RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 26 Agustus 2013

ILUMRG == 15 ==



15
Boyfriend


CODY(POV)
Udara malam akhir musim panas menyegarkan wajahku dan membuatku fokus untuk sementara. Begitu banyak kejadian yang terjadi hari ini dan aku nyaris gila karenanya.
Kakiku melangkah pelan melewati trotoar di antara bangunan-bangunan tinggi yang sudah tutup tapi cahaya temaramnya sedikit menyinari kegelapan. Kesendirian seperti ini terasa sangat nikmat. Sudah lama aku tak pernah jalan-jalan sendirian di jalanan seperti ini dan saat tengah malam pula—saat ini jam 1 malam—sejak aku memutuskan untuk angkat kaki dari rumah.
Bibirku tersenyum kecil mengingat memori itu.
Biasanya setiap awal bulan, aku dan Remi akan berkencan tengah malam. Dia akan membangunkanku tiba-tiba setelah memanjat jendela kamarku, menyuruhku bersiap, lalu kami akan kabur dengan motor ke pantai atau danau, lalu main sampai puas berdua—jika menurut kalian saling tinju, saling dorong ke air, saling tendang, dan bergulat bisa dikatakan bermain. Tapi kami kan saat itu masih muda dan kami sangat bebas.
Kencanku dengan Remi tak boleh diganggu-gugat bahkan oleh Aroz sekalipun.
“Aku hanya ingin menghabiskan waktu satu hari dalam sebulan bersama sahabatku. Apa aku berlebihan?” Remi akan protes begitu tiap kali aku susah bangun dari tempat tidurku dan malah menarik selimutku lebih tinggi.
Itu sangat menyenangkan.
Desahan napasku terdengar menyedihkan. Aku memilih duduk di pinggir jalan di dekat salah satu lampu jalan. Kedua tanganku masuk ke dalam kantung mantelku. Mantel yang dibuat Keyna dan diberikannya untukku.
Sekali lagi aku tersenyum, tersentuh dengan perhatian Keyna. Aku sangat menyukai mantel buatannya. Mungkin mantel ini jadi satu-satunya benda favoritku. Tapi, mengingat apa yang kukatakan pada Keyna membuatku mendesah lagi.
Aku merasa bersalah.
Dan sendirian di tempat seperti ini sangat menyedihkan.
Telepon aku...
Aku mengerjap. Tanganku memegang kertas yang terselip dalam mantelku.
Nomor telepon Aroz.
Telepon aku...
Suara Aroz semakin terdengar. Aku menggigit bibir. Ini sudah tengah malam. Jam satu lewat. Apakah tak apa-apa mengganggunya tengah malam begini? Kutatap kertas di tanganku. Suara Aroz yang berkata “Telepon aku” semakin menjadi-jadi.
Telepon aku...
Jika dia tak mengangkatnya, berarti dia sedang tidur.
Ragu-ragu, pada akhirnya kukeluarkan ponselku dan menekan tombol-tombol itu. Aku semakin ragu saat menekan tombol Dial dan meletakkan ponselku ke telinga, menunggu lama sekali bunyi “tut” di seberang.
Dia sedang tidur. Aku tak seharusnya mengganggunya.
Begitu kuturunkan ponselku, aku mendengar suara di seberang.
“Halo?”
Untuk sejenak, aku tak bisa bicara. Jantungku seakan diremas. Udara dingin di paru-paruku seakan tersedot keluar. Tubuhku tak memiliki roh. Untunglah saat ini aku sedang duduk, jika tidak aku yakin kakiku gemetar.
“Halo? Siapa ini?”
Selama tujuh tahun aku tak lagi mendengar suaranya di telepon. Suaranya yang lembut, serak dan berbisik. Dan aku diliputi rasa bersalah pada Keyna lagi karena aku sangat merindukan suara ini.
“Halo? Halo? Kau bisa mendengarku?”
Aku tak bicara, hanya menahan napas. Masa lalu itu kembali menyakitiku.
“Cody?”
Kali ini aku benar-benar tak bergerak. Dari mana dia tahu?
“Cody,” suara Aroz melembut. “Aku senang kau meneleponku. Apa kau baik-baik saja?”
Sama seperti Remi, Aroz mengenalku dengan baik. Walau dengan suara asing sekalipun, mereka bisa mengetahui itu aku. Meski aku tak berbicara atau mengucapkan apapun, mereka akan tahu itu aku. Walau aku sejauh apapun, mereka tetap akan tahu apa aku baik-baik saja atau tidak.
“Hai, Aroz,” kataku pada akhirnya. “Maaf aku mengganggumu. Apa kau sedang tidur?”

Terdengar suara patahan dan grasak-grusuk di seberang. Aroz mendesah tak lama kemudian. “Nyaris. Aku bertanya-tanya kapan kau akan meneleponku.”
Aku membasahi bibirku. “Aku—”
“Cody, aku ingin bertemu denganmu.”
“Apa? Aroz, ini sudah malam.”
“Aku tak peduli,” suaranya gemetar. “Aku tak sempat mengucapkan kata perpisahan. Aku tak bisa melihatmu. Aku merindukanmu selama 7 tahun. Aku patah hati selama 7 tahun. Aku menderita selama 7 tahun. Dan kali ini aku bisa melihatmu. Aku senang sekali sampai rasanya aku ingin meledak.”
“Aroz—”
“Kumohon,” suaranya bergetar dan menyayat hati, sehingga aku tahu bahwa dia sedang menangis di sana. “Setidaknya aku bisa melihatmu sekali lagi, bila kau bermaksud menyelesaikan segalanya, karena aku tahu, Cody, bahwa kau... bahwa kau sudah melupakanku.” Suaranya berbisik sehingga aku nyaris tak mendengarnya.
“Aroz...”
“Aku janji tak akan memaksamu untuk tetap tinggal, Cody.”
Aku menahan napas. Sekali lagi aku merasakan beban berat di bahuku, menusuk paru-paruku sampai rasanya sesak sekali.
Fine,” gumamku. “Dimana?”

***

Tidak butuh lama bagi untukku sampai di lokasi yang ditunjuk Aroz. Tempat itu sebuah taman yang menghadap ke danau, dengan jalan setapak untuk mencapai ke sana. Pohon-pohon tinggi dan ramping berdiri di sekitar danau. Kegelapan nyaris memenuhi seluruh tempat dengan kabut menggantung rendah.
Mataku menyusuri lokasi. Tidak ada siapapun. Tapi di salah satu kursi yang menghadap ke danau, aku melihat ada bayangan seseorang yang duduk di sana.
Aroz.
Hanya siluet tapi aku sangat mengenalnya.
Kakiku melangkah. Sepatu bootku menginjak rumput basah dengan bunyi gemersik yang membuat Aroz menoleh ke arahku. Pria itu menegang sejenak, tapi akhirnya kembali tenang dan tersenyum padaku begitu mengetahui bahwa aku yang mendatanginya, bukan orang lain.
Aku balas tersenyum padanya ketika berhasil sampai di dekatnya.
Malam ini, dia mengenakkan mantel berwarna abu-abu ramping dengan tudung menutupi kepalanya, membuat wajahnya tampak lebih kecil. Di hidungnya ada kacamata perak. Kedua tangannya memegang kotak abu-abu kecil.
“Hai,” sapanya setelah kami bertatapan selama sepuluh detik dalam diam.
“Hai,” balasku pelan.
“Duduklah,” katanya, bergeser sedikit dari kursi kayu. Aku mengangguk dan duduk di sampingnya.
Lagi-lagi kami tak berbicara. Aku cuma menatap lurus pemandangan danau di depanku, dimana airnya berkilau seperti berlian. Dari sampingku Aroz terus-terusan menatapku. Aku tak terganggu. Aroz punya kemampuan untuk membaca kondisi. Dan aku tahu dia sedang mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk.
“Aku tak tahu kalau kau mengenakkan kacamata,” kataku tiba-tiba.
Aroz mengerjap, lalu tersenyum kecil. “Mataku mulai bermasalah sejak aku kembali ke Italy.”
“Kau tampak sehat,” kataku mengamatinya. “Juga banyak berubah.” Dia masih menjaga senyumnya. “Kau lebih tenang sekarang.”
“Aku belajar darimu, Cody,” katanya mengalihkan pandangannya ke danau. “Tak selamanya kau ada di sampingku. Aku tak mungkin terus-terusan di belakang punggungmu.”
Aku tersenyum. “Benar. Keadaan sudah berubah. Kita bertambah dewasa. Kita bukan anak-anak lagi.”
Aroz mengangguk. Dia menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Aku membiarkannya mengambil waktunya untuk mengatakan sesuatu yang menjadi perang batin baginya.
“Dua bulan setelah aku di Italy, aku mencoba menghubungi rumahmu.”
Mengejutkan. Aroz benar-benar berubah sehingga dia mampu mengangkat topik ini. Aku nyaris tak bisa bernapas. Tapi aku memilih untuk diam. Aroz harus menyelesaikan seluruh ceritanya. Dia berhak mengeluarkan seluruh isi hatinya selama ini—apa yang terjadi selama ini.
“Setiap kali meneleponmu, kau tak pernah menjawab. Kemudian aku mengirim surat untukmu, hanya saja kau tak pernah membalas,” katanya.
“Aku sudah tak tinggal di sana lagi.”
“Aku tahu. Jeremiah bilang begitu di suratnya.” Dia berhenti sejenak. “Rupanya Jeremiah tak sengaja pernah melihat surat-suratku, yang katanya dibakar oleh orang tuamu.”
Tanganku mengepal.
“Cody,” katanya lembut, memegang tanganku, “mereka orang tuamu. Aku bisa mengerti.”
Karena matanya menunjukkan kejujuran, maka amarah yang tadi sempat keluar kini reda.
“Kita sama-sama tahu kalau kita tak punya kesempatan,” lanjutnya. “Tapi aku tak menyesal. Aku menyayangi orang tuaku. Orang tuamu juga. Walau mereka sudah memerlakukan kita dengan sangat buruk, itu tugas mereka melarang kita melakukan hal yang menurut masyarakat tak benar.” Dia meremas tanganku. Matanya berkaca-kaca. Tapi tetap saja bibirnya tersenyum.
Mau tak mau aku juga tersenyum. Menepuk tangannya. Tidak mengatakan apa-apa.
“Sekarang kita punya dunia yang berbeda,” katanya bergetar. Kepalanya menunduk, menatap tangan kami. “Meski tidak mulus. Aku harus mengakui bahwa aku senang pernah mengenalmu.”
“Aroz,” kataku pelan, “kita tetap bisa berteman.”
“Aku tahu,” akhirnya air matanya jatuh. Dia menunduk. Bahunya gemetar. Tapi aku tak akan memeluknya. Aroz juga tahu kalau dia tak punya hak untuk bersandar. Dia seorang pria. Aku tak berhak mengasihaninya. Dan Aroz tak perlu dikasihani. Dia sudah sangat kuat selama 7 tahun ini tanpa aku. Aku hanya akan mematahkan keteguhannya untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Menyedihkan,” gumamnya. “Aku janji pada diriku sendiri untuk tak menangis.”
“Jangan khawatir. Aku tak akan menggosip kemana-mana.”
Aroz tertawa kecil. Setelah puas menangis, dia mengangkat kepalanya, menyerahkan kotak itu padaku.
“Untukmu.”
Dahiku mengerut. Kubuka kotak itu dan menemukan tumpukan roti kering dengan bentuk mobil berbagai jenis di sana. Aku tertawa kecil.
“Kau pernah protes kenapa tak ada cookies berbentuk mobil,” katanya dan dia ikut tertawa. “Siapa yang menyangka bahwa kepala geng bermotor berpikir begitu?”
“Aku Ketua Geng paling Unik sejagat raya.”
Aroz tertawa lagi, meninju pelan lenganku. Dahinya mengerut. “Kau masih ikut kick boxing?” Aku mengangguk. “Pantas saja.”
“Memangnya kenapa?”
“Lenganmu...” dia berhenti dan mengalihkan pembicaraan. “Wanita yang tadi sore cantik. Pacarmu?”
“Bukan. Dia model pacarku.”
Matanya menyipit curiga. “Cody, kau tak tertular virusnya Jeremiah kan?”
Aku meringis. “Wanita itu menciumku tanpa kuduga.”
“Dia naksir padamu.”
“Mungkin,” aku menaikan bahu dengan tak peduli.
“Kalau begitu, sebelum kau pulang, kau harus memperkenalkan pacarmu padaku,” katanya dan mendorong bahuku dengan bahunya. “Ok?”
“Kami akan menghabiskan seluruh kue yang kau punya.”
Aroz tersenyum lebar. “Aku tak keberatan.”
“Akan kuusahakan.”
Kami masih mengobrol setidaknya selama lima belas menit lagi kemudian aku mengantarnya pulang, ke bangunan tingkat dua yang dekat sekali dengan toko kue miliknya.
“Terimakasih sudah mengantar, Cody,” katanya. “Ingat. Kau harus membawa pacarmu mampir sebelum pulang.”
Aku mengangguk.
Aroz menatapku selama sedetik sebelum, akhirnya, memelukku, menyandarkan kepalanya ke dadaku, dan kedua tangannya melingkar di pinggangku.
Tiba-tiba, seluruh kenangan saat kami bersama selama lima tahun teringat. Saat dimana aku bertemu dengannya. Ketika dia menyatakan perasaan. Ekspresi wajahnya ketika memintanya jadi pacarku. Orang yang pertama kali memperkenalkan padaku cinta pertama. Orang yang pertama kali kubagi apa itu kencan pertama, ciuman pertama, bahkan malam pertama.
Tubuh yang dulu begitu kecil saat kupeluk, kulindungi dengan sangat protektif, halus dan lembut nyaris seperti wanita, juga sangat kecil, kini sedikit lebih tegar dan lebih kuat untuk menjaga dirinya sendiri.
Aroz melepas pelukannya tersenyum. “Addio, Amore Mio.” Lalu dia naik ke kamarnya, tidak berbalik lagi.
Goodbye, First Love,” gumamku.
Sekarang kami bisa menapaki masa depan.
Sekarang aku lega.
Aku bisa berkonsentrasi menjadi hetero, menjadi kekasih Keyna, bersama Keyna.
Dan tak ada yang lebih penting bagiku sekarang selain membahagiakan Keyna.
Begitu sampai di kamar hotel, Keyna masih tidur. Aku segera naik ke atas tempat tidur.
Keyna membuka matanya sedikit. “Kau dari mana?” gumamnya.
Aku cuma tersenyum, menarik tubuhnya perlahan untuk kupeluk. Keyna tersenyum dan kembali tertidur lelap saat aku mencium dahinya.
“Keyna, aku mencintaimu,” gumamku dan tertidur di sampingnya.

***

KEYNA(POV)
Aku bangun dengan melihat Cody di sampingku, tertidur pulas sambil memelukku seperti seorang anak kecil yang polos. Kamarin malam dia tampak menyebalkan, tapi sekarang aku luluh hanya melihat wajahnya. Sudah beberapa kali aku melihat Cody setiap pagi, tapi tetap saja aku belum terbiasa, karena aku selalu diliputi kebahagiaan menemukan orang yang kucintai ada di sampingku.
Cody masih mengenakan pakaian lengkap saat aku bergerak sedikit dari tempat tidur. Mantelnya ada di sofa.
Dahiku mengerut. Apa dia keluar semalam?
Memulai pagiku, aku segera ke kamar mandi dan mandi sampai bersih, mengenakan pakaian sederhana yang kasual dan santai. Cody masih saja tidur. Sebenarnya, jam berapa dia tidur kemarin? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Hanya saja aku memilih membiarkannya tidur pulas. Lagipula Cody tak akan mengijinkanku mengendarai mobil bila dia dalam keadaan sadar. Dia butuh istirahat. Selagi Cody tidur, aku membereskan baju-baju kami dan mengepaknya dalam koper.
Cody terbangun begitu aku menyingkirkan gorden dan cahaya matahari masuk tepat menyinari wajahnya.
“Uuuh!” Dia menggerung. “Aku benci matahari pagi,” gumamnya.
Ok, jadi aku belajar satu hal mengenai Cody bahwa dia bukanlah manusia pagi hari.
“Selamat pagi,” sapaku begitu Cody membuka matanya perlahan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan bergumam “Pagi” dengan suara serak.
“Kau harus bangun lalu kita bisa sarapan dan pulang.”
Cody mengangguk, meregangkan tubuhnya, dan menyingkirkan selimut.
“Aku sudah membereskan kopermu. Bajumu juga sudah kusiapkan. Aku—kenapa?” Aku mengerjap kaget dan gugup melihat Cody memelukku dari belakang. Ini tak biasa.
“Aku mencintaimu,” bisik Cody, kemudian mencium pipiku.
Wajahku bersemu merah. “Sungguh?”
“Ya.”
“Kau sudah melupakan mantanmu?”
Cody menciumku lagi. “Saat ini kau duniaku,” katanya dan hatiku diluputi oleh bunga-bunga kebahagiaan yang nyaris meledak di dadaku.
“Thomson benar,” kataku tersenyum padanya. Alisnya menaik curiga. “Bahwa kau puitis.”
Cody tersenyum. Sebuah senyuman yang nyaris sama dengan senyuman Janson yang licik. Bedanya—karena ini Cody—dia jadi jauh jauuuuuuh lebih sexy.
“Apa boleh buat,” katanya parau di dekat telingaku. “Aku bersama calon isteriku yang cantik jelita.”
Perutku dipenuhi dengan sensasi aneh yang sangat membahagiakan. Tubuhku menggigil merasakan suaranya yang berada di dekat telingaku dan suara desahan napasnya di dekat leherku. Aku mencintai pria ini sampai-sampai tak peduli pada apa yang dia lakukan.
Room service.”
Terdengar ketukan pintu yang membuat Cody melepas pelukannya.
“Biar aku saja,” kataku menangkap lengannya. “Itu cuma sarapan. Kau mandi saja dulu.”
“Ok.” Cody mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi sementara aku membuka pintu, membiarkan seorang pelayan berseragam mendorong troli masuk ke dalam kamar.
“Selamat pagi, Nona,” kata pelayan itu membuka hidangannya, kemudian meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja. Aku memilih untuk memasukkan baju-baju Cody. Kemudian pelayan itu permisi dan Cody keluar dari kamar mandi, mengenakkan kaos abu-abu berkerah biru, dan berjaket merah, yang dipadu dengan celana senada dengan kaosnya.
“Sarapan sudah datang,” kataku mengambil handuk di tangannya dan melipatnya.
“Kau pesan apa?”
Waffles dan pancake. Biasanya kau makan apa saat sarapan?” Sambil mengancing kopernya, aku duduk di samping Cody dan memberikan piringku padanya.
“Telur setengah matang. Kadang roti. Aku juga makan sosis.”
“Hmmm. Dan apa favoritmu?”
“Aku suka yang dimasak. Lebih enak.”
“Ok. Kalau begitu aku akan selalu masak sarapan untukmu.”
“Aku tak sabar menunggu.”
Kami akhirnya sarapan. Cody makan pancakenya kadang aku ikut mengambil potongannya dan dia mengambil waflesku juga. Kami mengobrol tentang keadaan sehari-hari, mengacuhkan membahas soal Janson dan Kim—lagipula siapa ingin yang membahas mereka? Merusak suasana saja—dan lebih banyak membahas soal kami.
“Kapan aku bisa bertemu orang tuamu?” tanyaku.
Cody berhenti mengunyah, mengerutkan dahi. Aku curiga dia sama sekali tak ingat dengan apa yang dia katakan malam itu.
“Kau lupa,” kataku datar. Tak bisa dipercaya.
“Tapi aku ingin bertemu orang tuamu dulu,” kata Cody. “Baru orang tuaku.”
“Aku ingin bertemu orang tuamu dulu.”
Cody meletakkan garpunya. “Orang tuaku akan menyukaimu. Kau tenang saja. Adik-adikku juga. Itu sudah pasti.”
“Kau punya adik?”
“Ya.” Dia mengangguk. “Tiga orang. Si kembar Kynth dan Kyler. Lalu si bungsu Kaela. Bagaimana denganmu?”
“Aku punya beberapa kakak laki-laki. Mama sangat menyenangkan. Dia orang yang ceria. Masalahnya mungkin ada pada Papa dan Chris.” Cody tidak memotongku jadi aku melanjutkan. “Mereka sedikit protektif.”
“Seperti?”
“Uuuh.” Aku tak ingin mengatakannya. Tidak, yang benar itu, aku tak bisa mengatakannya. Bagaimana aku bisa mengatakan hal memalukan yang selalu terjadi di rumahku tiap kali aku membawa pria ke rumah? Setiap aku datang membawa pacarku atau teman laki-lakiku, mereka akan memberikan tatapan menusuk dan kata-kata tak berperikemanusiaan.
Chris pernah meninju pacar pertamaku saat kami tak sengaja berciuman di depan pintu rumah. Dia juga pernah mengerjai setiap pacarku dengan obat sakit perut agar mereka pulang. Atau dengan sengaja ikut kencan dan merusak acara kencanku.
Lebih parah dari Chris, Papaku hanya perlu berdiri di depan pintu tiap kali pacarku mampir, berbicara dengan nada dalam sambil memelototi mereka. Aura otoritas menggantung di sekitarnya—yang mampu membuat Hitler menangis—dan sudah pasti tak ada satupun pria yang mampu lewat dari ambang pintu bila dia berjaga di sana. Papaku seorang hearder berukuran manusia.
Aku tak ingin Cody mengalaminya.
“Kenapa?” Cody bertanya keheranan.
“Aku ingin bertemu orang tuamu dulu.”
“Tidak, Keyna,” kata Cody tegas. “Aku ingin bertemu orang tuamu dulu. Kenapa kau takut begitu?”
Aku menggigit bibir. “Papaku dan Kakakku sangat protektif.”
Cody tersenyum menenangkan. “Kau tenang saja. Aku bisa mengatasinya.”
Melihat senyuman Cody membuatku tenang dan yakin padanya. Dia Cody. Aku mengingatkan diri. Dia pria yang melindungiku. Pria yang melamarku. Pria yang akan menjadi suamiku. Bila aku tak memercayainya, siapa lagi?
“Ok,” aku mengangguk. “Akan kuberitahu keluargaku kalau calon suamiku mau datang.”
“Bagus. Oh ya, sebelum pulang, kau tak keberatan kita mampir ke Aroz Bread? Teman lamaku ingin bertemu denganmu.”
“Aku tak keberatan.”
Kami menghabiskan makanan kami lalu mengambil koper dan turun ke bawah untuk check out. Cody tak mengijinkanku membawa tasku. Dengan enteng dia mengangkat tasku lalu membayar—benar-benar tak memedulikan panggilan Janson dan Kim.
“Aku tak ingin bertemu mereka di pagiku yang berharga,” kata Cody setelah kami masuk ke dalam mobil.
“Kau beruntung tak bertemu mereka setiap hari.”
“Aku beruntung mereka tak selalu membuat alasan agar aku mau menemui mereka.”
Aku tertawa kecil. Mobil kami keluar dari basement. Hanya butuh lima menit, mobil kami sudah berhenti dan memarkirkan diri di depan Aroz Bread yang cantik apik dan lezat.
Cody membukakan pintu bagiku saat aku masuk dan seorang pelayan menyapa Cody.
“Cody,” katanya, “kau datang lagi. Siapa ini?”
“Liam, dimana Aroz?”
“Dia ada di dapur. Tunggu sebentar,” kata Liam, kemudian melangkah ke dapur.
Aku melihat sekelilingku. Tempat ini luar biasa. Kue-kue berbagai bentuk terlihat menggoda dan bersinar berkat pencahayaan yang pas. Kursi dan meja ditata dengan sangat rapi. Aroma kue, coklat, pandan, karamel dan berbagai jenis lainnya, menguap lembut, membuatku kembali lapar.
Ini tempat paling sederhana sekaligus paling indah yang pernah kutemui.
“Cody,” sebuah suara lembut membuatku mengalihkan pandangan. “Kau benar-benar datang.”
“Aku harus datang karena kau memaksaku dan karena aku sudah janji,” balas Cody.
Pria itu tertawa dan aku terkejut melihat betapa cantiknya dia. Wajahnya mungil dengan lesung pipi menawan, manis sekali saat tersenyum, bibirnya penuh berwarna merah muda. Rambutnya hitam kecoklatan, sedikit melingkar di belakang telinganya. Topi kokinya terletak miring di kepalanya. Rupanya selain wajahnya, bentuk tubuhnya juga menunjang sisi feminimnya. Dia punya pinggang yang ramping. Kaki yang panjang dan kurus. Bahunya kecil dengan dada rata yang membuatku yakin dia bukan wanita. Dia tidak setinggi Cody dan justru terlihat mungil di antara Cody dan Liam.
Entah kenapa aku merasa bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman apalagi saat Aroz menepuk-nepuk bahu Cody dengan akrab dan berkata, “Jadi, mana kekasihmu itu?”
Matanya melihatku dan aku terkesan betapa indahnya mata itu. Begitu jernih, begitu besar, begitu jujur, seperti sebuah boneka manekin bermata indah, atau mata seekor anak anjing menggemaskan.
Pria itu tampak begitu murni.
“Keyna,” kata Cody menggandeng tanganku. “Ini Aroz, pemilik sekaligus Baker tempat ini. Dan Aroz, ini Keyna. Tunanganku.”
“Halo,” kata Aroz, mengulurkan tangannya. “Namaku Aroz Milligan.”
“Keyna,” kataku menjabat tangannya yang sehalus tangan bayi.
“Dia cantik. Kalian serasi,” kata Aroz pada Cody, menyodok pelan perut Cody. “Kau benar-benar beruntung.”
“Aku tahu,” kata Cody.
“Baiklah, karena kalian sudah repot-repot kemari, kau boleh memilih kue di sini dengan gratis,” Aroz menggandeng tanganku, membawaku ke lemari-lemari pajangan. “Cody, kau bisa membeli untuk Jeremiah.”
Cody mengangguk dan berlalu ke pajangan lain.
“Aku punya beberapa jenis kue manis. Ada juga yang rasa buah. Yang populer akhir-akhir ini adalah coklat. Apa favoritmu, Keyna?”
“Aku suka karamel,” kataku cepat, sedikit tidak nyaman dengan sikap akrabnya.
“Karamel? Ok. Aku punya beberapa jenis kue karamel.” Dia menunjuk beberapa. Aku mengamati jenis-jenis kue itu dengan penuh minat. “Cody suka pandan,” katanya tiba-tiba.
Aku mengerjap. “Pandan?”
“Yep. Cody tak pernah suka makanan manis meski dia tak keberatan memakannya.” Aroz mengeluarkan beberapa piring kecil, menunjukkannya padaku.
“Aku baru tahu,” gumamku.
Aroz tersenyum penuh pengertian. “Cepat atau lambat kau akan tahu apa kesukaannya,” katanya pelan, lalu melirik Cody yang ada di ujung ruangan. Meyakinkan diri bahwa Cody tak melihat kami, Aroz melanjutkan, “Cody bukan tipe orang yang terbuka, kau harus mencari tahu sendiri apa kesukaannya—apa yang tidak disukainya.”
Aku menatap Aroz lurus-lurus. Aku punya firasat bahwa Aroz bukan hanya teman. Mereka mungkin pernah jadi kekasih.
“Aku akan membantumu,” dia mengulurkan kertas kuning berisi nomor teleponnya ke tanganku. “Kau bisa menghubungiku kapan pun kau mau.” Dia mengedip jenaka.
“Kalian sedang apa?” Cody menoleh penasaran.
“Kau pilih saja kue buat Jeremiah.” Aroz mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Cody. Cody menyipit curiga saat melihat kue lain, meski dia tak membantah. Aroz kembali menatapku, tersenyum seperti malaikat. “Kau benar-benar beruntung mendapatkan pria baik sepertinya. Jangan mengecewakannya, ya Keyna, karena aku tahu dia tak akan pernah mengecewakanmu.”
Mereka punya hubungan atau tidak, hal itu sama sekali tak ada hubungannya denganku. Yang aku tahu Cody memilihku. Yang kulihat, pria ini berdiri di depanku, menyemangatiku dan berniat membantuku.
“Terimakasih,” kataku parau.
Aroz menepuk-nepuk bahuku dengan akrab lalu seketika itu pula memasukkan nyaris seluruh jenis kue ke dalam pesanan kami untuk dibawa pulang. Meski Cody sudah memberi alasan, Aroz tak peduli dan tetap memaksa memberikan kue. Kemudian, begitu kami keluar dari toko dengan kantong penuh berisi kue, Aroz mengecup pipiku, memeluk Cody dengan bersahabat, lalu berteriak, “Jangan lupa mengirimiku undangannya, ya?”
Cody hanya tertawa.
Kami masuk ke dalam mobil dan pulang.
“Aku suka padanya,” kataku melirik plastik-plastik kue di pangkuanku. “Dia orang yang menyenangkan.”
“Memang,” Cody mengangguk.
Ponselku berdering. Ada pesan masuk dari Aroz.

From: Aroz
To: The Beautiful Keyna
Fighting!!

Aku tersenyum melihat pesannya. “Apa hubunganmu dengan Aroz?”
Cody tersenyum. “Dia orang dari masa lalu. Tapi kini dia teman kita.”
Teman kita, aku mengulang, melihat pesan yang dikirim Aroz, dan tersenyum lagi. Aku bahkan tak menyangka bahwa aku baru mengenal Aroz karena dia sangat menyenangkan seakan kami sudah saling mengenal selama ini. Melihat dia tersenyum, tertawa, mengobrol, dan melayani kami, membuatku merasa nyaman dan bahagia.
Aroz seperti sahabatku.
Dia sahabat baruku.

To: Aroz
From: Me
Fighting!!!

Hari ini benar-benar sangat membahagiakan!

***

Write: Medan 23 July 2013

1 komentar:

phoenix sheshe mengatakan...

Right Keyna Faighting!!!
Thank's prince atas cerita2 mu yang sangat menarik.. Fighting juga untuk prince

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.