RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label amour cafe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amour cafe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

Amour Cafe Special Edition (Menu 2)


Amour Café
Kian Special Edition
1


“Selamat pagi.”
Suaranya membuatku menarik ujung-ujung bibirku, menunjukan senyumanku yang khas. Disana berdiri A-Lex, pacarku yang manis—walau kalian tidak menganggapnya begitu. Hari ini dia natural seperti biasanya dan memancarkan aura yang membuatku ingin memeluknya. Tak seperti biasanya, kali ini dia memakai bando putih dan melepas rambutnya. Ini sedikit tak biasa. Dia jadi lebih cantik dari biasanya.
“Pagi, A-lex,” balasku. “Cepat naik, kalau nggak kita bakal telat.”
A-lex segera melompat ke belakang sepedaku. Aku bisa merasakan detak jantungku yang tiba-tiba menambah kecepatannya berdetak. Memang sejak aku pacaran dengan A-Lex, aku bisa saja nyaris pingsan kalau dekat-dekat dengannya. Aura tak biasanya itu membuatku tak tahan. Apalagi kepribadiannya.
Sesungguhnya aku sudah tahu A-Lex bahkan sebelum aku mengenalnya.
Pertama kali aku bertemu dengan A-Lex saat hari pertama masuk sekolah. Perhatianku teralih karena dia satu-satunya cewek di dunia ini yang bahkan tak melihatku saat aku lewat. Memang sih saat itu aku merasa dia mungkin tidak melihatku. Tapi jika sampai berulang-ulang, maka itu lain ceritanya. Jadi, selama ini aku menyebutnya sebagai “cewek normal”. Cewek yang pertama kali bertingkah biasa saja saat melihatku.
Namun, aku memilih untuk tidak memedulikannya. Siapa tahu itu cuma perasaanku. Kesan kedua kami bertemu bahkan membuatku terkejut setengah mati.
Pada waktu itu ada kecelakaan dan cuma dia satu-satunya manusia yang peduli pada si “korban” sementara seluruh penonton tak mau melakukan apapun. Mereka berkerumun seperti orang bodoh, melihat seorang cewek yang memohon meminta pertolongan bersama orang yang terkapar dan berdarah di jalanan.
Hatiku tergerak saat itu. Dengan segera aku menghentikan taksi, menyuruhnya berhenti dan membantu dia membawa si “korban” ke rumah sakit. A-Lex bahkan mengeluarkan uang tabungannya cuma untuk membantu orang itu. Maksudku, memangnya masih ada orang di dunia ini yang mau mengeluarkan uang cuma untuk membantu orang? Udah cukup kayaknya nyawanya diselamatkan.
“Makasih, ya.”
Dia cuma bilang itu. Tapi entah kenapa aku merasa puas sekali.
Setelah itu aku sering memerhatikannya diam-diam. Kulihat dia sering bekerja sehabis sekolah: restoran, toko rental, perpustakaan, bahkan di warteg. Dahiku mengerut dengan keheranan, memangnya dia butuh berapa banyak uang sampai harus bekerja keras sebanyak itu? Pantas saja dia sering kelihatan lelah, apalagi nilai-nilainya juga sama buruknya.
Lalu di hari itu, entah kenapa hatiku panas sekali melihat dia jalan-jalan berdua sama cowok yang lumayan tampan—yang menurutku nggak mungkin banget bisa dia dapatkan—andai saja aku tak memerhatikan kalau dia berdandan ala cowok. Yeah, aku memang sengaja masuk Amour untuk mengenalnya dan sedikit membantunya membagi selebaran. Tapi siapa disangka, kalau cuma satu orang yang mendaftar: A-ri-el.
“Jadi, kau tunggu aku di gerbang atau aku jemput di perpustakaan?” A-Lex bertanya saat aku memarkirkan sepedaku dengan aman ke parkiran sekolah. Cewek-cewek yang lewat di sekitar kami menunjuk-nunjuk kami seperti badut tontonan. “Jangan dipedulikan. Aku sudah biasa.”
“Aku yang tak biasa,” kataku dengan rahang mengeras. Tapi saat A-Lex tersenyum lagi, kemarahanku menguap begitu cepat. “Kau tunggu di kelas saja. Nanti aku jemput ke kelasmu—”
“Kenapa setiap kalian berdua pasti ada saja aura pink?” A-ri-el memotong, memarkirkan motornya ke sisi sepedaku. Dia melepas helmnya dan tersenyum. “Hai, Alex, kuharap aku tak mengganggu.” Katanya dan dia melanjutkan “Kian, ada yang mau kutanyakan soal olimpiade matematika. Ada waktu?”
“Aku ke kelas duluan,” A-Lex melonjak cepat dan menghilang sebelum aku mengucapkan sepatah katapun. Dengan jengkel aku melirik A-ri-el.
“Apa? Aku kan tak mengusirnya,” katanya dengan tampang tanpa dosa. Menyebalkan sekali.
“Memangnya kita berdua yang dikirim ke olimpiade itu?” aku menggendong tasku dan A-ri-el menyusul cepat ke samping. “Perasaan aku belum dapat pemberitahuan dari siapapun.”
“Ya. Kita berdua,” jawabnya dan dia melanjutkan dengan cepat, “Juan dan Luke terpilih untuk Fisika. Marred dan Oran untuk biologi. Ah, Estela dan Krisan katanya di Kimia. Aku kurang tahu untuk atletik dan bagian IPS. Tapi kita berdua yang punya saingan paling berat, kurasa.”
Aku sudah menduga kalau dia akan meneruskan topik ini. “Anak-anak IMG yang harus diperhitungkan kan? Tahun kemarin mereka mengirim Ian, mungkin kali ini Eugene. Anak KasihMulia juga punya empat orang itu kan? Siapa namanya?”
“Refan, Dirrel, Rachael dan Philip.”
“Yeah, mereka. Tahun kemarin katanya mereka membabat habis seluruh soal olimpiade.”
A-ri-el tertawa sejenak. “Kurasa kita tak punya harapan. Aku sudah periksa nama mereka yang ikut olimpiade, rata-rata sudah menang di kejuaraan internasional.”
“Aku sih, cenderung tak peduli.”
Setelah itu pembahasan kami dimulai lagi. Aku juga tak mengerti entah kenapa aku jadi tiba-tiba tertarik pada dunia pendidikan. Dulu aku tertarik pada dunia seni karena ada Hazel yang memaksaku untuk masuk, lalu sekarang ada A-ri-el, memasak karena Freddy dan cinta—hum, mungkin karena A-Lex.
***
“Apa kalian tak pernah kencan kemanapun?” Hazel menaikan alisnya, melipat tangannya dan berhenti dari pekerjaannya mengiris wortel. Tanganku yang sedang mencabik daging ikan berhenti. Kepalaku mengadah dengan dahi mengerut.
“Kencan? Belum. Kenapa?”
Hazel melotot lalu memutar kedua bola matanya. Bisa kulihat kata “ya, ampun” tanpa suara dari bibirnya. “Kalian ini pacaran atau tidak sih? Kenapa kalian tak jalan-jalan berdua saja hari Minggu?”
Aku menghela napas. “Karena,” kataku dengan nada sedikit jengkel, “A-Lex cuma punya waktu libur di hari Minggu dan kau ingin aku membuatnya kelelahan cuma karena kencan?”
Lagi-lagi Hazel memutar kedua bola matanya. “Kau benar-benar payah,” kata Hazel dan dia keluar dari dapur membawa piring berisi ikan.
Apa masalahnya sih kalau aku dan A-Lex tak pernah kencan? Yah, memang kami tak pernah kemanapun bahkan sejak kami jadian sebulan yang lalu. Tapi, itu dikarenakan kami sibuk sekali. Aku dan A-Lex sama-sama sibuk sekolah dan kerja di Amour. Dan aku juga sibuk dengan band. Jadi drummer itu nggak gampang. Memangnya gebuk-gebuk drum itu nggak butuh tenaga?
Namun, jika dipikir-pikir lagi, aku dan A-lex emang nggak pernah ngomong serius kalau bukan mengenai sekolah dan kerjaan. Bahkan pembicaraan kami setiap pagi rasanya bisa ditebak: selamat pagi, apa kabar, mau dijemput atau nggak dan habislah pembicaraan.
Yah… aku juga emang kepingin sih kencan layaknya pasangan normal yang lain.
Jika dipikir-pikir lagi, rasanya menyedihkan sekali.
A-Lex muncul beberapa menit kemudian, membawa bertumpuk piring. Dia memberikan senyuman simpul padaku. Belum lagi aku membalas, Kevin masuk dan mendorong A-Lex untuk cepat-cepat membereskan meja nomor sebelas.
“Apa?” kata Kevin menaikan alisnya. “Kau tak senang padaku?”
Aku memutar bola mata dan memilih untuk tidak membalasnya. Bertengkar dengan Kevin tak akan pernah membuahkan hasil apapun. Dia cuma akan bilang kalau dia yang berkuasa di Amour. Kalau dipikir-pikir, aku benar-benar merindukan A-Lex. Walau dia ada didekatku saat ini, aku sama sekali tak bisa bicara dengannya.
“Kau ada waktu Minggu ini?” Mikho masuk ke dapur, memberikan catatan pesanan.
“Aku kosong Minggu Siang. Kenapa?”
“Aku punya dua tiket nonton,” kata Mikho mengeluarkan dua tiket putih dari saku celananya. “Rencana awalnya sih aku mau ngajak cewek yang kutaksir. Tapi sayang dia punya janji sama pacarnya. Kau kan tahu sendiri kalo tak enak pergi nonton sendiri.” Aku menaikan alisku, sama sekali tak mengerti apa yang dia katakan. “Jadi pertanyaannya, kau mau pergi nonton berdua denganku atau kau ambil tiket ini buat kencan sama orang lain?”
Oh, mengertilah aku sekarang. “Aku ogah pergi denganmu, Mikho,” kataku sedikit jengkel. “Terakhir aku pergi berdua denganmu, dua mantan pacarmu nyaris membunuhku.” Ini benar sekali. Mikho punya banyak pacar, tak heran sekarang dia jomblo. Cewek-cewek itu pasti sudah tahu sebusuk apa Mikho walau wajahnya kayak malaikat.
“Oke. Kalo begitu kau pergi sama Alex kan?” dia meletakan dua tiket itu ke meja.
Kutatap tiket itu sejenak. “Tapi aku tak tahu apakah A-Lex bisa pergi atau tidak,” gumamku.
“Dasar payah,” gerutu Mikho. Dia menunduk sedikit dengan kepala menjulur keluar dari celah dapur. “Woi, Alex!” dia berteriak. “Hari Minggu siang ada waktu nggak?”
“Nggak ada. Kenapa?” balas A-Lex.
“Mau kencan denganku? Kita nonton berdua.”
Aku cepat-cepat menyingkirkan kepala Mikho dan balas berteriak, “Jangan dengarkan dia.”
Mikho nyengir lebar saat aku menatapnya. Dia menyelipkan tiket itu ke saku bajuku lalu menepuk-nepuknya dengan penuh kebanggaan. “Selamat berjuang, Pejuang.” Dan dia pergi.
DASAR TUKANG IKUT CAMPUR.
***


Rabu, 20 Februari 2013

Amour Cafe Special Edition (Menu 1)



Amour Café Special Edition
MENU 1
Midnight Café

Malam itu untuk pertama kalinya anak-anak Amour membahas hal-hal yang tidak perlu: mereka membahas mengenai hantu dan segala bentuk hal-hal lain yang gaib dan tidak nyata. Dengan entengnya mereka memulai pembicaraan itu dalam acara minum teh kami.
Semua biang kerok masalah ini adalah Kevin.
“Hantu itu ada,” dia memulai, membantah Ariel yang menyatakan bahwa hantu itu tak ada.
“Hantu itu tak ada,” Ariel membalas dari kubunya.
“Hantu itu ada,” Kevin bertahan dengan pendapatnya.
“Dan dari mana Bos tahu bahwa hantu itu ada?” Ariel menantangnya.
Gobloknya, Kevin malah menjawab, “Tidak tahu. Hanya feeling saja. Instingku selalu benar.”
“Sayang sekali, bahwa kita tak memerlukan insting sama sekali. Kita memerlukan bukti ilmiah. Sesuatu yang nyata,” kata Ariel.
“Tapi hantu dan segala hal gaib itu tak memerlukan logika karena mereka sendiri tidak kelihatan. Bagaimana kau sendiri mengatakan bahwa angin itu ada? Kau hanya perlu merasakannya kan? Sama seperti hantu, kau hanya perlu merasakannya.” Kevin menjelaskan dengan cukup mantap, membuat Hazel yang ada duduk di sampingnya mengangguk-angguk kecil.
Ariel mendengus. “Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. Apa Bos tak pernah belajar konsep fisika sewaktu SMA?”
Andai saja aku tak tahu siapa Ariel, aku tentunya akan sakit hati dengan pernyataan barusan. Tapi dia adalah Ariel, si Juara Satu seluruh angkatan Merah Putih—bahkan Kian tak bisa menandingi kemampuannya dalam berdebat. Begitu Kevin menyentuh konsep pengetahuan, Ariel langsung menyemburkan segala sesuatu mengenai sains pada Kevin.
“Aku yakin bahwa hantu itu ada,” Hazel tiba-tiba bicara.
“Terimakasih, Hazel,” Kevin menepuk-nepuk bahunya dengan bangga. “Nah kan? Aku dapat satu orang yang menyatakan bahwa hantu itu ada.”
“Apa ini? Kita kan tak menanyakan pendapat mereka,” tukas Ariel jengkel.
“Hazel itu seorang seniman. Tentu saja dia akan mengatakan bahwa hantu itu ada. Dia itu selalu berimajinasi.” Felix membalas dari tempat duduknya setelah meletakan pudding caramel-nya. “Aku, sebagai seorang ilmuwan berada di sisi Ariel. Aku tak percaya bahwa hantu itu ada. Jika seorang calon dokter mempercayai hantu itu ada, maka aku akan ditertawakan oleh seluruh pasienku.”
“Aku juga berada di kubu A-ri-el.” Kian menyahut dari tempatnya.
“Tiga lawan dua. Hantu itu tak ada.” Ariel tersenyum puas.
“Eit, tunggu dulu. Masih ada satu orang lagi yang belum mengeluarkan pendapat.” Kevin mengangkat tangannya.
Dan mereka semua melirikku yang sedari tadi hanya mendengarkan.
“A-lex, kau pasti tak percaya bahwa hantu itu ada kan?” kata Kian.
“Hantu ada, Kian. Kau jangan menodai pilihannya,” kata Kevin.
“Kaulah yang menyuntikan hal-hal bodoh ke otaknya, Kevin.” Felix membalas jengkel. “Alex, hantu itu tak ada.”
“Biarkan dia memilih,” kata Ariel.
“Ah, tapi Alex akan masuk kubu kami. Aku yakin,” Hazel tersenyum tenang.
Mereka kembali menatapku dengan tatapan menusuk yang siap menerima keputusanku. Haruskah aku melakukan hal bodoh begini di malamku yang menyenangkan? Oleh sebab itu, dengan tenang aku meletakan cangkir susu coklatku dan mengangguk pelan.
“Hantu itu ada,” ucapku.
“Tuh kan!” Kevin tertawa senang. Dia menatapku seperti melihat seorang pahlawan yang muncul di saat perang sedang berlangsung heroik. “Tiga lawan tiga. Kita seimbang! Alex, kau benar-benar tepat memilih kubuku. Kau akan mendapat kenaikan gaji.”
“Kita lupa satu hal. Alex seorang cewek. Tentu saja dia akan menyatakan bahwa hantu itu ada.” Felix melipat tangan dengan sok. “Ada atau tidak adanya pilihannya sama sekali tidak membuktikan bahwa hantu itu ada.”
Hantu itu ada. Aku ingin sekali mengatakan hal itu pada mereka. Tapi aku memilih diam. Jika aku mengatakan bahwa hantu itu ada karena aku sendiri dapat melihat mereka, maka aku akan ditertawakan oleh mereka. Terutama Felix. Aku bisa menduga perkataan sadis apa yang akan dia lontarkan padaku.
Kian mengerutkan dahinya padaku lalu geleng-geleng kepala.
“Hantu itu tak ada, A-Lex,” katanya.
“Hantu itu ada. Kian, jangan mengatakan apa-apa lagi atau akan memotong gajimu bulan ini!” kata Kevin.
Dan pembicaraan mengenai hantu selesai pada malam itu. Hanya saja dampaknya tidak selesai begitu saja. Hari-hari berikutnya, mereka masih saja berdebat soal hantu itu ada atau tidak, bahkan saat bekerja. Begitu Felix memasuki dapur, dia akan menggerecoki Hazel, mengatakan bahwa hantu itu tak ada dan Hazel membalas santai bahwa hantu itu ada.
Ariel dan Kevin juga melakukan hal yang sama setiap kali Kevin keluar dari kantornya dan mendatangi café. Kian? Tak perlu ditanya lagi. Dia menatapku seolah-olah aku gila dan tak waras. Lalu dia merasa kasihan apakah aku perlu diberikan pengobatan khusus ke pskiatrik terdekat.
Rupanya, pembicaraan mengenai adanya hantu atau tidak sampai ke telinga pengunjung kami. Mereka juga ikut-ikutan memberikan pendapat. Bahkan ada yang mengaku pernah kerasukan segala. Akhirnya, café kami sedikit melenceng dari konsep yang sudah dirancang sebelumnya dari Amour Cafe menjadi Ghost Café. Tapi sama seperti dua pendapat itu, pengunjung lain juga mengatakan bahwa tidak ada hantu—kebanyaka dari mereka adalah para pria. Maka, terbentuklah jurang antara adanya hantu dan tidak. Masalahnya, pengunjung jadi lebih membicarakan masalah ini daripada masalah percintaan mereka.
Karena masalahnya semakin besar, Kevin melihat bahwa pengunjung kami mengalami penurunan karena masalah ada hantu dan tidak ini. Ini disebabkan para wanita—yang percaya bahwa hantu itu ada—memilih untuk mendiamkan kekasihnya—yang menyatakan bahwa hantu itu tak ada. Lalu dia pun mengambil tindakan untuk memperbaharui suasana café.
“Halloween?”
Kami semua terkejut mendengar rancangan Kevin yang tiba-tiba ini.
“Ini bukan karena masalah adanya hantu dan tidak itu kan?” Ariel mengangkat tangannya. “Aku tetap tak percaya bahwa hantu itu ada. Hantu itu tak ada.”
Dua sekutunya—Felix dan Kian—mengangguk dari belakang punggungnya.
“Hantu itu ada,” Kevin keras kepala. “Tapi tenang saja, kita tidak membicarakan masalah itu. Aku ingin kita mengganti suasana. Karena pelanggan kita berantem hanya gara-gara masalah ini, aku ingin memberikan kejutan suasana Romantic Halloween.”
“Ini bulan Maret. Halloween dilaksanakan bulan Oktober.” Kian mengangkat tangannya.
“Benar. Oleh sebab itu kita tidak mengambil peran Scary Halloween.” Kevin mengangguk setuju.
“Kau berniat membuat konsep apa? Apa perlu kita mendekor ulang café?” Felix bertanya keheranan.
“Alex yang akan mengeluarkan konsepnya.”
“Ha? Aku?” aku yang mendengarkan dari sebelah Hazel melongo bengong. Kenapa jadi aku yang kena? Aku kan tak tahu apa-apa soal masalah ini.
“Sewaktu mendekor Amour dengan konsep cinta, Alex sudah memberikan konsep yang luar biasa. Ada saran Alex?” Kevin bertanya sambil tersenyum penuh perhitungan.
“Erm… labu?” aku menggumam pelan dan bertanya-tanya sendiri kenapa justru kata itu yang keluar duluan.
“Kenapa dengan labu?” Felix mengerutkan dahi.
“Labu merupakan properti yang biasa digunakan dalam Halloween kan? Kita pakai labu. Hanya saja, jangan dengan bentuk yang seram. Tapi lebih cantik. Mungkin kita bisa mewarnai labu menjadi berwarna-warni—mungkin pink?”
“Pink?” mereka terkejut.
“Ya. Warna Halloween kan biasaya oranye dan hitam. Tapi karena kita hanya mengambil konsep Halloween dan memberikan suasana romantis saja, kita tak perlu mengambil warna-warna gelap, tapi warna-warna mencolok dan manis-manis: pink, putih, biru terang, merah dan kuning. Kita juga bisa memakai kostum Halloween dengan versi berbeda untuk mengganti suasana café.”
“Aku suka bagian kostum. Teruskan.” Kevin menatapku dengan berbinar.
“Kita bisa memakai kostum dari tokoh-tokoh dongeng terkenal dengan lebih bergaya saat ini. Misalnya vampire atau penyihir gaul,” aku meneruskan dengan ragu, membayangkan cowok-cowok yang ada di hadapanku ini memakai kostum Halloween. Uuugh, entah kenapa aku jadi ikutan bersemangat dan tak sabar melihat mereka dalam kostum.
“Ide bagus. Aku akan jadi mumi,” Hazel menepuk kepalaku.
Aku balas nyengir padanya. Merasakan dia menepuk kepalaku dengan ringan serasa memberiku energi baru untuk meneruskan, mengeluarkan imajinasiku.
“Kita bisa menutup langit-langit dengan terpal hitam untuk sementara dan menggantinya dengan hiasanyaberupa bintang-bintang yang bersinar perlahan. Lukisannya juga bisa kita singkirkan untuk sementara dan kita ganti menjadi permainan trick or treat.”
“Eh, sepertinya menarik.” Felix menggosok dagunya penuh minat.
“Kita memberikan kantong-kantong hitam di lima tempat yang pas sekali dengan lukisan yang dulu pernah kita buat. Di dalam kantong itu kita masukan pertanyaan-pertanyaan yang wajib diambil oleh pengunjung jika dia memilih trick. Jika memilih treat, maka pengunjung yang membawa pasangan wajib melakukan sesuatu yang dikatakan atau menjawab pertanyaan pasangannya. Karena ini Halloween, maka kita bisa kejam sedikit kan? Kita bisa meminta mereka memeluk orang yang mereka benci atau memeluk orang yang tidak ingin dia peluk.”
“Café kita pasti akan meriah dengan rancanganmu ini, Alex.” Kevin mengedip penuh perhatian. “Oke. Siapa yang setuju dengan konsep Alex?”
Mereka semua mengangkat tangan dan semua orang tampak begitu bersemangat dengan pembaharuan café ini.
“Kita akan memulai konsep Alex dua minggu lagi dengan jangka waktu dua minggu pula. Oleh sebab itu, dalam waktu satu bulan ini kita akan sibuk sekali. Aku yakin akan banyak pengunjung yang penasaran dengan konsep kita. Karena itu waktu buka café juga akan lebih lama: sampai jam satu malam. Siapa yang setuju?”
Tidak ada yang setuju. Aku bisa memerkirakan apa yang ada di dalam pikiran kami semua karena kami juga tidak senang dengan keputusan ini. Kami semua masih anak sekolah yang punya kesibukan.
Hanya saja Kevin pura-pura tak melihat dan dia mengambil keputusan sepihak.
“Baiklah, mulai besok sampai satu bulan kemudian, aku mohon kerja sama kalian.”
Kami benar-benar tamat hanya karena masalah adanya hantu dan tidak.
***Midnight Café***
Persiapan menuju Romantic Halloween berlangsung gila-gilaan. Kami semua seakan terjebak dengan ide gila Kevin. Setiap kali kami sibuk dengan perancangan konsep setelah memulangkan pengunjung terakhir di pintu café kami sampai jam satu malam bahkan lebih.
Untunglah Mama tidak terlalu memersalahkan masalah ini karena Kevin sudah memberitahukan masalah ini pada Mama jauh-jauh hari dan berjanji akan bertanggung jawab pada kepulanganku dengan selamat sampai pintu rumah. Secara rutin mereka mengantarku pulang apabila jam dinding sudah mencapai pukul dua belas.
Hanya saja, malam terakhir persiapan menuju Romantic Halloween benar-benar repot. Setelah selesai mempersiapkan segalanya. Kami masih harus mengepak ulang seluruh barang dan memeriksa kembali barang-barang untuk yang terakhir kalinya.
Lalu, sesuatu terjadi dan malam itu menjadi malam yang tak mungkin dilupakan bagi seluruh anggota Amour termasuk aku sendiri.
Malam terakhir itu, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat setelah berhasil mengorganisir semuanya. Tampilan café kami juga sudah berbeda dengan langit-langit gelap penuh bintang seperti diluar angkasa, tampak seperti lautan bintang yang membinging manusia yang berada dalam kegelapan menuju sebuah kehidupan yang bersinar. Kantong-kantong hitam berisi trick juga sudah kami sediakan dan tergantung di beberapa tempat. Labu-labu rencananya akan dikeluarkan besok saat café kami akan buka, sebagai sebuah kejutan. Tulisan “Romantic Halloween” juga sudah ditulis indah oleh Hazel dan tinggal digantung saja.
Saat aku sedang mengambil gelas, aku melihat di luar ada seorang anak kecil tengah menangis sendirian. Wajah anak itu cantik jelita, berambut panjang dan mengenakan gaun indah yang manis sekali.
Karena aku takut bahwa aku bisa saja melihat “sesuatu”, aku pun menarik-narik baju Hazel yang duduk di sampingku.
“Hmm? Apa, Lex?” Hazel menatapku keheranan.
“Ada orang di luar ya?” aku berbisik pelan, takut yang lain mendengar suaraku dan mengataiku gila.
Hazel melihat arah pandangku, melewati jendela transparan café kami dan menembus pemandangan di luar. Di gerbang café kami itu memang ada seorang anak kecil yang menangis. Apakah Hazel melihatnya?
“Ya. Anak itu kan? Yang menangis di depan gerbang?” kata Hazel.
Ternyata anak itu bukan hantu! Hazel bisa melihatnya bahkan bisa mendeskripsikan dengan baik lokasi anak itu.
“Menurutmu dia menangis karena apa?” aku bertanya penasaran.
“Entahlah. Kenapa kita tidak tanya saja?” Hazel menatap mataku dengan tenang. “Mungkin saja anak itu tersesat.”
“Kalian bisik-bisik apa?” Kian melirik dengan tidak senang begitu melihat kami.
“Ngga ada apa-apa. Kami keluar sebentar ya. Mau mengambil sesuatu. Ayo, Alex,” Hazel menarik tanganku dengan cepat.
“Ada barang yang ketinggalan?” Felix mengulang keheranan.
Tapi kami sama sekali tak mengatakan apapun karena Hazel dan aku sudah keluar dari café dan mendatangi anak itu. Anak kecil itu masih di sana, menangis dan berulang kali menghapus air matanya.
“Dik,” Hazel menyapa anak kecil itu sambil memegang lembut pundaknya. “Kenapa ada di sini?” dia bertanya lembut.
Hazel dapat menyentuh anak itu! Aku merasa lega dua kali lipat. Itu artinya anak itu manusia.
Wajah anak kecil itu mengadah. Terkejut melihat kami berdua. Matanya basah karena air mata dan berkilat-kilat cantik. “Aku lapar, Kakak,” katanya terisak-isak.
“Dimana orang tuamu?” aku bertanya penasaran.
“Mama pergi, nggak tahu kemana,” jawabnya terisak.
Hazel mengangkat tangan, menghentikanku yang hendak kembali bertanya. “Kakak punya makanan. Mau makan di dalam?” tanyanya lagi.
“Benarkah?” anak itu tampak bahagia.
Hazel mengangguk lagi. “Yuk.”
Aku merasa beruntung berteman dengan orang sebaik Hazel. Dia benar-benar mengerti bagaimana menangani seorang anak kecil. Hazel menggandeng tangan anak kecil itu, menggiringnya dengan penuh kesabaran sementara kami memasuki café.
“Erm…” Kevin melirik anak kecil yang ada dipegang Hazel. “Apa yang kalian bawa?”
Mereka semua melirik kami dengan keheranan penuh tanda tanya.
“Anak kecil ini lapar. Hazel akan menyiapkan makanannya. Tidak apa-apa kan jika kami memberinya makanan gratis?” aku menjawab cepat, memohon dengan sungguh-sungguh.
“Anak kecil?” Felix sedikit terkejut, melirik anak itu dengan keheranan. Dia menatap Ariel yang memandangnya dengan pandangan melongo yang sama bingungnya. Kian sendiri mengerjap, memelototi anak itu seakan tak pernah melihat seorang anak kecil sebelumnya. Ada apa sih dengan mereka?
“Tidak apa-apa, sih. Hanya saja,” Kevin menelan ludah. “kalian harus memulangkannya dan eh, aku tak mau dia berkeliaran di caféku.”
“Aku akan memulangkannya,” Hazel mengangguk pelan penuh pengertian. Dia lalu menunduk kecil, memandang anak kecil itu dengan penuh cinta seperti melihat seorang putri raja. “Dik, kau mau makan apa?”
“Steak!” anak itu berkata riang.
“Jika begitu, mari Kakak antar ke tempat duduk,” kata Hazel lagi. Dia menggiring anak itu ke tempat duduk, mendudukannya dengan pelan. “Kakak akan memasak dulu. Alex, temani dia.”
“Oke.”
Hazel pun menghilang ke dapur.
“Kita sebaiknya menyingkir?” Kevin menggiring Felix, Ariel dan Kian yang sepertinya kehilangan kesadaran menuju meja lain.
“Siapa namamu adik kecil?” aku bertanya penasaran. Anak ini punya wajah yang cantik jelita. Tentunya dia juga punya nama yang indah pula.
“Adline,” jawabnya riang. Ah, namanya sama bagusnya dengan wajahnya.
“Adline? Nama yang bagus.” Aku memujinya dengan kegirangan. “Kenapa kau ada di depan gerbang?”
“Aku tak tahu Kakak.” Dia menggeleng perlahan.
“Apakah kau tersesat?” aku bertanya prihatin.
Adline mengangguk pelan. “Sewaktu aku berjalan, hari sudah gelap. Aku berhenti karena lapar.”
“Tenang saja. Kak Hazel akan memberikanmu makanan enak.”
“Kak Hazel?”
“Ya. Kakak yang tampan tadi namanya Hazel?”
“Dia orang baik.”
“Dia memang orang baik.”
“A-Lex,” suara Kian terdengar. Aku mengadah, melihat Kian yang berdiri di sampingku. Dia memberikan tatapan keheranan pada anak itu. Anak itu gemetar melihatnya.
“Kau menakutinya,” kataku jengkel, menyikut perutnya.
“Aduh, kaulah yang menakutiku, A-Lex.” Kian memegang perutnya.
“Memangnya kenapa?” aku bertanya keheranan.
Kian menatap anak itu, lalu menatapku lagi. Untuk sejenak dia terdiam, menimang-nimang. Berpikir terlebih dahulu sebelum bicara merupakan ciri khasnya.
Hazel muncul, menimpuk kepalanya. “Menyingkir dari hadapan Alex, Kian. Sekarang.”
Kian menurut dan kembali ke tempat Kevin, Ariel dan Felix yang tengah menonton kami dengan serius dan wajah pucat.
“Ini steak-nya,” Hazel meletakan steak yang masih panas ke atas meja.
“Kakak akan menemaniku makan?” kata Adline.
“Kami berdua akan menemanimu makan,” kataku cepat dan menarik Hazel duduk disampingku.
Kami mengobrol ringan dengan anak itu. Bertanya hal-hal yang biasa dia lakukan. Sesekali aku melirik ke arah kelompok Kevin. Mereka semua melihat kami dengan ketakutan seolah kami virus menular. Tak mau dekat-dekat. Tapi jelas-jelas masih ingin tahu apa yang terjadi karena mereka terus melotot dan mendengarkan.
“Ada apa dengan mereka?” kataku keheranan pada Hazel.
“Nanti juga kau tahu,” gumam Hazel pelan.
Adline selesai makan setengah jam kemudian. Seluruh makananya habis.
“Ah, kenyang!” kata Adline. “Rasanya enak, Kakak.”
“Terimakasih,” kata Hazel. “Apakah sekarang kau sudah ingin pulang?”
Adline menatap Hazel. “Kakak bisa memulangkanku?”
“Kami akan mengantarmu, Adline,” kataku lembut.
“Ya. Aku bisa.” Hazel mengangguk pelan. Tersenyum manis.
“Kalau begitu, aku mau pulang, Kakak,” kata Adline. “Terimakasih atas makanannya, Kakak. Baru kali ini Adline merasakan makanan seenak itu.”
“Sama-sama, Adline,” kata Hazel, mengusap kepala Adline dengan lembut. “Sekarang kau bisa pergi dengan tenang.”
“Dadah!”
Tubuh Adline memucat sedikit demi sedikit kemudian menghilang begitu saja, menyisakan bangku yang kosong.
Aku melongo.
“Dia sudah pergi?” Kevin bertanya dari tempatnya.
“Sudah,” jawab Hazel.
He? Aku masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tadi melihat apa?
“Dia tak akan datang lagi kan? Apa kau sudah memastikan anak itu tak akan bergentayangan di caféku?” kata Kevin lagi.
“Tidak. Aku memastikan dia tak akan kembali,” ucap Hazel santai. “Ah, aku capek. Besok harus masuk kelas. Benar-benar menyebalkan.”
Aku masih terpaku di tempatku berada.
“Hazel seorang cenayang, Alex,” Kevin menjelaskan. “Kau ingat waktu pertama kali bertemu dia bilang kalau dia sudah memanggil cenayang dan mengatakan bahwa café ini aman-aman saja? Sebenarnya, Hazel-lah yang mengusir mereka semua. Dan tidak ada hantu yang mau dekat-dekat karena Hazel memang ditakuti para hantu.”
Jadi maksudmu anak itu tadi hantu? Aku baru saja berbicara dengan hantu begitu?
“Aku tak menyangka kalau kau bisa melihat hantu juga, Alex,” Kevin menatapku lagi. “Mata kalian benar-benar mengerikan.”
 AAAAARRRRRGH!
Besoknya, tidak ada seorang pun yang menyungging masalah itu. Dan ada atmosfer yang mengatakan bahwa “Hantu itu ada” pada setiap penjuru café.
***Midnight Café***
 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.