RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 02 Agustus 2013

ILUMRG == 08 ==



08.
The Ex

KEYNA(POV)
Cody menjemputku tepat jam 7, mengendarai bugattinya yang berhasil menarik perhatian para tetangga begitu dia keluar dari mobil, apalagi begitu melihat penampilannya yang luar biasa bergaya malam ini.
Cody mengenakan kemeja rapi berwarna merah dengan kedua lengannya digulung sampai siku. Dasi berwarna putih tergantung lurus menutupi garis tengah kemejanya. Dia mengenakan leg jeans berwarna gelap dipadu dengan boots kulit bergaya yang mantap dibagian tumit, sehingga, ketika dia melangkah, kakinya jadi tampak lebih kokoh. Apa yang terbaik dari itu? Kacamata. Yep. Cody mengenakan kacamata hitam yang kontras sekali dengan warna kulit pucatnya.
Damn. He‘s gorgeous!
Bibir Cody tersenyum begitu melihatku. “Sore Key. Sudah siap berangkat?“
Kepalaku mengangguk kaku dengan susah payah, bertanya-tanya apa tak sebaiknya kami membatalkan konser malam ini, dan lebih baik di rumah saja semalaman sambil memeluknya. Ya ampun, Cody pasti akan langsung menolak dan pergi begitu saja.
“Kalau begitu, kau ingin aku menggendongmu ke mobil?“ tanyanya.
Aku mengerjap dan segera sadar apa maksud perkataannya barusan. Cody tersenyum menggoda dan aku sadar bahwa dia sedang bercanda. Aku terlalu lama mengaguminya sampai lupa bahwa aku harus naik ke mobilnya.
Cody membukakan pintu padaku begitu aku melangkah masuk ke dalam.
“Thank you.“
“You‘re welcome, Beauty.“
Benarkah dia memanggilku “beauty“? Aku tak salah dengar kan? Aku merasa melayang. Belum pernah ada yang memujiku “beauty“. Mereka selalu menyebutku “sexy“. Bukannya aku protes, tapi cara Cody memilih kata dan intonasi suara, membuatku merasa bahwa aku tampil cantik untuknya, dan hal itu membuatku lebih percaya diri di sampingnya.
Cody segera duduk di sebelahku, memakai seat beltnya dan tersenyum manis ketika berkata, “Gaun yang bagus.“
Wajahku merona, aku yakin itu. Tapi aku tak ingin jadi satu-satunya orang yang dibanjiri kata-kata pujian. “Malam ini kau tampil tampan dan elegan Cody.“
“Aku harus menandingi pacarku dalam hal berpakaian jika tak ingin dia kabur dariku.“ Cody menjelaskan dengan nada kasual, tapi kalimatnya barusan seperti gendang yang ditabuh bersamaan di telingaku dan berespon terhadap jantungku.
Dia melakukannya untukku? Cody ingin tampil seimbang dengan gaya berpakaianku yang mengenakan gaun, tampil berani dan seksi, juga glamor, sehingga dia layak berdiri di sampingku.  Aku tersentuh sekali. Mungkinkah hal ini ada kaitannya dengan Janson? Tentunya dia memiliki rasa untukku bila berbuat sedemikian jauh kan? Aku harus mencari tahu. Tapi aku harus hati-hati melakukannya. Aku tak ingin tampak seperti wanita stalker.
“Kita akan ke konser mana?” tanyaku menoleh padanya dengan penuh ketertarikan. Cody memang mengajakku nonton konser jazz tapi dia tak mengatakan apapun soal konser siapa.
Cody tak mengalihkan pandangan saat menjawab. “Bukan konser besar. Hanya konser para jazzer muda. Tapi temanku akan ikut berpartisipasi di sana.”
“Temanmu?” ulangku keheranan. “Siapa?”
“Thomson.”
“Thomson Black?” Aku mengulang tak percaya, menutup mulutku dengan kedua tanganku. Cody mengangguk kecil dan aku menjerit tertahan. “Dia temanmu?”
“Mhm. Kenapa?”
“Aku penggemar beratnya! Oh ya ampun aku tak percaya ini. Tak tahukah kau bahwa dia punya suara yang luar biasa? Semua lagunya benar-benar menyentuh hati. Loving in Death, Beautiful Flower, Let Me Fallin in Love, Having Your Soul, Deep Inside—“ Aku berhenti melihat Cody yang menatapku. Wajahku memerah lagi. “Sori.”
Cody tertawa renyah. “Kau benar-benar penggemar berat Thomson. Dia pasti akan senang bertemu denganmu.”
Mataku membulat lagi. “Aku bisa bertemu dengannya?”
Kedua bahu Cody mengangkat santai. “Kenapa tidak? Mungkin kita bisa minta tanda tangan dan foto bareng untukmu?”
“Aaw, Cody,” aku berkata, terharu sekali. “Makasih banget.”
“Bukan masalah besar, Key.”
Kami menghabiskan waktu kami sepanjang jalan dengan mengobrol. Cody memberitahuku bahwa Thomson mungkin tak akan membawa banyak lagu karena dia hanya tamu pendukung untuk para jazzer baru. Aku bilang itu tak apa karena hanya menonton jazz saja, dengan Cody di sampingku, sudah luar biasa cukup.
Begitu kami sampai, Cody membukakan pintu untukku. Aku turun dengan anggun, menumpukkan tanganku pada tangannya, setelah itu menggandeng tangannya untuk masuk ke gedung pertunjukkan yang berdiri kokoh, berwarna orange, yang sudah dipenuhi dengan lampu-lampu sorot.
JAZZER IN SHOW
Aku tersenyum lebar begitu kami bersama-sama masuk dengan para penonton lain. Cody menyerahkan tiket pada mereka—yang berwarna perak—khusus untuk VVIP. Wow, Cody bahkan mendapatkan tiket VVIP. Tiket itu menuntun kami ke barisan depan dan tepat duduk di kursi berlengan empuk yang menghadap ke atas panggung.
Tempat yang sangat eksklusif sekali.
“Aku sudah tak sabar,” bisikku pada Cody.
Cody mengangguk kecil, tersenyum menenangkan. “Aku tahu.”
“Tak tahukah kau kalau kau benar-benar perhatian?”
Dia memiringkan kepalanya sedikit, tanda tak mengerti. Lalu dia lambat-lambat mengatakan, “Bukankah itu sudah jadi kewajiban para pria?”
“Aku tak pernah diperhatikan sampai seperti ini sebelumnya,” kataku.
Cody tersenyum lagi. “Kuharap kau menikmatinya.”
“Memang dan harus.”
Sambil menggandeng tangannya, aku meletakkan kepala ke bahunya, menunggu mulainya konser dan menikmati kenyamanan di bahu Cody.
Aku mendengar Cody menghela napas. “Kau tahu,” katanya pelan, “ini kencan pertama kita.”
Aku mengerjap, menengadah, menatap matanya. Benar juga. Selama ini kami hanya makan dan tak pernah benar-benar kencan. Ini kencan pertama yang berhasil dibuat Cody, membuatku merasa bahwa ini bukan kencan, karena asal bersamanya segala hal yang kami lakukan berdua adalah kencan.
Tersenyum kembali, Cody mengecup dahiku, “Kuharap kita bisa seperti ini terus.”
Harapan itu seperti janji yang tak akan pernah terhapus.
Lampu-lampu dipadamkan. Gaung suara manusia segera berhenti. Di tengah panggung sekarang berdiri para jazzer, memainkan musik pertama mereka. Alunan lembut musik, lirik-lirik romantis dari suara-suara luar biasa yang melodis, berhasil membuatku terhanyut—dengan Cody di sampingku. Aku menggandengnya dan kadang dia mencium kepalaku. Terasa sangat sempurna.
Andai waktu bisa berhenti. Aku tak keberatan begini terus selamanya.
Hanya saja Bumi kan berputar dan Tuhan tak mungkin mau mendengarkan doa omong kosongku karena ada banyak sekali manusia yang berharap hari esok cepat datang.
Jadi dua jam kemudian—yang rasanya seakan satu menit bagiku—konser pun berakhir. Para penonton berdiri, memberikan applause riuh rendah. Kami juga melakukan hal yang sama. Mereka yang memberikan bunga mulai mendatangi backstage, termasuk aku dan Cody.
Tapi, tidak seperti tamu yang lain kami berdua lolos dengan mudah dari para security karena Thomson sendiri yang langsung meminta kami ikut dengannya.
“Konser yang bagus,” kata Cody begitu kami duduk di ruang rias Thomson.
Thomson, si pria Afrika-Amerika, dengan kulit gelap, mata yang bersinar, dan kepala botak, tampil tampan dalam balutan kasual: kemeja dan rompi peraknya. Dia tertawa renyah dan tampak menyenangkan.
“Terimakasih, Cody. Tapi aku tahu kau bukan pecinta jazz, kau seorang rocker.”
Well, wanita cantik di sini bilang kalau kau bernyanyi sangat bagus dan memujimu terus-terusan, jadi aku pikir tak ada salahnya melihat seberapa bagusnya dirimu,” balas Cody.
Mata Thomson tampak geli dengan komentar Cody. “Cody aku selalu suka candaanmu. Tapi siapa wanita cantik ini? Pacarmu?”
“Yep. Namanya Keyna.”
Jantungku langsung berhenti berdetak. Ini pertama kalinya Cody memperkenalkanku sebagai pacar kepada seseorang. Dan aku harus mengakui bahwa rasanya amat berbeda. Aku seakan melayang. Jauh. Jauh dan jauuuuuuuh sekali.
“Halo, Keyna,” Thomson mengambil tanganku dan mengecupnya dengan ringan. “Cody jarang sekali membawa wanita di sampingnya atau mungkin harus kubilang belum pernah sama sekali. Dan begitu dia melakukannya, dia langsung membawa yang terbaik.”
“Aku yakin Cody punya banyak wanita di belakangku tapi, kebetulan saja aku yang beruntung,” ujarku dan Thomson tertawa.
“Aku suka padanya, Cody. Kalian berdua mirip.”
Cody memutar bola mata. “Dia penggemarmu. Keberatan bila kau memberinya tanda tangan?”
“Jangankan tanda tangan, hati dan jiwaku pun akan kuberi untuknya.” Thomson terbahak lagi. Tapi aku tahu dia tak serius karena Cody juga tertawa.
Thomson mengambil selembar kertas dan menandatanginya untukku, lengkap dengan pesan pula. Kami bertiga pun berfoto bareng dan mengobrol selama tiga puluh menit sampai kemudian terdengar ketukan pintu.
“Masuk,” kata Thomson.
Pintu mengayun terbuka. Kami melihat seorang pria tinggi berpakaian formal dan luar biasa tampan masuk ke dalam, digandeng dengan seorang wanita cantik mengenakan gaun elegan panjang dan sepatu tinggi mengilap.
Mereka adalah pasangan pengantin baru yang membuat heboh publik karena pernikahan mereka yang tiba-tiba: Edgar Carter dan Bellinda Carter.
Oh my gosh!
“Edgar!” Thomson berdiri dari kursinya melangkah menyambutnya. “Sungguh kehormatan besar melihat aktor yang sedang sibuk bulan madu tiba-tiba muncul. Kalian tak seharusnya repot-repot begitu. Benarkan, Bellinda?”
Bellinda tertawa merdu. “Kau ini bicara apa? Jarang sekali kau mengadakan konser seperti ini. Tentu saja kami harus datang. Well, siapa gadis cantik ini? Pacarmu?” Bellinda menyodok perutnya. “Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sudah punya pacar secantik ini?”
Thomson tertawa. “Maunya. Tapi sayang wanita cantik ini milik Cody.”
“Cody?” Edgar mengulang kebingungan.
Thomson menunjuk ke tempat Cody yang duduk di dekat meja rias. “Cody.”
Cody berdiri, tersenyum kaku. “Hai, Edgar.”
Bellinda mendekati Cody. “Jadi kau Cody?” katanya terkejut. “Edgar banyak cerita tentangmu. Dia bilang kau teman baiknya. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Hai. Namaku Bellinda.” Wanita anggun feminim itu mengulurkan tangannya pada Cody.
“Cody Handerson,” kata Cody pelan. Nada suaranya aku menyadari tidak bersemangat seperti sebelumnya.
“Kenapa kau tak datang ke pernikahan kami?” Bellinda menggandeng tangan Edgar. “Padahal aku ingin kau ikut berbahagia bersama kami. Aku pikir Edgar bakal memilihmu jadi pengiringnya.”
“Benar. Aku juga tak melihatmu,” kata Thomson pada Cody. “Memangnya kau kemana?”
Cody tersenyum kecil. “Aku tidak enak badan.” Dia menatap Edgar memberikan tatapan memelas. “Kau tak marah kan?”
Edgar menahan napas. “Tidak. Tidak apa-apa.”
Bellinda tersenyum lagi. “Tapi kau sangat beruntung mendapatkan wanita seperti Keyna. Kalian pacaran?”
Cody mengangguk kecil. “Namanya Keyna. Kurasa kami harus pulang sekarang.”
“Sekarang?” Thomson mengerang. “Kita kan jarang bertemu. Paling tidak kita bisa minum sampai puas.”
“Aku—”
Aku memotong perkataan Cody menggandeng tangannya. “Tentu saja. Kenapa tidak?”
Thomson tampak girang. “Yes! Akan kubooking restoran yang bagus. Kalian bisa kan menunggu sejenak di luar sementara aku berganti pakaian?”
“Tentu saja,” kata Bellinda riang. Dia melangkah ke dekat suaminya memberikan tatapan penuh cinta padanya. “Yuk, Sayang?”
Edgar menatap Cody lalu tersenyum pada isterinya. “Yuk.”
Aku juga ikut menggandeng Cody ketika kami berjalan berdua melewati lorong. Pandanganku tak lepas dari suasana romantis yang diberikan Edgar dan Bellinda. Pasangan suami isteri itu memang sedang dimabuk cinta.
“Mereka serasi sekali ya kan?” Aku bertanya pada Cody.
“Mhm.”
“Menurutmu, kita bisa jadi seperti mereka?”
“Tidak.”
Suara Cody terdengar berbeda. Lebih keras dan kaku dari biasanya. Aku menoleh padanya. Langkah kami berdua jadi lebih lambat daripada Edgar dan Bellinda.
“Kenapa?”
Cody tengah memandang ke arah Edgar dan Bellinda dengan tatapan yang aku tak mengerti maknanya, pelan sekali dia akhirnya melihatku sehingga akhirnya tersenyum kecil walau raut wajah itu belum sirna sepenuhnya.
“Kita adalah kita, Key. Aku tak ingin menjadi orang lain.”
“Aku mengerti,” kataku, tersenyum lembut.
Raut wajah sebelumnya hilang, kembali saat dia memberikan kecupan pada dahiku.
“Kenapa kau tak pernah mau mencium bibirku? Masih menyukai mantanmu?” tanyaku dengan nada kasual, sekuat tenaga mengusir penasaran dan cemburu yang membengkak di dadaku.
Cody memegang lembut jemariku. “Aku bukan tipe pria yang suka menunjukkan caraku berciuman di publik. Lagipula, aku yakin pertanyaan kedua kau pasti tahu,” jawabannya.
Kepalaku bersandar di lengannya. Kaki kami melangkah pelan. Lebih lambat daripada kura-kura pesakitan. Tapi aku tak peduli. Aku menikmati malam ini.
“Kuharap kau bisa cepat mencintaiku dan melupakan mantanmu,” kataku pelan penuh harap.
“Aku sedang berusaha, Key.”
Dan aku merasa tak membutuhkan jawaban lain selain itu.

***

EDGAR(POV)
Entah mengapa ingin sekali rasanya aku meninju sesuatu, merusak barang terdekat, atau menghancurkan seluruh isi ruangan, saat melihat Cody bersama dengan seorang wanita cantik yang mengaku sebagai pacarnya. Andai saja aku bisa melakukannya.
Tapi aku tak bisa.
Dan kemarahan di dadaku sudah menggumpal, memanas, membakar dengan membabi-buta, sehingga aku nyaris tak bisa menahan diri untuk segera meraup Cody dari gandengan wanita sialan itu, mencekiknya sampai mati, dan kabur dengan Cody ke negeri antah barantah, atau tinggal di Amazon dan hidup berbahagia dengannya.
Nyaris.
Tapi aku malah menemukan diriku berdiri di sisi mobilku, bersama isteriku, nyaris tak merasakan apapun terhadap setiap ucapan ataupun sentuhannya, menunggu Thomson. Setiap perkataannya kujawab seperti angin lalu seakan aku sedang shooting. Segala hal yang kukerjakan seakan terjadi secara otomatis, seperti robot.
Duniaku beralih kepada Cody.
Dan aku merindukannya setengah mati.
Nyaris selama satu bulan aku tak bertemu dengannya sejak makan malam itu. Dia tak mau bertemu denganku, bahkan aku dilarang masuk ke apartemennya. Telepon tak diangkat. Pesan tak dibalas. Dan aku nyaris gila karena itu semua. Aku membutuhkan Cody untuk membantuku melewati hari-hari neraka pernikahanku. Tapi dia tak mau.
Dan aku bisa mengerti.
Hatiku remuk hancur melihat bagaimana terlukanya dia begitu mengatakan bahwa aku akan menikah. Suaranya yang bergetar menahan amarah dan kesedihan di suaranya masih terngiang di telingaku. Masih terpatri dengan sangat jelas bagaimana matanya yang indah menahan air mata. Mata itu tak pernah kecewa sebelumnya, dan aku berhasil melukainya begitu dalam sampai aku tak bisa memaafkan diri sendiri.
Kini melihatnya lagi, Cody jauh lebih kurus. Tak yang menyadarinya tapi aku tahu dengan sangat baik. Matanya tampak lelah. Hanya saja wajahnya masih sama seperti dulu: cute. Penampilannya hari ini lebih berani—dengan gaya yang tak mungkin pernah kupikirkan selama ini. Cody biasanya tampil sederhana. Mungkin Cody ingin terlihat berimbang dengan gaun Keyna, yang seksi dengan belahan punggung dan dada yang melebar, menunjukkan lekukan tubuhnya dalam balutan sutra ungu yang lembut dan mengilap.
Sesuatu yang namanya “cemburu“ meninjuku tepat di ulu hati.
Cody tak pernah melakukan hal itu sebelumnya padaku. Cody selalu tampil praktis. Kenapa dia repot-repot mau melakukannya pada orang lain? Lagipula dari mana dia berkenalan dengan wanita seperti Keyna? Bagaimana bisa mereka pacaran? Kapan? Bukankah Cody seorang gay?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja. Tertahan di bibirku. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuatku tak tak tahan.
Apa Cody sudah melupakanku?
Aku tak rela.
Sial. Jika itu sampai terjadi memangnya apa yang bisa kuperbuat? Aku bukan lagi Edgar Carter yang dulu. Aku Edgar Carter yang sudah menikah, memiliki isteri cantik, penuh perhatian dan mencintaiku. Edgar Carter yang mencintai keluarganya sampai-sampai melakukan apa saja yang diperintah tanpa bantahan, termasuk masalah pernikahan. Edgar Carter pengecut yang takut mengakui pada keluarga sendiri bahwa dirinya gay dan takut dikucilkan, dikutuk, dan dibenci oleh seluruh dunia. Edgar Carter yang saat ini juga tak bisa bergerak walau menemukan orang yang dicintai tengah memeluk wanita lain.
Semua ini karena Cody. Karena dia memasuki duniaku. Dan sekarang aku bertingkah seperti anak kecil dengan menyalahkannya.
Pria itu, Cody Handerson, adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang berhasil mengubahku menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Selama ini hidupku berjalan liar tapi datar-datar saja. Aku terbiasa bersenang-senang dengan minum bir, mabuk sampai tak bisa bangkit keesokan harinya dan akan sakit kepala selama seminggu. Rokok tak pernah lepas dari saku dan aku biasanya menghabiskan 50 batang rokok sehari. Aku seorang playboy sejati yang dengan senang hati berganti wanita jika aku sudah bosan. Tak pernah sekalipun aku memikirkan tentang masa depan, keluarga, ataupun orang lain. Persetan dengan itu semua.
Duniaku berubah begitu mengenal Cody.
Cody punya kepribadian sederhana yang unik. Dia tak banyak bicara serius dengan pekerjaannya, tidak banyak bergaul, dan, yang mengherankan, dia punya banyak kenalan dimana-mana. Lalu aku sadar kesederhanaannya itu yang menjadi daya tariknya.
Jika tak berhasil mengalihkan perhatian stafnya yang terlalu lelah karena bekerja, dia akan keluar ruangan dan kembali tak lama kemudian membawa es krim dan coklat. Bayangkan, siapa yang bakal memikirkan hal itu sebelumnya! Tapi jelas hal itu berhasil menarik kembali semangat para staf yang dengan riang gembira mengambil bingkisannya lalu larut kembali dalam pekerjaan. Dalam rapat yang biasanya selalu “panas“ karena adu argumen sehingga kau tak tahu siapa yang berbicara dengan siapa, Cody akan memukul meja sekali. Suara itu biasanya berhasil membuat suasana sunyi dalam sekejap dan dia mengambil alih rapat. Bila stafnya sudah kelelahan dan tertidur akibat bekerja di deadline terakhir, hanya Cody yang bangun memberikan selimut pada masing-masing mereka bahkan masih sempat memeriksa ulang film walau hal itu membuatnya tak tidur semalaman.
Apa yang dia lakukan sangat nyata. Itu pula yang membuatnya disukai para stafnya. Selera humornya juga sangat bagus. Dan pengetahuannya luas. Mungkin itu sebabnya aku tak bisa lari dari arus itu dan belajar mengenalnya.
Lalu aku terkejut menemukan diriku tak merokok lagi karena Cody selalu terbatuk parah tiap kali aku merokok di dekatnya. Sebatang pun tidak. Aku mulai menghindari alkohol karena Cody tak kuat minum alkohol dan harus ada seseorang yang sadar untuk mengantarnya pulang tanpa kecelakaan. Yang paling parah aku kehilangan minatku pada wanita. Agak aneh memang karena aku pecinta wanita. Hanya saja, jika bersama Cody, berjam-jam bermain game, duduk mengobrol, bahkan hanya diam, menonton TV, berkomentar tentang payahnya siaran TV hari ini, dan tidak melakukan apapun serasa cukup sepadan. Menurutku itu pantas. Aku jarang sekali menemukan seseorang yang cocok untuk bertukar pikiran, tidak menyalahkanku dengan segala hal yang kulakukan, dan menilai diriku dari sudut pandang yang berbeda. Dia bahkan mengajariku bagaimana melihat keluargaku dari sudut pandangnya yang membuatku mengerti bahwa keluargaku mencintaiku.
Dan kurasa aku tahu aku jatuh cinta padanya.
Well, aku tahu Cody gay dua bulan setelah bekerja sama dengannya dan memang ada rasa takut berdekatan dengannya. Tapi sama seperti staffnya yang tahu bahwa Cody adalah gay. Tak ada satupun yang menghindarinya karena Cody adalah Cody. Apalagi Cody tak pernah menggoda. Dia bersikap netral layaknya teman pria biasanya. Malah lebih sopan.
Hal yang membuatku marah adalah saat tahu bahwa dia memiliki seseorang selain aku—Juno si Acessoris Designer. Meski mereka putus karena aku hal itu tak menghapus kemarahan yang menjadi-jadi mengetahui bahwa Cody memiliki orang lain di belakangku dan dia sama sekali tak mengatakan apapun. Setan sialan merasuki pikiranku mengetahui apa yang mereka lakukan saat aku tak ada. Apa yang dilakukan Juno pada Cody selama ini. Dan hal itu membuatku menghindarinya. Aku marah. Aku ingin menghindarinya.
Sialnya aku kalah. Aku menghindarinya tapi malah aku sendiri yang marah-marah.
Aku memang pecundang bodoh. Jika Cody memang memiliki kekasih apa urusannya denganku? Kami tak pernah membicarakan masalah pribadi sebelumnya.
Dengan pemikiran seperti itu, aku mencoba menjumpai Cody sekali lagi. Aku akan meminta maaf padanya. Aku akan mencoba berbicara padanya. Kami bisa mengulangnya dari awal.
Tepatnya itulah yang kami lakukan. Well, walau aku agak salah paham pada Jeremiah. Dan jika aku mau jujur, aku sungguh tak menyukai Jeremiah walau dia teman akrab Cody dan lebih parah daripadaku. Apalagi selalu ada nada sindiran sarkastik, bahkan kata-kata vulgar yang ditujukan padaku tiap kali aku ada 10 meter di dekatnya.
Bersama Cody adalah hal yang terbaik. Sampai aku merusaknya.
Kini aku sedang melihatnya bergandengan dengan Keyna. Rahangku mengatup dengan kesal.
“Mereka serasi sekali ya kan?” Bellinda bertanya di dekatku.
Aku tak menjawab tapi mengangguk dengan susah payah.
“Menurutmu mereka akan bertahan berapa lama?”
“Entahlah.” Aku berusaha tak menggeram. Tanganku mengepal. Tak bisakah wanita ini diam sebentar? Aku sedang berusaha menahan rasa frustasiku untuk menarik Cody dalam pelukanku. Aku merindukannya dan bahkan menyentuhnya saja aku tak bisa. Tidak. Jangankan itu. Dia bahkan menolak memberi kontak mata denganku.
Bellinda menghela napas, menyandarkan kepalanya ke lenganku. “Rasanya nyaman sekali. Aku mengerti kenapa Keyna melakukannya.”
Aku menoleh menatapnya lalu pada Keyna bergantian. Wanita memang selalu bermanja pada pria. Aku mengerti hal itu. Tapi itu adalah tempatku. Dulu akulah yang akan ada di tempat itu. Dengan menyandarkan kepalaku ke bahu Cody tiap kali kami menonton di kursi malas, mengobrol hal-hal yang tak jelas.
“Kalian lama sekali,” kata Bellinda, tersenyum saat mereka sudah sampai di hadapan kami.
Keyna melirik Cody yang menghindar melihat wajahku dan malah memelototi mobil ford di belakang kami.
“Cody tak suka berciuman di publik,” jawab Keyna.
Napasku terasa terhenti.
“Keyna, kau tak harus mengatakan itu,” Cody memutar bola matanya.
Bellinda dan Keyna terkikik. Keyna dengan manja semakin mempererat gandengannya pada lengan Cody sehingga aku yakin jika dia melakukannya terus-terusan dua jam lagi, lengan itu bisa putus. Aku tahu dengan baik seberapa lembutnya lengan Cody.
“Kapan kalian berkenalan?” tanyaku sebisa mungkin terdengar biasa saja. Tapi bukan Cody namanya jika dia tak bisa membaca maksud ucapanku barusan.
“Belum lama,” kata Cody singkat.
“Seberapa lama?” tanyaku tak sabar.
“Belum ada sebulan.” Cody bergumam lagi-lagi menghindari mataku.
“Tepatnya di malam pernikahan kalian.” Keyna menjawab cepat. Aku dan Bellinda melotot tapi Bellinda lebih ke arah bahagia dan aku kaget.
“Kalian bertemu di malam pernikahan kami?” Bellinda mengulang. “Wow, aku tak menyangka bahwa hari pernikahan kami justru jadi momen paling bersejarah dalam pertemuan kalian.”
Aku tak menyangka malam pernikahanku adalah malam dimana Cody memutuskan mencari penggantiku dan pengganti itu adalah seorang wanita, pikirku masam.
“Dan,” sambung Keyna, tersenyum pada Cody, “keesokan harinya dia melamarku.”
“Apa?” Aku terkaget.
“Key,” Cody memperingatkannya.
“Kenapa? Aku tak boleh mengatakannya? Bukankah itu kenyataan?”
“Memang. Tapi—”
“Apakah itu artinya kalian akan segera bertunangan?” Bellinda memotong bertanya dengan penasaran.
“Kami belum terlalu mengenal.” Cody menjawab tersenyum kecil. “Jadi kami akan pelan-pelan dulu menjalani hubungan kami.”
“Tapi kau melamarnya. Kau pasti sangat menyukainya kan? Love at the first sight?” Bellinda tak mendengarkan dan terus bertanya. Aku tak ingin menghentikannya. Walau kesal dan marah aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cody bukan tipe orang yang melamar orang lain yang baru dikenalnya dalam satu hari. Dia bukan tipe seperti itu.
Cody meringis. “Ya. Kurasa ya.”
Omong kosong. Aku bisa melihat kebohongannya. Cody bukan tipe orang yang setengah-setengah menjalin hubungan. Aku kenal dia dengan sangat baik.
Dia masih mencintaiku.
Dan aku bahagia atas hal itu.
Masalahnya, jika dia bersikeras melamar Keyna, itu artinya mereka pasti akan menikah cepat atau lambat. Apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Cody memberikan lamaran? Aku tak bisa memerkirakannya.
“Hey, sori menunggu lama!” Thomson akhirnya muncul. Cody segera menghela napas lega. Dia tak ingin berlama-lama lagi denganku.
“Kita akan minum dimana?” Cody bertanya dengan segera.
“Di Leotzh. Aku sudah pesan satu kamar untuk kita agar bisa bersenang-senang tanpa terganggu dengan fans.”
“Kalau begitu aku dan Keyna harus mengambil mobil dulu.”
“Ok. Kami akan menunggumu di depan Leotzh ya?”
Cody mengangguk tersenyum kecil dan bersama Keyna melangkah pergi.
Dia bahkan tak mau repot-repot untuk mengajakku bicara.

***

CODY(POV)
Sesampainya di parkiran Leotzh, aku menemukan diriku tak bisa turun dari mobil. Aku sama sekali tak ingin bertemu dengan Edgar. Tak pernah terpikir secuilpun dalam pikiranku bahwa kami akan bertemu kembali di konser Thomson.
Yang ingin kulakukan saat ini cuma kabur dari tempat ini, secepatnya mengungsi ke tempat sunyi, lalu membenamkan kepalaku ke atas setir. Instropeksi diri.
Sialnya aku tak bisa.
Keyna begitu bersemangat untuk mengobrol dengan Thomson dan Edgar, aku tak mungkin mengecewakannya.
“Kau baik-baik saja?”
Dengan cepat aku mengangguk dan tersenyum. Ya ampun. Aku yakin senyumanku pasti jelek sekali. Remi sering “menceramahi“ku bila aku memaksa diri tersenyum padahal tidak ingin karena katanya sangat jelek sekali. Mirip orang sakit gigi.
Tapi Keyna baru mengenalku, jadi dengan mudah termakan kebohongan putihku.
“Kalau begitu, ayo kita keluar. Aku sudah lapar. Kau?”
“Tadi aku lapar. Tapi sekarang aku ingin muntah.”
“Aku juga lapar,” kataku. Hebat. Sekarang aku berbohong dengan begitu mudah. Keyna segera keluar dari mobil jadi aku mau tak mau terpaksa harus melepas sabuk pengamanku dan keluar dari kenyamanan mobilku.
Welcome, Nightmare.
Edgar menatapku begitu dia turun. Isterinya menggandeng mesra di sampingnya dan aku segera mengalihkan pandangan. Shit. Mereka mesra sekali. Aku tak tahan melihatnya.
“Cody,” sentuhan lembut tangan Keyna membuat perhatianku teralih. Aku menunduk, tersenyum padanya. Fokus Cody. FOKUS. Kau hanya cukup menatap Keyna, mendengarkan setiap perkataannya, dan berada di dekatnya, maka semua akan baik-baik saja.
Ya, aku bisa melakukannya!
“Wajahmu pucat sekali,” kata Keyna.
Suaraku kembali tenang saat menjawab, “Aku kelaparan.”
Keyna tertawa. “Sungguh? Kalau begitu tunggu apa lagi? Aku tak mau membuat pacarku kelaparan.” Dengan penuh semangat Keyna menarik tanganku, sehingga mau tak mau aku tertawa kecil. Keyna—aku menyadari—adalah seorang wanita sederhana yang terpaksa berubah menjadi glamour karena pekerjaannya sebagai desainer. Ada sosok Keyna asli yang berusaha keluar tiap kali bersamaku dan aku senang bila bisa bersikap biasa padaku. Aku tak ingin memaksanya berubah. Keynalah yang berhak untuk memutuskan apa yang terbaik baginya.
Kami masuk, di belakang Thomson. Thomson mengatakan bahwa dia sudah memesan tempat dan pelayan segera membimbing kami pada sebuah pintu berwarna orange yang jaraknya tak jauh—dengan kikikkan di belakang punggung kami. Siapa yang tak mengikik melihat seorang aktor terkenal dan penyanyi terkenal datang bersama?
Ruangan yang kami masuki luas dengan meja bundar yang dilengkapi dengan taplak putih. Kursi-kursi berwarna krem mengelilingi meja, cukup untuk kami. Pemandangan malam di luar juga tampak indah dengan hamparan rumput yang luas dan taman yang indah. Di dinding dihiasi dengan lukisan-lukisan elegan. Dan sinar temaram dari lampu-lampu berwarna keemasan memperomantis suasana.
Great. Sekarang aku merasa akulah yang sedang berkencan.
“Kita pesan apa?” Thomson bertanya setelah dia duduk membuka menu. Salah satu alisnya menaik. Tatapan matanya penuh perhitungan. “Hmmm aku mau no 4 dan 15. Anggurnya jangan lupa. Kalian?”
“No 3 dan 8 tanpa kecap, please,” kata Bellinda.
Keyna menatapku. Matanya seakan mengatakan aku ingin pesan apa. Aku tersenyum menunjuk menu.
“Aah,” katanya tanpa suara.
“Kenapa kalian bisik-bisik?” Thomson menatap kami dengan curiga walau seringai candanya masih di sana. “Tolong berhenti bersikap mesra, aku satu-satunya jomblo di sini.”
Edgar membalasnya. “Hmph! Aku tak percaya. Seumur hidup aku belum pernah melihatmu jomblo.”
Aku tak mampu mengusir senyuman kecil yang mengungkapkan bahwa aku setuju dengan Edgar.
“Lihat? Cody saja setuju,” kata Edgar lagi.
“Cody,” Thomson mengerang jengkel. “Berpihaklah padaku.”
“Tolong jangan bawa-bawa aku ke dalam pembicaraan tak penting kalian,” kataku menunjukkan pada si pelayan nomor menu yang ingin kumakan.
“Jadikan dua,” kata Edgar tiba-tiba. Perkataannya barusan membuatku memandangnya. “Aku juga ingin makan itu,” jelasnya. Matanya tak lepas dariku.
Caranya memandangku masih sama seperti dulu. Kami terbiasa memakan makanan yang sama. Tidak peduli di tempat mahal dan murah.
“Aku juga mau,” kata Keyna yang ada di sampingku yang menjadikannya alasan jitu untuk memutuskan kontak mata dengan Edgar. “Apa rasanya enak?”
Aku mendengar suaraku terdengar asing saat menjawab, “Enak.”
“Minumannya, Sir?” Si pelayan bertanya.
“Urm...”
“Cody, kau tak bisa minum terlalu banyak,” Edgar memperingatkan.
Rahangku terkatup begitu memaksakan diri untuk melihatnya. “Kurasa segelas anggur tak masalah,” kataku dingin.
Thomson tertawa. “Ya ampun ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian jadi musuh bubuyutan sekarang? Cody, jangan bilang kau cemburu karena Edgar sekarang lebih perhatian pada isterinya.”
Bellinda tertawa mendengarnya.
Sejujurnya itu bukan lelucon. Itu kenyataan.
“Kau tahu, Bellinda, selama ini Edgar menahan diri untuk mabuk bila bersama Cody. Soalnya Cody mudah mabuk jika minum lebih dari lima gelas.” Thomson berbicara lagi.
“Sekarang aku bisa mengerti kenapa kalian disebut Duo Musketters,” kata Belinda.
Keyna menyambung. “Kalian pasti akrab sekali. Edgar benar-benar perhatian padamu.”
Lalu tanpa diduga kata-kataku meluncur keluar dari mulutku begitu saja dengan sangat lancar. “Kan ada kau yang menggantikannya.”
Ruangan langsung sunyi senyap. Tunggu. Tadi aku bilang apa?
Aku menatap Keyna yang wajahnya merona, lalu pada Thomson yang tertawa kagum dan pada Bellinda yang terkikik geli. Aku tak berani melihat Edgar karena tatapannya membakarku dalam sekejap. Dia pasti marah sekali.
“Sial Cody. Aku tak menyangka bahwa kau seorang perayu ulung dan sangat romantis!” Thomson terbahak.
“Keyna, kau beruntung sekali!” Bellinda begitu girang.
“Kau membuat Keyna bertekuk-lutut padamu, Cody. Lihat itu wajahnya memerah, ya kan, Ed?” Thomson menyikut Edgar.
Aku tak berani melihat Edgar.
“Tentu saja.” Edgar berkata. “Kau pasti senang ya, Key?”
“Jangan cemburu, Sayang,” Bellinda merangkulnya, mencium pipinya, “Cody sudah punya Keyna dan kau punya aku.”
Aku tak tahan lagi.
“Permisi.” Aku berdiri dengan tiba-tiba, mengagetkan Keyna.
“Mau kemana, Cody?”
“Toilet.”
Sebelum aku bisa memperkirakan tindakanku lagi, aku sudah melangkah keluar dari ruang makan dan berlari cepat menuju kamar mandi. Menggertakan gigi dengan susah payah, aku masuk ke salah satu bilik, membanting pintu, duduk dan menutup mulutku.
Air mataku jatuh begitu saja.
Aku sudah berusaha. Demi Tuhan, aku sudah berjanji tak akan menangisinya lagi. Kupikir tak akan ada lagi air mata untuknya. Kupikir air mataku sudah mengering untuknya. Kupikir aku bisa berlapang dada. Kupikir aku akan baik-baik saja. Kupikir aku akan bisa mencari penggantinya dengan mudah. Tapi begitu melihatnya muncul lagi bersama dengan isterinya--bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana mereka saling memandang--aku tahu aku tak sekuat itu. Pertahananku roboh dan aku kalah.
Kutekan tanganku ke mulutku untuk menghindari suaraku yang keluar bahkan menggigit bibirku kuat-kuat. Aku tak ingin ada orang yang mendengarku. Aku bisa mengatasi ini seorang diri. Aku akan baik-baik saja setelah keluar dari sini.
Ponselku berdering dan aku buru-buru mengangkatnya tapi tidak berani bicara.
“Cody, kau ada dimana? Aku datang ke rumahmu tapi rumahmu kosong.” Suara Remi terdengar di seberang.
Ini justru lebih parah dari yang kuduga. Remi akan tahu hanya dari perubahan suaraku saja. Bagaimana ini?
“Cody, kau mendengarku kan? Kenapa kau tak menjawabku?”
Aku memaksakan diri untuk tenang, menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan berdeham untuk menjernihkan suaraku. Aku baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja.
“Cody? Cody? Apa kau baik-baik saja?”
“Mhm,” kataku.
“Cody... geez,” Remi menggerutu lalu menghela napas lega. “Jangan menakutiku seperti itu.”
Aku menarik napas dan bergumam. “Hmmmm.”
“Aku ada di rumahmu. Kau akan pulang sebentar lagi kan?”
“Mhm.”
“Jam berapa?”
Jam berapa? Aku juga tak tahu! “Hmmmm.”
“Ok ok, aku ngerti. Kau pasti sedang bekerja ya? Caramu menjawabku tak bervariasi. Tapi, hey aku akan datang lusa ke rumahmu dan berencana menginap, jadi, please, siapkan makanan yang enak untukku ya?”
“Mhm.”
“Bye Cody. Love you, Sob.”
“Mhm.”
Remi memutuskan telepon. Well, kadang dia lebih idiot daripada yang teridiot. Dengan mudah aku lolos dari pertanyaan Remi—yang aku yakini tak akan berakhir. Dan bila aku mengungkit-ungkit masalah Edgar, penjelasannya akan jadi lebih ruwet.
Aku menarik napas beberapa kali. Menghapus air mataku. Tampangku tak boleh terlihat menyedihkan karena Keyna akan khawatir dan yang lainnya akan bertanya kenapa aku kembali terlalu lama.
Dengan susah payah aku bangkit, meyakinkan diri bahwa aku siap, dan hatiku mencelos begitu membuka pintu dan melihat Edgar berdiri di balik pintu.
“Kita harus bicara,” katanya dengan intonasi suara yang penuh tekanan.
“Tak ada yang harus dibicarakan,” gumamku dan keluar dari bilik setelah menyingkirkannya.
Edgar memegang lenganku. “Please, Cody.
Gigiku gemertakan. Satu sentuhannya berhasil membuatku tak mampu melangkah. Aku menyentakkan tanganku sehingga terlepas darinya. “Pemilihan tempatmu sungguh bagus,” kataku dingin.
“Cody—”
“Ed, kau sudah menikah,” kataku tenang, jelas dan tak mungkin baginya untuk tidak mendengarku. “Kau punya isteri yang baik. Cintailah dia.”
Edgar menatapku dalam beberapa detik. Dia tidak merespon selain memberikan ekspresi datar. Satu hal yang kuketahui dengan pasti, dia berusaha menutupi perasaannya walau aku bisa membaca dengan jelas bahwa dia sama sepertiku. Kami tersakiti.
Hanya saja Edgarlah yang terlebih dahulu membuangku. Dia tak pernah membicarakan masalah pernikahannya padaku dan mengambil langkahnya sendiri. Bila dia mengatakannya terlebih dahulu, hubungan kami tak akan jadi seperti ini. Kami akan baik-baik saja.
Aku bukan tipe orang yang memaksa orang lain untuk tinggal di sampingku. Aku tak akan pernah menyalahkannya bila dia lebih memilih orang tuanya daripada aku. Aku akan mengerti. Aku akan berusaha mengerti. Aku tak pernah menyalahkannya. Tapi dia rupanya tidak mempercayaiku. Dia berpikir bahwa aku akan memaksanya memilih antara aku dan orang tuanya. Aku tak akan sekejam itu. Aku mungkin akan marah. Tapi aku tak akan pernah menyalahkannya.
Begitupula sekarang.
Hanya saja aku butuh waktu.
Aku tak ingin bertemu dengannya saat ini. Aku tak ingin membicarakan apapun atau mendengar bantahan dan alasan untuk membela dirinya. Aku sudah melihat hal yang lebih dari cukup.
Bellinda wanita yang baik. Dan mereka berdua cocok. Mereka berdua sudah menikah.
Habis perkara.
“Cody,” kata Edgar pelan melangkah mendekat sehingga dia berdiri di depanku dalam jarak tiga puluh senti. “Jangan membenciku.”
Suaraku tercekat. “Aku tak membencimu.”
“Aku tahu,” gumamnya. Jemarinya menyeka mataku. “Kau menangis untukku.”
Aku menyingkirkan tangannya. “Kau harus melihat dimana kau berada. Kau harus berhati-hati terhadap status, karir, dan citramu.”
Edgar menggeleng lelah. “Entah kenapa itu menjadi tak penting lagi.”
“Kalau begitu, setidaknya kau harus memikirkan keluargamu,” kataku dan penjelasan itu tampaknya menyadarkan Edgar.
“Kau benar.” Edgar mengangguk kaku.
“Sudah saatnya aku pergi dari sini.” Aku berbalik melangkah cepat-cepat menuju pintu.
“Kenapa aku bisa bertemu denganmu?” kata Edgar tiba-tiba.
Aku menatapnya dengan tak percaya.
“Mengapa... aku merasa bahwa aku tak menyesal...”
“Terhadap apa?”
Edgar tersenyum kecil. “Terhadap semua hal yang kita lakukan bersama.”
Tanganku mengeras pada pegangan pintu. “Mana aku tahu.”
Lalu dengan begitu aku membuka pintu dan keluar secepat kilat. Aku takut jika mendengar Edgar bertanya terus-terusan, dia akan mengatakan semuanya pada isterinya. Tentang semuanya. Tentang kami. Dan bila hal itu terjadi maka seluruh dunia akan membuangnya.
Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi padanya.
Cukup aku saja yang merasakannya.

***

Medan Kamis 13 Juni 2013

2 komentar:

richa selvie joseph mengatakan...

Saya baca ini cerita di ffn judulnya I love you, boy.
tapi main castnya bukan ini udah diganti.
apa itu kamu?
atau mungkin dia remake dan udah izin ke kamu.
tapi dia gak jelasin di disclaimernya.

prince.novel mengatakan...

Dear, @richa Selvie Joseph
Terima kasih sudah memberitahu saya
Saya tidak pernah memberi ijin penciplakan cerita saya pada orang
tolong kasih linknya please
saya akan minta pertanggung-jawaban dari penulisnya
atau kamu bisa tegur juga boleh

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.