RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 29 November 2010

Charlie Eps 10

Written by : Prince Novel

CHARLIE

10.

Protes

Sulit sekali bagiku untuk mengimbangi langkah panjangnya. Seperti yang kalian tahu, aku sangat pendek dan dia tinggi besar seperti raksasa. Ditambah lagi dia menarikku tanpa perasaan. Tangannya yang besar itu mencengkram lenganku dan bisa kurasakan kalau otot-ototku kesakitan.

Dia masih menarikku mengikutinya menuju tangga, tepatnya menuju atap. Aku tak tahu apa maunya. Mungkin dia bermakud menyuruhku lompat dari sana atau mungkin dia akan mendorongku dari sana supaya aku cepat mati.

“Kita bicara empat mata disini,” katanya melepaskan genggamannya.

“Memangnya kenapa kalau kita bicara disana?” aku menantangnya.

“Pikirkan posisimu, Tolol. Kalau kau ketahuan sebagai cewek maka kau akan tamat.”

“Oh, jadi kau masih memikirkanku?”

“Tentu saja!”

Jawabannya mengagetkanku.

“Kau itu modelku. Aku harus memikirkan upaya agar kau bisa selamat dari masalah ini!” katanya kesal. Bisa kupastikan dia tak tidur selama dia menghilang. Mungkin dia memikirkan hal apa yang akan dia katakan padaku. Tapi kata-katanya barusan…

“Aku sama sekali tak punya masalah jadi model cowok kalau kau tutup mulut.”

“Cepat atau lambat kau akan ketahuan!” katanya. Cowok itu sepertinya mengalami pukulan yang berat. “Asal kau tahu saja. Saat Shin memberitahu identitasmu, ada wartawan disana dan dia mendengar semuanya! Apa kau tahu masalah besar apa yang akan terjadi?”

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa? Wartawan? Ada wartawan disana dan mendengarkan pembicaraan kami?

“Untung saja mereka tak ada bukti yang menunjukan jati dirimu. Kalau kau ketahuan bukan kau saja yang akan mengalami masalah, tapi juga Digital! Kau tentunya tak mau Digital mendapatkan sanksi atas hokum penipuan public kan?”

Otakku berpikir cepat. “Kau tahu darimana ada wartawan disana?”

“Saat aku pulang aku melihat ada dua mobil terparkir di dekat rumahmu dan ada empat wartawan yang mengintip disana! Untung saja waktu itu sudah gelap, jadi mereka tak bisa mengerti apa yang terjadi. Aku panik beberapa hari ini untuk menemukan solusi masalah ini tahu.”

“Jadi,” rasanya otakku bisa berjalan dan bekerja sebagaimana mestinya, “Kau menghilang tanpa kabar dalam beberapa hari ini bukan karena terpukul mengetahui aku ini cewek tapi menyelesaikan solusi paparazzi itu?” lanjutku.

“Ya,” kata Diaz. Dia menatapku. “Aku tak bisa berpikir mengenai kau itu cewek kecuali para wartawan itu.” Dia mengecak pinggang.

Aku menghela napas lega.

“Mungkin Shin bermaksud untuk melonggarkan sikapki padamu,” lanjutnya. “Maaf saja aku tak bisa melakukannya. Kalau ini diteruskan bukan hanya kau yang dalam masalah tapi juga Digital. Kau harus segera mundur dari dunia ini.”

Aku kembali berpikir. Yang dikatakan Diaz memang benar, aku tak mungkin terus menyamar. Kalau sudah seperti ini masalah yang datang akan terus berkesinambungan. Aku menyerah. “Masalahnya, bagaimana caraku keluar dari sini. Aku sedang naik daun dan Santiago tak akan membiarkanku mundur semudah itu.”

Diaz diam beberapa saat sambil menatap ke langit. Rambutnya diterbangkan angin. Sambil membasahi bibirnya dia kembali membuka mulut berbisanya. “Kudengar dari Bram kalau kau itu pintar.”

“Memangnya kenapa?” alisku naik sebelah. Perasaanku tak enak.

“Ada beasiswa ke Amerika. Kata Bram kau sangat ingin belajar disana. Kalau kau bisa lulus tes, maka kau—”

Mataku langsung berbinar mendengar penjelasannya.

Diaz berdeham. “Aku tahu kau akan menyukainya. Jadi belajarlah yang giat, sainganmu banyak. Kalau Santiago mendengar kau punya rencana buat belajar ke luar negeri, dia tak akan memperpanjang masa kontrakmu lagi karena kau punya alasan kuat.”

“Itu alasan yang luar biasa,” gumamku. “Aku akan belajar dengan giat!”

“Kalau kau setuju, akan kukatakan pada Santiago kalau kita butuh model baru untuk menggantikanmu. Tentunya bukan model yang menyamar. ADUH!” Diaz melompat-lompat sambil memegangi kakinya yang baru saja kutendang dengan sekuat tenaga.

Aku melet dan segera pergi dari sana sambil membanting pintu.

***

Beberapa hari kemudian, aku belajar seperti orang gila. Masalah yang terjadi kubiarkan begitu saja. Diaz sudah memberikan kesempatan yang bagus, dan tak ada hal lain yang kuinginkan selain bisa belajar ke luar negeri. Lagipula, ini mungkin satu-satunya untuk keluar dari dunia model.

“Rajin seperti biasa.” Aku mengadah dan melihat siapa orang yang menyodorkanku kopi dingin. Eugene tersenyum dan duduk di depan mejaku yang bertumpuk buku-buku fisika. “Aku sudah dengar dari Diaz kalau kau memilih untuk meneruskan karirmu di bidang ini,” dia menunjuk salah satu bukuku. “Santiago mengamuk.”

“Aku sudah tahu,” kataku sambil tersenyum padanya.

“Selesai bekerja seharusnya kau beristirahat bukannya bekerja,” kata Eugene meneguk kopinya. “Jadi, kapan kau akan pergi?”

“Setelah kontarku disini selesai,” jawabku. “Dua bulan lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya. Lalu ada ujian sekolah. Hah… aku tak bisa berpikir.”

Eugene kembali tersenyum, “Kau cuma anak SMA biasa. Sudah kau pikirkan mau kuliah dimana?” aku sudah menyadari kalau dia akan bertanya karena itu aku menunjuk brosur yang kemarin diberikan Diaz padaku. Mata Eugene langsung melotot. “Stan—pantas saja kau belajar seperti orang gila.”

Aku nyengir padanya. Aku tahu Santiago tak senang dengan keputusanku ini tapi aku juga tak mau memikirkan apapun saat ini selain ujianku. Papa juga tak banyak bicara mengenai keputusanku. Shin? Hah, cowok itu memang sebuah kesalahan besar. Dengan entengnya dia berkata “Selamat!” sambil menyalamiku. Dia memang aneh.

Tapi Diaz? Cowok itu lebih parah dari biasanya. Begitu mengetahaui jati diriku dengan sekehendak hatinya dia menyuruhku bekerja tanpa henti.

“Hoi, coba pasang tampang yang bagus!”

Aku menggerutu dan mencoba kembali tersenyum.

“Kau ini bukan perempuan, jadi berhentilah tersenyum seperti itu! Yang macho sedikit!”

Dan aku cuma bisa menggigit bibir melihat tingkahnya yang menyebalkan itu.

“Aku sudah bilang kan kalau aku tak akan berubah sikap walaupun aku tahu identitasmu. Asal kau tahu saja, kau harus menyelesaikan semua pekerjaanmu. Aku sama sekali tak mau membuang waktuku cuma untuk melihatmu belajar.” Bisiknya saat dia memperbaiki kerah bajuku agar terlihat lebih tinggi.”

“Tapi kau sendiri yang memintaku untuk sekolah ke luar negeri kan?”

“Kau yang mau, bukan aku,” bisiknya cepat menepuk-nepuk bahuku. “Asal kau tahu saja, kau satu-satunya model yang membuat moodku selalu berubah-ubah. Aku tak akan menyia-nyiakan waktuku untuk menangkap berbagai ekspresi darimu, jadi tunjukan semua ekspresi, oke? Kau tentunya tak mau membuat fansmu sedih untuk melihat penampilan terakhirmu kan?”

Dia memang tahu cara membalas perkataanku!

***

Aku masih mengantuk ketika Papa membangunkanku. Cahaya matahari sudah mneinggi saat aku membuka mataku. Dan gorden di jendela kamarku melambai lembut. Sudah bermalam-malam aku bergadang cuma untuk belajar dan minggu lalu adalah pertandingan terakhir, tapi aku sama sekali tak bisa tidur dengan tenang.

“Ini sudah jam sebelas, Charlie,” katanya menarik selimutku dan melipatnya dengan rapi. Aku masih mengantuk. “Bangun, Nak. Bukankah hari ini ada janji dengan Diaz?”

“Biar saja dia menunggu,” kataku tak jelas. Kuletakan bantal menutupi kepalaku. “Ini hari liburku setelah aku keluar jadi model, aku mau tidur sampai puas. Diaz sama sekali tak memberiku waktu istirahat banyak.”

“Kau janji dengan Diaz jam berapa?”

“Jam sepu—”

Kontan aku langusng terduduk. Mataku langsung terbuka lebar. Kulihat Papa yang tersenyum-senyum menatapku, lalu kulirik jam di dinding. “Aku bakal dicekik Diaz! Papa, kenapa tak membangunkanku seperti biasa?”

Aku langsung melompat dari tempat tidur dan mengambil handuk sambil berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.

“Yah… mana Papa tahu kalau kamu punya janji dengan Diaz? Dia tadi menelepon ke rumah karena nomormu nggak aktif terus dia titip pesan supaya kau cepat datang.”

Sambil mengutuki nasibku, aku bisa menebak apa yang akan terjadi jika aku memunculkan diri dihadapannya yang terlambat lebih dari satu jam.

“Kau dan Diaz tidak berkencan kan?”

“Aku tak sudi kencan dengannya!” teriakku dari kamar mandi.

“Diaz orang yang baik kok. Papa tak keberatan.”

Aku tak membalas. Bukan Papaku yang selama ini kena tindas sama Diaz tapi aku, wajar saja kalau dia menyukai Diaz. Diaz itu kan berkepribadian ganda! Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sama sekali tak bisa menemukan pakaian apa yang akan kugunakan. Seluruh pakaian sudah terlempar dari dalam lemari, bersatu dengan buku-bukuku yang sama berantakannya.

Aku terdiam di depan cermin. Menatap diriku. Aku harus memakai baju apa?

***

Seperti yang sudah kuduga. Diaz kaget dengan kedatanganku. Dia hendak marah, tapi ketika melihat penampilanku, matanya melotot dan mulutnya terbuka.

“Kau—apa yang kau—” dia tak bisa berkata apa-apa.

“Apa? Aku cuma menyamar. Kalau aku memakai wajah Charlie, tentu saja aku harus memakai penyamaran ini,” kataku dengan enteng sambil melipat tanganku. Hari ini aku jadi cowok, dengan celana jins dan kaos panjang yang dilipat. Topi hitamku menempel di kepala dengan sempurna.

“Aku tak mau jalan berdua dengan cowok!” bisiknya kesal. “Kenapa kau tak memakai baju perempuan saja sih?”

“Semuanya sudah kusimpan di gudang,” kataku merapikan letak topiku. “Selain baju seragamku, semua baju yang kupunya ya seperti ini. Lagipula, apa salahnya kalau aku berpenampilan begini? Biasanya juga kita jalan berdua dengan baju beginian.”

“Kau—”

Perbendaharaan bahasanya sepertinya habis jika berhadapan dengan Charlie versi cowok. Dia menoleh ke arah lain sambil mengomel, “Capek-capek aku menyiapkan acara beginian, dia malah datang dengan pakaian urakan. Ini sih…”

“Kau menyiapkan apa?” aku tertarik dengan perkataannya barusan.

“Bukan apa-apa,” kata Diaz cepat.

“Charlie… kan?”

Seorang cewek menghampiri kami. Matanya berbinar sambil menatapku. Kulihat di belakangnya ada teman-temannya yang menunggu dengan ekspresi yang sama. Tadi dia bilang apa? Charlie? Dia mengenaliku ya? Belum lagi aku berkata apa-apa, dia sudah berteriak.

“Charlie! Gue penggemar lo! Tanda tangan!”

Diaz langsung menarik tanganku sambil berkata, “LARI!”. Kami melesat bagai angin. Kabur selagi sempat. Teriakan dari belakang kami tidak digubris lagi. Langkahku tak bisa mengimbangi Diaz, tapi keadaan memaksaku untuk lari lebih cepat dari dia.

“Harusnya kau tahu kalau bakal begini!” teriak Diaz. “Keluar dengan dandanan begitu! Kau sudah gila ya? Kau itu masih tenar kalau ketahuan gimana?”

“Mana aku tahu kalau aku bakal dikenalin!” aku balas teriak, berusaha mengeluarkan suaraku dari usahaku untuk berlari dan menarik napas.

“Charlie! Charlie!”

Aku melotot ketika melihat kumpulan orang yang mengejar kami semakin banyak. Sedangkan di seberang ada jalan raya yang masih dipenuhi dengan mobil yang lalu lalang. Jika mereka ketahuan di depan, malah akan memperkeruh suasana. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka.

“Butuh tumpangan?”

Itu Shin. Dia tersenyum di balik kacamata hitamnya. Tanpa menjawab Diaz langsung membuka pintu dan menarikku masuk ke dalam. Kami menarik napas panjang dan kelelahan ketika Shin menginjak gas dan membawa kami keluar dari bencana. Meninggalkan fansku di belakang.

“Seperti biasa, menarik perhatian,” komentar Shin terkekeh.

“Gara-gara dia pakai baju beginian!” gerutu Diaz kesal. “Untung saja tadi aku langsung menarikmu kalau tidak maka kau akan mati. Bersyukurlah.”

“Bersyukur?” oh, jadi dia sekarang mau sok! “Aku harus lari lebih cepat untuk mengimbangi langkahmu tahu! Apa kau tak tahu bagaimana rasanya?”

“Kalian berdua benar-benar cocok. Kenapa tidak jadian saja sih?” Shin kembali tersenyum dari kaca spion.

“Jadian? Kalau Charlie yang mau jadi pacarku sih, aku oke-oke aja.”

Apa? Barusan dia bilang apa? Dengan pedenya dia berkata—

“Kau yang nembak duluan, Bodoh!”

Yah… begitulah… mungkin kisah cinta kami masih lama, tapi masih ada cerita-cerita manis yang bisa kami rasakan bila dalam keadaan seperti ini. Dan seperti yang kalian tahu, Diaz itu fotograper tipikal. Sifatnya jelek. Tapi, walaupun begitu, dia berusaha untuk menjagaku sebaik-baiknya dan itu sudah lebih dari cukup. Kurasa aku akan bisa memaafkan semua kejelekannya karena sifatnya yang satu itu. Tidak buruk juga kan. Tapi jangan harap aku akan nembak duluan. Tak akan pernah! Dia pasti akan semakin sombong!

Dan kisah Charlie sang Cute Model berakhir disini….

TAMAT

2 komentar:

Adi Tasya Nurzahra mengatakan...

Keren bangettt ♥ bikin lanjutannya lagi dong prince ._.

prince.novel mengatakan...

Dear, udah tamat

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.