RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 06 April 2013

Amour Cafe Special Edition (Menu 2)


Amour Café
Kian Special Edition
1


“Selamat pagi.”
Suaranya membuatku menarik ujung-ujung bibirku, menunjukan senyumanku yang khas. Disana berdiri A-Lex, pacarku yang manis—walau kalian tidak menganggapnya begitu. Hari ini dia natural seperti biasanya dan memancarkan aura yang membuatku ingin memeluknya. Tak seperti biasanya, kali ini dia memakai bando putih dan melepas rambutnya. Ini sedikit tak biasa. Dia jadi lebih cantik dari biasanya.
“Pagi, A-lex,” balasku. “Cepat naik, kalau nggak kita bakal telat.”
A-lex segera melompat ke belakang sepedaku. Aku bisa merasakan detak jantungku yang tiba-tiba menambah kecepatannya berdetak. Memang sejak aku pacaran dengan A-Lex, aku bisa saja nyaris pingsan kalau dekat-dekat dengannya. Aura tak biasanya itu membuatku tak tahan. Apalagi kepribadiannya.
Sesungguhnya aku sudah tahu A-Lex bahkan sebelum aku mengenalnya.
Pertama kali aku bertemu dengan A-Lex saat hari pertama masuk sekolah. Perhatianku teralih karena dia satu-satunya cewek di dunia ini yang bahkan tak melihatku saat aku lewat. Memang sih saat itu aku merasa dia mungkin tidak melihatku. Tapi jika sampai berulang-ulang, maka itu lain ceritanya. Jadi, selama ini aku menyebutnya sebagai “cewek normal”. Cewek yang pertama kali bertingkah biasa saja saat melihatku.
Namun, aku memilih untuk tidak memedulikannya. Siapa tahu itu cuma perasaanku. Kesan kedua kami bertemu bahkan membuatku terkejut setengah mati.
Pada waktu itu ada kecelakaan dan cuma dia satu-satunya manusia yang peduli pada si “korban” sementara seluruh penonton tak mau melakukan apapun. Mereka berkerumun seperti orang bodoh, melihat seorang cewek yang memohon meminta pertolongan bersama orang yang terkapar dan berdarah di jalanan.
Hatiku tergerak saat itu. Dengan segera aku menghentikan taksi, menyuruhnya berhenti dan membantu dia membawa si “korban” ke rumah sakit. A-Lex bahkan mengeluarkan uang tabungannya cuma untuk membantu orang itu. Maksudku, memangnya masih ada orang di dunia ini yang mau mengeluarkan uang cuma untuk membantu orang? Udah cukup kayaknya nyawanya diselamatkan.
“Makasih, ya.”
Dia cuma bilang itu. Tapi entah kenapa aku merasa puas sekali.
Setelah itu aku sering memerhatikannya diam-diam. Kulihat dia sering bekerja sehabis sekolah: restoran, toko rental, perpustakaan, bahkan di warteg. Dahiku mengerut dengan keheranan, memangnya dia butuh berapa banyak uang sampai harus bekerja keras sebanyak itu? Pantas saja dia sering kelihatan lelah, apalagi nilai-nilainya juga sama buruknya.
Lalu di hari itu, entah kenapa hatiku panas sekali melihat dia jalan-jalan berdua sama cowok yang lumayan tampan—yang menurutku nggak mungkin banget bisa dia dapatkan—andai saja aku tak memerhatikan kalau dia berdandan ala cowok. Yeah, aku memang sengaja masuk Amour untuk mengenalnya dan sedikit membantunya membagi selebaran. Tapi siapa disangka, kalau cuma satu orang yang mendaftar: A-ri-el.
“Jadi, kau tunggu aku di gerbang atau aku jemput di perpustakaan?” A-Lex bertanya saat aku memarkirkan sepedaku dengan aman ke parkiran sekolah. Cewek-cewek yang lewat di sekitar kami menunjuk-nunjuk kami seperti badut tontonan. “Jangan dipedulikan. Aku sudah biasa.”
“Aku yang tak biasa,” kataku dengan rahang mengeras. Tapi saat A-Lex tersenyum lagi, kemarahanku menguap begitu cepat. “Kau tunggu di kelas saja. Nanti aku jemput ke kelasmu—”
“Kenapa setiap kalian berdua pasti ada saja aura pink?” A-ri-el memotong, memarkirkan motornya ke sisi sepedaku. Dia melepas helmnya dan tersenyum. “Hai, Alex, kuharap aku tak mengganggu.” Katanya dan dia melanjutkan “Kian, ada yang mau kutanyakan soal olimpiade matematika. Ada waktu?”
“Aku ke kelas duluan,” A-Lex melonjak cepat dan menghilang sebelum aku mengucapkan sepatah katapun. Dengan jengkel aku melirik A-ri-el.
“Apa? Aku kan tak mengusirnya,” katanya dengan tampang tanpa dosa. Menyebalkan sekali.
“Memangnya kita berdua yang dikirim ke olimpiade itu?” aku menggendong tasku dan A-ri-el menyusul cepat ke samping. “Perasaan aku belum dapat pemberitahuan dari siapapun.”
“Ya. Kita berdua,” jawabnya dan dia melanjutkan dengan cepat, “Juan dan Luke terpilih untuk Fisika. Marred dan Oran untuk biologi. Ah, Estela dan Krisan katanya di Kimia. Aku kurang tahu untuk atletik dan bagian IPS. Tapi kita berdua yang punya saingan paling berat, kurasa.”
Aku sudah menduga kalau dia akan meneruskan topik ini. “Anak-anak IMG yang harus diperhitungkan kan? Tahun kemarin mereka mengirim Ian, mungkin kali ini Eugene. Anak KasihMulia juga punya empat orang itu kan? Siapa namanya?”
“Refan, Dirrel, Rachael dan Philip.”
“Yeah, mereka. Tahun kemarin katanya mereka membabat habis seluruh soal olimpiade.”
A-ri-el tertawa sejenak. “Kurasa kita tak punya harapan. Aku sudah periksa nama mereka yang ikut olimpiade, rata-rata sudah menang di kejuaraan internasional.”
“Aku sih, cenderung tak peduli.”
Setelah itu pembahasan kami dimulai lagi. Aku juga tak mengerti entah kenapa aku jadi tiba-tiba tertarik pada dunia pendidikan. Dulu aku tertarik pada dunia seni karena ada Hazel yang memaksaku untuk masuk, lalu sekarang ada A-ri-el, memasak karena Freddy dan cinta—hum, mungkin karena A-Lex.
***
“Apa kalian tak pernah kencan kemanapun?” Hazel menaikan alisnya, melipat tangannya dan berhenti dari pekerjaannya mengiris wortel. Tanganku yang sedang mencabik daging ikan berhenti. Kepalaku mengadah dengan dahi mengerut.
“Kencan? Belum. Kenapa?”
Hazel melotot lalu memutar kedua bola matanya. Bisa kulihat kata “ya, ampun” tanpa suara dari bibirnya. “Kalian ini pacaran atau tidak sih? Kenapa kalian tak jalan-jalan berdua saja hari Minggu?”
Aku menghela napas. “Karena,” kataku dengan nada sedikit jengkel, “A-Lex cuma punya waktu libur di hari Minggu dan kau ingin aku membuatnya kelelahan cuma karena kencan?”
Lagi-lagi Hazel memutar kedua bola matanya. “Kau benar-benar payah,” kata Hazel dan dia keluar dari dapur membawa piring berisi ikan.
Apa masalahnya sih kalau aku dan A-Lex tak pernah kencan? Yah, memang kami tak pernah kemanapun bahkan sejak kami jadian sebulan yang lalu. Tapi, itu dikarenakan kami sibuk sekali. Aku dan A-Lex sama-sama sibuk sekolah dan kerja di Amour. Dan aku juga sibuk dengan band. Jadi drummer itu nggak gampang. Memangnya gebuk-gebuk drum itu nggak butuh tenaga?
Namun, jika dipikir-pikir lagi, aku dan A-lex emang nggak pernah ngomong serius kalau bukan mengenai sekolah dan kerjaan. Bahkan pembicaraan kami setiap pagi rasanya bisa ditebak: selamat pagi, apa kabar, mau dijemput atau nggak dan habislah pembicaraan.
Yah… aku juga emang kepingin sih kencan layaknya pasangan normal yang lain.
Jika dipikir-pikir lagi, rasanya menyedihkan sekali.
A-Lex muncul beberapa menit kemudian, membawa bertumpuk piring. Dia memberikan senyuman simpul padaku. Belum lagi aku membalas, Kevin masuk dan mendorong A-Lex untuk cepat-cepat membereskan meja nomor sebelas.
“Apa?” kata Kevin menaikan alisnya. “Kau tak senang padaku?”
Aku memutar bola mata dan memilih untuk tidak membalasnya. Bertengkar dengan Kevin tak akan pernah membuahkan hasil apapun. Dia cuma akan bilang kalau dia yang berkuasa di Amour. Kalau dipikir-pikir, aku benar-benar merindukan A-Lex. Walau dia ada didekatku saat ini, aku sama sekali tak bisa bicara dengannya.
“Kau ada waktu Minggu ini?” Mikho masuk ke dapur, memberikan catatan pesanan.
“Aku kosong Minggu Siang. Kenapa?”
“Aku punya dua tiket nonton,” kata Mikho mengeluarkan dua tiket putih dari saku celananya. “Rencana awalnya sih aku mau ngajak cewek yang kutaksir. Tapi sayang dia punya janji sama pacarnya. Kau kan tahu sendiri kalo tak enak pergi nonton sendiri.” Aku menaikan alisku, sama sekali tak mengerti apa yang dia katakan. “Jadi pertanyaannya, kau mau pergi nonton berdua denganku atau kau ambil tiket ini buat kencan sama orang lain?”
Oh, mengertilah aku sekarang. “Aku ogah pergi denganmu, Mikho,” kataku sedikit jengkel. “Terakhir aku pergi berdua denganmu, dua mantan pacarmu nyaris membunuhku.” Ini benar sekali. Mikho punya banyak pacar, tak heran sekarang dia jomblo. Cewek-cewek itu pasti sudah tahu sebusuk apa Mikho walau wajahnya kayak malaikat.
“Oke. Kalo begitu kau pergi sama Alex kan?” dia meletakan dua tiket itu ke meja.
Kutatap tiket itu sejenak. “Tapi aku tak tahu apakah A-Lex bisa pergi atau tidak,” gumamku.
“Dasar payah,” gerutu Mikho. Dia menunduk sedikit dengan kepala menjulur keluar dari celah dapur. “Woi, Alex!” dia berteriak. “Hari Minggu siang ada waktu nggak?”
“Nggak ada. Kenapa?” balas A-Lex.
“Mau kencan denganku? Kita nonton berdua.”
Aku cepat-cepat menyingkirkan kepala Mikho dan balas berteriak, “Jangan dengarkan dia.”
Mikho nyengir lebar saat aku menatapnya. Dia menyelipkan tiket itu ke saku bajuku lalu menepuk-nepuknya dengan penuh kebanggaan. “Selamat berjuang, Pejuang.” Dan dia pergi.
DASAR TUKANG IKUT CAMPUR.
***


5 komentar:

Putri Ariana Rasyid mengatakan...

Whoaaaaaah
Semogaa ada lanjutannya :)

Dayu Sri Antari mengatakan...

Hwaaaaa...
Suka banget!
Author, adegan romantis Kian X Alex ditambah dong...
jarang banget liat mereka mesra-mesraan(?)
Paling seneng kalau liat Kian mulai memerah...
kebayang banget pasti cute nggak ketulungan.
Oh ya... prince ini laki ya???
Aku penasaran >.<

hehhehhehe... maaf juga baru komen, aku baru nemu blogmu.
Ini dilanjut dong ya... hehehhehe pwisssssssss....

fida tambunan mengatakan...

kejamnya author,, massa udh sebulan jadian alex n kian belum pernah dibuat kencan
ckckc

#kabur sebelum digetok author
:D


aq suka bgt ma lex-ki couple
ditunggu lanjutannya thor

faufau mengatakan...

loh, kan alex bilang hari minggu nggak ada waktu, kok si mikho tetep ngajak?

Bryan Cho mengatakan...

gaya pacaran Kian ama Alex kok persis ya?
hahhahaa
ucapannya juga udah hapal di luar kepala
go.. selamat berjuang Tuan Pejuang
meski aku masih kepikiran Hezel #ditendang Kian

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.