketika itu pula aku menyingkirkan selimut, menganga dan bangkit dari tempat tidurku untuk mengunci jendela kamarku tepat saat terdengar suara Jeremiah memaki dan langkah kakinya yang berpindah tempat. Aku tak habis pikir kenapa Gabrielle lebih membelanya daripada membelaku!
Aku berhasil mengunci jendela kamarku, lalu kembali naik ke atas tempat tidur, menyelimuti diriku dengan selimut, lalu menutup kedua telingaku. Terdengar suara klik, pertanda bahwa Jeremiah berhasil membuka jendela kamar Gabrielle, lalu bunyi “duk” pertanda bahwa dia sudah muncul di balkon kamarku, dan suaranya menyusul tak lama kemudian.
“Fran, buka jendelanya atau aku akan memecahkannya!”
Aku masih bertahan di posisiku, menutup mata, tak berani untuk bergerak sedikitpun.
“Fran, aku memperingatkanmu. Kau tahu benar kalau aku akan melakukannya,” ancamnya dengan nada berbahaya.
Menggigit bibir bawahku dengan cemas, aku menyerah dan menyingkirkan selimut. Jeremiah berdiri di balik jendela balkonku, mengenakan kemeja dan jas formal yang menurutku bagus sekali baginya. Kedua tangannya berada di pinggang dan dia tengah memelototiku dengan tak setuju.
“Buka pintunya,” katanya lagi.
Aku menghela napas, turun dari tempat tidur, berjalan ke pintu kaca untuk berhadapan langsung dengan Jeremiah. “Aku tak ingin pergi.”
“Kau janji padaku. Kita harus pergi.”
“Jeremiah, aku baik-baik saja walau aku tak memiliki wanita.”
“Apa kau bermaksud mengatakan padaku kalau kau gay?”
“Aku bukan gay!”
“Kalau begitu buka pintu sialan ini dan bersiaplah untuk menemui wanita yang ingin kukenalkan padamu.”
“Jeremiah, aku tahu butuh kencan.”
“Aku tak menyuruhmu kencan dengannya. Aku menyuruhmu bertemu dengannya. Kau butuh bersosialisasi dan menjauhkan diri dari komputer!”
Matanya tampak sungguh-sungguh. Dalam sekejap aku menyerah untuk bertengkar dengannya. Aku tak akan pernah menang melawan Jeremiah. Menggerutu, aku membuka pintu dan dia segera masuk setelah mendorongku minggir.
“Cepat mandi dan bersiap. Aku akan memilih pakaian yang pas untukmu.”
Lalu, tiba-tiba saja, aku mendapat alasan yang bagus. “Aku tak bisa meninggalkan Gabrielle.”
“Oh, jangan khawatir, aku akan menitipkannya pada adikku. Dia suka anak-anak, dia akan mengawasinya dengan sangat baik.”
Mulutku terbuka lebar. “Apa?”
Jeremiah berpindah ke belakangku, mendorongku menuju kamar mandi. “Kau mendengarku dengan baik. Nanti saja kita ngobrolnya. Yang lebih penting saat ini adalah agar kau bersiap.” Setelah berhasil memasukkanku ke kamar mandi, dia masih berpesan, “Jangan lupa, mandi yang bersih dan cepat.” Sebelum dia menutup pintu.
Aku mengerang jengkel, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Aku berusaha mandi selama mungkin sampai akhirnya Jeremiah mengancam akan masuk ke dalam dan menyeretku keluar bila aku terlalu lama. Pria itu benar-benar punya masalah besar terhadap kepribadiannya. Aku memang sangat membosankan dan sulit bersosialisasi. Tapi kenapa dia tetap bersikap seperti itu? Bukankah selama ini dia membenciku? Lalu kenapa dia sekarang jadi perhatian?
Begitu aku keluar dari kamar mandi, Jeremiah melemparkan pakaian padaku untuk segera dipakai. Dia masih memperingatkanku untuk cepat karena kami sudah sangat terlambat, lalu dia keluar dari kamarku—dimana dia sudah menyingkirkan mejaku. Aku ingin sekali kabur, tapi aku tahu tak ada gunanya.
Gabrielle dan Jeremiah sudah menungguku di bawah ketika aku berpakaian. Wajahku pasti sangat jelek sekali, karena sedari tadi aku hanya cemberut. Aku tak suka ada orang yang lebih muda mengatur hidupku.
“Papa, kau tampan sekali,” kata Gabrielle dan aku langsung tersenyum.
“Yep, siapa dulu yang memilih pakaiannya,” kata Jeremiah. Aku memberikan tatapan menusuk yang dengan cepat dihindarinya dengan merapikan mantel Gabrielle. “Ok, sekarang semua sudah siap. Mari kita berangkat.”
Kami keluar rumah dan masuk ke jaguar Jeremiah. Gabrielle memilih duduk di belakang, memainkan ponselnya. Benda itu diberikan Jeremiah sesaat setelah kepulangan kami dari liburan dan meminta Gabrielle menghubunginya kapanpun dia mau. Dalam sekejap, Gabrielle sudah punya beberapa teman dan sibuk meladeni mereka setiap orang dengan pesan singkat.
“Apa adikmu tidak keberatan menampung Gabrielle?” aku bertanya setelah hening  beberapa saat.
Jeremiah menyalakan musik klasik dan tersenyum kecil. “Jangan khawatir. Begitu aku bilang kalau aku butuh bantuan untuk menjaga seorang anak kecil, mereka langsung riang gembira. Adikku sangat suka anak-anak. Mereka akan menjaganya dengan baik.”
“Mereka?” aku mengerjap. “Berapa banyak adikmu?”
“Kau tak perlu memikirkannya.” Jeremiah berkonsentrasi pada jalan di depannya. Mobil kami melewati perumahan besar setelah dari jalan besar. Gabrielle beberapa kali menyampaikan salam dari Noah dan Ben. Sepertinya, Gabrielle masih berhubungan dengan mereka berdua.
“Aku juga suka mereka berdua.” Jeremiah setuju saat Gabrielle menanyainya. “Setidaknya, mereka bersahabat.”
Aku setuju pada Jeremiah. Dibandingkan dengan Troy dan Jimmy, Ben dan Noah lebih bersahabat. “Gabrielle, apa kau punya teman di sekolah?”
Anakku mengangguk. “Ada.”
“Kalau begitu, kenapa kau tak pernah membawa mereka ke rumah?”
Gabrielle menengadah. “Aku boleh membawa mereka?”
“Tentu saja boleh. Mereka teman-temanmu. Aku akan senang bertemu dengan mereka,” kataku dan mata Gabrielle berbinar. “Kalau boleh aku tahu, siapa teman-temanmu?”
“Oh, tak banyak. Hanya tiga orang,” katanya bersemangat. “Aku berteman dengan Rayne Simons, Wyalt Bryne dan F-F-Fanesca Lyott.”
Jeremiah tersenyum di belakang setir. “Kau naksir si kecil Fanesca kan?”
Aku menoleh ke belakang untuk menemukan bahwa wajah Gabrielle merona merah.
“Aw,” kata Jeremiah, melirik spion. “Putraku sedang jatuh cinta.” Dia terkekeh kecil. Aku sendiri merasa bahwa ekspresi Gabrielle manis sekali. Aku tak pernah melihatnya malu-malu sebelumnya.
“Uh! Aku benci padamu!” kata Gabrielle, menendang kursi Jeremiah dari belakang. Tapi Jeremiah semakin terbahak.
“Jadi, seperti apa Fanesca ini, hmm? Apa dia cantik?” tanya Jeremiah.
Gabrielle menutup wajahnya, tampak malu lalu memaki pelan.
“Watch your mouth, young man,” kata Jeremiah dan aku memukul tangannya.
“Jangan menggodanya,” kataku. “Kau bisa menceritakannya kalau kau sudah siap, Gabrielle. Aku akan mendengarkan kapanpun kau mau.”
“Tapi aku mau tahu sekarang,” kata Jeremiah.
“Apa kau tahu yang namanya privasi?” balasku.
“Ok, Grandma. Whatever you want.”
Aku memukul tangannya lagi karena mengejekku, membuatnya tertawa. Akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah besar, bergaya eropa dengan batu-batu merah dan atap berbentuk segitiga. Rumah itu tampak seperti kastil. Jendela-jendelanya berwarna putih. Pohon-pohon sudah berguguran sementara halamannya luas, dikelilingi dengan pagar batu yang kuno tapi juga keren dan klasik.
“Aku akan mengantar Gabrielle. Kau tunggu di sini.” Jeremiah melepas sabuknya.
“Oh, tidak. Aku ikut denganmu. Tak sopan bila aku—”
Jeremiah memberiku pandangan membosankan. “Percayalah, kalau kau masuk, kita tak akan bisa keluar. Jadi lebih baik kalau kau duduk nyaman di sini sementara aku mengantar Gabrielle.”
Seakan itu ucapan finalnya, Jeremiah membuka pintu. Gabrielle segera turun setelah memberiku ciuman perpisahan. Aku hanya melihat mereka masuk ke dalam rumah itu dan berharap bahwa Gabrielle akan baik-baik saja.
Ok, aku tahu bahwa Gabrielle akan baik-baik saja.
Tapi aku tak tahu apakah aku akan baik-baik saja atau tidak.

***

JEREMIAH(POV)
Gabrielle menggenggam tanganku erat-erat saat aku membawanya masuk ke dalam rumah sebelum mengetuk pintu. Biasanya, tiap kali dia melakukan ini, aku tahu bahwa dia takut. Untuk menenangkannya, aku balas meremas tangannya, memberikan pesan bahwa tak ada yang perlu ditakutkan dan bahwa semuanya baik-baik saja. Senyuman Gabrielle muncul ketika aku menatapnya. Keberaniannya muncul.
“Eleanor!” aku berteriak memanggil nama adikku. Gabrielle semakin menggenggam tanganku. Genggaman Gabrielle cukup mantap. Bila Cody punya waktu, sebaiknya dia mengajari Gabrielle cara meninju orang. Mengingat Cody membuatku jengkel. Aku merindukannya setengah mati dan dia belum memaafkanku.
Terdengar suara langkah kaki dan adik perempuanku muncul, nyaris menjerit ketika dia melihatku. “Jeje!” katanya, lalu memelukku erat-erat.
“Cassandra,” kataku jengkel, memeluk pinggangnya, “jangan panggil aku ‘Jeje’. Kita bukan lagi anak kecil.”
Cassandra melepas pelukannya setelah dia mencium pipiku. “Aku tetap akan memanggilmu ‘Jeje’ bahkan saat kau sudah delapan puluh tahun sekalipun,” katanya mengangguk-angguk dan aku memutar bola mata. “Well, siapa anak manis ini?” Dia menatap Gabrielle dengan mata berbinar. “Dia manis sekali.”
“Eleanor tak menceritakan apapun?” kataku keheranan.
“Kau tahu dia pelupa,” balasnya, lalu menunduk sedikit. “Halo, Tampan, siapa namamu?”
Gabrielle tampak agak salah tingkah ketika menjawab, “Gabrielle, Ma’am.”
“Tsk tsk tsk. Jangan panggil ‘Ma’am’, Sayang. Aku belum setua itu,” kata Cassandra menggoyang-goyangkan telunjuknya. “Cassandra saja sudah cukup, Gabrielle. Dan aku suka sekali namamu karena di rumah ini ada yang bernama Michael dan juga Raphael!” Cassandra nyaris berjingkat-jingkat. “Dan mereka semua nyaris seumuranmu! Aku senang sekali!”
“Mana Eleanor?” kataku memutar bola mata melihat tigkah adikku. Cassandra tak menjawab dan sibuk merapikan mantel Gabrielle, lalu memberikan ciuman di kedua pipinya, membuat wajahnya semakin merah. “ELEANOR!”
Terdengar langkah kaki yang lain menuruni tangga. Lalu tak lama muncul pria memakai piyama dengan rambut berantakan dan berkacamata bengkok. Dia tampak sesak napas ketika turun.
“Jere,” katanya, lalu mengambil napas ketika melihat Gabrielle, “Oh! Aku lupa!”
Really?” aku tak senang sama sekali.
“Sori, Jere,” katanya, kemudian mendekat pada Gabrielle. “Jadi, ini anaknya? Well, dia tampan sekali.”
Aku tak punya waktu banyak untuk memarahi Eleanor, oleh sebab itu aku menyudahi masalahnya. “Ya, aku akan menjemputnya jam sebelas.” Aku menoleh pada Gabrielle. “Gabrielle, ini Eleanor dan Cassandra,” kataku memperkenalkan mereka berdua. “Mereka akan menjagamu sampai jam sebelas. Kalau mereka berbuat sesuatu yang membuatmu sebal, kau tinggal mengatakannya padaku.”
“Aku tak akan melakukannya!” Cassandra berkata jengkel, menarik Gabrielle ke sebelahnya. “Dia seperti malaikat, aku akan menjaganya sepenuh hati.”
“Yeah, baiklah,” kataku. “Kemana yang lain?”
“Mereka menonton Alexandria.”
Oh, benar. Film Cody sudah ada di bioskop. Aku lupa sama sekali. “Aku harus berangkat. Kalian jaga dia baik-baik. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Mengerti?” Aku memberikan kecupan ke dahi Gabrielle, menghindari pandangan aneh kedua adikku dan keluar sebelum mereka bertanya.
Fran seperti manusia yang bangkit dari liang kubur ketika aku masuk ke mobil. Wajahnya pucat pasi dan dia sama sekali tak ingin diajak bicara.
“Apa kau baik-baik saja?” kataku setelah kami nyaris sampai ke salah satu kencan Fran.
“Tidak. Aku ingin muntah,” jawabnya gugup.
Aku terkekeh. “Fran, santai. Wanita itu tak akan membuka pintu sambil membawa gergaji.” Dia menelan ludah dengan panik. Ok, itu sama sekali tidak memperbaiki keadaan. “Tarik napas dalam-dalam. Lagi. Benar, begitu. Santai, ok? Nah, sekarang karena kita sudah sampai, aku ingin kau yang menjemputnya.”
Wajahnya kembali memucat seakan dia melihat hantu. “Apa?”
“Dia kencanmu, bukan kencanku,” kataku.
“Aku kan tak mengenalnya.”
“Oh, please, jangan mulai lagi. Kau harus keluar dari rumah siputmu dan melihat dunia.” Aku menghela napas, menghentikan mobil. “Aku sudah memikirkan gadis yang pas untukmu, kau tak boleh menolak kebaikan hatiku. Kau akan menyukainya. Percaya padaku.”
Dia menatap kedua tangannya yang berada di pangkuannya. Kedua tangan itu gemetar. “Siapa wanita ini?”
“Kau tak ingat? Jadi selama ini kau sama sekali tak mendengar perkataanku?” Aku memutar bola mata, lalu menarik napas dalam-dalam. Aku tak ingin membuatnya semakin kesal, lalu melarikan diri. “Namanya Marcee Gracia. Dia bekerja sebagai Dokter di salah satu rumah sakit swasta. Usianya dua puluh sembilan tahun. Kau akan menyukainya. Dia sangat manis dan humoris.” Aku merangkum dengan cepat, melepas sabuk pengamannya. “Sekarang, keluarlah dan jemput pasanganmu, Jagoan, sebelum pria lain mengambilnya.”
Mulut Fran terbuka, menutup, lalu membuka lagi, mirip seperti ikan yang bernapas di daratan—megap-megap. Aku memutar bola mata, membuka pintu lalu mendorongnya keluar. “Cepat pergi sebelum aku sendiri yang menendangmu keluar.”
Pria itu akhirnya keluar, semakin panik. Dia meluruskan jasnya, menelan ludah dengan gugup. Aku mengambil bunga dari belakang, lalu menyerahkannya padanya. “Nih, berikan padanya,” kataku padanya. Dia menatapku, lalu bunga itu, kemudian menatapku lagi. “Ambil.”
Dia mengambilnya dengan ragu-ragu, memberikan pandangan memohon. Aku pura-pura tak melihat, jadi dia tak akan punya waktu untuk mengubah pikiranku. Akhirnya, dia melangkah masuk ke salah satu rumah yang ada di depan kami. Aku melihat dia yang berjalan melewati pekarangan. Melihatnya gugup membuatku gugup juga. Aku seakan memasukkannya ke arena perang seorang diri. Tiap detik aku menunggu di sini membuatku nyaris gila. Tapi aku memilih untuk bertahan. Pria itu butuh bersosialisasi.
Akhirnya, setelah beberapa menit, aku melihat Fran yang muncul, menggandeng seorang wanita berambut pirang yang cantik sekali, mengenakan gaun merah yang membuatnya semakin cantik. Aku kasihan melihat ekspresi Fran. Apa dia tak tahu akan ada beribu pria yang ingin ada di sampingnya sekarang? Aku memilih wanita terbaik untuknya: cantik, humoris, pintar, dan yang lebih penting, berasal dari keluarga baik-baik.
“Hai, Jeremiah,” sapa Marcee ketika dia masuk ke dalam mobil.
“Hai, Marcee,” sapaku, lalu memberikan perintah pada Fran untuk duduk di belakang. “Apa pendapatmu mengenai Fran?” Aku menoleh ke belakang untuk tidak melihat pelototan Fran.
“Oh, dia pria yang manis,” kata Marcee.
Aku tersenyum, “Bagus sekali. Permulaan yang baik.” Fran akhirnya masuk ke dalam mobil. “Bagaimana, Fran? Dia cantik kan?”
“Erm… ya,” kata Fran gugup.
“Kau tak perlu gugup. Aku tak akan menggigitmu, Fran,” kata Marcee.
Aku ikut tertawa dengan Marcee, tapi Fran sama sekali tak bisa tertawa. “Marilah kita menjemput pasanganku.”
“Kau membawa siapa?” Marcee bertanya penasaran.
“Cindy,” jawabku.
Marcee memutar bola matanya. “Aku tak tahu apa yang kau lihat dari wanita seperti dia.”
“Dia cantik,” kataku kalem dan Marcee tertawa kejam. “Oh, ayolah, Marcee, jangan cemburu padaku. Dia seorang model. Kau tak perlu sarkasitik begitu.”
“Oleh sebab itulah otaknya tak ada, Jeremiah,” ucap Marcee. “Kenapa kau selalu memilih wanita yang tak punya otak?”
“Agar aku terhindar dari wanita sepintar dirimu,” jawabku tenang.
“Itu pujian?” dia bertanya dan aku tertawa. Aku tak akan mengakui apapun. Wanita seperti Marcee memang menarik. Mereka cerdas dan penuh tantangan, juga mandiri. Tapi itu juga berarti memberikan perhatian penuh pada mereka karena mereka suka kebebasan. Mereka lebih sulit dihadapi daripada wanita-wanita santai. Dalam beberapa kesempatan, aku memang suka dengan wanita yang cerdas, bila aku bosan dengan wanita-wanita cantik.
“Kudengar dari Jeremiah bahwa kau seorang Profesor.” Marcee membuka pembicaraan dengan Fran—yang sepertinya lebih memilih jadi patung abadi. “Dia menceritakan seluruh hal yang baik padaku mengenaimu. Apa itu benar? Aku cuma ingin memastikannya.”
Fran mengerjap. “Apa yang dia ceritakan padamu?”
“Kenapa kau tak menceritakan dirimu dulu padaku? Supaya, tentu saja, aku tahu apakah Jeremiah berbohong atau tidak.” Marcee tersenyum culas, membuatku memutar bola mata. “Kadang-kadang dia bisa sangat berlebihan menggambarkan seseorang.”
“Aku seorang Profesor dan bekerja di salah satu universitas swasta. Aku memegang Departemen Teknologi dan Perfilman, juga Kepala Laboratorium Perfilman Modern.” Dia memulai, dengan nada, yang untunglah cukup tenang. “Orang tuaku sudah meninggal dan aku punya anak laki-laki.”
“Oh, wow,” Marcee terkesan, membuatku tersenyum. “Untuk kali ini Jeremiah berkata jujur.”
“Hei, aku tersinggung,” kataku.
Marcee mengabaikanku. “Kau masih muda sekali dan sudah menjadi Ketua Departemen? Keren! Dan berapa usia putramu? Jeremiah bilang kalau dia sangat manis.”
Membicarakan Gabrielle meringankan suasana. Dalam sekejap Fran menjadi lebih santai. “Ya, dia sangat manis. Dia anak angkatku, tapi aku sangat menyayanginya.”
“Aku bisa melihatnya,” kata Marcee.
Sepuluh menit kemudian, kami sampai dan aku menemukan kencanku sudah berdiri di depan pintu.

***

FRAN(POV)
Jeremiah memiliki kencan berambut pirang keriting yang cantik sekali. Mereka berciuman dengan mesra di depan pintu dan untuk detik yang begitu lama, aku merasakan dadaku sesak hanya melihat adegan itu. Aku bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku. Rasanya seluruh duniaku berhenti bergerak dan aku tak ingin hidup lagi.
“Ok, ladies and gent.” Suara Jeremiah menyadarkanku. Aku bahkan tak sadar bahwa mereka sudah masuk dan mobil kami sudah berjalan, melewati lampu-lampu jalanan yang berkelebatan di samping jendela. “Kuharap kalian menikmati acara ini.”
Kami sampai di depan restoran klasik dengan lampu termaram yang indah. Jeremiah keluar, menggandeng Cindy dengan gantleman. Marcee menggandeng lenganku, kemudian kami masuk melewati pintu.
“Sudah pesan meja sebelumnya, Sir?” salah seorang pelayan menanyai Jeremiah.
“Ya.” Jeremiah menjawab cepat. “Jeremiah Huges.”
Pelayan itu melihat daftarnya. “Lewat sini, Sir. Saya akan mengantar Anda.”
Kami mengikuti pelayan itu untuk duduk di meja bundar bernomor dua dengan lilin indah yang menyala serta bunga mawar yang apik sebagai penghiasnya. Aku tak terkesan. Aku merasa kegugupanku hilang hanya karena ciuman tadi dan yang kuinginkan saat ini adalah menyelesaikan misi, pulang ke rumah dan tidur dengan tenang. Aku tak ingin ada di sini.
Kami memesan makanan, kemudian mengobrol hal yang ringan-ringan. Acara ini sebenarnya tidak buruk. Marcee wanita yang menyenangkan. Dia suka sekali bercanda pada Jeremiah. Tapi aku tak menyukai Cindy. Tiap kali aku melirik Jeremiah, wanita itu dengan sengaja akan merangkul tangan Jeremiah, menggelayut mesra, atau mencium Jeremiah. Dia seperti belut yang tak mampu lepas dari Jeremiah, membuatku sebal.
“Ew, berhenti bertingkah begitu. Kita sedang makan.” Marcee mengiris dagingnya, memberikan tatapan tak setuju pada Cindy. “Aku tahu kalian saling mencintai, tapi tak perlu pamer begitu.”
Cindy tersenyum manis, tapi sama sekali tidak semanis yang kupikirkan, karena dia memberikan lirikan padaku. “Bukan salahku kalau Jeremiah tergila-gila padaku.”
Aku nyaris muntah. Sungguh. Apa Jeremiah tak sadar seberapa anehnya wanita yang jadi kencannya? Kupikir dia akan memilih wanita yang cerdas karena aku tahu dia lebih cerdas daripada yang ditunjukannya.
Marcee masih tersenyum. “Oh, ya, tentu saja. Seminggu lagi dia akan membawa wanita yang berbeda. Kau hanya salah satu dari sekian banyak stok wanita di gudangnya.”
Senyuman Cindy hilang. “Itu bukan urusanmu!” katanya ketus.
Marcee tertawa merdu. “Ups, topik sensitif. Sori, Jeremiah,” katanya, walau aku tahu dia sama sekali tak menyesal. Aku nyaris tertawa mendengar nada halus Marcee. Marcee memberikan kedipan padaku dan Jeremiah memutar bola matanya.
“Bila kalian ingin cakar-cakaran, tolong jangan di sini. Kami, para pria, ingin menikmati makan malam kami dengan tenang,” kata Jeremiah, memakan kentangnya. Dia tampaknya tak begitu peduli pada apa yang dikatakan Marcee karena dia tahu Marcee benar. Jeremiah akan berkelana dari satu wanita ke wanita lain.
Sisa makan malam kami berlalu dengan sangat mengerikan—juga lucu. Mengerikan karena Cindy berulang kali melirikku dengan tidak suka, dan lucu karena Marcee selalu bisa menyudutkannya dengan kata-katanya. Aku mulai menyukai Marcee. Dia wanita yang menyenangkan. Jeremiah sendiri hanya meladeni Marcee dan Cindy dengan santai dan geli setiap kali Marcee tersenyum penuh kemenangan.
“Malam ini sangat menyenangkan. Sudah lama aku tak menghabisi wanita,” kata Marcee saat aku mengantarnya ke depan pintu. Aku mengangguk setuju. “Dan, aku harus mengakui pada Jeremiah, kalau kau pria yang baik.”
Wajahku memanas karena dia bilang begitu. “Uh, thanks.
Marcee mengecup pipiku. “Aku akan senang sekali ngobrol denganmu lain kali. Selamat malam.”
Aku masuk kembali ke dalam mobil Jeremiah, memasang sabuk pengaman.
“Bagaimana?” Jeremiah bertanya penasaran.
“Dia wanita yang menyenangkan.”
“Hanya itu? Tak ada debaran?”
“Maksudmu?”
Jeremiah memutar bola matanya. “Misalnya kalau dia sangat menarik sehingga membuatmu ingin bertemu dengannya lain kali, atau berbicara dengannya. Lalu saat-saat dimana jantungmu berdetak tak karuan?”
Aku mengerjap. “Uh, tidak.”
Pria itu menghela napas. “Mungkin belum saatnya,” gumamnya, kemudian beralih pada kemudinya. Kami menjemput Gabrielle—lagi-lagi aku tak diijinkan masuk olehnya, yang terbahak-bahak ketika dibawa masuk ke dalam mobil.
“Kenapa dengannya?” aku bertanya keheranan.
Jeremiah menghela napas. “Adikku sepertinya melepas gas tertawa,” ucapnya sambil memutar bola matanya. “Mereka semua tertawa gila-gilaan di dalam sana.”
“Apa?”
“Oh, jangan khawatir, efeknya akan hilang semenit lagi.”
Aku cemas melihat Gabrielle yang menunduk-nunduk, memegangi perutnya, sementara air matanya nyaris keluar karena tertawa terus. Nanti aku akan menanyai Gabrielle apa yang sebenarnya terjadi di rumah adik Jeremiah.

***

Write: Medan, 29 September 2013
 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.