RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 05 Juli 2013

The Flower Boy Next Door (Debaran Empat Puluh - END)



Debaran Empat Puluh
Bye Bye

11.25
Aku duduk di kursi taman. Menunggu dalam diam dan menghela napas. Masih jam sebelas lewat dua puluh lima. Aku datang terlalu cepat. Nero berjanji datang pukul dua belas siang tepat. Untuk makan siang bersama. Untuk membicarakan kembali hubungan kami.
Bibirku tersenyum sendiri. Uh. Apa sih yang kupikirkan? Tiap kali mengingat Nero aku selalu tersenyum sendiri seperti orang gila.
Nero selalu bisa membuatku bahagia. Tentu dia juga pernah membuatku kesal. Itu tak perlu ditanya. Tapi kami tak pernah sampai harus berantem. Nero tahu bagaimana menghadapiku. Dia tahu bagaimana harus bersikap padaku. Dia tahu bagaiamana cara membuat hatiku luluh. Dia tahu bagaimana mendaptkan kembali hatiku setelah aku memutuskan untuk melepasnya.
Lalu aku sadar bahwa aku sebenarnya merindukan Nero. Aku ingin dia ada di sini. Saat ini juga. Tersenyum padaku. Lalu mengatakan bahwa dia akan bersamaku selamanya.
Tapi jam sudah menunjukan pukul 12.35. Nero terlambat.
Kali ini, dengan cemas aku melihat sekitarku. Melihat keberadaan Nero. Tapi dia tak ada.
Nero... kau ada dimana?
***The Flower Boy Next Door***
14.15
Nero sedang berjuang untuk hidup.
Dan Dokter Nathan sedang berusaha melakukannya.
Dibantu oleh empat orang dokter ahli bedah dan syaraf, mereka melakukan operasi besar yang tak mampu ditunda lagi. Nero kritis. Dan pendarahan nyaris merebut nyawanya.
Dokter Nathan mengalihkan pandangannya dari monitor EKG yang berbunyi pip dengan pelan. Kemudian pada Nero.
Wajah Nero semakin pucat. Pintu ruang operasi terbuka. Stok darah kembali datang. Didorong oleh seorang perawat. Sudah nyaris tiga jam mereka ada di sini dan kondisi Nero semakin lama semakin lemah.
***The Flower Boy Next Door***
15.45
Matt merasakan sebuah remasan di bahunya yang membuatnya sadar. Jacob telah duduk di sampingnya. Menatapnya tanpa berkedip tapi tidak mengatakan apa-apa. Tapi Matt setidaknya tidak lagi sendirian.
Nero sejak tadi masih ada di dalam ruang operasi. Dia dipindahkan dari IGD ketika kondisinya kritis untuk melakukan operasi besar yang membuat jantung Matt mencelos. Matt bahkan tak ingat lagi bagaimana dia berhasil menandatangani seluruh berkas dari rumah sakit dengan tangan gemetar. Dan semakin ketakutan melihat perawat dan dokter berulang kali masuk keluar masuk ke dalam ruang operasi, dari satu orang menjadi dua orang, lalu jadi tiga orang. Membawa stok darah sekaligus pula berlumuran darah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Nero? Kenapa ada begitu banyak orang yang ada di dalam sana?
Sudah beberapa jam dan mereka belum bisa memberitahunya bagaimana keadaan Nero selain: “Kami sedang berusaha semaksimal mungkin.“
Semaksimal apa? Matt ingin menjerit. Dia frustasi oleh rasa ketakutan, kepanikan, dan rasa ngeri, karena tak mampu berada di samping Nero padahal jarak mereka begitu dekat.
“Matt, aku harus mengatakan ini padamu.” Jacob akhirnya bicara setelah dia diam cukup lama.
Matt tidak mengatakan apapun. Dengan gelisah dia mencengkram lututnya, dengan tangan masih berlumuran darah dan sudah mulai menghitam.
Jacob memutuskan untuk berbicara. “Polisi sudah menangkap Deborah. Dia akan segera diadili.”
Rahang Matt mengeras. “Aku tak ingin bertemu dengannya. Jika kau tetap memaksaku aku sendiri yang akan membunuhnya dengan tanganku.”
Jacob menggeleng kecil. “Kau tak perlu bertemu dengannya. Aku akan mengurusnya. Yang ingin kukatakan adalah bahwa wanita itu punya kelainan.”
“Tentu saja!” Matt meraung. Dia gila. “Dia psikopat! Menurutmu apa lagi kata yang pantas untuk wanita gila itu sampai dia rela menyebrangi benua hanya untuk membunuh seluruh anggota keluargaku?”
“Matt—”
“Dua tahun setelah aku menikah dia membunuh keluargaku! Dan polisi bilang itu kecelakaan karena tak menemukan bukti yang cukup untuk menjeratnya. Tak lama kemudian Theressa. Membuat Nero dihantui mimpi buruk setiap malam karena melihat kematian Ibunya sendiri. Lalu ada Jennifer juga yang harus terkena imbalanya padahal dia tak pantas menanggung kematian dan dia nyaris membunuh Ageha juga! Sekarang... Nero...”
“Matt,” Jacob memegang bahunya. “Aku mengerti. Aku tahu perasaanmu. Aku ini temanmu sejak kecil. Kau pikir aku ke sini untuk apa? Menertawakanmu?” katanya lembut.
Matt terhenyak lagi ke kursi.
“Aku juga marah padanya. Sama sepertimu. Kau tenang saja. Aku akan mengurusnya. Dan kali ini akan kupastikan dia tak akan pernah lagi menyentuhmu dan keluargamu. Aku bersumpah.”
Matt membenamkan wajahnya ke kedua tangannya dan menangis. Kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa ketika dia baru saja mencicipi apa itu kehidupan dia harus harus merasakan kematian lagi?
Dad, maafkan dia...
Sekarang bagaimana caranya aku mampu memaafkannya Nero?
***The Flower Boy Next Door***
16.00
Nero kenapa kau lama sekali?
Aku menggigit bibir. Menatap telapak tanganku yang pucat. Sebutir salju turun. Meleleh manjadi butiran air.
Kepalaku mengadah.
Salju.
Ini pertama kalinya aku melihat salju turun dari langit. Mereka tampak seperti hujan dalam butiran kapas yang indah. Membasahi jalan dan membentuk gumpalan.
Aku tersenyum kecil melihat anak kecil yang tampak antusias dengan salju yang turun. Para pasangan yang berjalan sambil bergandengan tangan sekarang makin memperdekat jarak mereka. Saling memeluk satu sama lain dan tampak mesra.
Sementara aku masih sendirian.
Aku tahu bahwa Nero terlambat. Lalu kenapa aku masih menunggunya?
***The Flower Boy Next Door***
18.57
Dokter Nathan berhasil menyelesaikan proses jahitan paling akhir pada operasi kali ini.
Mereka nyaris saja menghela napas lega. Nyaris. Karena tepat saat itu EKG menunjukan sesuatu yang membuat Dokter Nathan ketakutan.
Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
Garis monitor telah datar.
Jantung Nero tiba-tiba berhenti berdetak.
“Siapkan defibrillator,” perintah Dokter Nathan.
Perawat segera membawa alat kejut jantung berbentuk setrikaan ke dekatnya. Yang lain segera mengoleskan gel bening ke dada Nero.
“200 joule. All clear?” tanya Dokter Nathan.
“Clear!” Mereka menjawab serentak, melepas pegangan dari tubuh Nero maupun tempat tidurnya.
Dokter Nathan meletakan defibrilator ke dada Nero. Tubuh Nero menegang. Tersentak ke atas oleh tegangan listik.
Tapi monitor EKG masih datar.
Dokter Nathan kembali melanjutkan tindakan resusitasi.
360 joule. All clear?
Clear!!
Mereka melihat dengan gugup pada EKG saat Dokter Nathan kembali meletakan alat kejut jantung itu ke dada Nero. Tempat tidur bergetar hebat.
Mereka menunggu sambil menahan napas. Tapi garis masih datar.
Dokter Nathan menelan ludah. Tidak. Dia tak akan menyerah.
“420 joule—”
Salah satu Dokter memotongnya. “Are you insine?
420 joule!” bentak Nathan.
Mereka mundur.
420 joule. All clear?
Clear!
Tim paramedis sekarang melihat dengan ngeri bagaimana Nathan meletakan lagi benda itu ke dada Nero. Untuk yang ketiga kalinya tubuh Nero terangkat. Tersentak oleh kekuatan listrik yang dahsyat.
Mereka memandang monitor EKG tanpa suara.
Piiiiiiiiiiiiiiiiii
Tapi garis monitor tak bergerak.
Dokter Nathan menutup mata.
“Waktu kematian?”
“19.03”
Dia gagal menyelamatkan Nero.
***The Flower Boy Next Door***
20.08
Tak datang...
Air mataku bergulir. Harapan yang tadi sempat membengkak terkikis sedikit demi sedikit.
Nero tak akan pernah datang. Karena dia tak ingin bersamaku.
Kuhapus air mataku. Dengan susah payah kupaksa kakiku bangkit.
Nero membawa hatiku pergi. Tapi dia tak bersedia memberi hatinya padaku.
Dan aku kecewa karena itu.
Cinta pertamaku mengucapkan selamat tinggal padaku. Cinta pertama yang awalnya manis lembut dan hangat berakhir dengan pahit dingin dan penuh kekecewaan.
Dan aku melangkah pergi tanpa berbalik.
***The Flower Boy Next Door***
5 tahun kemudian

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta
“Kau tak perlu mengantarku.” Devon menggaruk-garuk kepalanya dengan gelisah begitu aku sampai di bandara.
“Mana mungkin. Ini akan jadi terakhir kalinya aku melihat tampangmu yang menyebalkan itu.”
Devon memutar bola matanya. “Pantas saja kau masih jomblo sampai sekarang. Jika kau masih remaja, sikapmu itu akan dibilang manis dan enerjik. Tak ada yang mau mengambilmu jadi isteri kalau kau bersikap seperti itu terus saat kau menginjak usia dua puluhan.”
“Sialan kau.” Aku mengijak kakinya dengan sebal.
Devon meringis. Mengelus-elus kakinya. “Cewek kasar!”
“Kalau aku tak menikah kan ada kau,” ledekku.
“Siapa yang mau menikah denganmu?” balas Devon jengkel. “Aku pasti kehilangan kewarasanku jika aku sampai menikah denganmu.”
Aku tertawa kecil. “Sekarang aku bisa mengerti kenapa Audrey putus denganmu dan memilih Zoe.”
Devon memutar bola matanya dan kembali berdiri tegak. “Sori, aku bukan tipe cemburuan melihat mantan pacar bersanding dengan teman sendiri.”
“Asal kau tahu saja kami belum menikah.” Tiba-tiba terdengar suara Zoe.
Aku segera tersenyum melihat Audrey yang digandengnya. Audrey segera menyambutku. Kami cepika-cepiki sambil terkikik geli.
“Kenapa kalian datang?” Devon menaikan alis.
“Tentu saja kami harus datang. Sahabat kami tiba-tiba saja mendapat beasiswa kedokteran ke London. Siapa yang bakal menyangka bahwa si preman Devon bisa mengalahkan ribuan orang di ujian bulan lalu?” balas Zoe.
Lagi-lagi Devon memutar bola matanya. “Itu bukan sesuatu yang membanggakan.”
“Kau sangat membanggakan,” kata Audrey.
Devon tersenyum hangat padanya. “Terimakasih,” katanya sungguh-sungguh. “Tapi aku tak akan tergoda.”
Audrey tertawa. “Mana Vion?”
“Kalian mengundangnya?” kata Devon tak percaya.
“Aku yang mengundangnya,” kataku cepat.
Devon memelototiku. “Dasar Nenek Lampir!”
“Demi Tuhan, Devon, sampai kapan kau akan terus membencinya?” Aku bertanya keheranan. “Dia tak seburuk itu tahu.”
“Aku tak membencinya. Aku hanya tak menyukainya.”
“Sama saja,” ujarku.
Kemudian Kak Vion muncul dengan seragam kemiliteran TNI yang menarik perhatian. Tubuhnya sekarang lebih tinggi lebih tegap dengan dada bidang dan otot-otot lengan yang mantap. Sepatunya berbunyi ketika dia melangkah. Wajahnya yang terbakar sinar matahari tersenyum hangat seperti biasa.
“Hey, sori aku telat. Baru kabur dari latihan,” katanya memelukku sekilas. Alisnya menaik melihat Audrey yang menggandeng lengan Zoe. “Tampaknya aku terlambat mendapatkan berita terkini.”
“Mau bagaimana lagi kalau kau tinggal di hutan belantara.” Devon bergumam sadis.
Kak Vion tertawa. “Sudah lama aku tak mendengar gerutuanmu itu, Devon. Kau tak berubah ya? Sayang sekali kau segera ke London. Aku akan merindukan keritikanmu.”
“Selagi aku masih di sini kau bisa menikmati setiap katanya.” Devon menambahkan.
Kak Vion lagi-lagi terbahak. “Kami juga. Sudah lama kami tidak berkumpul seperti ini dan rasanya sangat menyegarkan walau hanya sementara.”
Tapi aku benar-benar tak menyangka bahwa Devon bisa mendapat beasiswa. Dia bahkan menyelesaikan pendidikannya dalan waktu 3 tahun. Rekor luar biasa. Devon begitu bersungguh-sungguh ingin jadi Dokter untuk Mamanya.
Pengumuman panggilan untuk keberangkatan Devon membahana.
Time to fly,” gumam Devon.
Kak Vion memeluknya lebih dulu. Devon kulihat tersenyum kecil di balik punggung Kak Vion dan menepuk punggung Kak Vion dengan bersahabat.
Lalu dia memeluk Audrey yang sekarang berkaca-kaca.
Hey... don’t cry,” bisik Devon menghapus air matanya.
I‘m sorry,” isak Audrey.
Devon memeluknya. “It‘s okay. You have Zoe now. He’ll protect you well than me like a predator.”
Devon nyengir lebar pada Zoe yang balas nyengir padanya. Audrey tertawa kecil, memukul dada Devon.
Devon melepasnya dan ganti memeluk Zoe.
“Promise me, you‘d always love her and give her happiness,” kata Devon.
I promise,” kata Zoe.
Devon tersenyum lebar saat melepas pelukannya. Matanya lebih bersinar memandang Audrey. Dia memang pernah mencintai Audrey bahkan masih. Aku bisa melihatnya. Tapi Devon berbahagia dengan keputusan Audrey yang memilih Zoe ketimbang dirinya.
Devon adalah orang yang gentle, seperti yang selalu dikatakan Nero padaku. Ketika Devon melangkah mendekatiku, aku langsung memeluknya. Selama ini Devonlah yang ada di sampingku. Dia menjadi teman curhatku. Sahabat terbaikku. Menghiburku tiap kali aku bersedih. Di sampingku saat aku membutuhkan. Dan aku pasti akan sangat merindukannya.
“Aku belum pergi dan kau sudah merindukanku?” candanya. Aku tertawa kecil dan melepas pelukanku. “Niken berbahagialah. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan.”
Aku mengangguk kecil.
Devon tersenyum. Mengecup dahiku dengan sayang lalu menarik kopernya.
Bye,” katanya melambai.
Kami balas melambai padanya. Aku masih tinggal lebih lama untuk melihat pesawat Devon lepas landas. Memandangi langit biru yang cerah dan penuh awan sebagai penghiasnya dengan bentuk-bentuk yang sangat cantik.
Nero, the sky looks beautiful today. Your bestfriend is also flying under this beauty blue sky. What about you?
Do you see what I see today?
***The Flower Boy Next Door***
Arc de Triomphe, Prancis
Dengan earphone terpasang di telinga, pria itu mendengarkan salah satu lagu romantis.
Moi je n’étais rien
Mais voilà qu’aujourd’hui
Je suis le gardien
Du sommeil de ses nuits
Je l’aime à mourir

(Me I was nothing
But today
I am the keeper
Of her nights' sleep
I love her to death)


Rambutnya yang hitam halus diterbangkan angin. Dia mengadah. Menghadapkan wajahnya langit biru yang indah. Bibirnya tersenyum tak kala dia merasakan angin sepai-sepoi yang membelai lembut wajahnya.
Vous pouvez détruire
Tout ce qu’il vous plaira
Elle n’aura qu’à ouvrir
L’espace de ses bras
Pour tout reconstruire
Pour tout reconstruire
Je l’aime à mourir
(You can destroy
Anything you'd like
She will only need to open
Her arms
To rebuild everything
To rebuild everything
I love her to death)
“—o”
Elle a gommé les chiffres
Des horloges du quartier
Elle a fait de ma vie
Des cocottes en papier
Des éclats de rires
(She erased the numbers
From the area's clocks
She transformed my life into
Paper hens
Bursts of laughter)
Kali ini dia membuka matanya. Mata coklat terang yang indah menatap langsung ke langit. Melihat pilar dari Arc de Triompe yang menjulang tinggi di belakangnya. Tumitnya menghentak pelan seiring dengan alunan musiknya.
Elle a bâti des ponts
Entre nous et le ciel
Et nous les traversons
A chaque fois qu’elle
Ne veut pas dormir
Ne veut pas dormir
Je l’aime à mourir
 (She built bridges
Between us and the sky
And we cross them
Everytime she
Doesn't want to sleep
Doesn't want to sleep
I love her to death)
“—!!”
Rasanya dia mendengar ada suara di dekatnya.
Elle a dû faire toutes les guerres
Pour être si forte aujourd’hui
Elle a dû faire toutes les guerres
De la vie, et l’amour aussi
(She must have been part of every war
To be so strong today
She must have been part of every war
Life's and love's also
)
“Damn you Man! How many time I should call your name?”
Kali ini dia mendengar suara teriakan yang begitu jelas. Berdenging dengan luar biasa ke gendang telinganya ketika salah satu earphonenya ditarik dengan paksa keluar dari telinganya.
Elle vit de son mieux
Son rêve d’opaline
Elle danse au milieu
des forêts qu’elle dessine
Je l’aime à mourir
(She lives as well as she can
Her opalin dream
She dances in the middle
Of the forests she draws
I love her to death)
 “Jack!” Dia meraung. “It hurts!”
It hurts my ass,” Jack mengejek sambil memutar bola matanya. “What are you doing here?”
What the hell do you think I am doing?
Jack menaikan alis. “Ok forget it.” Lalu memilih duduk di sampingnya. “I always knew when I can‘t find you I just have to come here.”
Dia tersenyum.
“Every single time you come to France you always coming here just for sitting. Are you insine? Eiffel is better than Arc de Triomphe.”
“I know but I love being here. This place called my name.”
Elle porte des rubans
qu’elle laisse s’envoler
Elle me chante souvent
que j’ai tort d’essayer
De les retenir
De les retenir
Je l’aime à mourir
(She wears ribbons
That she let's fly away
She often sings to me
That I am wrong to try
To hold them back
To hold them back
I love her to death)
Jack menaikan alis. “Ok. You‘re weird now. Hey what happened with your brown hair?”
Dia tersenyum. “I don‘t want to look same with him anymore.”
“Same? With who?
Him.” Dia menjawab dan mengadah melihat langit. “I‘m his resemble.”
Jack juga ikut melihat langit. Mengerutkan dahi. “I don’t know you have twins. Is he died?
Tapi dia tak menjawab dan kembali menutup mata, menikmati angin dan lagu yang mendayu-dayu di telinganya.
Pour monter dans sa grotte
Cachée sous les toits
Je dois clouer des notes
A mes sabots de bois
Je l’aime à mourir
Je dois juste m’asseoir
Je ne dois pas parler
Je ne dois rien vouloir
Je dois juste essayer
De lui appartenir
De lui appartenir
Je l’aime à mourir
(To come up to her cave
Hidden beneath the roofs
I have to nail notes
To my wooden clogs
I love her to death
I must only sit
I must not talk
I must not want anything
I must only try
To belong to her
To belong to her
I love her to death)
Has there ever been anyone who thought so much of me in the past?
Sebuah jalan cerita cinta mungkin dimulai dari sebuah pertemuan singkat yang dilalui dengan kenangan manis tapi tidak selamanya berakhir dengan happy ending.
Ini hanya salah satu dari kisah itu.
***The Flower Boy Next Door***
TAMAT
Medan, 05 Juli 2013

1 komentar:

Bryan Cho mengatakan...

hah? jadi? apa temen"nya ga tau kalau Nero mati?
dan nero kembar juga ya?
endingnya bikin cengo
suka sih karena semua ga harus happy ending
cuma ga adil aja bagi Nero
ternyata mantan bisa begitu mengerikan

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.