RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 30 Januari 2009

Star Boy Eps 1, 2



STAR BOY
by: Prince Novel
=====================================
PROLOG
Saat kau merasa sedih luar biasa, ingatlah aku.
Saat kau tidak memiliki petunjuk apapun soal hatimu
Dan saat kau kesepian akan penantian hidup yang panjang,
Ingatkan aku untuk selalu bisa membisikkan kata-kata perjuangan kepadamu.
Sekuat tenaga aku akan menolongmu…
Senyummu adalah hidup untukku,
Setiap hembusan napasmu adalah angin segar,
Pandangan-pandanganmu soal kehidupan membuatku tidak bisa berkata apapun
Kecuali untuk tetap disisimu, aku tidak melakukan hal yang lain.
Ketika kau melupakanku,
Kematian serasa menjemputku…
Tapi ingatlah, walaupun aku tidak ada disismu, suaraku akan masih dapat kau dengar…
Inilah janjiku untukmu,
Bukan karena aku mencintaimu,
Atau karena aku bersimpati padamu…
Tapi karena aku merasa, bahwa kau adalah yang terpenting bagi hidupku,
Selamanya… tidak ada yang menggantikanmu.
1.
Si Murid Baru
Guru-guru sekolah Alexuis melirik sekilas kearah murid baru yang diantarkan oleh seorang supir taksi dengan rasa ingin tahu. Mereka berbisik-bisik seru. Murid baru itu seorang siswa laki-laki pindahan dari Australia, anak campuran.
“Jadi begini Bu Risa,” kata Pak Simamora, Sang Kepala Sekolah, ketika menggiring anak itu ke kantor guru. “Murid kita ini siswa baru dari Australia, dia belum terlalu fasih menggunakan bahasa Indonesia. Jadi mungkin dia akan sedikit pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Tolong Ibu, sebagai wali kelasnya, membantu dia jika dia punya masalah.”
“Baiklah, Pak,” kata Bu Risa. Dia memperhatikan anak berparas campuran itu. “Kalau boleh tahu namanya siapa ya, Pak?”
“Erm… siapa, ya? Siapa namamu tadi, Nak?” kata Pak Simamora pada anak itu.
“Reon Sagara,” jawabnya pelan.
“Reon, ya?” kata Bu Risa mengulang, dia menatap anak itu lagi.
Reon mengalihkan pandangannya. Kelihatannya dia tidak terlalu suka diperhatikan.
“Orang tuanya kemana ya, Pak? Bukannya orang tua biasanya mengantar murid yang baru pindah? Apalagi dari luar negeri seperti Reon,” kata Bu Risa mengalihkan pandangannya.
“Entahlah. Yang datang mengatur kepindahan Reon hanya walinya,” kata Pak Simamora. Dia memegang bahu Reon. “Nah, Nak, sekolah ini sebenarnya tidak menerima siswa baru ditengah semester namun ada kompensasi dari walimu. Apalagi—pokoknya, Bu Risa ini akan jadi wali kelasmu dan membimbingmu.”
Reon mengangguk, melihat ke arah lain.
Ada yang terjadi, Pak?” kata salah seorang guru lain ketika melihat ada yang lain dari cara pandang sang Kepala Sekolah.
“Ah, tidak ada apa-apa, Pak Oberoy. Baiklah, Bu Risa, saya serahkan penanggungjawaban Reon pada Anda. Bapak pergi dulu ya, Reon.”
Reon mengangguk tanpa mengatakan apapun.
“Baiklah. Saya, Risa, wali kelas dari kelas XI IPA 2,” kata Bu Risa. “Sebentar lagi bel pelajaran ketiga. Dan karena kau belum punya seragam sekolah ini, sepulang sekolah akan diberikan sekolah. Untuk sementara waktu kau bolah mengikuti Ibu kalau kau masih takut.”
Reon tidak mengomentari.
“Ibu mengajar matematika. Kalau tidak ada yang kau ketahui, kau boleh bertanya padaku. Kau mengerti?” tanya Bu Risa lagi. Reon tidak menjawab. “Jika kau tidak mengerti kau bilang saja, ya?”
Reon, lagi-lagi, tidak memberikan reaksi.
“Ya sudah, ayo ikut aku. Aku akan mengantarmu ke kelas. Mungkin mereka akan heboh ada murid dari Australia. Apalagi seganteng kamu,” Bu Risa bermaksud untuk mencairkan suasana, tapi sepertinya tidak efektif.
Bu Risa menyerah. Dia menyusun buku-buku yang dibutuhkannya untuk pelajaran dan berjalan keluar ruangan. Bel berdering tepat saat Reon menginjakkan kakinya keluar kantor guru.
“Reon anak yang pendiam, ya?” kata Bu Risa lagi. “Dulu tinggal di Australia bagian mana?”
Darwin,” jawab Reon singkat.
Bu Risa tersenyum, setidaknya dia mengomentari sedikit perkataannya.
“Nah, ini kelas XI IPA 2. Maaf, ya jika kelasnya tidak seperti di Australia,” kata Bu Risa. Reon tidak merespon. “Kamu tunggu disini. Jika aku memanggilmu, kau boleh masuk.”
Reon mengangguk.
Bu Risa tersenyum kecil ketika memasuki kelas. Dia menyuruh diam seisi kelas untuk memperhatikannya. Ada ocehan tidak jelas saat sang Ketua Kelas menyiapkan kelas untuk memberi salam.
“Minggir,” seseorang mendorongnya. Lalu tanpa minta maaf, dia masuk ke kelas XI IPA 2. “Maaf, telat, Bu.” Katanya. Ada sorakan mengejek di dalam.
“Jangan kamu ulangi lagi, ya, Adam. Kamu selalu saja jadi Raja Telat!” omel Bu Risa. “Nah, semuanya harap tenang. Ibu akan memperkenalkan teman baru pada kalian. Ayo, Nak, masuk.”
Reon merapikan letak tas sampingnya dan masuk.
“Uh-oh!”
Beberapa dari siswi menahan napas saat Reon masuk. Ada juga cowok yang melotot.
“Namanya Reon. Reon Sagara, tepatnya. Dia dari Darwin, Australia. Belum terlalu fasih menggunakan bahasa Indonesia. Tapi tetap saja, dia ganteng.” Kata Bu Risa. Anak-anak di kelas itu heboh. “Oke, oke. Kuharap kalian mau berteman dengannya. Jangan dijahili, ya?”
Salah seorang siswi mengangkat tangan, tanpa dipersilakan terlebih dahulu, dia menyerocos.
“Reon sudah punya pacar belum? Kalau belum punya pacar sama aku saja. Namaku Lily. Aku cantik kan? Aku juga—“
“HUSH!” kata salah seorang siwa, kali ini laki-laki. “Lily centil, kalau kau bicara terus, dia bisa lari ketakutan tahu nggak? Dasar Mak Lampir!”
“Kenapa sih, Yo? Kau cemburu?” kata Lily, membuka lebar kipas bambu ditangannya.
“Idih! Amit-amit!” katanya.
“Sudah. Sudah,” Bu Risa mengambil alih suasana. “Reon akan duduk dimana, ya?”
Salah seorang siswa mengangkat tangan.
“Disini aja, Bu,” katanya. “Tempat ini selalu kosong, loh.”
“Jangan, Bu. Flo selalu mengerjai orang, Bu. Dia itu kasar banget.” Kata seorang cewek berambut pendek. “Mentang-mentang jadi bagian StarBoy, jadi bertingkah. Nanti Reon pasti dikerjai. Contohnya kayak si Edi.”
“Benar, Bu. Jangan, deh, Bu,” kata Lily dengan wajah panik centil.
“Tapi tidak ada tempat lain yang kosong selain disini loh, Mia,” kata Flo.
Reon merapikan lagi tas sampingnya dan tanpa berkata apapun, dia melangkahkan kaki menuju tempat Flo. Anak-anak di ruangan itu menarik napas tertahan. Reon meletakkan tasnya dan duduk dengan tenang seakan tidak terjadi apapun.
“Aku menang,” kata Flo mengangkat kedua tangannya dengan bangga seakan memenangkan pertandingan. Yang lain mendengus sebal. “Hey, Reon. Namaku Flo. Andres Floyan.” Flo mengulurkan tangannya. Reon mengacuhkannya.
Flo menarik kembali tangannya. Merasa dipermainkan. Lihat saja, kau pasti akan kubalas. Belum tahu siapa Flo, batin Flo.
Reon mengambil bukunya. Saat dia membuka buku tebalnya ada surat terselip disana.
“Apa, nih? Surat cinta?” Flo mengambil surat itu sebelum Reon sempat menyentuhnya. Akibat suara Flo yang besar, dia menarik perhatian yang berlebihan dari anak-anak lain.
“Kembalikan,” kata Reon. Suaranya sedingin es.
Flo tidak peduli, dia merobek bagian pinggir surat itu.
“Aku bilang kembalikan!” kata Reon. Suaranya pelan penuh ancaman.
Tangan Flo berhenti di tengah-tengah usahanya merobek surat itu.
“Apa, sih isinya? Kelihatannya kau takut banget. Atau jangan-jangan kau merencanakan sesuatu?” kata Flo enteng.
“Berikan pada Ibu.”
Flo yang tidak menyadari kedatangan Bu Risa mengambil surat itu dari tangannya. Bu Risa mengecak pinggang. “Flo, berdiri di luar kelas.”
“Aku hanya ingin tahu isinya,” kata Flo. “aku akan keluar kalau tahu apa isinya.”
“Keluar, Flo! Kau selalu saja mengganggu. Apa kau tidak bisa tenang?” kata Bu Risa.
“Berikan suratnya,” Reon berbicara. Tangannya mengadah. “Itu suratku.”
“Begitukah caramu berbicara pada orang yang lebih tua darimu?” kata Bu Risa melotot pada Reon. “Kau tidak ingin dihukum di hari pertama sekolahmu kan?”
“Hukuman sudah jadi makanan sehari-hariku ketika aku bersekolah di Australia. Sekarang berikan suratku. Rasanya tidak ada peraturan kalau siswa dilarang membaca surat saat pelajaran,” kata Reon, masih dengan tangan mengadah. Itu merupakan kalimat pertamanya yang cukup panjang. Ternyata dia cukup fasih juga menggunakan bahasa Indonesia.
“Hukuman jadi makanan sehari-harimu di Australia?” ulang Flo tampat tertarik. “Masa sih?”
“Bu Risa, suratku.” Kata Reon mengulang. Dia tidak mempedulikan Flo.
Bu Risa menggigit bibirnya. Dia memberikan surat itu, akhirnya, pada Reon. Reon kembali duduk dengan tenang seakan tidak terjadi apapun.
“Reon Sagara, kau boleh masuk ke StarBoy kalau kau mau. Kau punya kompeten,” kata Flo.
“Tidak berminat,” kata Reon, menatap lurus ke depan.
Flo tersenyum penuh arti. Kata-kata Reon terngiang kembali di telinganya. Hukuman sudah jadi makanan sehari-hariku ketika aku bersekolah di Australia.
***
“Yo, guys! Aku bawa teman baru nih!” Flo muncul ke ruangan yang diberi nama StarBoy’s Locker, yang ditempel di depan pintu coklat.
“Lepaskan aku!”
“Masuk dulu,” kata Flo menarik tangan Reon.
“Tidak mau!” Reon menarik tangannya, ujung kemeja tangannya sobek.
“Ah, jadi robek kan?” kata Flo mengecak pinggang. “Jangan kabur dulu. Aku mau memperkenalkan kau pada anak buahku,” katanya lagi, kali ini menarik bagian belakang kerah baju Reon yang mencoba kabur.
“Siapa yang anak buahmu?” kata salah seorang di ruangan itu. “Siapa sih yang kaubawa?”
“Anak baru dari Australia,” jawab Flo, terengah. “Dia kuat banget. Aster, bantuin, dong!”
Aster, pria yang bertubuh besar dan cukup tinggi itu, berdiri dan menarik tangan Reon yang satunya. Dia menyeret Reon dengan susah payah dan didudukkan dengan paksa ke bangku yang ada di tengah-tengah ruangan sempit itu.
“Diikat aja supaya dia tidak melawan. Aster, pegangin dulu, aku cari tali,” kata Flo.
“Mau apa?” kata Reon mencoba melepas genggaman tangan Aster. Tapi percuma saja. Kakinya juga dipegangi dua orang yang lain. “Lepas sekarang juga sebelum aku mengamuk!”
“Kau bisa mengamuk rupanya?” ledek anak laki-laki yang memegang kaki kanannya. “Gimana caranya melawan kami berempat?”
“Ketemu juga,” kata Flo membawa tali tambang. “Tahan ya?” kata Flo. “Tahu tidak Reon, kalau kau tidak melawan, aku tidak akan melakukan tindak kekerasan seperti ini tahu. Kau pikir tidak capek apa menarikmu dari kelas kita kesini?”
“Kau mau apa?” kata Reon, masih berupaya melawan.
“Aku hanya ingin mempertemukan kau dengan teman-temanku,” kata Flo polos, mengikat tali itu melewati pinggang Reon.
“Aku sudah melihat mereka. Sekarang lepaskan!” kata Reon berkutat.
“Kau belum melihat semuanya. Tenang sedikit, dong.” Kata Flo lagi.
“Dia benar-benar kuat. Cepat, Flo!” kata Aster. Napasnya terengah. “Aku bisa terlempar kalau begini terus.”
“Kalian sedang apa?” ada dua orang lagi yang masuk.
“Loh? Itu kan penyiksaan, kalian bisa dilapor ke kantor polisi nanti,” kata yang lain.
“Kalau tidak diikat, dia akan kabur,” kata Flo.
“Memangnya dia salah apa?” kata kedua orang itu serempak.
“Banyak sekali.” Kata Flo. “Nah, sudah. Beginikan lebih tenang dan enak dilihat.”
Reon menatap tajam kearah Flo. Orang-orang yang ada di ruangan itu berdiri berjajar. Reon menatap wajah mereka satu per satu. Dia tidak akan pernah melupakan wajah mereka. Tidak akan.
“Nah, Reon, pertama-tama aku akan memperkenalkan mereka padamu,” kata Flo. “Ini, yang tadi memegangi kedua tanganmu, adalah Aster Armans. Dia jagoan klub bela diri.”
Reon menatap Aster dalam diam. Wajah Aster garang dengan sedikit guratan di pelipisnya. Rambutnya hitam, setengah di botak. Hidungnya bengkok. Tubuhnya besar, tinggi dan berotot.
“Kemudian ada Esar Godridkus,” katanya lagi memperkenalkan orang yang disisinya. “Dia tadi memegangi kaki kirimu. Esar ini merupakan Si Jenius Matematika.”
Esar memakai kacamata. Rambutnya hitam panjang diikat dengan dahi menonjol. Dia sebenarnya cukup tampan andai tidak ada luka di pipi kirinya.
“Itu bekas kecelakaan saat dia berusia tiga tahun,” kata Flo seperti menangkap pertanyaan Reon.
Reon mengalihkan pandangannya ke bawah. Dia harus segera melakukan sesuatu untuk segera pergi dari orang-orang ini. Entah apa mau mereka.
“Ini Zacky Alexuis, anak pemilik sekolah ini. Selain itu dia jenius Fisika,” katanya memperkenalkan anak laki-laki yang tadi memegangi kaki kanannya. Zacky lebih kecil dari mereka. Selain wajahnya manis, matanya juga kocak. “Lalu, dia Alexander Royand, Ketua Osis. Sang Pangeran Cool yang naik Kuda putih. Aduh!”
Alex memukul kepala Flo. Alex amat tampan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Rambut coklatnya menutupi dahi.
“Nah, ada lagi, nih. Andrean Conkyra,” Flo menunjuk anak cowok yang manis. Dia seperti perempuan. Badannya saja mungil. “Andre adalah andalan klub Musik. Kelihatan, sih dari wajahnya.”
“Aku tidak peduli. Lepaskan!” gumam Reon.
“Kau ini tidak sabaran, ya?” gerutu Flo lagi. “Tunggu sampai aku selesai. Para guru tidak akan protes kalau kami tidak masuk. Sudah biasa bagi mereka. Kami orang beken, sih.”
“Aku tidak melihat sisi beken dari dirimu,” gumam Reon.
Flo melongo. Aster, Zacky dan Esar mengikik geli. Alexander mengangkat bahunya sedikit dan memutar matanya, kelihatannya dia setuju. Sementara Andrean kelihatan takut.
“Kali ini kau kumaafkan karena kau masih baru.” Kata Flo dengan wajah merah padam.
“Dia murid baru?” Alexander angkat bicara. “Kenapa aku tidak diberitahu? Lagipula, ditengah semester ada murid pindahan. Kalau tidak adanya kompensasi khusus…”
“Itu dia! Anak ini pasti istimewa makanya diterima di sekolah kita yang amat monoton ini,” kata Flo. “Nah, biar aku memperkenalkan diri dulu. Aku Andres Floyan, aku adalah kepala anak-anak berandalan di sekolah ini. Jadi sebaiknya kau hati-hati deh padaku.”
Reon, anehnya, tidak menunjukkan ketakutan.
“Nah, semua, kuperkenalkan, dia adalah Reon Sagara. Anak pindahan dari Darwin Australia. Aku tidak tahu apa kehebatannya. Yang membuatku tertarik adalah kalau dia hampir setiap hari kena hukuman.”
Mereka menatap wajah Reon. Dan Reon paling benci kalau wajahnya diperhatikan.
Reon memiliki wajah campuran Indo-Australia. Rambutnya coklat gelap dan akan terlihat terang kalau di bawah sinar matahari. Wajahnya tampan dengan mata biru safir. Selain itu, dia juga punya bentuk tubuh yang menarik perhatian. Apalagi bibir merahnya yang mungil.
“Sudahkan? Sekarang lepaskan!” katanya lagi.
“Aku belum selesai.” Kata Flo lagi. “Alexander, aku mau dia jadi bagian StarBoy juga. Kupikir dia ada bakat juga.”
“Kau yakin dia mau? Kelihatannya dia sama sekali tidak berniat jadi salah satu bagian dari kita,” kata Alex duduk di atas meja. Dia meletakkan kertas yang tadi dia pegang dan membuka-bukanya dengan tidak peduli. “Sebaiknya kau tidak memaksakan sikap keras kepalamu pada anak baru yang tidak tahu sistem di sekolah kita.”
“Tenang saja. Aku yakin dia pasti mau. Kau mau ikut kan Reon?” kata Flo ramah.
“Aku tidak mau, otak udang!” jawab Reon sebal.
Aster dan Esar mengikik geli. Zacky merasakan hal yang lain, dia dapat melihat aura hitam dari Flo mulai keluar. Firasat buruk.
“Nah, kau sudah dengar kan? Se—jangan sentuh dia!” Alex menahan tangan Flo yang hampir saja melayangkan tinju ke wajah Reon. “Kenapa kau cepat sekali naik pitam hah?”
“Aku tidak senang dia selalu membantah!” kata Flo menarik tangannya.
“Sikap keras kepalanya sama denganmu tahu! Kau tidak sadar ya? Kalian itu mirip!” kata Alex lagi. Flo memukul meja. Andrean berjengit dan segera bersembunyi di balik Aster, tubuhnya gemetaran.
Reon melirik sinis kearah Aster yang mulai menunjukan tanda tidak senang. Andrean mengintip dari balik tangannya. Zacky semantara itu hanya diam, begitu juga dengan Esar. Alex menepuk-nepuk tangannya dan mulai melanjutkan seakan tidak ada yang terjadi.
“Nah, dia menolak jadi bagian ini. Sebaiknya kita lepaskan saja dia, oke Flo?”
“Tidak. Dia harus jadi bagian StarBoy.” Flo tetap keras kepala. “Dia harus ikut. Berikan saja formulirnya dan paksa dia untuk tanda tangan.”
“Kenapa kau begitu memaksakan keinginanmu, hah?” Reon angkat bicara, wajahnya garang sekali. “Apa maumu?”
Flo menatap tajam Reon. Dan Reon balas menatapnya. Sampai beberapa menit, tidak ada dari mereka yang bicara sampai kemudian, Flo berbicara.
“Karena aku tertarik denganmu.”
Reon mengepalkan tangannya. Kata-kata itu terus terngiang. Dulu juga ada seseorang yang mengatakan hal itu padanya. Dan karena kata-kata itulah dia jadi begini. Pemberontak. Tidak tahu aturan. Preman. Semua image jelek. Bahkan orang tuanya sendiri begitu membencinya. Mengusirnya dari rumah.
“Cukup. Jika kau katakan itu lagi, aku akan…,” gumam Reon.
“Kau akan apa, hah?” pancing Flo. “Coba, aku ingin lihat kau bisa apa.”
Angin yang menderu, suara motor, hingar bingar tidak karuan, sinar lampu yang berkelap-kelip, sirine polisi, suara tembakan…
BRAK!!
Esar dan Zacky mundur secara refleks ketika kursi yang tadi mengikat Reon patah saat dia berdiri. Andrean kembali bersembunyi di balik tubuh Aster. Flo mengerjap.
“Wow! Kau kuat sekali,” gumam Flo. Alex menyikut perutnya menyuruhnya diam.
Reon melepaskan tali dan kayu yang mengikat tubuhnya. Dia menatap Flo dan sekelilingnya dengan bengis sekali. Dia pergi dengan cepat dan tidak ada yang menghalanginya.
“Oi, aku be—pfrt!!”
Alex menutup mulut Flo sebelum Flo menghalangi Reon lagi. Zacky menutup pintu dengan tenang setelah Reon pergi. Kemudian Alex melepas dekapannya.
“Apaan sih? Kau membuat dia kabur! Belum tentu besok dia mau kesini lagi!” Flo protes, dia berteriak di depan wajah Alex.
“Aku malah berharap dia tidak kesini lagi. Apa kau tidak lihat wajahnya tadi?” kata Alex melap tangannya dengan sapu tangan.
“Aku tidak peduli dengan wajahnya. Yang aku mau adalah agar dia menjadi bagian dari kita,” kata Flo sebal. “Kau tidak lihat kekuatannya tadi? Itu hebat!”
“Aku tahu kalau kau tidak peka dengan perasaan orang Flo. Tapi kau tadi amat keterlaluan,” Esar buka mulut. “Aku sendiri ngeri melihatnya.”
Well, katakan padaku apa yang ngeri dari dia? Aku nggak tahu tuh,” kata Flo enteng. Aster menggeleng-geleng perlahan. Esar menepuk dahinya, merasa bodoh.
“Nilai kemasyarakatanmu memang tidak pernah bagus,” gumam Zacky. “Wajahnya tadi seperti iblis yang siap merebut nyawamu tahu.”
“Oh, ya?” kata Flo, senang.
“Mungkin karena kau biasa melihat hal yang seperti itu dari musuhmu makanya kau tidak bisa merasakannya. Dasar payah,” gerutu Alex, dia kembali membaca kertasnya.
“Aku nggak payah,” Flo membela diri. “Mana Andrean?”
Aster melihat kebelakangnya. Andrean sudah tidak ada.
“Reon menculik Andrean! Awas dia!”
***
2.
Aku, Andrean
“Bisakah kau tidak mengikutiku?”
Reon berbalik dengan wajah menyeramkan kearah Andrean yang sejak tadi mengikutinya tanpa henti. Reon sempat berpikir kalau Andrean tadi hendak ke kamar mandi, tapi ternyata…
“Ah, anu-eng—begini… aku…aku…”
“Kau tidak bisa bicara ya?” kata Reon sinis.
Andrean ketakutan. Kakinya malah gemetaran.
“Kau mau bilang apa?” kata Reon lagi. Tatapan matanya yang sedingin es sungguh menusuk.
“Eh-itu…anu, aku…eng,” kata-kata Andrean terbata-bata.
Reon mendengus sebal. Dia berbalik dan kembali berjalan.
“Tu-tunggu,” Andrean menarik lengan kemeja Reon. Sebenarnya dia agak kaget karena berani menyentuh Reon yang galak abis.
“Apa?” kata Reon lagi.
“Aku, Andrean,” katanya ketakutan.
“Ya, aku tahu. Si Otak Udang yang selalu ikut campur itu sudah memperkenalkan namamu tadi. Sekarang kau mau apa?” kata Reon lagi. “Dan bisakah kau melepaskan tanganmu dari kemejaku?”
“Ma-maaf,” Andrean menyingkirkan tangannya. “Eng… anu…”
“Anu apa? Dari tadi kau cuma bilang anu! Aku bosan tahu!” suara Reon naik satu oktaf. Anak-anak di koridor menoleh dengan cepat ketika dia berteriak.
“Ma-maaf. Aku-aku cuma mau tanya,” kata Andrean gemetar ketakutan.
“Ya sudah tanya apa? Kalau bisa cepat. Aku banyak urusan.” Kata Reon. Dia tidak tega melihat mata Andrean yang mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar seperti perempuan. Gawat kalau dia menangis.
“Re-Reon Sagara itu kan… kalau tidak salah… kau itu… violis muda berbakat dari Australia…kan?” kata Andrean terbata-bata.
Reon terdiam. Memory itu seakan teringat lagi… dia sama sekali tidak menyangka… ada yang masih mengenalinya. Padahal sudah tiga tahun dia tidak bermusik lagi… tapi kenapa…
“Iya kan?” suara Andrean kembali ceria. Dia seakan sudah dapat menebak isi kepala Reon. Matanya sekarang berbinar. “Wah! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Kau tahu tidak, aku suka banget caramu bermain biola! Kau seakan menyihir orang dengan permainanmu! Luar biasa!”
Reon melihat sekelilingnya. Sekarang Andrean-lah yang menarik perhatian.
“Aku tidak tahu.” Kata Reon melangkahkan kakinya.
“Tunggu, dong!” Andrean mengejar Reon. Dia malah menarik lengan baju Reon, lagi.
“Kau salah orang!” timpal Reon panik.
“Aku tidak mungkin salah orang. Aku bisa melihat dari wajahmu kok!” kata Andrean bersikeras.
Panik karena diikuti terus dengan tatapan mata setiap orang, Reon mempercepat langkahnya. Kabur selagi sempat.
“Eh, Reon! Reon! Tunggu!”
Sekolah ini benar-benar aneh! Kenapa semua muridnya selalu kelihatan memaksakan diri, sih? Lagipula sepertinya mereka semua terobsesi padaku!
“Reon, boleh aku minta tanda tanganmu? Boleh ya?”
Andrean benar-benar keras kepala. Dia mengejar Reon sampai ke kelas dan membuat perhatian yang terlalu berlebihan dan tidak perlu.
“Sudah kukatakan kalau kau salah orang!” bisik Reon panik. Tapi percuma saja, Andrean tidak mendengarkan. Dia malah mengoceh lebih cerewet dari biasanya.
“Dan aku sudah bilang kalau aku tidak salah orang,” kata Andrean keras-keras. Wajahnya jadi merah padam karena terlalu bersemangat. “Reon, aku boleh ya mendengar permainanmu? Kau tahu tidak, aku sudah jadi penggemarmu sejak kau memulai debutmu sekitar em… lima tahun lalu. Tapi kenapa kau mengundurkan diri? Kenapa? Padahal permainanmu itu seperti nyanyian surga loh.”
Dia sama sekali tidak mendengarkan, batin Reon sebal.
“Boleh, ya? Please…, ”Andrean memohon dengan wajah malaikat tanpa dosa.
Beberapa anak-anak cewek menjerit tertahan ketika melihat wajah Andrean. Anak-anak cowok yang lain wajahnya merah padam. Jujur saja, Andrean malah lebih cantik dari perempuan. Dia seperti…
“Oke. Nanti. Sepulang sekolah.” Reon menyerah. Dia ingin cepat-cepat menyingkirkan Andrean dari hadapannya, begitu juga dengan kenangan yang tidak perlu. Kenangan akan dirinya yang lain.
“Sungguh? Hore! Makasih!”
Andrean mencondongkan tubuhnya dan memeluk Reon. Terdengar teriakan tidak jelas.
“Aku juga mau,” keluh Lily. “Ndre… peluk aku juga, dong.”
“Lepaskan aku!” Reon memaksa Andrean melepaskan tangannya.
“Aku kan cuma memelukmu sebagai ekspresi kebahagiaan,” kata Andrean lagi.
“Kau bukan memelukku. Kau mencekikku. Dan hampir membuatku mati kehabisan napas!”
Andrean, anehnya, tidak merasa takut sedikitpun.
“Teman-teman, dengar ya? Hari ini, sepulang sekolah, Violis Muda berbakat dari Australia, yaitu Reon Sagara akan memperdengarkan permainan biolanya yang indah. Kalian nonton ya?” kata Reon.
“Heee? Jadi Reon itu violis ya?” suara yang tidak diinginkan Reon saat ini terdengar. Flo. “Nggak nyangka kalau kau jago menggesek biola”
“Aku tidak tanya pendapatmu,” gumam Reon melihat kearah lain.
“Baiklah. Satu sekolah akan menonton,” kata Alex. Dan Reon baru sadar kalau orang-orang yang tadi ada di StarBoy’s Locker sudah mengumpul. “Aku akan memberikan pengumuman melalui radio sekolah kalau salah satu dari StarBoy melakukan aksi.”
“Apa?” kata anak-anak kaget.
“Eh, jadi dia masuk StarBoy, nih?” kata Flo senang.
“Tentu. Mana bisa kita membiarkan Reon jadi orang biasa saja. Selamat bergabung ya, Reon Sagara,” kata Alex menganggukan kepalanya.
Apa lagi sih ini? StarBoy apaan?
***
Jadi… aku terpaksa ada disini dan memenuhi permintaan aneh mereka, menyebalkan sekali!
Reon melipat tangannya dengan sebal. Dia melihat kesekeliling. Merasa bodoh.
Sekarang dia ada di aula, tempat berkumpulnya semua anak Alexuis. Dan itulah masalahnya, semua anak Alexuis dan para guru sekarang ada disini. Dan dia ada di atas panggung, lengkap dengan mic yang sudah disodorkan padanya—Andrean-lah yang menariknya kesini. Reon menghela napas melihat banyaknya murid yang bersedia meluangkan waktu untuk menontonnya. Benar-benar banyak.
“Kita akan mendengarkan permainan fantastic dari Reon Sagara. Harap teman-teman menjaga ketertibannya, ya?” kata Andrean mengambil mic.
Adanya tanggapan membuktikan kalau kata-kata Andrean amat berarti. Oh, yang benar saja! Masa laki-laki yang seperti perempuan ini membuat semua siswa bertekuk lutut?
Bagi Reon untuk kabur sebenarnya sangat mudah. Dia sudah sering sekali kabur dari wartawan yang mencoba untuk mewawancarainya. Tapi, karena dia sudah janji dengan Andrean dan para fansnya, tidak ada alasan bagi Reon untuk kabur sekarang.
“Nah, silakan Reon.”
Reon menghela napas, lagi, entah untuk yang keberapa kali. Dia melirik kearah kotak biola yang masih tertutup dan sudah berdebu. Sudah tiga tahun lamanya dia tidak mengeluarkan biola yang selalu dia banggakan itu. Dan selama itu, biola itu hanya tergeletak disudut kamarnya. Sekarang dia akan memainkannya kembali.
Apa aku masih bisa main biola?
Reon melangkahkan kakinya ke dapan dan perlahan-lahan membuka kotak biola. Tangannya gemetaran saat dia mencoba untuk membuka kotak itu. Sudah tiga tahun… tiga tahun sejak dia meninggalkan dunia musik dalam keadaan kacau balau.
Reon mengusap keringat di sekitar lehernya. Entah sejak kapan dia berkeringat, padahal pendingin di aula terus dinyalakan sampai maksimum. Dia menghembuskan napas lagi. Tangannya terhenti di udara ketika sekian lama melihat biola yang ada di dalam kotak itu.
Biola itu masih dalam keadaan berkilat. Masih coklat seperti dulu. Reon mengambilnya dengan perlahan dan mengangkatnya. Dingin dari kayu yang membentuk biola itu menyentuh kulitnya. Dan rasanya masih seperti dulu.
Penonton bertepuk tangan ketika dia meletakkan biola itu di bahunya.
Dan inilah dia, peserta nomor tujuh. Salah satu yang terbaik didikan Tuan Rudolph!
Reon menggeleng ketika memori itu mulai merasuki pikirannya lagi. Hingar bingar yang membuat dia menggeluti dunia musik. Dan salah satu alasan bagaimana dia mengenal orang itu. Alasan kenapa dia harus pergi selamanya dari kehidupan dirinya. Alasan bagaimana dia menjadi kacau dan dibenci oleh keluarganya. Alasan kenapa dia menjadi seseorang yang tidak berarti.
Aku akan bangga, sebagai apapun kau nanti, Reon…
Reon mulai menggesek biolanya. Suara yang dikeluarkan biola itu, amat dia rindukan. Suasana ketika dia menjadi sorotan di atas panggung yang diterangi cahaya lampu sorot, desahan napas penonton yang mendengar permainannya, kebanggaan yang dulu pernah ditunjukannya untuk Ayahnya, dan nyanyian yang diciptakan oleh orang itu.
Ini akan jadi permainanku yang terakhir, Reon mendengar suaranya sendiri dalam kepalanya. Dia melihat sosok pria tampan yang tersenyum padanya. Izinkan aku mengikut kau saja, katanya lagi.
Reon, setiap orang punya alasan untuk hidup lebih baik, kata pria itu menatapnya dengan mata biru safir yang indah. Dan kadang, alasan itu ada yang tidak baik untuk orang lain. Jika kau mengikuti aku, maka kau akan meninggalkan dunia gemerlapmu selamanya. Ada hal-hal lain yang membuat manusia tidak dapat memenuhi keinginannya, Reon.
Tapi aku merasa, kalau mengikutmu akan membuatku lebih baik! Aku ingin menjadi kebanggaan seseorang! Ayah selalu memaksaku melakukan sesuatu yang aku tidak mau!, Reon menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.
Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus kepala Reon.
Aku akan bangga, sebagai apapun kau nanti, Reon…
Penonton bertepuk tangan ketika dia menyelesaikan permainannya dalam nada tinggi yang menyayat hati. Reon baru sadar apa yang terjadi ketika melihat Andrean bertepuk tangan, melompat-lompat, tersenyum bahagia—bahkan ada air matanya, tuh, sambil berteriak-teriak “luar biasa” berulang-ulang.
Reon bingung. Hal terakhir yang dia ingat adalah kalau dia membungkukan tubuhnya kepada penonton dengan dahi mengerut dan tangan gemetaran. Traumanya, sepertinya kembali.
***
“Bagaimana hari pertamamu? Menyenangkan?”
Reon mengadahkan kepalanya ketika laki-laki tampan setengah baya dan berwajah Eropa menghampirinya saat dia melepas sepatunya. Laki-laki itu memakai celemek dan memegang spatula di tangan sementara piring di tangan yang lain.
“Begitulah. Aku tidak mengharapkan terlalu banyak. Masak apa?” kata Reon mengalihkan pembicaraan.
“Daging. Tapi, kau sudah punya teman disana kan?” katanya lagi. Rupanya dia masih belum mau mengalihkan pembicaraan dan sepertinya berusaha membombardir Reon dengan pertanyaan.
Reon mengangkat bahu. Dia berpikir sendiri. Flo and the gank yang menyebut dirinya StarBoy itu bisa dikatakan teman tidak ya? Yah…sudahlah. Tidak terlalu penting.
“Ada yang menarik disana? Kalau kau tidak suka, aku bisa memindahkanmu lagi,” katanya.
“Tidak usah, Rudolph. Aku sudah lima kali pindah dalam kurun waktu empat bulan. Bikin capek,” kata Reon lagi menyelempangkan tasnya. “Kau mencium sesuatu tidak?”
“Ah!! Makan siang kita gosong!”
Dia berlari masuk dapur. Reon geleng-geleng kepala. Dia mengangkat kotak biolanya dan masuk ke dapur. Bau dari dapur membuat perutnya lapar.
“Padahal aku pikir hari ini bisa masak istimewa untukmu. Sekarang jadi gosong begini. Aku pesan dari warung Indonesia terdekat saja kalau begitu. Kau mau?” katanya. Dia kelihatan berusaha membuat keadaan dapur tidak penuh dengan asap dan bau gosong yang menyengat.
“Aku lapar. Biar yang itu saja kumakan. Tidak masalah walaupun gosong,” kata Reon.
Rudolph tersenyum.
“Aku ambil nasi dulu untukmu,” katanya berdiri setelah meletakan piring yang berisi daging gosong.
Reon mengangkat paha daging gosong dari piring. Dia mengerutkan dahi. Ini bisa dimakan tidak ya? Yah sudahlah. Aku lapar, sih…
“Ini. Pakai saus lebih enak. Kau mau kecap?” kata Rudolph meletakkan botol berwarna merah. Reon menggeleng. “Makan yang banyak, Reon. Kau tidak sarapan tadi.”
Reon mengangguk lagi.
“Kau bawa apa, sih? Kelihatannya banyak sekali,” kata Rudolph memeriksa tas Reon yang menggelembung. Reon tidak menjawab, dia sepertinya tidak bisa bicara karena lapar—atau mungkin berusaha untuk tidak muntah. “Oh, seragam! Bagus sekali.”
Reon mengambil air untuk memaksa agar nasi bisa cepat melewati kerongkongannya.
“Kau bawa biola?” kata Rudolph pelan.
Reon baru sadar kalau dia meletakkan biolanya diatas meja.
“Tadi ada orang yang masih mengenaliku dan memaksaku main. Aku tidak bisa menolak. Dia memaksaku pulang untuk mengambil—“
“Aku mengerti,” potong Rudolph. “Ehm—wah! Pasti orang itu penggemar setiamu, ya? Dia masih mengenalimu walaupun kau sudah tidak main lagi!”
Reon tidak mengomentari. Makanan itu jadi makin sulit ditelan.
“Reon…,” Rudolph sepertinya sadar kalau dia terlalu berlebihan dengan sikapnya. “Kalau kau mau kembali ke duniamu. Itu belum terlambat. Sebelum kau—“
“Tolong hentikan, ok? Kita sudah membahas ini sejak empat tahun lalu. Dan aku sudah memutuskan untuk mengikutimu. Tidak ada yang harus membuatku kembali!”
Reon mendorong piringnya. Dia melipat tangannya dengan sebal. Kakinya menghentak-hentak.
“Baiklah. Maafkan kau,” kata Rudolph pelan. Dia bangkit dari tempatnya. “Aku tidak bisa pulang malam ini. Ada pergantian yang tidak terelakan. Jangan lupa kunci pintu. Oh, ya kalau kau lapar, ambil saja uang dari lemari. Aku akan memberitahumu—“
“Bolehkah aku memanggilmu ‘Ayah’?” kata Reon pelan. Wajahnya menatap ke arah lain.
“Aku bukan Ayahmu, Reon,” kata Rudolph membereskan piring.
“Tapi kau merawatku lebih dari Ayahku sendiri,” gumam Reon, menatap tajam Rudolph.
Rudolph menghela napas. “Tetap tidak bisa.”
Reon membasahi bibirnya. Merasa sebal. Tidak lama kemudian Rudolph keluar dari kamar dan buru-buru membawa mantel bepergiannya. Dia mengacak rambut Reon sebelum dia keluar. Suara pintu membuktikan kalau dia sudah pergi.
Reon menghela napas lagi. Rasanya capek.
***
Reon melonggarkan dasinya sedikit. Dasi yang dipasangkan Rudolph hampir membuatnya kehabisan napas. Dia bahkan melepas dua kancing seragamnya. Rudolph juga melemparkan rompi, dia memaksanya memakai rompi.
“Yah… setidaknya aku sempat melihatmu pergi,” kata Rudolph memasukan buku-buku pelajaran Reon ke dalam tas samping hitam miliknya. “Aku nggak bisa pulang kemarin malam karena sibuk. Razia disana sini, bikin repot saja.”
“Aku tidak mengharapkan hal yang lebih darimu,” gumam Reon, melihat dirinya dicermin.
“Sisir rambutmu.”
“Sudah.”
“Tapi masih berantakan.”
“Ini style.”
“Stylenya jelek sekali.”
Reon tertawa kecil.
“Nih, tasmu. Kau makan siang di rumah kan?” kata Rudolph memberikan tas Reon.
“Entahlah. Rencananya aku mau jalan-jalan,” jawab Reon mengambil tasnya. “Aku berangkat.”
“Jangan lupa kunci motornya saat di parkiran,” kata Rudolph mengantar Reon di depan pintu.
“Ya.”
Reon menaiki motor ninja merah metaliknya. Dia memakai helmnya. Menstater motornya dan pergi secepatnya menuju sekolah.
Reon melewati jalan-jalan kecil untuk memotong jalan. Kalau dia melewati jalan raya, bisa-bisa terjebak macet. Dia memperlambat laju motornya saat melewati genangan air dan jembatan rusak. Kadang-kadang ada anak-anak SD yang mengikuti motornya. Akhirnya setelah lima belas menit dia melihat gerbang sekolah Alexuis.
Gerbang Alexuis yang berwarna hitam terbuka lebar bagi anak-anak yang masuk ke dalam gerbang. Dia menarik perhatian ketika motornya melewati lapangan—bukan bermaksud menyombong, tapi ada cewek cantik yang menjerit histeris, padahal dia memakai helm tertutup. Motornya diparkir di sudut basement khusus. Kemudian dia melepas helmnya.
“Oh, my God!”
Reon menoleh kearah suara itu. Lalu mengerutkan dahi. Ada beberapa cewek-cewek cantik dan langsing yang bergerombol disitu. Kelihatannya mereka baru turun dari mobil.
“Hay, Ganteng… bawa motor, nih?” kata salah seorang dari mereka.
Reon berbalik dengan cepat. Dia membawa helm merah gelapnya juga, beserta tas sampingnya. Suara kikik gadis-gadis itu masih kedengaran walau dia sudah meninggalkan basement.
Udara diluar memang lebih baik, batin Reon mengacak rambutnya. Mungkin nanti aku jalan-jalan kesekitar Bogor aja kali ya? Rudolph marah ya kalau aku nggak pulang?
“Oho!”
Reon berhenti melangkah dan cepat-cepat berbalik ketika melihat sosok orang yang baru keluar dari kelas XI IPA 3. Ada langkah memburu kearahnya.
“Pagi, Reon!” sapa Zacky sok akrab. Dia mengalungkan tangannya ke leher Reon.
“Pagi. Lepaskan,” kata Reon singkat menyingkirkan tangan Zacky.
“Kau benar-benar jadi artis tahu. Kau nggak lihat pandangan cewek itu?” Zacky melirik kearah cewek cantik berambut panjang. Wajah gadis itu memerah ketika Reon lewat.
“Nggak.”
“Dasar cuek. Sikapmu itu mirip sama Alex. Tapi mungkin itu yang membuat dia beken ya?” gumamnya lagi. Reon tidak peduli. “O, ya. Waktu istirahat nanti datang ke loker kita, ya? StarBoy mau mengadakan upacara penyambutan untukmu tuh.”
Reon berpisah dengan Zacky saat Reon berbelok di koridor. Sialnya, dia bertemu dengan Flo! Saat dia berbalik, Aster sudah ada dibelakangnya dan saat dia mau menyingkir ke kiri, sudah ada Alex disisinya. Mereka mengapit Reon dan tersenyum penuh arti.
“Apa?” kata Reon.
“Nih, jadwalmu mulai dari hari ini,” Flo memberikan selembar kertas berisi entah apa.
“Jadwal apa?” kata Reon mengambil kertas itu dan membacanya.
Senin : pemotretan
Selasa : manggung
Rabu : latihan band
Kamis : latihan menari
Jumat : pelatihan bahasa
Sabtu : siaran
Minggu : santai dan refreshing
Dahi Reon mengerut. “Apaan nih?”
“Itu jadwal.” Kata Alex apa adanya.
“Jangan membodohiku. Aku tidak punya jadwal seperti ini sejak aku keluar dari dunia musik.”
“Sekarang ada,” kata Aster dengan suara rendah. “Karena kau sudah menjadi bagian dari kami.”
Reon menghela napas. “Maaf saja. Tapi rasanya aku sudah bilang kalau aku tidak berminat untuk masuk ke StarBoy. Seharusnya kalian mendengarkanku.”
“Kau tetap akan masuk walau kau tak mau. Aku akan menerangkan apa itu StarBoy kalau kau mau datang nanti sepulang sekolah ke StarBoy’s Locer. Kami akan menyambutmu.” Kata Alex.
TEEEEEEEET
“Ah, sudah bel. Sudah, ya kami akan menunggumu sampai kau datang,” Alex dan Aster pergi.
***
Dear Reon,
Bagaimana keadaanmu? Kuharap kau baik-baik saja. Aku tidak berharap kalau kau tidak akan membuat masalah disana. Well, aku merindukanmu. Dan itu tidak cukup dengan hanya melihat fotomu tau membaca suratmu.
Aku tahu ada beberapa hal yang tidak ingin membuatmu kembali ke sini. Tapi, jika kau pulang, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka. Kuharap kau menemukan yang terbaik disana dan tidak menyusahkan Rudolph. Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Aku akan siap menolongmu.
Miss you,
Leon
Reon tersenyum kecil membaca surat itu. Dia sudah tiga kali membaca surat itu. Dia ingin sekali membalas surat Leon, namun untuk saat ini lebih baik dia tidak melakukannya.
“Leon itu pacarmu, ya? Kok namanya laki-laki? Dia itu perempuan atau laki-laki? Kalau dia laki-laki, berarti kau homo, dong!” celetuk Flo yang daritadi rupanya ada dibelakangnya. “Itu surat yang kemarin kan?”
“Kenapa kau selalu saja mencampuri urusan orang?” kata Reon sebal. Dia buru-buru menyimpan surat itu ke balik buku Fisikanya. “Kau tidak punya kerjaan, ya?”
Flo berhehe ria. “Kalau kau homo, aku akan maklum kok.”
“Siapa yang homo?” gerutu Reon.
“Aku mengerti. Aku mengerti,” Flo menepuk punggung Reon dengan wajah kebapakan. “Jadi, alasan kau tidak suka sama cewek adalah karena kau suka Leon, ya? Orangnya seperti apa? Manis? Jangan-jangan seperti Andrean, lagi.”
“Manusia sinting,” gumam Reon bangkit berdiri. Dia cepat-cepat pergi dari sisi Flo. Suara ngakak Flo masih kedengaran. Dia malah berteriak, “Oi, REON! KIRIM SALAM SAMA PACARMU LEON YA?? HAHAHAHA”
Reon cuek. Dia memijit-mijit tulang lehernya yang sakit. Semalam dia kurang tidur karena menunggui Rudolph pulang.
Kriiiing… kriiiiing….
Reon merogoh kantongnya. Ada pesan masuk dari Rudolph.
From : Rudolph
Maaf. Malam ini aku nggak pulang. Makan malam diluar saja. Jangan menungguku, ya?
Reon menghela napas dan membalas ‘ya’ dengan cepat. Dia berbelok ke koridor sepi. Lalu berbelok lagi, kemudian dia berhenti karena merasakan ada sesuatu yang tidak beres, ada orang yang mengikutinya. Saat dia berbalik, dia mendengus.
“Ngapain mengikuti aku lagi?” kata Reon pada Andrean.
“Aku cuma mau mengucapkan selamat pagi,” kata Anderan.
“Pergi!”
“Reon datang yang ke StarBoy’s Locker. Asyik, loh! Kalau kau nggak mau aku akan menyeretmu nanti. Kau—iya iya aku pergi!”
Andrean lari pontang-panting ketika melihat wajah seram Reon.
Huh, mana mau aku ikut acara begituan!
Kriiiing… kriiiiing….
Ada pesan masuk lagi. Dengan malas Reon mengangkat pesan itu.
From : Private Number
Datang ke gedung serba guna kota kalau kau mau walimu tetap hidup.
Reon mengepal tangannya.
Dipo, brengsek!
***

1 komentar:

Vix alexa mengatakan...

terima kasih udh sharing, next ke eps selanjutnya..
silahkan kunjungi juga ya streaming/download film box office gratis

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.