RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Charlie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Charlie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Charlie by Prince Novel




















Charlie
by: Prince Novel

"Ini kan aku!"
Charlie terkejut melihat wajahnya tiba-tiba muncul menjadi cover majalah Jepret. Dan karena majalah itu laris karena wajahnya, Charlie terpaksa menjadi seorang model di majalah itu. 
Masalahnya, dia harus menjadi model cowok! Ya, COWOK!
Karena Photographer Sialan yang nyebelin itu, Charlie harus menjalani kisah menyebalkan menjadi model cowok! 


Read Link

Charlie Eps 1
Charlie Eps 2
Charlie Eps 3
Charlie Eps 4
Charlie Eps 5
Charlie Eps 6
Charlie Eps 7
Charlie Eps 8
Charlie Eps 9
Charlie Eps 10 (End)

Senin, 29 November 2010

Charlie Eps 10

Written by : Prince Novel

CHARLIE

10.

Protes

Sulit sekali bagiku untuk mengimbangi langkah panjangnya. Seperti yang kalian tahu, aku sangat pendek dan dia tinggi besar seperti raksasa. Ditambah lagi dia menarikku tanpa perasaan. Tangannya yang besar itu mencengkram lenganku dan bisa kurasakan kalau otot-ototku kesakitan.

Dia masih menarikku mengikutinya menuju tangga, tepatnya menuju atap. Aku tak tahu apa maunya. Mungkin dia bermakud menyuruhku lompat dari sana atau mungkin dia akan mendorongku dari sana supaya aku cepat mati.

“Kita bicara empat mata disini,” katanya melepaskan genggamannya.

“Memangnya kenapa kalau kita bicara disana?” aku menantangnya.

“Pikirkan posisimu, Tolol. Kalau kau ketahuan sebagai cewek maka kau akan tamat.”

“Oh, jadi kau masih memikirkanku?”

“Tentu saja!”

Jawabannya mengagetkanku.

“Kau itu modelku. Aku harus memikirkan upaya agar kau bisa selamat dari masalah ini!” katanya kesal. Bisa kupastikan dia tak tidur selama dia menghilang. Mungkin dia memikirkan hal apa yang akan dia katakan padaku. Tapi kata-katanya barusan…

“Aku sama sekali tak punya masalah jadi model cowok kalau kau tutup mulut.”

“Cepat atau lambat kau akan ketahuan!” katanya. Cowok itu sepertinya mengalami pukulan yang berat. “Asal kau tahu saja. Saat Shin memberitahu identitasmu, ada wartawan disana dan dia mendengar semuanya! Apa kau tahu masalah besar apa yang akan terjadi?”

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa? Wartawan? Ada wartawan disana dan mendengarkan pembicaraan kami?

“Untung saja mereka tak ada bukti yang menunjukan jati dirimu. Kalau kau ketahuan bukan kau saja yang akan mengalami masalah, tapi juga Digital! Kau tentunya tak mau Digital mendapatkan sanksi atas hokum penipuan public kan?”

Otakku berpikir cepat. “Kau tahu darimana ada wartawan disana?”

“Saat aku pulang aku melihat ada dua mobil terparkir di dekat rumahmu dan ada empat wartawan yang mengintip disana! Untung saja waktu itu sudah gelap, jadi mereka tak bisa mengerti apa yang terjadi. Aku panik beberapa hari ini untuk menemukan solusi masalah ini tahu.”

“Jadi,” rasanya otakku bisa berjalan dan bekerja sebagaimana mestinya, “Kau menghilang tanpa kabar dalam beberapa hari ini bukan karena terpukul mengetahui aku ini cewek tapi menyelesaikan solusi paparazzi itu?” lanjutku.

“Ya,” kata Diaz. Dia menatapku. “Aku tak bisa berpikir mengenai kau itu cewek kecuali para wartawan itu.” Dia mengecak pinggang.

Aku menghela napas lega.

“Mungkin Shin bermaksud untuk melonggarkan sikapki padamu,” lanjutnya. “Maaf saja aku tak bisa melakukannya. Kalau ini diteruskan bukan hanya kau yang dalam masalah tapi juga Digital. Kau harus segera mundur dari dunia ini.”

Aku kembali berpikir. Yang dikatakan Diaz memang benar, aku tak mungkin terus menyamar. Kalau sudah seperti ini masalah yang datang akan terus berkesinambungan. Aku menyerah. “Masalahnya, bagaimana caraku keluar dari sini. Aku sedang naik daun dan Santiago tak akan membiarkanku mundur semudah itu.”

Diaz diam beberapa saat sambil menatap ke langit. Rambutnya diterbangkan angin. Sambil membasahi bibirnya dia kembali membuka mulut berbisanya. “Kudengar dari Bram kalau kau itu pintar.”

“Memangnya kenapa?” alisku naik sebelah. Perasaanku tak enak.

“Ada beasiswa ke Amerika. Kata Bram kau sangat ingin belajar disana. Kalau kau bisa lulus tes, maka kau—”

Mataku langsung berbinar mendengar penjelasannya.

Diaz berdeham. “Aku tahu kau akan menyukainya. Jadi belajarlah yang giat, sainganmu banyak. Kalau Santiago mendengar kau punya rencana buat belajar ke luar negeri, dia tak akan memperpanjang masa kontrakmu lagi karena kau punya alasan kuat.”

“Itu alasan yang luar biasa,” gumamku. “Aku akan belajar dengan giat!”

“Kalau kau setuju, akan kukatakan pada Santiago kalau kita butuh model baru untuk menggantikanmu. Tentunya bukan model yang menyamar. ADUH!” Diaz melompat-lompat sambil memegangi kakinya yang baru saja kutendang dengan sekuat tenaga.

Aku melet dan segera pergi dari sana sambil membanting pintu.

***

Beberapa hari kemudian, aku belajar seperti orang gila. Masalah yang terjadi kubiarkan begitu saja. Diaz sudah memberikan kesempatan yang bagus, dan tak ada hal lain yang kuinginkan selain bisa belajar ke luar negeri. Lagipula, ini mungkin satu-satunya untuk keluar dari dunia model.

“Rajin seperti biasa.” Aku mengadah dan melihat siapa orang yang menyodorkanku kopi dingin. Eugene tersenyum dan duduk di depan mejaku yang bertumpuk buku-buku fisika. “Aku sudah dengar dari Diaz kalau kau memilih untuk meneruskan karirmu di bidang ini,” dia menunjuk salah satu bukuku. “Santiago mengamuk.”

“Aku sudah tahu,” kataku sambil tersenyum padanya.

“Selesai bekerja seharusnya kau beristirahat bukannya bekerja,” kata Eugene meneguk kopinya. “Jadi, kapan kau akan pergi?”

“Setelah kontarku disini selesai,” jawabku. “Dua bulan lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya. Lalu ada ujian sekolah. Hah… aku tak bisa berpikir.”

Eugene kembali tersenyum, “Kau cuma anak SMA biasa. Sudah kau pikirkan mau kuliah dimana?” aku sudah menyadari kalau dia akan bertanya karena itu aku menunjuk brosur yang kemarin diberikan Diaz padaku. Mata Eugene langsung melotot. “Stan—pantas saja kau belajar seperti orang gila.”

Aku nyengir padanya. Aku tahu Santiago tak senang dengan keputusanku ini tapi aku juga tak mau memikirkan apapun saat ini selain ujianku. Papa juga tak banyak bicara mengenai keputusanku. Shin? Hah, cowok itu memang sebuah kesalahan besar. Dengan entengnya dia berkata “Selamat!” sambil menyalamiku. Dia memang aneh.

Tapi Diaz? Cowok itu lebih parah dari biasanya. Begitu mengetahaui jati diriku dengan sekehendak hatinya dia menyuruhku bekerja tanpa henti.

“Hoi, coba pasang tampang yang bagus!”

Aku menggerutu dan mencoba kembali tersenyum.

“Kau ini bukan perempuan, jadi berhentilah tersenyum seperti itu! Yang macho sedikit!”

Dan aku cuma bisa menggigit bibir melihat tingkahnya yang menyebalkan itu.

“Aku sudah bilang kan kalau aku tak akan berubah sikap walaupun aku tahu identitasmu. Asal kau tahu saja, kau harus menyelesaikan semua pekerjaanmu. Aku sama sekali tak mau membuang waktuku cuma untuk melihatmu belajar.” Bisiknya saat dia memperbaiki kerah bajuku agar terlihat lebih tinggi.”

“Tapi kau sendiri yang memintaku untuk sekolah ke luar negeri kan?”

“Kau yang mau, bukan aku,” bisiknya cepat menepuk-nepuk bahuku. “Asal kau tahu saja, kau satu-satunya model yang membuat moodku selalu berubah-ubah. Aku tak akan menyia-nyiakan waktuku untuk menangkap berbagai ekspresi darimu, jadi tunjukan semua ekspresi, oke? Kau tentunya tak mau membuat fansmu sedih untuk melihat penampilan terakhirmu kan?”

Dia memang tahu cara membalas perkataanku!

***

Aku masih mengantuk ketika Papa membangunkanku. Cahaya matahari sudah mneinggi saat aku membuka mataku. Dan gorden di jendela kamarku melambai lembut. Sudah bermalam-malam aku bergadang cuma untuk belajar dan minggu lalu adalah pertandingan terakhir, tapi aku sama sekali tak bisa tidur dengan tenang.

“Ini sudah jam sebelas, Charlie,” katanya menarik selimutku dan melipatnya dengan rapi. Aku masih mengantuk. “Bangun, Nak. Bukankah hari ini ada janji dengan Diaz?”

“Biar saja dia menunggu,” kataku tak jelas. Kuletakan bantal menutupi kepalaku. “Ini hari liburku setelah aku keluar jadi model, aku mau tidur sampai puas. Diaz sama sekali tak memberiku waktu istirahat banyak.”

“Kau janji dengan Diaz jam berapa?”

“Jam sepu—”

Kontan aku langusng terduduk. Mataku langsung terbuka lebar. Kulihat Papa yang tersenyum-senyum menatapku, lalu kulirik jam di dinding. “Aku bakal dicekik Diaz! Papa, kenapa tak membangunkanku seperti biasa?”

Aku langsung melompat dari tempat tidur dan mengambil handuk sambil berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.

“Yah… mana Papa tahu kalau kamu punya janji dengan Diaz? Dia tadi menelepon ke rumah karena nomormu nggak aktif terus dia titip pesan supaya kau cepat datang.”

Sambil mengutuki nasibku, aku bisa menebak apa yang akan terjadi jika aku memunculkan diri dihadapannya yang terlambat lebih dari satu jam.

“Kau dan Diaz tidak berkencan kan?”

“Aku tak sudi kencan dengannya!” teriakku dari kamar mandi.

“Diaz orang yang baik kok. Papa tak keberatan.”

Aku tak membalas. Bukan Papaku yang selama ini kena tindas sama Diaz tapi aku, wajar saja kalau dia menyukai Diaz. Diaz itu kan berkepribadian ganda! Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sama sekali tak bisa menemukan pakaian apa yang akan kugunakan. Seluruh pakaian sudah terlempar dari dalam lemari, bersatu dengan buku-bukuku yang sama berantakannya.

Aku terdiam di depan cermin. Menatap diriku. Aku harus memakai baju apa?

***

Seperti yang sudah kuduga. Diaz kaget dengan kedatanganku. Dia hendak marah, tapi ketika melihat penampilanku, matanya melotot dan mulutnya terbuka.

“Kau—apa yang kau—” dia tak bisa berkata apa-apa.

“Apa? Aku cuma menyamar. Kalau aku memakai wajah Charlie, tentu saja aku harus memakai penyamaran ini,” kataku dengan enteng sambil melipat tanganku. Hari ini aku jadi cowok, dengan celana jins dan kaos panjang yang dilipat. Topi hitamku menempel di kepala dengan sempurna.

“Aku tak mau jalan berdua dengan cowok!” bisiknya kesal. “Kenapa kau tak memakai baju perempuan saja sih?”

“Semuanya sudah kusimpan di gudang,” kataku merapikan letak topiku. “Selain baju seragamku, semua baju yang kupunya ya seperti ini. Lagipula, apa salahnya kalau aku berpenampilan begini? Biasanya juga kita jalan berdua dengan baju beginian.”

“Kau—”

Perbendaharaan bahasanya sepertinya habis jika berhadapan dengan Charlie versi cowok. Dia menoleh ke arah lain sambil mengomel, “Capek-capek aku menyiapkan acara beginian, dia malah datang dengan pakaian urakan. Ini sih…”

“Kau menyiapkan apa?” aku tertarik dengan perkataannya barusan.

“Bukan apa-apa,” kata Diaz cepat.

“Charlie… kan?”

Seorang cewek menghampiri kami. Matanya berbinar sambil menatapku. Kulihat di belakangnya ada teman-temannya yang menunggu dengan ekspresi yang sama. Tadi dia bilang apa? Charlie? Dia mengenaliku ya? Belum lagi aku berkata apa-apa, dia sudah berteriak.

“Charlie! Gue penggemar lo! Tanda tangan!”

Diaz langsung menarik tanganku sambil berkata, “LARI!”. Kami melesat bagai angin. Kabur selagi sempat. Teriakan dari belakang kami tidak digubris lagi. Langkahku tak bisa mengimbangi Diaz, tapi keadaan memaksaku untuk lari lebih cepat dari dia.

“Harusnya kau tahu kalau bakal begini!” teriak Diaz. “Keluar dengan dandanan begitu! Kau sudah gila ya? Kau itu masih tenar kalau ketahuan gimana?”

“Mana aku tahu kalau aku bakal dikenalin!” aku balas teriak, berusaha mengeluarkan suaraku dari usahaku untuk berlari dan menarik napas.

“Charlie! Charlie!”

Aku melotot ketika melihat kumpulan orang yang mengejar kami semakin banyak. Sedangkan di seberang ada jalan raya yang masih dipenuhi dengan mobil yang lalu lalang. Jika mereka ketahuan di depan, malah akan memperkeruh suasana. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka.

“Butuh tumpangan?”

Itu Shin. Dia tersenyum di balik kacamata hitamnya. Tanpa menjawab Diaz langsung membuka pintu dan menarikku masuk ke dalam. Kami menarik napas panjang dan kelelahan ketika Shin menginjak gas dan membawa kami keluar dari bencana. Meninggalkan fansku di belakang.

“Seperti biasa, menarik perhatian,” komentar Shin terkekeh.

“Gara-gara dia pakai baju beginian!” gerutu Diaz kesal. “Untung saja tadi aku langsung menarikmu kalau tidak maka kau akan mati. Bersyukurlah.”

“Bersyukur?” oh, jadi dia sekarang mau sok! “Aku harus lari lebih cepat untuk mengimbangi langkahmu tahu! Apa kau tak tahu bagaimana rasanya?”

“Kalian berdua benar-benar cocok. Kenapa tidak jadian saja sih?” Shin kembali tersenyum dari kaca spion.

“Jadian? Kalau Charlie yang mau jadi pacarku sih, aku oke-oke aja.”

Apa? Barusan dia bilang apa? Dengan pedenya dia berkata—

“Kau yang nembak duluan, Bodoh!”

Yah… begitulah… mungkin kisah cinta kami masih lama, tapi masih ada cerita-cerita manis yang bisa kami rasakan bila dalam keadaan seperti ini. Dan seperti yang kalian tahu, Diaz itu fotograper tipikal. Sifatnya jelek. Tapi, walaupun begitu, dia berusaha untuk menjagaku sebaik-baiknya dan itu sudah lebih dari cukup. Kurasa aku akan bisa memaafkan semua kejelekannya karena sifatnya yang satu itu. Tidak buruk juga kan. Tapi jangan harap aku akan nembak duluan. Tak akan pernah! Dia pasti akan semakin sombong!

Dan kisah Charlie sang Cute Model berakhir disini….

TAMAT

Charlie Eps 9

Written by : Prince Novel

CHARLIE

9.

Big Problem

Jantungku seakan berhenti berdetak ketika mendengar kata-kata dari Shin. Aku menatap Shin dan Diaz secara bergantian. Bisa kulihat kalau Diaz memelototiku. Sepertinya dia sedang mencerna perkataan Shin barusan.

“Jelaskan!” Diaz bicara dengan dada yang naik turun menahan amarah. “Kenapa kau menyamar jadi cowok? Apa kau tak tahu berapa orang yang kau tipu?”

“Pertama, aku sama sekali tak mau dianggap sebagai cowok. Kedua, kau sendiri yang mengira aku sebagai cowok!”

“Itu karena kau berdandan sebagai cowok!” Diaz menatap Bram. “Kenapa kau tidak melarang dia, Bram? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia perempuan?”

“Pertama,” Papaku keliahatan akan meledak. “Kau yang salah mengira dia sebagai lelaki seperti tadi yang dikatakan Charlie dan kedua, bukannya kau yang memasukan foto anakku ke majalah itu? Lalu ketiga, kau sendiri yang meminta Santiago untuk membuat Charlie menjadi model.”

“Jadi ini salahku?” kata Daz.

“Ya! Ini salahmu!” kata Charlie kesal. “Apa kau tak bisa sedikit saja untuk mendengar kata-kata orang?”

“Aku sedang bermimpi!”

Diaz kelihatan kacau. Dia berbalik menuju mobilnya setelah membanting pintu mobilnya dengan kesal. Aku sebenarnya tidak begitu mengerti tingkahnya yang satu itu. Sungguh!

“Dia akan menerimanya cepat atau lambat,” kata Shin melipat tangannya.

“Kau, ” sekarang amarahku menaik ketika melihat wajah Shin. “Ini karena kau! Kenapa kau tak bisa diam, hah? Aku sama sekali tak mau kau menyebarluaskan soal diriku padanya! Apa yang kau pikirkan?”

“Apa yang kupikirkan? Yang kupikirkan adalah supaya Diaz bisa berperilaku normal pada anak perempuan. Apa kau tak merasakan kalau dia selalu menindasmu? Kurasa ada baiknya jika antusiasmenya terhadapmu berkurang sedikit. Dia mungkin akan shock, tapi kurasa dia akan baik kembali, kau tenang saja. Tak perlu khawatir.”

“Dasar gila!” Charlie masuk ke rumahnya sambil membanting pintu.

“Kau akan berterima kasih padaku, Charlie!”

“Nggak bakal!”

Ini benar-benar masalah. Masalah besar!

***

Mungkin kesannya kekanak-kanakan, tapi Diaz menghilang bagai ditelan Bumi. Nomornya nggak aktif dan rumahnya kosong. Ada kemungkinan dia akan menghilang dalam jangka waktu yang lama. Aku tak bisa memungkiri hal itu. Dia butuh waktu lama untuk mencerna kata-kata Shin. Ingin rasanya dia kucakar saat itu. Seenaknya dia berbicara dengan tidak peduli.

“Hah…”

Aku menghela napas lagi. Papan tulis di depanku kelihatan tidak bemakna. Maksudku itu sangat penting: Kimia. Tapi entah kenapa aku sedang nggak mood.

Semuanya karena Diaz!

Dengan kepergian seperti itu benar-benar membuatku sebal dan kesal setengah mati. Kepikiran. Gawatnya—dan ini menambah pikiranku—apa yang akan dilakukan Diaz selanjutnya? Apa dia akan melaporkan kebohonganku pada Santiago?

“Charlie,” Guru Kimia menegurku yang masih terbengong. “Coba kamu kerjakan nomor enam. Jangan lupa mengerjakan nomor dua belas lagi.”

Aku menghela napas sambil bangkit dan berjalan di depan papan tulis. Kuambil spidol dan menuliskan jawaban dengan pikiran yang melayang-layang. Aku tak mengerti apakah jawabannya benar atau tidak, yang pasti guru bilang aku bisa duduk. Kemudian aku duduk kembali dan mengambil handpohoneku yang bergetar perlahan. Kubuka SMS itu.

From: Shin

Charlie, Diaz di kantor. Keadaan gawat.

Jantungku berdetak cepat. Aku segera bangkit dan mengambil tasku.

“Charlie, ada apa?” kata Bu Kimia.

“Saya kurang enak badan, Bu,” kataku. “Bisa…” aku memutar otak. “Bisakah saya permisi?” dan tanpa menunggu jawaban, aku mengangkat tasku keluar dari kelas. “Terimakasih, Bu.” Dan aku berlari sekuat tenaga. Tidak mempedulikan apa yang terjadi dibelakangku.

Aku tak punya waktu lagi untuk ganti pakaian menjadi cowok di rumah, maka aku berlari masuk ke dalam salah satu toko pakaian dan secara acak mengambil baju cowok yang pas menurutku: jeket, kemeja besar, tas sandang, sepatu sport dan celana hitam berkantong. Aku sesak napas dan berkeringat.

Aku kembali berlari lagi. Entah kenapa rasanya ini begitu penting. Ada sesuatu yang gawat. Aku tak tahu apa yang gawat. Tapi entah kenapa perasaanku tak enak. Aku yakin ini pasti tentang aku.

Sanking khawatirnya, aku mempercepat langkahku dan sama sekali tak memerhatikan apa yang ada disekelilingku. Saat ini aku sama sekali tak memikirkan Charlie sang Model. Bahkan aku sama sekali tak tahu kalau para penggemarku berteriak senang karenaku. Sialan! Ini bukan saatnya memikirkan itu!

Aku akhirnya masuk ke dalam perusahaan. Satpam segera menghadang penggemar yang memaksa masuk ke dalam kantor. Kupencet tombol lift, tapi karena nggak terbuka, maka kuputuskan berlari melewati tangga. Tak peduli seberapa keringat yang keluar atau tenggorokanku yang kering atau capeknya badan serta kakiku ketika berlari, aku tetap tak berhenti.

“Charlie,” Shin melambai dari ujung koridor yang ramai. Ada Eugene dan Tyan serta beberapa staf disana. Aku segera kearah mereka, bisa kudengar teriakan-teriakan dari dalam ruangan itu.

“Ada apa?” kataku dengan napas sesak.

“Diaz, dia bilang ingin memecatmu,” kata Eugene. Matanya menyipit berbahaya. “Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?”

“Apa?”

Aku sama sekali tak bisa mempercayai indera pendengaranku. Pecat? Pecat apa? Apa maksudnya dipecat?

Sambil menggertakan gigiku dan menahan amarah yang rasanya meledak-ledak dalam kepalaku , aku menerobos masuk melewati staf yang memenuhi jalan masuk dengan susah payah dan mendengarkan secara jelas apa yang dia dan Santiago diskusikan.

“Pecat? Kau sudah gila, Diaz. Kau sama sekali tak punya alasan untuk mengeluarkan Charlie dari perusahaanku. Apa yang kaupikirkan?” Santiago menaikan alisnya. “Seperti yang sudah kau ketahui, karir Charlie sedang naik daun sekarang. Mana mungkin aku melepasnya. Penggemarnya bisa membakar kantorku nanti.”

“Aku tak mau memakainya lagi. Aku mau model lain,” kata Diaz dengan nada dalam. Rasanya aku bisa merasakan ada auranya yang mengerikan. Dia sedang panas.

“Bukan berarti karena kau tak mau memakainya lagi, kau bisa sesuka hatimu mengeluarkannya. Dia bisa dipegang oleh fotografer lain walaupun hasilnya tidak bagus.” Santiago kelihatan kesal. “Lagipula, kenapa kau tak memberikan alasan yang masuk akal selain kata-kata tak ingin memakainya lagi? Rasanya kalian akur-akur saja.”

“Kami tak pernah akur!” aku buka mulut. Diaz kelihatan kaget. Kupancarkan tatapan berbahaya padanya biar dia tahu rasa. “Dan tak akan pernah akur.”

“Ikut aku sebentar!” Diaz menarik tanganku dengan paksa dan berjalan menerobos kerumunan.

***

Charlie Eps 8

Written by : Prince Novel

CHARLIE

8.

Raisha

Diaz terlihat bengong dan bingung saat melihatku memunculkan diri lagi ke studio. Pertama-tama dia kelihatan akan menghinaku, tapi saat melihat gandengan tangan Raisha padaku dia kemudian menoleh pada Raisha.

“Mau apa kau kemari?”

“Hai, Diaz! Apa kabar?” sapa Raisha pura-pura tidak mendengarkan perkataan Diaz.

“Nggak usah basa-basi. Mau apa kau kemari? Jangan gandengan dengan modelku,” kata Diaz melepaskan gandengan Raisha dengan paksa. Raisha merengut, tapi dengan gampangnya ekspresinya itu kembali.

“Aku mau foto bareng Charlie. Kalau kau tak keberatan, mau kan mengambil gambar kami?” katanya manja pada Diaz. Aku mendengus jijik, rasanya semua sarafku membeku.

Kulihat Diaz melirik padaku. “Nggak. Kau bisa foto dengan dia secara formal, bukannya pribadi. Takutnya ada paparazi yang salah paham dengan foto kalian berdua nanti.”

“Ayolah...” Raisha melepas rangkulannya padaku dan kali ini menyerang Diaz. Diaz cepat-cepat menyingkirkan tangan Raisha dan menatapku dengan panik.

“Apa-apan sih? Lepas.”

“Kau kan pacarku, Diaz.”

“Mantan,” Diaz memperbaiki dengan cepat. “Dan aku nggak suka membahas itu lagi.”

Ha? Aku kaget. Cewek disampingnya ini... yang lebai dan genit nggak jelas ini mantan pacarnya Diaz? Wow! Nggak nyangka kalau selera Diaz jelek banget kalau lihat cewek.

“Tapi aku pengen.” Raisha masih berupaya merayu. “Lagian, aku kan belum setuju kalau kita putus. Bukannya kita sehidup semati?”

Hmp! Aku menahan tawaku. Kulihat Diaz, wajahnya merah padam.

“Raisha, cukup! Aku nggak mau kau berfoto dengan modelku!” gerutu Diaz menyingkirkan tangan Raisha dengan paksa. “Dan jangan berlaku seperti itu lagi padaku, oke? Kita udah putus! Titik! Aku nggak mau dengan alasan macam-macam atau permintaan aneh-aneh. Karena itu kumohon padamu jangan dekat-dekat aku lagi dan juga modelku!”

Aku terkejut ketika dia menarik tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan Raisha yang berteriak-teriak tak jelas.

“Jangan dengarkan apa yang dia katakan!” kata Diaz setelah kami ada di luar kantor. Aku menaikan alis sambil tersenyum-senyum geli. “Aku sudah putus, itu sudah pasti.”

“Kenapa kau harus mengatakan itu padaku?” kataku dengan dahi mengerut. “Kau berkencan dengan siapa itu juga bukan urusanku.”

“Aku…” Diaz terbengong kelihatannya mencerna kata-kataku barusan.

“Aku pergi dulu. Udah malam. Lagian besok aku ada ujian,” kataku menarik kembali tas dan meninggalkannya sendirian sampai kemudian dia mengejar dari belakang. “Apa?”

“Aku antar.”

Dahiku mengerut dalam. “Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku bukan anak kecil.”

“Aku antar.”

Dia tak mendengarkan dan berjalan dengan sok sambil menarik tasku. Ini orang kenapa sih? Sok baik banget! Ada kekhawatiran lain yang kupikirkan. Yeah... kupikir dia ada niat balas dendam karena mantan pacarnya suka padaku. Tapi kenapa mereka putus ya? Jadi penasaran.

“Hei, kenapa kalian putus?” aku membuka pembicaraan ketika kami bersama-sama menuju tempat parkir.

“Siapa?” Diaz mengerutkan dahi sambil mengancingkan jeketnya.

“Kau dan cewek itu.”

Ops! Salah ambil topik! Dia melotot! Melotot dengan mata yang hampir keluar!

“Kenapa? Kau penasaran?”

“Apa tampangku terlihat seperti orang yang penasaran?” rutukku sebal.

“Nggak sih, tapi seperti orang yang marah. Kalau kau tak segera memperbaiki kepribadianmu itu, paparazi bisa menjadikanmu mangsa empuk,” kata Diaz menotol-notol dahiku dengan ujung telunjuknya.

Aku mencibir.

“Mana ada cowok yang tahan sama cewek kayak Raisha,” kata Diaz membuka pintu mobil perak miliknya dan dengan entengnya mencampakan kamera itu ke belakang. “Masuk. Kau bilang mau cepat pulang kan?”

“Buktinya kau pacaran dengan dia,” kataku duduk disampingnya, menutup pintu dan memasang sabuk pengaman. “Itu artinya kau tahan dengan dia.”

“Yeah... kalau saja dia bukan puteri dari Duffan, maka aku akan langsung bilang tidak.”

Aku mengerutkan dahi saat mencerna kata-katanya. Duffan? “Maksudmu dia puteri dari si Tukang Ikut Campur Santiago Duffan? Produser yang suka mengancam itu?”

“Yeah...” Diaz memindahkan koplingnya. “Dia.”

“Terus, gimana ceritanya kalian bisa putus? Rasanya mustahil banget kau bisa lepas dari dia dengan mudah. Apalagi jika dia itu anak dari si Produser.”

Diaz nyengir lebar. “Aku buat dia selingkuh.”

Aku makin tak mengerti. “Apa maksudnya kau membuat dia selingkuh?”

“Well, aku minta temanku yang tampan dan playboy buat menggoda dia. Berhasil. Kami menyusun rencana sehingga seolah-olah, aku kecewa melihatnya selingkuh, jadi dia nggak punya alasan buat menjebak aku lagi.”

Howooow! Ternyata Diaz licik juga.

“Kalau dia tahu, kurasa dia akan mengincarmu lagi,” gumamku.

“Siapa yang tahan sama cewek seperti dia?” Diaz mendengus dan menginjak rem saat ada kucing lewat di tengah jalan. “Bayangkan selama sejam dia mengoceh nggak jelas, non stop. Belum lagi saat kencan kerjaannya belanja melulu. Udah itu, dia selalu mengeluh soal rambutnya, alis matanya, kukunya dan entah apa lagi. Dia bahkan lebih suka aku yang menemaninya ke salon! Bayangkan!”

Melihat dari nada bicara Diaz yang menggebu-gebu, kelihatannya bersama Raisha benar-benar siksaan batin baginya. Yeah, mungkin Diaz tak bisa apa-apa sama cewek yang sejenis Raisha.

“Kau juga harus hati-hati padanya, Charlie.”

Aku menoleh. “Kenapa?”

“Kenapa?” ulangnya keheranan. “Karena dia menatapmu dengan tatapan berbahaya. Jangan sampai kau diancam buat jadi pacarnya. Menjauh dari dia selagi kau sempat.”

“Caramu mengatakan itu seolah-olah si Raisha itu berbahaya banget.”

“Dia memang berbahaya. Apalagi Papanya.”

“Ya, ya, aku akan berhati-hati.” Aku mengangguk-angguk.

Selama perjalanan Diaz curhat nggak jelas soal mantan pacarnya, membuatku sebal. Bukan karena aku nggak suka mendengar ceritanya, hanya saja suaranya yang teriak-teriak tak jelas itu membuat gendang telingaku mau pecah. Seolah-olah akulah yang dimarahi!

“Oke. Aku udah sampai.” Aku cepat-cepat turun dari mobilnya sebelum dia ngomel-ngomel lagi. Rumahku dalam keadaan terang benderang, sepertinya Papa sudah pulang. Dan aku sangat terkejut ketika melihat ada orang yang keluar dari pintu rumah.

“Shin?” Diaz turun dari mobilnya dan kaget melihat Shin yang merangkul Papaku. “Ngapain kau di rumah Bram?”

“Hanya pembicaraan dua sahabat,” kata Shin enteng. “Ya kan Bram?”

Aku cepat-cepat ke tempat Papa dan buru-buru menyingkirkan tangan Shin yang merangkul pundak Papa. Pemandangan menjijikan dan aku belum percaya kalau Shin itu normal. Shin mengikik geli.

“Kalau ada wartawan yang melihat kau berduaan dengan Bram bisa gawat tahu!” kata Diaz mengerutkan dahi. “Bisa jadi skandal.”

“Wartawan juga udah pada tahu kalau aku bersahabat dengan Bram.”

“Bersahabat dalam arti berbeda bagi wartawan,” gerutuku sebal. “Pulang sana.”

“Oke. Karena urusanku udah selesai, aku pulang dulu. Malam Charlie,” kata Shin mencium dahiku dengan cepat.

“Aaaargh!! Apaan, sih!” aku memukul tangannya. Sialan!

“Tingkahmu itu menjijikan tahu nggak,” Diaz memasang tampang berbahaya yang siap melahap Shin kapan saja dia mau. “Nggak bisa apa kalau kau mencium cewek di depan umum. Imagemu yang memang udah jelek itu bisa tambah jelek tahu.”

“Memangnya kenapa? Normal kan kalau aku mencium Charlie.”

“Normal?” Diaz mengulang tak percaya. “Matamu udah buta ya? Perhatikan dia baik-baik! Masa kau tak bisa membedakan mana anak laki-laki dan mana perempuan? Apa aku perlu mengajarimu?”

“Ah, kau cuma iri saja karena aku bebas berekspresi sesuka-suka aku.”

“Apa?” Diaz mengerutkan dahi tak percaya.

“Yah... kau cemburu karena aku dekat dengan Charlie.”

“Ap—”

Pembicaraan ini sepertinya akan berakhir ke tempat yang tidak menyenangkan.

“Bukannya kalian harus pulang?” kataku cepat ketika merasakan aura iblis mereka mulai menguap. “Cepat pulang.”

“Kuingatkan padamu, ya. Jangan dekati modelku,” kata Diaz dalam bisikan maut.

“Hey, man, nyante dikit dong. Charlie itu emang modelmu, tapi dia bukan pacarmu suka-suka aku dong. Lagian dia nggak keberatan tahu.”

“Aku nggak mau dia terjerumus dalam jurangmu.”

“Kau cemburu? Kau suka padanya?”

“Sembarangan.”

“Wajar saja kalau kau cemburu atau suka padanya. Soalnya Charlie itu kan cewek.”

GLEEEEEEEEEEEEK! MATI AKU!

Diaz mengerutkan dahinya, menatap padaku dan berkata “APA?” dengan mata melotot.

***

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.