RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 28 Juli 2011

Amour Cafe Receipt Eleven

by: Prince Novel

Receipt Eleven

From : Karel

Alex, aku mau bicara denganmu hari ini. Jangan kabur.

Perasaanku tak tenang ketika pesan itu masuk. Jadi disinilah aku sekarang, menunggu mobil Karel di persimpangan jalan. Matahari bersinar dengan sangat teriknya dan tak ada satupun siswa yang berkeliaran di tempat sunyi begini. Dua menit kemudian mobil Karel nongol dan berhenti di depanku. Dia menyuruhku naik. Aku cuma bisa menurut.

“Aku harus kerja sore ini,” aku sengaja mengucapkan itu. Saat ini aku belum mau dipecat.

“Kenapa kau harus bekerja di café itu?” katanya jengkel. “Kau pikir kau tak tahu itu café apa. Amour café. Café cinta. Sengaja bikin pakai bahasa Prancis. Apa-apaan sih mereka? Kau ini kan cewek. Harusnya kau duduk diam saja membantu Tante bukannya berkeliaran sampai malam. Pantas saja aku menemukanmu kemarin malam-malam. Kau baru pulang kerja ternyata.”

Dia memulai omelannya dalam sekali tarikan napas.

“Café itu café normal kok. Aku cuma jadi pelayan disana.”

Karel menekan klakson, menyuruh mobil di depan cepat jalan. “Kau jadi pelayan cowok kan disana? Kau pikir aku tak tahu kalau disana cuma menerima karyawan cowok?”

Aku cuma bisa nyengir.

“Apa kau tahu orang-orang seperti apa yang berkeliaran disampingmu itu?” dia menatapku, tampak frustasi.

Aku menggeleng perlahan. Aku belum mengenal mereka lebih lama, tapi aku tahu kalau mereka teman yang baik. Orang-orang baik. Seperti itulah perkiraanku.

Karel mengambil napas. Menahan emosi. “Kevin, playboy yang paling berbahaya. Pacarnya lebih dari satu. Dia calon direktur sebuah perusahaan besar yang sekarang bekerja sama dengan pemerintah. Berurusan dengannya akan menambah daftar permasalahan saja.

Lalu Felix, dia anak dari salah satu direktur yang memegang sebuah rumah sakit besar dan ditakdirkan menjadi seorang Dokter. Dia memang keren tapi sifatnya jelek. Kalau bermasalah dengannya, Ayahnya yang tak bisa membedakan mana yang baik dan benar itu akan membahayakan dirimu bahkan bisa membuat namamu di black list di seluruh penjuru Indonesia.

Kemudian yang terakhir adalah Hazel. Dia yang termuda dari antara mereka bertiga—”

Dahiku mengerut. “Apa? Hazel?”

“Ya. Hazel.”

“Bukannya dia mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi?” kataku lagi. Bukannya Felix yang paling muda?

“Bukan. Hazel yang paling bungsu dari ketiga sepupu itu. Usianya masih tujuh belas tahun. Dia lompat empat kelas karena otaknya yang begitu pintar. Sebenarnya, dialah calon pemegang perusahaan, tapi karena dia masih muda dan emosinya tak begitu stabil jadi dia menjadi pewaris kedua.”

Mobil kami berbelok. Aku mencerna lagi. Berarti aku dan Hazel seumuran dong.

“Sebaiknya kau jaga jarak darinya.”

“Memangnya kenapa?”

Mobil kami berhenti di tempat sepi. Dia melepas sabuk pengamannya dan menatapku. “Dia berandalan. Wajahnya boleh saja bertampang malaikat begitu, tapi dia hobi berkelahi. Tak ada berita kejahatannya karena dia cuma mematahkan tangan mereka dan ada pengacara yang membelanya.”

Aku mendengus. “Kau pasti bercanda kan?” Hazel tidak begitu. Dia begitu baik. Saat pertama kali mengenalnya aku tahu dia orang yang baik.

“Aku tak bercanda,” Karel menatapku. Matanya tegas sekali dan aku yakin kalau dia jujur. “Mereka cukup bermasalah. Makanya aku tak mau kau dekat-dekat mereka. Tapi kau memang lain, Alex, itu sebabnya kau menarik perhatian mereka dan itu yang kutakutkan.”

“Oh yeah? Definiskan dulu apa itu lain?” aku jengkel. “Mereka juga bilang begitu waktu pertama kali aku mengenal mereka.”

“Aku tanya padamu. Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu saat melihat mereka?”

Aku mencoba mengingat-ingat. “Erm… Hazel waktu itu memakai topeng tengkorak. Kevin muncul dari jendela dan Felix keluar dari café bobrok sambil mengomel.” Jawabku sambil menopang daguku.

Karel kembali heran. “Nah, kan, apa kubilang? Kau itu lain.”

Kugertakan gigiku. “Memangnya itu nggak normal? Aku harus berekspresi seperti apa?”

Karel menghela napas. “Alex, orang normal yang baru pertama kali melihat mereka akan langsung kabur atau teriak histeris atau wajahnya memerah atau kegirangan dan berupaya menjadi pacar salah satu dari mereka jika melihat mereka. Dan kau?”

Aku diam.

“Kau tak merasakan apapun. Itu sebabnya aku bilang kau lain.” Karel menghela napas. “Kau memerlakukan mereka seperti orang normal yang biasa-biasa saja dan tak punya kelebihan apapun dan hal itulah yang membuat mereka merasa kau istimewa.”

Oh iya, aku baru ingat. Kevin sempat menanyakan pendapatku tentang tampang mereka dan aku memang tidak berekspresi seperti yang diharapkan. Dari awal—aku baru sadar—mereka memang menganggapku sangat berbeda dari yang lain.

Tapi, apa kelebihannya itu?

“Kau belum sadar permasalahan apa yang bakal kau timbulkan kan?”

Aku menggeleng perlahan.

“Yang kutakutkan, mereka naksir padamu,” aku melotot. Sedikit geli dengan pernyataan barusan, tapi aku tak bisa tertawa. “Itu sebabnya aku bilang kau pacarku supaya mereka menyerah. Jadi jangan berpikir macam-macam. Walaupun nanti berpengaruh dengan pamorku, tapi aku mau kau jauh-jauh dari mereka.”

Aku bekerja dengan mereka. Jadi, bagaimana caranya aku jauh-jauh dari mereka?

*** Amour Café ***

“Alex, happy birthday!” Hazel muncul dari balik pintu ruang ganti dan meledakan conveti.

“Dari mana kau tahu kalau aku ulang tahun?” aku heran.

“Aku dikasih tahu sama Andre dan Kevin meneleponku,” dia memberikan sebuah kado padaku. “Nih, hadiah ultah. Aku nggak tahu apa yang disukai olehmu, jadi aku beli saja yang terlintas dikepalaku.”

“Boleh kubuka?”

“Jangan, jangan, jangan,” dia buru-buru menolak. Wajahnya memerah. “Di rumah saja ya. Aku tak nyaman kalau kau membukanya di depanku.” Dia mengedipkan mata dan menghilang ke dapur.

Masa yang begitu dibilang jahat sih. Sudah kuduga kalau Karel cuma mengarang alasan. Aduh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak lama, pintu ruang ganti terbuka dan Kian masuk, melepas dasi sekolahnya. Dia menatapku sejenak.

“Aku tak tahu kalau kau punya pacar, A-Lex.”

Aku juga mau tahu sejak kapan aku berpacaran sama sepupuku sendiri? Aku membatin dalam hati. Sedikit jengkel. Tapi aku tidak mengatakannya. Karel, aku pasti akan membalasmu nanti. Lihat saja. Kau tak tahu sejahil apa aku kalau sudah bertindak.

“Kau sedang apa?” aku kaget dan hampir saja menjatuhkan mataku. Kian baru saja melepas kemejanya dan hendak melepas celananya juga.

“Apa lagi? Tentu saja ganti seragam,” jawab Kian enteng. “Kita tak bisa keluar tanpa seragam pelayan kan?”

“Aku sedang ganti baju disini,” kataku jengkel.

“Lalu?” alisnya menaik.

Apa dia pura-pura tak tahu atau bagaimana? Kuremas tanganku dan dia sedikit terkejut. Kemudian kutarik kaosnya dan memaksanya keluar dari ruang ganti lalu membanting pintu.

“Jangan masuk sampai aku selesai. Mengerti?” kataku berteriak dari dalam. Cepat-cepat aku mengganti pakaianku dan Kian masuk lagi ketika aku masih mengancingkan seragamku. Aku sampai berteriak histeris dan melemparnya dengan handuk.

“Aku kan sudah bilang jangan masuk!” aku tak habis pikir kalau Kian bisa bertingkah aneh sekaligus gila.

“Aku mau ambil bajuku. Cewek-cewek di depan dari tadi menatapku tahu,” katanya menyingkirkan handuk dari kepalanya dan mengambil seragam pelayannya. “Mereka bahkan sempat mengeluarkan ponsel.”

Aku tak bisa membalasnya. Dia berhasil membuatku bungkam. Skak mat. Aku mengambil pitaku dan Kian memakai seragamnya dan mengancingnya dengan cepat. Saat dia mengambil dasinya dari tas, ada sesuatu yang jatuh. Mataku segera beralih pada benda itu.

Sebuah kotak yang dibungkus dengan sangat rapi. Kecil sekali.

“Ah,” Kian buru-buru mengambilnya. Dia tak berani melihatku dan wajahnya keburu merah. Aku memutuskan untuk merasa tidak melihat dan mendengar apapun. Itu lebih baik. Walau aku sebenarnya lebih suka dia salah tingkah begitu, tapi aku tak mau dia juga merasa malu dan terlihat bodoh.

“Al—Kian?” Ariel masuk ke kamar ganti dan terbengong. “Kalian ganti baju bareng? Kok bisa?”

“Ruang ganti di café ini cuma satu,” kata Kian memakai dasinya.

“Kau kan bisa pakai toilet,” balas Ariel.

“Toilet lagi dibersihkan, A-Ri-El,” katanya lagi. “Kau juga, kenapa masuk sembarangan, bukannya ketok pintu dulu? Bagaimana kalau tadi A-Lex dalam keadaan telanjang?”

“Aku lupa,” kata Ariel menggaruk kepalanya. “Alex,” dia mendatangiku dan menyodorkan sebuah kado berukuran kecil. “Aku udah beli kado. Happy birthday ya. Bukanya di rumah saja, jangan disini.”

“Makasih,” aku menerima kado itu dan dia keluar. Kulirik Kian yang daritadi cuma memberikan ekspresi tak senang. Aku jadi ingin menggodanya, “Kau tak punya kado untukku?”

“Tak ada.”

Kau mana bisa bohong. “Kalau begitu kado yang tadi jatuh itu mau dikasih sama siapa?”

Dia menggigit bibir. Aduh, manisnya…

“H-H-Happy birthday,” Kian merogoh kantongnya dan mengeluarkan kado yang tadi dan keluar dengan terburu-buru saat aku menerimanya. Hehe. Ternyata memang kado untukku. Dia memang manis kalo malu-malu begitu dan mengerikan kalo lagi serius. Kalau saja anak Merah Putih tahu semanis apa Kian itu, mereka pasti makin naksir.

“Alex,” kali ini Felix yang masuk. “Apa itu? Kado? Dari siapa?”

“Ariel dan Kian,” jawabku dan aku buru-buru menyimpan kado-kado itu ke lokerku. “Ada apa?”

“Kita sedang kerepotan. Kau bisa cepat keluar kan?”

Dasar manusia mulut berbisa. Aku memaki dalam hati. “Aku tahu. Aku akan cepat kalau dasiku sudah terpasang dengan benar.”

“Dasar menyusahkan.” Felix mendekat, mengambil dasiku dan mengikatnya dengan cepat. “Ikat dasi saja lamanya nggak ketulungan.”

Aku tak membalas walau aku jengkel. “Boleh tanya sesuatu?”

“Apa? Angkat dagumu sedikit,” katanya memperhatikan leherku.

“Siapa dari antara kalian yang paling tua?”

Tangannya berhenti sejenak lalu melanjut. “Kevin lebih tua empat tahun dariku. Kemudian aku lalu Hazel. Hazel lebih muda tiga tahun dariku, tapi dia lebih pintar daripadaku. Memangnya kenapa?”

“Kupikir kau lebih muda dari Hazel.”

“Itu karena aku baby face.”

Narsis. “Juga karena Hazel lebih tinggi darimu.”

“Dia masih dalam tahap pertumbuhan.”

Dia memang tak suka kalah, aku membatin dalam hati.

“Nah sudah,” dia kembali berdiri tegak. “Kau bereskan semua barang-barang itu dan cepat keluar,” dia berbalik begitu saja dan kembali membuka pintu. Aku mengerutkan dahi. “Oh, iya. Happy birthday.” Kemudian dia keluar dari ruang ganti.

Cuma itu? Cuma happy birthday? Tanpa hadiah? Pelit!

Aku cepat-cepat membereskan seragam Kian dan Ariel yang masih berantakan di keranjang. Melipatnya dan menyusunnya di satu tempat kemudian keluar dari ruangan. Saat aku keluar, aku hampir saja kaget karena Hazel melewatiku—hampir menabrakku—membawa tumpukan kue yang akan dipajang di mini cake store.

“Mau kubantu?” aku mengambil separuh dari bawaannya dan dia cuma tersenyum. Kami melewati beberapa meja pelanggan dan turun tangga, kemudian masuk ke toko kue kecil yang lebih mirip pavilion tempat Kevin biasanya lebih sering singgah. Dia malah bilang kalau toko itu “kantor”.

“Sini biar aku susun.” Kevin segera berdiri dan sibuk menyusun macam-macam kue yang kami bawa. “Hazel, cepat kembali ke dapur siapa tahu mereka membutuhkanmu.”

“Tenang saja, ada Kian disana.” Hazel mengedipkan mata dengan jenaka. “Aku memaksanya untuk masuk ke dapur. Keahliannya itu harus segera diasah, kalau tidak dia tak akan berkembang.”

Kevin manggut-manggut. “Dia memang sedikit keras kepala, tapi kenapa dia selalu menurut padamu ya? Ah,” Kevin tiba-tiba menatapku. “Alex, kau punya kalung baru ya?”

He? Kalung?

Hazel menyipitkan matanya, mendekat kepadaku. Tangannya terangkat dan menyentuh leherku dan menarik keluar sesuatu yang membuat leherku terasa geli.

“Kalung yang manis. Kau beli dimana?” kata Hazel.

Lagi-lagi aku mengerjap. “Aku tak beli kalung.”

“Terus apa yang nyangkut di lehermu itu? Masa kau tak tahu ada orang yang memakaikanmu kalung sih?” Kevin geleng-geleng kepala dan memasukan potongan-potongan cake berwarna-warni ke lemari.

Ah, aku baru sadar sekarang. Tadi Felix memakaikanku dasi. Jangan-jangan dia yang memakaikanku kalung ini. Kok aku nggak sadar ya?

“Kalung ini mirip dengan yang di meja belajarnya Felix kan?” Hazel melirik Kevin. Kevin berdiri tegak dan mendekat. Dia memperhatikan kalungku dengan lebih seksama.

“Benar, kalau tak salah ini kalung yang ingin sekali dia berikan pada gadis yang menyelamatkan nyawanya itu untuk berterima ka—” Kevin berhenti lalu menatapku lekat-lekat, begitu juga dengan Hazel. “Tak mungkin.”

Aku berani bertaruh kalau Felix tak menceritakan kejadian di rumah sakit pada mereka.

“Kau gadis yang menyelamatkan Felix waktu itu?” Hazel mengerutkan dahi. “Kenapa bisa kebetulan seperti ini?”

“ALEX!” Felix berteriak dari café utama. “Ngapain ngobrol dengan mereka? Kita sibuk banget tahu!”

Thanks God, aku terselamatkan. Aku tak ingin menceritakan apa yang terjadi sebelum mendapat izin dari Felix. Malah kupikir lebih baik Felix saja yang mengatakannya. Jadi aku lebih memilih berlari dan mengangkat kakiku jauh-jauh dari mereka.

Kesibukan di Amour hari ini membuatku bisa sepenuhnya menghilangkan pemikiran soal Felix dan kalungnya bahkan ulang tahunku sendiri. Aku malah heran kenapa aku tak menikmati hari ulang tahunku seperti orang lain. Dan akhirnya, saat café kami tutup pada pukul setengah sebelas dan rapi serta bersih, kami berkumpul lagi, menikmati saat-saat minum teh bersama.

“Happy birthday, Alex. Aku baru kasih sekarang soalnya dari tadi kau sibuk sekali. Oh, iya, ini dari Adriel,” Kevin memberikan dua kado yang cukup besar padaku.

Ariel mengerutkan dahinya. “Adriel? Adriel kesini?”

“Ya. Dia cuma mampir di mini cake, beli kue untuk Mamanya dan titip kado untuk Alex. Dia tahu kalau Alex dan kau sibuk jadi tak berani mengganggu, begitu katanya. Jangan cemburu ya, ehm, pacarnya Adriel.” Kevin memainkan alisnya dan Ariel cuma bisa berdeham.

“Bagaimana kalau kita nyanyi ‘Happy Birthday’ sama-sama?” kata Hazel.

“Kekanak-kanakan sekali,” gumam Felix.

“Ini sweet seventeen-nya Alex. Dia harusnya menikmati ultahnya dengan lebih manis dan bukannya bekerja, ya kan, Alex?” kata Kevin.

“Aku tak keberatan bekerja kok,” kataku cepat.

“Apa hari ini pacarmu menjemput?” kata Kevin lagi dan Felix menyemburkan jusnya. “Kau tak apa-apa?”

“Siapa yang punya pacar?” kata Felix menyeka mulutnya.

“Alex,” jawab Ariel. “Tadi pagi ketemu di gerbang. Harus kuakui dia tampan sekali dan kelihatan cukup dewasa, baik dan mapan. Apa dia bekerja, Alex? Kelihatannya dia sangat menjagamu?”

“Ah, tidak, dia mahasiswa kedokteran UI.”

“Siapa namanya?” kata Felix lagi.

“Karel.”

“Apa dia yang waktu itu mengantarmu pulang?” katanya lagi.

“Sudah kuduga kau mengikutiku waktu itu.”

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Ya. Memang dia.”

“Apa ini? Kau cemburu sama pacar gadis malaikatmu?” kata Kevin tiba-tiba.

“Aku—apa?” dia mengerutkan dahi. Wajahnya memerah dengan cepat ketika mengetahui kalau dia tertangkap basah. “Aku tak tahu apa yang kau katakan.”

“Kami lihat kau memberikan Alex sebuah kalung. Itu kan kalung yang sengaja kau beli buat gadis malaikatmu itu. Sebagai tanda terima kasih, ya kan?” kata Hazel menjelaskan. “Kau sudah lama tahu ya kalau Alex itu gadis yang kau cari?”

“Aku tak mau membicarakannya,” gumam Felix.

“Wah, kalau begitu, cintamu bakal bertepuk sebelah tangan dong,” kata Ariel tiba-tiba. Dia sama sekali tak bisa baca kondisi. “Maaf.”

Suasanya tak enak. Ini hari ulang tahun paling canggung buatku.

“Us against the world… against the world… drrrt… drrrt… us against the world… against the world…”

Mereka semua melonjak kaget.

Karel calling…

“Halo?” aku mengangkat panggilannya.

“Kau sudah pulang belum? Aku sudah menunggu di depan café.”

What the—“Aku bisa pulang sendiri.” Desisku.

“Nggak aneh kan kalau aku, sebagai pacarmu, menjemputmu? Ini hari ulang tahunmu. Aku ingin merayakannya bersama keluargamu, seperti yang tiap tahun kita lakukan. Kau lupa atau bagaimana?”

Dasar cousin complex!

“Aku akan segera keluar. Tunggu disitu. Aku membereskan peralatanku dulu.” Aku menutup telepon dan menatap mereka yang juga memelototiku.

Well, pacar?” Kevin tersenyum girang. Belum lagi aku jawab dia sudah bangkit berdiri dan menyuruhku cepat keluar. “Panggil dia, suruh masuk dan kita akan berpesta malam ini.”

“Tak bisa.” Aku buru-buru menolak. “Tiap tahun aku selalu merayakannya bersama keluarga ditambahi dengan Karel.”

“Tiap tahun?” dahi Kian mengerut. “Kalian sudah mengenal berapa lama?”

Berapa lama? Aku bahkan mengenalnya sejak aku lahir. “Tujuh belas tahun.”

“Kau pacaran dengan teman sepermainan ya?”

Aku tak menjawab lagi dan cepat-cepat pergi. Mereka bahkan mengintip dari jendela saat aku mendatangi mobil Karel.

“Kenapa dengan wajahmu?” kata Karel heran. Dia sedikit geli melihat perhatian dari anak-anak Amour.

“Aku ingin sekali membunuhmu.” Gumamku jengkel.

Karel tertawa dan menyuruhku masuk dan dengan sengaja merangkulku.

*** Amour Café ***

2 komentar:

.:cloud:. mengatakan...

eh ringtone hpnya ALex lucu
itu emg ada atau ngarang?

prince.novel mengatakan...

@cloud : emang ada. Itu potongan lagu Westlife yang judulnya us against the world :D

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.