RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 26 Agustus 2013

TBMB [01]

01
Help Me
==========

JEREMIAH(POV)
Apa yang paling membahagiakan selain bangun di atas tempat tidur bersama dengan seorang wanita cantik setelah malam sebelumnya menikmati sex panas?
Bertemu Cody.
Itu jawabannya.
Maka, setelah aku bangun, mandi, memakai pakaianku, aku memilih keluar dari hotel, meninggalkan wanita yang menemaniku kemarin malam, dan tak berbalik lagi. Lagipula aku dan dia sama-sama tahu bahwa hubungan kami hanya berlangsung semalam.
Turun dari lift, aku berjalan dan melompat naik ke jaguarku—satu-satunya benda yang kucintai sepenuh hati, dimana aku menyerahkan jiwa, raga, dan uang untuk memolesnya agar selalu tampil seksi—kemudian segera meluncur pulang untuk berganti pakaian.
Rumahku berbentuk pondok yang disatukan, dengan lantai kayu mengilap. Awalnya tempat ini hanyalah bangunan tua berhantu—oke, singkirkan yang ini—yang kotor dan tak terawat. Dengan sedikit biaya, akhirnya aku memiliki rumah sederhana dari luar dan mewah dari dalam.
Di dalam, terdapat dua kamar besar yang memiliki kamar mandi. Satu kamarku, satu kamar Cody—namanya kamar tamu (abaikan yang ini)—yang masing-masing menghadap ke pemandangan danau biru dan pegunungan indah di jendelanya.
Benar sekali. Aku cukup kaya untuk memiliki sebuah danau pribadi dan hutanku sendiri—dengan aku sendiri yang tinggal di tempat ini—meski belum bisa disamai dengan Cody yang punya 5 mobil mewah dengan pajak yang selangit dan satu pent house satu lantai untuk dirinya sendiri.
Terkejut? Kami berdua mirip dalam hal-hal tertentu: tak suka privasi diganggu, masalah pekerjaan harus dipisahkan dengan masalah pribadi dan perasaan, habiskan uang untuk hal-hal yang berguna dan menyenangkan diri sendiri meski harganya mahal, dan hajarlah orang yang tidak memperlakukan wanita dengan baik—bagian yang ini cuma melingkupi bagian kekerasan, meski Cody memaksaku untuk lebih melibatkan perasaan.
Mengingat Cody membuatku bersemangat.
Karena dia bilang dia harus menemani pacarnya keluar kota, aku harus menahan diri untuk tidak menghubunginya. Kau tahu kan kenapa? Siapa yang akan tanggung jawab bila aku tiba-tiba menelepon saat mereka sedang bermesraan? Aku tak bisa merusaknya. Aku teman yang amat baik.
Setelah mengganti pakaianku, aku keluar lagi dari rumah dan naik ke Hummerku. Mobil ini sangat cocok untuk segala medan. Jaguar hanya kugunakan bila aku ingin pamer pada kolega, yang kata mereka teman kerjaku, dan saat berkencan dengan wanita.
Sambil memasang musik, aku menghabiskan waktu berkendara menuju kampus—tempat dimana para cendikiawan belajar. Begitu sampai di parkiran, aku melihat Fran. Pria itu turun dari ford hijau yang sepertinya baru dia beli karena ford sebelumnya sering mogok. Aku mengabaikannya begitu aku turun. Aku tak mau repot-repot mengenalnya di sini. Sisa hariku akan menjadi lebih buruk bila berbicara atau menegurnya.
Tapi, begitu aku melihat mobil Mercy milik Cody, aku langsung tersenyum dan mendatanginya.
“Cody!”
Cody turun dari mobilnya. Wajahnya tampak tidak menyenangkan saat dia melihatku. Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, sepersekian detik kemudian, aku merasakan sakit yang luar biasa.
Cody menendang kelaminku.
“Ow!!” Bendaku yang berharga! Satu-satunya bagian tubuhku yang kuagung-agungkan dan Cody baru saja menendangnya dengan sepatu boot jenis militer dengan tumit sekeras baja!
“Apa-apaan sih?” kataku dengan susah payah, nyaris terjatuh di parkiran, memegangi benda yang tadi dianiaya Cody. Kakiku gemetar menahan rasa sakit, yang mungkin nyaris membunuhku bila lebih lama lagi.
“Itu bayaran karena kau memberiku flashdisk yang tidak-tidak, Remi, jadi rasakan!” Cody berkata berbahaya. Kemudian dia mendesis jengkel dan meninggalkanku begitu saja walau aku sudah memanggil-manggilnya.
“Cody! Cody!”
Aku putus asa memanggilnya. Dia hanya sedang marah. Bila Cody marah, dia akan sangat mengerikan dan bisa membuat seluruh dikatator di dunia menangis bombay. Aku malah penasaran kenapa dia tak memberiku tinju kiri.
“Jeremiah,” sebuah suara membuatku menengadah, mendapati Fran memegang lenganku. “Kau tak apa-apa?”
Kusingkirkan tangannya. Aku tak ingin dianggap mengenalnya di sini.
“Jeremiah,” katanya dengan khawatir dan kembali memegang lenganku. Aku mendesah, capek mengusirnya, tapi dia tak mau pergi.
“Apa sih? Aku tak apa-apa,” gerutuku. Yang sudah pasti kebohongan besar.
“Cody menendangmu keras sekali. Apa kau berbuat kesalahan padanya?”
“Aku tak berbuat apapun padanya. Tapi, ya, dia memang marah padaku. Dan itu menjadi masalahku nanti.” Setelah yakin aku tak apa-apa, aku berdiri tegak, masih nyeri di situ, tapi aku tak apa-apa. Fran masih menatapku dengan tak yakin. Mata hijaunya terlihat cemas.
“Aku tak apa-apa ok?” kataku jengkel.
“Jangan bertengkar dengan Cody.”
“Aku tak bertengkar dengannya,” kataku sebal. “Aku tak berbuat apapun padanya. Dia hanya marah padaku dan kemarahannya akan hilang saat aku bertemu dengannya lagi nanti.”
Tapi rupanya Cody masih marah meski kami bertemu lagi siang harinya. Dan karena aku tak ingin dia menendang benda berhargaku lagi, aku memilih jauh-jauh darinya untuk sementara.
Tapi tetap saja aku merindukannya dan tak bisa membencinya.
Damn!

***

FRAN(POV)
Aku tak tahu apa yang terjadi antara Cody dan Jeremiah, tapi yang pasti, Cody amat marah pada Jeremiah sampai-sampai Cody tak mau membicarakan hal mengenai Jeremiah dan dengan terang-terangan tak ingin menceritakannya padaku. Meskipun begitu, dia memberikanku bungkusan kue yang katanya dia bawa dari luar kota. Satu untukku, satu untuk Jeremiah. Dengan kata lain dia memintaku memberi bungkusan yang satunya untuk Jeremiah dan tak peduli aku mendengarnya atau tidak.
“Untukmu,” kataku pada Jeremiah.
“Aku tak mau.”
“Ini dari Cody.”
“Dia bisa memberikannya secara langsung padaku.”
“Terserah padamu mau mengambilnya atau tidak. Tapi yang pasti Cody tak akan memberinya langsung padamu karena dia masih marah pada apapun itu yang kau lakukan padanya.”
“Aku tak melakukan apapun, oke? Berapa kali aku harus mengulangnya?” Dengan jengkel Jeremiah mengambil bungkusan itu dan dengan kesal keluar dari ruanganku. Dia sama sekali tak peduli berhadapan dengan siapa. Padahal aku profesor di sini.
Selesai mengurus seluruh pekerjaanku, aku pulang dan melihat Gabrielle menonton animasi Ice Age. Dia sudah tak marah lagi sejak Jeremiah membawa kami pulang dan sudah kembali ke dirinya yang lama.
“Kau sudah makan?”
Gabrielle menoleh, memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengangguk dan kembali menonton.
“Aku bawa cake dari Cody.” Kuletakkan bungkusan itu ke atas meja dan dengan bersemangat Gabrielle membuka isinya. Ada begitu banyak cake di dalam. Cody sepertinya baru merampok toko cake untuk mendapatkan seluruh kue-kue itu.
Gabrielle mengambil salah satu dan memakannya dengan lahap dan tak peduli pada apa yang disuguhkan televisi.
“Kau mau teh? Akan kubuat untukmu. “
Gabrielle mengangguk dan aku bangkit dari tempatku, melangkah ke dapur dan membuatkan teh melati untuk kami berdua. Gabrielle menyukai teh itu, karena sejak pertama kali datang kemari, Gabrielle tak pernah mau minum teh lain selain teh beraroma melati, dan dia akan menarik-narik lengan bajuku sambil menunjuk-nunjuk bungkusan merk teh tiap kali teh itu habis.
Teh itu beraroma nikmat di hidung, wangi dan menyegarkan begitu kuseduh, dan kubawa dua cangkir ke ruang tengah. Gabrielle menatapku ketika aku masuk dengan tangan memegang cake baru.
“Sepertinya kau suka dengan cake,” kataku meletakkan nampan.
“Aku suka manis,” katanya.
“Oh.” Aku mengangguk mengerti. Hubungan ayah dan anak di antara kami memang berjalan seperti siput—lebih lambat dari itu sih—tapi kami berdua cukup menikmatinya karena aku tak ingin memaksa Gabrielle. Dia berhak untuk membuka diri bila dia mau. Dia hanya belum terbiasa dengan perhatian yang kuberikan. Gabrielle sudah banyak ditolak oleh para orang tua angkat yang mengembalikannya ke panti asuhan hanya karena dia tak mau bicara. Aku tak ingin melakukan hal itu pada Gabrielle. Yang kuperlukan saat ini hanya kesabaran.
“Apa kau sudah membereskan pakaianmu untuk besok?” Kusandarkan tubuhku sambil memegang cangkirku. Mataku menonton adegan dimana si Mamonth tengah mengajari si balita berjalan.
Gabrielle menggeleng.
“Kau harus membereskannya. Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat dan kereta tak akan menunggu bila kita terlambat.”
Dia cemberut meski begitu mengangguk singkat. Aku tersenyum, mengacak rambutnya. Kami kembali nonton sambil memakan cake dan minum teh.
Besok adalah libur nasional, yang ditambah dengan libur akhir pekan selama dua hari, dan aku tak masuk selama dua hari berikutnya. Itu artinya aku punya lima hari libur dan Gabrielle tiga hari libur. Aku mengajaknya untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku yang berada di negara bagian lain. Mendengar hal ini, Gabrielle sangat bergairah. Dia belum pernah keluar dari kota ini jadi sudah pasti dia senang sekali. Melihatnya senang membuatku ikut senang.
Keesokan harinya kami sudah bersiap. Gabrielle turun mengenakan jaket dan sepatu boot. Di punggungnya ada ransel berat. Sedangkan aku mengenakkan mantel coklat dan kemeja ungu.
“Kau harusnya membawa syalmu. Dingin sekali diluar. Ini sudah musim gugur.”
Gabrielle menggeleng.
Menghela napas kalah, kami keluar rumah. Gabrielle segera masuk ke dalam taksi sementara aku mengunci pintu, setelah itu masuk ke dalam taksi. Kami melalui perjalanan di dalam taksi menuju stasiun kereta api bawah tanah tanpa mengucapkan apapun. Dialah yang paling bersemangat keluar dari dalam taksi, menarik-narik tanganku agar cepat ke stasiun.
Aku cuma tertawa kecil. Gabrielle terlihat cute. Dia tak seperti anak laki-laki seusianya—yang berusia 14 tahun dan akan bertingkah karena punya ego paling besar—dan malah seperti anak kecil. Aku tak keberatan. Aku suka dia bertingkah seperti itu karena aku selalu sibuk dan tak memberikan waktu untuknya.
Sekarang adalah saat yang tepat. Aku akan menikmati tiap detiknya.
Kami masuk ke dalam stasiun. Aku membeli tiket untuk dua orang. Lalu kami menunggu antrean untuk masuk ke bagian gerbong tempat kami masuk. Gabrielle menempel di sampingku, matanya bersinar dan pipinya bersemu merah karena begitu bersemangat.
“Cute...”
Aku menoleh, melihat beberapa anak perempuan mengikik di sebelah kami. Mata mereka berbinar melihat Gabrielle. Aaw, ternyata putraku memiliki magnet tersendiri. Aku tak pernah tahu kehidupan sosial Gabrielle karena dia memang tak pernah membicarakannya selain anggukan. Lagipula aku hanya bertanya “Bagaimana sekolahmu?” Dan dia akan mengacungkan jempol. Hebatnya komunikasi kami.
Kereta api yang kami tuju masuk gerbong. Penumpang yang menaikinya keluar. Gabrielle memegang lenganku dan mundur ke belakang untuk menghindari lautan manusia yang keluar dari antrean, begitu pula dengan yang hendak masuk ke dalam.
Dia menatapku dengan dahi mengerut ragu. Semangat dan rasa percaya dirinya hilang begitu melihat ada banyak orang di depannya.
“Tak apa-apa,” kataku tersenyum menenangkan. Dia tidak percaya, tapi memilih memegang erat tanganku. Saat ini Gabrielle justru tampak seperti anak kecil tersesat dan aku merasa kasihan padanya.
Kerumuman mulai berkurang beberapa menit kemudian. Aku melangkah dan Gabrielle mengekor di belakang. Kami melewati banyak gerbong dan pintu untuk masuk ke tempat kami. Gabrielle menggandeng tanganku, takut tertinggal dan takut tersesat.
Kami akhirnya sampai ke kompartemen pilihan kami, membuka pintu dan ternyata ada seorang anak laki-laki di dalam. Anak laki-laki itu menoleh pada kami ketika dia mengangkat kopernya ke atas kepalanya untuk disimpan, dan menjatuhkannya sampai menimpa kakinya.
“Ow!” Anak itu menjerit, melompat-lompat memegangi kakinya.
“Kau tak apa-apa?” Aku bertanya padanya, mendatanginya, dan membantunya, menyingkirkan kopernya. Anak laki-laki itu mengangguk, meski masih meringis. Dia melirik Gabrielle—yang memilih berdiri di luar—kemudian bangkit berdiri untuk mengambil kopernya. “Mari kubantu.”
“Terimakasih,” gumamnya.
Kami berdua bersama-sama mengangkat kopernya ke atas. Koper itu berat sekali. Pantas saja anak itu kesakitan, meski aku sedikit terheran mengetahui bahwa dia mampu mengangkat koper itu ke atas sendirian tadi.
“Terimakasih sudah menolongku,” katanya lagi dan kali ini aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dia tampan sekali dengan mata abu-abu jernih nyaris seperti mata kucing, dengan tatapan tajam. Hidungnya sedikit bengkok. Rahangnya mantap mempertampan wajahnya. Rambutnya pirang gelap dan terlihat berantakan. Tubuh anak itu tinggi, dengan bahu bidang, dan dada membusung, bahkan aku tak heran bila dia lebih tua dari Gabrielle.
“Bukan masalah besar.”
“Namaku Oliver. Oliver Evans.” Dia mengulurkan tangannya padaku.
“Fran Cattermole,” aku menjabat tangannya. “Itu putraku, Gabrielle.” Aku menunjuk Gabrielle yang masih tak mau masuk.
Oliver tersenyum padanya, mengulurkan tangannya pada Gabrielle. “Hai.”
Mata Gabrielle menyipit, memandangnya selama beberapa detik dari atas sampai ke bawah seakan memerhatikan Oliver dengan teliti apakah dia penjahat atau tidak, tapi pada akhirnya malah mengangkat bahu dan melangkah masuk, tak memedulikan tangan Oliver sama sekali.
Oh, astaga. “Gabrielle,” kataku memperingatkannya. Tapi Gabrielle duduk di kursi yang dekat dengan jendela memeluk ranselnya. Dia sama sekali tak berniat untuk mendengarkan ucapanku.
“Tak apa-apa, Mr Cattermole,” kata Oliver dengan nada menenangkan. Dia tersenyum pada Gabrielle yang dengan terang-terangan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tingkahnya mengingatkanku pada seseorang. Jeremiah. Siapa lagi?
“Jadi, kau mahasiswa?” Aku bertanya selagi aku menutup pintu dan Oliver duduk di seberang Gabrielle.
“Aku siswa. Usiaku masih 16 tahun. Selama ini aku tinggal di asrama dan karena ada libur selama seminggu aku memilih pulang.”
Aku mengangguk setuju dan duduk di samping Gabrielle setelah menaikkan tasku. Gabrielle bersikeras memeluk ranselnya entah untuk apa.
“Pasti berat sekali tinggal di asrama.”
“Awalnya Oliver mengangkat kedua bahunya. Aku sudah terbiasa jadi bukan hal yang besar. Lagipula sekolahku cukup menyenangkan. Aku menikmati hariku.”
“Kau sekolah dimana?”
“St Gregory High School.”
“Itu sekolah yang populer di wilayah ini. Kau pastilah hebat.”
“Tidak juga.”
Aku tahu Oliver cuma merendah. Aku bisa melihat bahwa dia lebih dari “sekadar” tapi juga lebih. Dia punya aura yang menggantung di sekitarnya dan tak mungkin ada seorangpun yang tak menyadari hal itu. Lagipula, dengan tampang seperti itu, aku yakin dia populer. Ah tidak. Ada begitu banyak orang seperti Oliver di sekolah itu. Dia cuma salah satunya.
“Jadi, Gabrielle kau bersekolah dimana?” Oliver menatap Gabrielle.
Gabrielle hanya memberinya ekspresi datar, lalu mengalihkan pandangan keluar. Oliver menatapku dan aku memberi tatapan minta maaf, yang dibalasnya dengan anggukan penuh pengertian.
Kereta kami bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun terowongan bawah tanah lalu akhirnya menembus pemandangan dengan cahaya menyilaukan dari matahari pagi.
Aku akan pulang.

***

OLIVER(POV)

Gabrielle Cattermole punya wajah tampan luar biasa. Matanya biru indah, yang dihias dengan gairah karena keluar dari terowongan, dan jendela menyuguhkan pemandangan kota. Rambutnya berwarna merah, yang akan berwarna kuning berpendar di bawah matahari. Dia punya kulit pucat yang membuatnya seakan menghilang. Dan aku merasakan ketertarikan luar biasa padanya saat aku melihatnya di depan pintu kompartemen. Meski hanya melihatnya sekilas, napasku seakan tertahan di paru-paru dan koper sialan itu pun tak mampu menyakitiku begitu melihat bahwa Gabrielle benar-benar nyata.
Maksudku, dimana aku bisa bertemu ada manusia sesempurna dia?
Ayahnya, Fran, juga tak kalah tampan. Pria itu punya rambut yang sama merahnya dengan Gabrielle, meski sedikit lebih gelap, dengan mata hijau cerdas. Dia mewariskan nyaris seluruh hal yang ada padanya untuk Gabrielle, kecuali matanya. Wajahnya muda sekali. Siapa yang menyangka kalau pria itu punya anak sebesar Gabrielle? Mereka justru terlihat seperti Kakak dan Adik daripada Ayah dan Anak.
“Kau mau?” Aku menyodorkan sandwich yang tadi kubeli di stasiun pada Gabrielle. Sudah dua jam kami melakukan perjalanan dan dia dari tadi tak makan atau minum apapun selain melihat keluar jendela. Tiap kali aku mengajaknya berbicara, dia akan menatapku tanpa ekspresi, lalu menoleh ke jendela lagi. Bila Fran yang bertanya, dia hanya akan menggeleng, mengangguk, atau mengangkat bahu, tanpa mengucapkan apapun. Yang mengherankan, Fran tetap mengerti. Mereka punya hubungan yang aneh.
Meski begitu, aku belum menyerah. Aku melihat Gabrielle menoleh lagi ke jendela tak menggubris sandwichku. Aku merasa ada bogem besar meninju dadaku tiap kali dia melakukannya—meski aku tahu hanya itu tanggapan yang diberikannya. Fran mendesah saat aku mengulurkan sandwich itu padanya.
“Terimakasih, Oliver.” Dia menerima sandwichku, memberinya pada Gabrielle yang memilih untuk menggeleng. “Kau belum sarapan. Makanlah sedikit.”
Gabrielle menggeleng lebih keras sehingga Fran menyerah.
Aku melirik Gabrielle. Kenapa anak itu sama sekali tak mau bicara? Apa dia bisu? Itu mungkin saja. Lalu kenapa dia tak menggunakan bahasa isyarat? Apakah dia takut diejek? Well, aku bukan orang yang suka membeda-bedakan orang lain karena aku punya adik yang buta, tapi tetap saja mengherankan bila melihat Gabrielle hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan.
Tiba-tiba saja terjadi guncangan keras. Gabrielle melepas ranselnya dan memeluk Fran yang dengan penuh perlindungan memeluknya. Aku menggertakan gigi, memegangi palang besi agar tak terlempar jatuh dengan sekuat tenaga. Terdengar teriakan di sana-sini. Kepanikan menjadi-jadi saat ada bunyi ledakan dan decitan gerbong yang tarik-menarik di atas besi, membuat bara api di rel. Jeritan histeris menjadi-jadi. Semuanya panik saat melihat ada api di bagian moncong kereta api.
Setelah lima menit penuh teriakan dan dorongan. Aku akhirnya bisa bangkit dari tempatku dengan kaki gemetar dan melihat ke jendela apa yang terjadi.
Aku melihat ada rangkaian truk pengangkat barang di depan sana. Tiga gerbong belakang keluar jalur dan sekarang jatuh terbalik di rerumputan. Ngeri dengan apa yang terjadi pada penumpang di sana, aku melihat lagi ke depan dan menyadari bahwa kereta api kami baru saja menabrak truk bodoh yang melewati lampu peringatan.
Aku menelan ludah.
“Kita harus keluar dari sini,” kataku dengan suara gemetar. “Secepatnya.”
Fran mengangguk, masih memeluk Gabrielle, yang melindungi kepalanya dengan kedua tangannya seolah dia takut kejatuhan benda. Tubuhnya gemetar.
“Apa dia baik-baik saja?” Aku bertanya khawatir.
“Aku akan mengurusnya. Maukah kau membawa barang kami keluar untuk sementara?”
Aku tak ingin meninggalkan Gabrielle. Tapi aku tahu aku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya orang yang baru bertemu dengannya sehingga, mau tak mau, aku mengangguk, menurunkan koperku dan tas Fran, lalu membawa kedua benda itu keluar dari kereta.
Orang-orang berlarian panik, berusaha menyelamatkan diri sendiri. Banyak dari antara mereka yang terluka parah dan memar. Yang lain berusaha menolong orang-orang yang gerbong keretanya tadi terlempar. Teriakan pedih tangisan dan entah apa lagi terdengar di sana-sini.
Tapi aku masih menguatirkan Gabrielle. Aku menunggu dengan panik. Kondisi Gabrielle membuatku takut. Aku tak tahu mengapa tapi aku peduli padanya dan kurasa aku akan mati jika terjadi apa-apa padanya.
Kesabaranku semakin lama semakin tipis tiap kali detik berlalu. Menggigit bibir bawahku dengan cemas, aku menekan keinginan bodoh untuk menyusul ke dalam kereta lagi. Tapi aku tak mungkin meninggalkan barang-barang. Setelah lima menit berlalu, sirine polisi ambulan dan pemadam kebakaran datang tepat saat ada ledakan lagi.
Shit! Kemana mereka?
Aku nyaris gila, tapi untunglah aku melihat Fran di kerumunan. Dia merangkul Gabrielle—yang memeluk ranselnya dengan kepala menunduk sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi tangannya masih gemetar.
“Maaf membuatmu menunggu, Oliver,” kata Fran.
“Tidak apa-apa,” kataku cepat. “Apa dia—”
“Rupanya bala bantuan sudah datang,” gumam Fran melihat banyaknya mobil patroli dan ambulan yang datang. “Lebih baik kita menyingkir. Apa kau terluka, Oliver?”
“Tidak. Aku cuma memar sedikit tapi tak apa-apa.”
Fran tersenyum getir. “Kalau begitu, lebih baik kita mengambil tempat untuk Gabrielle.”
Aku tak membantah. Kami membawa barang kami menyingkir dari huru-hara yang menjadi-jadi. Polisi dan petugas kesehatan berusaha bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan orang yang tergencet di gerbong. Uh, aku tak mau memikirkannya.
Pada akhirnya kami memilih duduk di pinggir jalanan kosong yang sekarang sudah diparkiri oleh mobil polisi, dua ratus meter dari tempat kejadian.
“Kalian tak apa-apa? Apa yang terjadi?” Salah seorang polisi mendatangi kami.
“Kami tak apa-apa,” kataku cepat, menoleh pada Gabrielle. Aku menguatirkannya. “Truk bodoh menabrak kereta kami.”
“Atau sebaliknya,” kata si polisi dan dia bersama-sama yang lain berbondong-bondong menuju lokasi.
“Gabrielle,” Fran menyapu rambutnya dengan lembut. Dia menengadah dan sekali lagi aku merasakan sesuatu yang menyakitkan melihat wajahnya yang pucat. “Semua sudah tak apa-apa.”
“Remi.”
Aku mengerjap begitu pula dengan Fran. Aku mengerjap bukan karena kaget dengan nama yang sepertinya membuat Fran tak bisa bicara, tapi aku kaget betapa merdunya suara anak ini.
“Gabrielle, Jeremiah berada berpuluh-puluh mil dari tempat kita.” Fran menenangkannya.
Gabrielle menunduk, menggigit bibir bawahnya. Dia lalu bangkit tiba-tiba, membawa tasnya.
“Mau kemana, Gabrielle?” Fran terkaget, ikut berdiri. Aku juga melakukan hal yang sama. Gabrielle berjalan cepat menuju salah satu polisi dan menarik-narik lengan salah satu polisi.
“Tidak sekarang, Nak.”
Gabrielle masih keras kepala menarik lengan bajunya meski si polisi menolaknya. Fran berlari ke arahnya dan aku ternganga melihat aksi berani Gabrielle.
Akhirnya si polisi, yang merasa terganggu karena tak ditinggalkan Gabrielle, menoleh dan menggerutu, “Apa?”
“Sir, boleh pinjam ponselmu?”
Si polisi mengerjap.
“Gabrielle!” Fran melotot marah padanya. “Maaf, Sir. Aku—”
“Ini.” Tanpa diduga, si polisi memberikan ponsel padanya. “Kuberi waktu satu menit.”
Gabrielle mengambil ponsel itu meski Fran melarangnya. Dengan jemarinya yang gemetar dia menekan tombol, menelan ludah.
“Kau mau menelepon kemana?” Fran bertanya penasaran. “Kau tak mungkin menelepon Jeremiah untuk datang kan? Dia tak mungkin datang—”
Terlambat. Begitu Fran hendak menasehatinya, suara lembut Gabrielle terdengar lagi.
“Remi, kami mengalami kecelakaan kereta api.”

***

JEREMIAH(POV)
Darahku membeku mendengar suara Gabrielle yang gemetar di seberang sana.
“Apa?”
Aku berdiri kaget, tak peduli bahwa aku sedang rapat saat ini. “Kecelakaan kereta api? Kapan? Sekarang? Itu berarti beritanya akan muncul sebentar lagi.”
Mengabaikan pandangan ingin tahu para anggota rapat, aku menghidupan televisi kemudian melihat komputer kerjaku. Benar saja. Sudah ada beritanya. Salah satu korban masih sempat mengabadikan kejadian itu.
“Aku akan segera ke sana. Kau tunggu di sana.”
“Presidir!” Salah anggota rapat berdiri begitu aku mengambil mantel dan melangkah menuju pintu. “Kita sedang rapat!”
“Putraku sedang mengalami kecelakaan kereta api, aku tak mungkin rapat! Rapat dilanjutkan lain kali!” Dengan jengkel aku keluar, membanting pintu dan berita mengenai kecelakaan kereta terdengar di sana-sini.
Aku ketakutan.
Gabrielle. Apa dia baik-baik saja? Shit. Aku membenci anak itu dan sebal dengan tingkahnya. Tapi begitu mendengar suaranya yang ketakutan di telepon aku jadi panik.
Membawa Hummerku aku menginjak gas dalam-dalam dan tak peduli soal polisi.
Gabrielle lebih penting.

***

GABRIELLE(POV)
“Dia tak mungkin datang,” Fran berulang kali mengatakan itu walau sudah satu jam kami menunggu dalam diam. “Kau tak mungkin menyuruhnya kemari, Gabrielle,” katanya lagi, meski kami juga sama-sama tahu sudah terlambat untuk mengatakan itu. “Jaraknya jauh sekali, Gabrielle.”
Aku tak peduli. Remi bilang dia akan datang. Remi janji akan datang. Dia pasti akan datang. Dia memintaku untuk menunggu.
“Gabrielle, kita harus ikut polisi itu untuk ke stasiun berikutnya.”
Aku tak mau. Aku mau menunggu di sini. Jeremiah akan datang. Aku tak mau dia tak menemukanku.
Aku memeluk tasku menahan gemetar dan kedinginan di sekitar tubuhku. Fran mendesah karena aku tak mengatakan apapun dan melingkarkan tangannya di bahuku.
“Gabrielle, kita tak bisa menunggunya terus. Kita tak tahu kapan Jeremiah datang.”
Aku tak peduli. Aku akan terus menunggu. Aku sudah biasa menunggu. Aku tak peduli bila kalian meninggalkanku. Aku akan baik-baik saja. Jeremiah akan datang. Dia akan datang.
Fran mendesah lelah. “Gabrielle—”
“Sir, kurasa kita tak bisa memaksanya.”
Aku melirik Oliver. Untuk pertama kalinya aku menyadari keberadaannya. Aku tak suka padanya. Dia seperti orang lain, yang menatapku dengan ekspresi dan kilatan seperti itu seakan aku berharga, lalu akhirnya memunggungiku dan meninggalkanku begitu saja.
Oliver tersenyum kecil padaku dan aku mengalihkan pandangan ke depan—ke pemandangan mengerikan kereta api yang sekarang menjadi makanannya para jurnalis, wartawan, dan presenter.
“Baiklah. Kita akan menunggu satu jam lagi. Jika dia tak muncul kita harus ke stasiun.”
Aku tak peduli. Seabad pun aku akan menunggu di sini.

***

OLIVER(POV)
Walau Fran bilang begitu, Gabrielle sepertinya tak peduli. Dia duduk dengan posisi sama selama satu jam berikutnya tanpa bergerak. Dia tak menggubris apapun. Siapa sebenarnya yang bercanda di sini? Tak mungkin bisa mencapai lokasi ini dalam dua jam. Paling cepat juga tiga jam. Tapi Gabrielle tampaknya tak peduli.
Siapa sih si Jeremiah ini sampai-sampai membuat Gabrielle lebih peduli padanya dari pada Fran? Fran terpaksa menelan kekalahannya lagi, karena Gabrielle tak juga beranjak walau satu jam sudah lewat. Bahkan, walau dia disuruh menunggu di tempat ini sampai mati pun, aku curiga Gabrielle akan melakukannya.
“Kau tak bodoh kan?” Aku bergumam padanya dan dia mendelik jengkel padaku. “Jeremiah tak mungkin bisa datang. Kau cuma membuang waktumu. Bila dia sampai dalam waktu singkat, itu artinya dia pembalap yang berkendara di jalanan.”
Tepat saat itu sebuah mobil berdecit kencang, sampai membuat aspal menghitam akibat bannya menggesek dengan keras karena rem mendadak. Sebuah mobil Hummer besar baru saja berhenti dan seorang pria berpakaian kantoran muncul, lalu berteriak, “GABRIELLE!” dengan panik, sampai membuat polisi yamg diujung kereta juga ikut menoleh.
“Remi,” gumam Gabrielle. Dia berdiri, melempar tasnya, dan berlari, memeluk Jeremiah sambil mengalungkan tangannya ke pinggang Jeremiah.
Aku cuma mampu menganga. Pria itu pastilah pembalap sekelas Michael Schumacher jika dia sampai di sini dengan waktu secepat kereta api.
Fran segera mendatanginya. “Jeremiah... aku tak menyangka...”
“Kenapa bukan kau yang menghubungiku?” Pria itu berteriak marah padanya, memeluk Gabrielle yang tampak lebih kecil karena ukuran hulknya. Fran tergagap sehingga dia melanjutkan, “Apa kau tak tahu seberapa takutnya aku jika terjadi apa-apa padanya? Kupikir aku bisa saja terkena serangan jantung di tengah jalan begitu mendengar bahwa kalian ada di kereta sialan yang terbalik! Kau mau membuatku cepat mati? Kalau kau tak bisa mengatasinya sendiri kenapa tak bilang saja padaku? Kau bisa menjaga dia atau tidak sih?”
Fran tertunduk. Wajahnya pucat. “I’m sorry.
“Jangan cuma minta maaf tapi kau harus berjanji agar kejadian ini tak terulang! Kau tak sadar kalau Gabrielle terluka? Kepalanya juga memar tahu!”
Fran tersentak, begitu pula denganku. “Memar?” Kami berdua berkata berbarengan.
Jeremiah melirikku dengan tampang tak suka. “Siapa itu?”
“Dia Oliver Evans. Kami tadi di kompartemen yang sama.” Fran menjelaskan.
Jeremiah mendengus. “Hmph. Lagi-lagi orang asing yang kau pungut di tengah jalan. Aku tak mau dia dekat-dekat Gabrielle.”
Fran menggertakan gigi. “Aku Ayahnya Gabrielle, Jeremiah.”
“Jika kau berpikir begitu, sayang sekali, aku juga Ayahnya.”
Aku mengerjap begitu pula dengan Fran.
“Apa maksudmu?” Fran bertanya kebingungan.
“Itu nanti saja. Yang lebih penting adalah membawa Gabrielle ke rumah sakit.” Tidak memedulikan pelototan Fran, Jeremiah membimbingnya ke dalam mobil, membantunya naik. “Dimana tas kalian? Oh, yang ini?”
“Oliver juga ikut.” Fran melipat tangan. “Aku tak bisa meninggalkan dia di sini. Dia sudah membantu kami berulang kali.”
Jeremiah menaikan alis. “Seperti apa?”
Please, Jeremiah,” Fran mendesah. “Dia masih anak-anak.”
Jeremiah menatapku, lalu melirik Fran yang memelas. “Ok. Tapi anak ini tak boleh mendekati Gabrielle.” Lalu dia mengangkat koper tas Gabrielle dan tas Fran dengan mudah seolah benda itu bukan apa-apa baginya, dan melemparkannya ke bagasi belakang.
“Dia memang seperti itu,” kata Fran padaku. “Tapi dia bukan orang jahat.”
“Apa kalian pacaran?”
Fran mengerjap lagi, kemudian wajahnya merah padam saat mencerna kata-kataku barusan. “A-a-apa?”
Crap. Aku tak bisa menjaga mulutku. “Tidak. Bukan apa-apa.”
Dengan tergesa-gesa aku naik ke bagian depan mobil. Jeremiah mendengus padaku. Gabrielle berada di belakang Jeremiah, memeluk Jeremiah lehernya dari belakang, yang membuat Jeremiah tersenyum padanya.
Aku jengkel melihat keakraban mereka.
“Apa yang kau lihat, Anak Muda? Lihat ke arah lain!” Dia menyentil dahiku kemudian menoleh pada Fran yang baru masuk. “Dan kenapa kau lama sekali? Kau kan tak membawa apapun. Dan kenapa wajahmu merah seperti itu? Sakit? Oh, shit. Dan kau juga memar!”
Fran mengerjap lagi. “Dimana?”
“Dimana? Astaga! Di dahimu! Kau juga memar, Anak Muda. Tampaknya kita harus mampir ke tempat teman lama.”
Aku dan Fran sama-sama memegang dahi kami dan sama-sama mengeluh merasakan nyeri dan benjolan di sana. Dan aku juga baru menyadari bahwa bahu dan telapak tanganku juga sakit.
Terlepas daripada sadisnya Jeremiah, dia punya mata yang jeli.
Dan aku masih penasaran dengan satu hal: apakah Jeremiah dan Fran pacaran? Aku tak berani bilang “sepasang kekasih“ karena mereka berdua lelaki.
Tapi, aku melirik Fran dari spion, yang menatap bagian belakang kepala Jeremiah dan aku yakin bahwa Fran naksir Jeremiah.
Tidak. Bukan.
Aku melihat kilatan di matanya.
Fran mencintai Jeremiah.

***

Medan, 26 Juli 2013

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Akhirnya post jugaaaaa~
Aku ngungsi dari watty ke sini ka #ngok
Aku samasekali ga keberatan dah remixfran. Mereka cocok ko kkk~
Kalo mereka di barengin aku selalu kebayang fran emaknya remi bapanya =_= dan memang bgtu kan? XD
Dan.. O-o... Ada 'calon' di sini *lirik Oliver-Gabrielle* bahahaha.
Serius yaa. Remi itu keren aaaa~
Semangat Kak! Updatenya jangan lelama yaa :3

-Iriantum-

love leecho mengatakan...

Yampuuuuunnn~~
JEREMIAAAAAHHH~~
You're so awesome *bleeding
Kakak, ini sumpah ya. Si Remi ini selalu mempesona minta ambruk. Trus kenapa deh itu sama si Oliver? Ada apa sama dia sampe si Remi nggak suka gitu? Nggak mungkin kan dia tau si Oliver kesemsem sama Elle, hahaa
Gabriele kepanjangan, singkatin aja :D
Okeh2, ditunggu deh lanjutan daddy Remi sama Mommy Fran :D

Mereka yg nggak suka cerita sejenis ini tuh, mereka yg punya pola pikir sok idealis, tapi gagal. Hidup nih simpel, nggak suka ya jangan baca.

Anonim mengatakan...

Yeah.. Baru mampir lagi di mari setelah sekian lama :D
Hhah.. Tulisanmu mah udh gak usah dikomentarin. Udh jelas gitu rapinya. Ckck -_-"
Jadi ya, bingung sndiri mau komentar apa. Blm nemu sesuatu yg perlu dikomentarin dr cerita ini.
Berharap ajh mudh"an imajinasimu makin berkeliaran tak tentu arah di dalam kepalamu, biar bs cpet" dituangin lewat tulisan. Yg kemudian saya nikmatin di waktu senggang :D

Anonim mengatakan...

Terlepas daripada sadisnya Jeremiah, dia punya mata yang jeli.
#hiyaaa mkin suka sm Remi :*

frans malu2 mau, gabrielle so cool, oliver hmm pnsaran dia bakal jd tkoh yg kyk apa. hehehe

semangat kakak, crita nya d lnjut y kak. di tggu pkok nya :D

risma tika mengatakan...

Salam kenal author :D
Aaaaa suka bgt sama karya2mu author
Apalagi yg ni, pasangan satu ni bikin penasaran
cocok baget deh si pap rem sama mam fran
Penasaran juga nih sama oliver....
Apa si remi nih udah mulai suka sama fran??
Ditunggu loh author, kelanjutannya^^

Bryan Cho mengatakan...

yey.. ada kisah si Jeremy juga akhirnya
wah.. si mas playboy abal"
hehhehee
dia baik dibalik semua kelakuan ajaib dan liarnya
duh ni cerita bikin panas dingin
mungkin karena kebanyakan baca beginian tiap liat cowok ganteng bareng jadi senyum" curiga. hahaha

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.