RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 02 September 2014

TBMB [22]



22
Man Up
==========

RIVER(POV)
Aku menggosok daguku, sama sekali tak melihat layar televisi yang memberitakan masalah kemarin. Xavier masuk lima belas menit kemudian, membawa bungkusan. Dia tak melihatku dan segera berlalu ke dapur. Tak lama, dia membawa nampan dengan bau sup enak menggugah selera menuju atas.
Sikap Xavier membuatku ingat apa yang dikatakan Fran kemarin.

“Aku menyukai Jeremiah,” suara Fran terdengar tak jelas karena dia sangat mabuk. Bibirnya merengut, mirip seperti anak kecil yang tidak kebagian permen. “Menurutmu, apa dia menyukaiku?”
Alisku menaik, bersandar di kursi sambil melipat tangan. “Kurasa dia menyukaimu.”
Yang mengherankan, dia malah tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau bohong. Dia tak menyukaiku. Dia benci padaku.” Aku tak merespon dan dia melanjutkan. “Dia selalu marah padaku. Apa seperti itu sikap orang yang menyukai seseorang?”
“Well, Xavier memang seperti itu.”
“Aku tak berbicara tentang Xavier, aku membicarakan Jeremiah.”
Orang mabuk benar-benar tak bisa menggunakan otak mereka. “Ya, Jeremiah.”
Fran menyipitkan matanya, kacamatanya miring sedikit. Dia mengambil gelas dan minum lagi. Aku tak melarangnya. Kalian tahu isitilah bahwa orang mabuk adalah orang terjujur di dunia? Nah, aku yakin bahwa itu benar. Setelah menghabiskan gelas ketiganya, Fran mulai melakukan tingkah aneh dengan memelototi gelasnya seakan benda itu berbahaya.
“Fran, kurasa kau sudah terlalu banyak minum.” Betapa manisnya ekspresi wajahnya itu.
Dan tiba-tiba saja dia bicara. “Aku mencintainya.”
Aku mengerjap. “Huh?”
“Aku mencintai Jeremiah,” gumamnya. “Apa dia mencintaiku? Jika aku bilang kalau aku cinta padanya, apa dia akan membenciku? Aku tak mungkin bersaing dengan para wanita kan? Mereka lebih baik dibandingkan aku. Hah… cinta itu tak enak. Si Bodoh. Dia sama sekali tak menyadari perasaanku.”

Ini benar-benar diluar dugaanku. Kalau sudah seperti ini, aku tak akan punya kesempatan dan tentu saja aku tak berniat mengambil kesempatan. Meski aku naksir Fran, tapi bila dia menyukai orang lain, maka aku tak berhak di antara mereka.
Masalahnya, aku cemas pada Fran.
Selama ini, Xavier belum pernah mencintai seseorang dengan tulus. Satu-satunya orang yang dia kasihi hanya Cody, bahkan kami sebagai keluarganya saja sama sekali tak mampu menandingi Cody. Aku yakin siapapun yang jadi pendamping Xavier, mereka akan selalu jadi nomor dua. Kenapa Xavier menjadi seperti itu, aku juga bertanya-tanya. Sejak dia kecil, aku tak merasa ada hal yang aneh di antara hubungan mereka berdua. Mereka layaknya sahabat sejak kecil lainnya. Mereka juga tak terikat hubungan romantisme atau seksual.
Lalu, kenapa hanya Cody yang berbeda?
Mungkin terjadi sesuatu selama aku pergi? Hanya ada satu kejadian penting yang membuat seseorang rela mati demi seseorang kan? Tunggu dulu, kalau aku tak salah ingat, Cody pernah mengalami kecelakaan. Apa karena itu? Sepertinya tidak, mereka sudah lebih akrab jauh sebelum itu.
Lebih baik, aku tanyakan saja langsung daripada bikin pusing.
Tanpa berlama-lama, kulangkahkan kaki menuju kamar dan mengintip dari celah pintu. Xavier sedang memarahi Fran, mengulangi kalimatnya pagi ini untuk tidak minum lagi. Fran sendiri hanya mengerang jengkel padanya dan menyuruhnya keluar agar dia bisa makan dengan tenang.
“Ini semua karena kau,” desis Xavier, menutup pintu. “Kau tahu dia tak bisa minum banyak, tapi tetap saja memberinya minum.”
“Aaw, Xavier. Aku hanya ingin tahu semanis apa calon pacarku saat sedang mabuk.”
Ada kilatan posesif di matanya. “Jauhi dia. Kau cuma memberikan dampak buruk.”
“Tapi aku menyukainya,” kataku, mengikutinya turun ke bawah. “Kenapa sih kau peduli sekali padanya? Kupikir satu-satunya orang yang kau cintai hanya Cody.”
“Karena kau memberi dampak buruk padanya.”
“Memangnya aku melakukan apa? Aku tak menyuruhnya minum banyak. Aku“
“Tapi kau tak melarangnya berhenti,” potongnya cepat. “Jangan bawa-bawa Cody dalam masalah ini, oke?”
Aku memutar bola mata, menarik kursi di dekatnya yang sedang mengambil jus di kulkas. “Bukankah sudah saatnya bagimu untuk membentuk keluarga sendiri? Cody sudah punya Keyna sekarang. Sekarang giliranmu. Kau tak akan mau kalah dari temanmu sendiri kan?”
“Aku akan menikah jika sudah menemukan wanita yang tepat.” Dia meneguk jusnya langsung dari kotaknya. Aku hanya memandangi Xavier, memerhatikan figurnya.
Damn, adikku memang seksi. Bahkan dengan rambut awut-awutan saja dia masih tetap keren. Pantas saja Fran tergila-gila. Sifat bad boy-nya itu juga menjadi daya tariknya, meski kadang-kadang, itu juga yang menyebalkan.
“Aku ingin bicara serius,” kataku, mengganti intonasi suaraku. Xavier melirikku dari ujung matanya, mengangguk dan duduk di depanku. Meskipun keluarga Huges terkenal dengan kegilaannya, tapi kami lumayan serius. “Ini mengenai hubunganmu dan Cody.”
Matanya menyipit. “Aku mendengarkan.”
“Kenapa harus Cody?”
Dia terdiam sejenak, memandang mataku lurus-lurus. Aku tahu hanya dengan satu pertanyaan itu, Xavier bisa menduga berapa banyak arti di dalamnya.
“Ada tiga alasan,” jawabnya serius. “Dia ada. Dia tak mengecewakanku. Dia tak menghakimiku.”
Aku mengerjap. Tiga alasan singkat yang entah mengapa menusuk jantungku. “Xavier…”
“Tidak, River. Aku tak ingin membicarakan ini.” Dia bangkit, meneguk jusnya kembali. “Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Aku tak mau mengingatnya.”
“Xavier…”
“Bisakah kita hentikan pembicaraan ini? Aku paling benci hal-hal yang membuat kepalaku sakit.” Meletakkan jusnya, Xavier segera keluar dari dapur dan, kuduga, kembali ke kamarnya.
Dia ada. Dia tak mengecewakanku. Dia tak menghakimiku.
Tiga alasan yang membuat keberadaan Cody mutlak, bahkan oleh siapapun.
Dan itu semua karena aku.
Karena aku memutuskan untuk meninggalkannya tanpa kabar, memberikannya seluruh tanggung jawab ke bahunya, membuatnya harus menjadi sepertiku, membuatnya hidup dalam perbandingan oleh orang-orang…
Apa yang telah kulakukan? Jeritku dalam hati. Aku telah melakukan kesalahan besar dengan mengorbankan Xavier hanya untuk mendapat kebebasanku. Tanggung jawab yang harusnya menjadi milikku kuserahkan pada seorang anak kecil. Aku bahkan tak mampu menghadapi masalahku sendiri dan memilih untuk melarikan diri.
Ponselku tiba-tiba berdering, membuatku kembali fokus. Pandanganku kabur dengan air mata yang cepat-cepat kuhapus. Ada telepon masuk dari tempat yang jauh dari sini.
“Halo?” kataku dengan suara bergetar.
“River, wanita itu meninggal.”
Aku tak tahu harus bilang apa. Butuh waktu untuk memeroses apa yang sebenarnya terjadi. “Bagaimana…” Aku menelan ludah. “Bagaimana kejadiannya?”
“Dia tertembak pasukan militer di perbatasan Gaza saat hendak mengungsikan anak kecil.”
Aku menggigit bibir. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Wanita itu sudah meninggal. Dia pergi dengan cara mengenaskan. Bahkan aku sendiri tak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya. “Lalu, bagaimana dengan anaknya?”
“Anak itu selamat. Trauma dan sedih, tapi dia sehat.”
Aku menghela napas lega. Setidaknya, aku tahu dia baik-baik saja.
“River, apa yang harus kulakukan pada anak itu? Aku tak mungkin meninggalkannya di negara ini. Kau tahu benar hukum di negara ini masih primitif. Dia bisa mati.”
“Aku…” Aku tak bisa bicara. Aku tahu hal itu.
“Xavier, aku tahu kontrakmu dengan militer sudah selesai, tapi kau tak bisa meninggalkan tanggung jawabmu di sini. Dia membutuhkanmu.”
Aku memijit ujung hidungku, menghela napas. Meski aku tak percaya ada Tuhan di dunia ini, tapi aku yakin ada yang namanya karma dan karma itu sedang menghukumku sekarang. Seluruh kesalahan yang pernah kulakukan dulu, sekarang balik menyerangku bertubi-tubi.
Tapi kali ini aku tak akan kabur.
Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan menghadapi masalahku sejak aku menginjakkan kaki kembali kemari. Aku harus mulai melakukan segala sesuatu dengan benar. Hal itu dimulai dari sekarang.
“Kirim dia ke sini,” kataku.
“Kau yakin?”
“Ya,” kataku mantap. “Nikolein membutuhkanku sebagai Ayahnya.”
***
JEREMIAH(POV)
Dua minggu tak ada Cody, aku bosan setengah mati. Cody sepertinya benar-benar menikmati masa bulan madunya sampai lupa sama sekali denganku. Si Bodoh itu bahkan tak memberikan pesan padaku! Keyna benar-benar memonopolinya! Awas saja wanita itu, kubalas dia nanti!
Menghela napas, aku menutup berkas yang sudah kutandatangani dan ganti melihat komputer.
Ada sebuah pesan masuk ke mailku.
Jeremiah, aku tahu bahwa kau sangat sibuk jadi tak bisa menemaniku.
Tapi kupikir kau ingin tahu perkembangan bayi kita.
Daphne.

Aku tersenyum melihat foto hitam putih yang dikirim Daphne padaku. Sudah berapa lama Daphne hamil? Aku lupa sudah berapa bulan, tapi melihat perkembangan janin di perut Daphne membuatku diliputi kebahagiaan tersendiri. Tanpa sadar, aku sudah meraba foto itu, rasa sayangku bangkit begitu rupa.
Aku akan menjadi seorang Ayah. Awalnya, itu ide mengerikan yang amat buruk, tapi setelah aku mulai terbiasa, perasaan itu berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Inikah yang dirasakan Cody saat mendengar bahwa Keyna hamil? Aku bisa mengerti perasaan Cody dan bagaimana rasa cintanya bertambah pada wanita itu. Dan kurasa, aku juga mengalami hal yang sama. Perasaan cinta padaku semakin hari semakin dalam pada anakku dan pada ibunya.
Tapi, sayangnya, Daphne berada jauh dari jangkauan.
Aku menyimpan foto itu dan mencetaknya lalu kumasukkan ke dompetku. Bila melihat foto itu, aku yakin aku bisa menjaga diriku sendiri untuk tidak melihat wanita lain. Aku tak mau anakku dikutuk oleh para wanita yang kutiduri. Kenapa? Kalian mengejekku yang percaya pada kutukan? Silakan tertawa, aku tak peduli.
Selesai membereskan pekerjaanku hari ini, aku segera turun dan masuk ke mobilku. Selama ini aku sibuk terus karena pekerjaan dan tak sempat bergaul dengan siapapun. Siapa kira-kira yang harus kuajak ngobrol? Aku sedang tak ingin bicara dengan para wanita. Aku hanya ingin santai.
Aroz sudah pasti tak bisa kuajak ngobrol karena dia hanya akan menghabiskan seluruh waktunya pada James, yang seperti lintah dan ogah meninggalkannya kemana-mana. Lagipula, aku tak ingin melihat kemesraan mereka sementara aku sendiri jomblo. River sedang sangat sibuk. Akhir-akhir ini dia membuktikan dirinya bahwa dia ingin mengambil alih pekerjaan Ayahku. Dia memegang tiga perusahaan sekaligus dan menata rumah barunya. Dia juga mulai jarang pulang karena harus terbang ke beberapa negara. Keluargaku jelas bukan pilihan. Mereka hanya akan mengeluhkan hal yang  sama.
Satu-satunya orang yang jomblo dan santai tiap malam hanya satu orang: Fran.
Kenapa hanya dia satu-satunya pilihan? Menghela napas, aku memutar mobil menuju rumah Fran. Apa kira-kira alasan yang harus kuberikan pada Fran? Dan kenapa pula aku harus memberikan alasan? Oh, benar juga, karena aku tak mau dia salah paham pada setiap kunjunganku.
Dahiku mengerut, kebingungan sendiri. Tapi, salah paham karena apa?
Otakku yang menyebalkan tiba-tiba saja mengingat adegan dimana Fran yang mabuk waktu itu dan tak sadarkan diri di kamarku. Pada saat itu tanpa sadar, aku menciumnya. Setan apa yang waktu itu merasukiku sampai menciumnya?
Tentu saja karena saat itu kau melihatnya begitu manis tidur di  atas tempat tidurmu karena River membuatnya mabuk dan Gabrielle menyuruhmu untuk mengantarnya bertemu Oliver.
“Oh, diamlah, diriku yang satu lagi. Aku tak tanya pendapatmu,” kataku jengkel.
Tapi yang kukatakan itu benar. Aku adalah dirimu.
“Tutup mulutmu dan biarkan aku menyetir dengan tenang,” balasku lagi. Ya ampun, aku mulai seperti Cody: bicara pada diri sendiri!
Aku sampai ke rumah minimalis Fran dan hendak mengetuk pintu sampai suara Gabrielle terdengar memanggil di belakang.
“Dad?”
“Gabrielle, kau memotong rambutmu?” kataku keheranan. Gabrielle tak lagi punya rambut panjang merah yang membuatnya cute melainkan rambut pendek monhawk yang memperjelas wajah dan mata birunya yang indah. Penampilan barunya membuat kepercayaan dirinya menguar.
“Erm, ya. Baru tadi,” gumamnya, menyisir rambutnya dengan jemari. “Rambutku sudah terlalu panjang dan sulit sekali melihat lawan dengan rambut berkibar.”
Aku tertawa. “Kau keren.”
Dia tersenyum kecil. “Papa pasti sedang membuat makan malam. Kau tak bawa cake?”
Aku menggeleng. “Baguslah. Aku juga sedang kelaparan.”
Gabrielle membuka pintu dan kami masuk bersamaan. Terdengar suara musik dari dalam. Tidak terlalu keras kedengaran keluar, tapi cukup untuk membuat kami berdua mengerutkan dahi dan saling pandang. Tak lama terdengar suara di antara nyanyian tersebut.
Suara Fran.
Kami kembali saling pandang. Saat Gabrielle memberikan senyuman monalisa andalannya, aku tahu dia juga berpikiran hal yang sama. Mengendap-endap tanpa suara, kami menuju dapur, mengintip dari balik dinding.
Fran sedang memasak dan bernyanyi. Sekaligus juga berjoget.
Suara musik dari radio yang menggelegar di dekat meja makan, menyanyikan sebuah lagu yang membuatku dan Gabrielle nyaris terpingkal-pingkal.
Do I attract you?
Do I repulse you with my queasy smile?
Am I too dirty? Am I too flirty?
Do I like what you like?
Yeah, I could be wholesome
I could be loathsome
I guess I'm a little bit shy
Why don't you like me?
Why don't you like me without making me try?
Fran memberikan ekspresi anak kecil penuh memelas, menggunakan spatula di tangannya sebagai mikrofon. Aku menutup mulut Gabrielle yang nyaris saja terbahak, memberikan isyarat agar dia tak bersuara.
I tried to be like Grace Kelly
But all her looks were too sad
So I tried a little Freddie
I've gone identity mad!
I could be brown, I could be blue
I could be violet sky
I could be hurtful, I could be purple
I could be anything you like
Gotta be green, gotta be mean
Gotta be everything more
Why don't you like me?
Why don't you like me?
Why don't you walk out the door!
Kali ini dia berputar-putar. Mirip seperti orang mabuk kemarin, mengangkat tinggi spatulanya, masih bernyanyi gila-gilaan. Kami berdua tertawa tanpa suara, nyaris keluar air mata melihat betapa kocak dan gilanya Fran sekarang. Ternyata, selain profesor yang tenang dan kharismatik, dia juga bisa gila seperti ini.
How can I help it? How can I help it?
How can I help what you think?
Hello my baby, hello my baby
Putting my life on the brink
Why don't you like me?
Why don't you like me?
Why don't you like yourself?
Should I bend over?
Should I look older just to be put on your shelf?
            Sekarang dia malah menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk memasukkan bahan makanan. Oh, God. Ini pemandangan paling lucu yang pernah kulihat. Gabrielle sudah jatuh ke lantai, memegangi perutnya, nyaris terguling-guling. Aku juga memegangi perutku, kesakitan menahan tawa tanpa suaraku sendiri.
I tried to be like Grace Kelly
But all her looks were too sad
So I tried a little Freddie
I've gone identity mad!
I could be brown, I could be blue
I could be violet sky
I could be hurtful, I could be purple
I could be anything you like
Gotta be green, gotta be mean
Gotta be everything more
Why don't you like me?
Why don't you like me?
Walk out the door!
            Ketika dia berputar lagi, tanpa sadar dia melihat kami berdua yang sudah keluar dari persembunyian kami karena tak lagi bisa menahan diri melihat aksi Fran dalam kondisi mengenaskan karena menahan tawa. Fran menjerit kaget dan kami makin terbahak karena jeritan Fran persis seperti jeritan wanita yang ada di kamar mandi ketika pintu mereka terbuka tiba-tiba.

“Sejak kapan kalian berdua ada di sana?” seru Fran, dengan wajah merah padam, memegangi dadanya.
Kami semakin terbahak.
“P-P-Papa… kau… muahahahaha,” Gabrielle terbahak lagi sama sekali tak bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri dan berguling di tempatnya.
Fran menggertakan gigi.
“Aku tak menyangka kalau kau hobi bernyayi, Fran,” kataku di antara tawaku. “Oh, God. Tadi itu lucu sekali. Tarianmu benar-benar luar biasa.”
Jika wajahnya bisa lebih memerah lagi dari sekarang, maka aku yakin dia akan meledak. Dia mengerang jengkel, bergumam, “Memalukan” pada dirinya sendiri, membuat kami tertawa lagi, sambil menutup wajahnya.
“Aku… aku mau mandi dulu,” Gabrielle bangkit dari tempatnya, memegangi perutnya. “Aduh, ini hari terlucu yang pernah kualami.”
Aku geleng-geleng kepala, mendekati Fran yang merengut ketika melanjutkan masakannya. Musik dari radio tadi masih berbunyi.
“Jadi, kau akan jadi apa saja untuk orang yang kau sukai? Itu ekstrim sekali,” kataku, mencomot makanan yang dia hidangkan sebelum dia menampar tanganku.
“Itu cuma lagu, Jeremiah.”
“Lagu dibuat karena seseorang pernah mengalaminya,” kataku.
Dia tak membalasku dan memilih untuk memotong lobak dengan kekuatan berlebihan sampai talenannya berbunyi keras. Aku cuma tertawa kecil.
“Kenapa kau datang? Biasanya kau menelepon lebih dulu.”
“Aku lapar.”
“Rasanya aku seperti memberi makan hewan liar di pinggir jalan.”
“Aku tak keberatan kalau makan masakanmu yang enak.”
“Kau tak mengerti sindiran ya?”
“Aku hanya pura-pura tak tahu saja.”
Dia mengabaikanku selama memasak. Aku membantunya menata meja makan. Begitu Gabrielle kembali, anak itu tersenyum lebar dan duduk layaknya tuan muda di tempatnya. Fran hanya tersenyum saja, memuji penampilan barunya karena tadi dia terlalu sibuk dipermalukan sampai lupa melihat penampilan Gabrielle.
“Kau terlihat tampan, Gabrielle,” Fran mengecup dahinya.
“Papa, aku bukan anak kecil,” gerutunya, menyeka dahinya.
“Bagiku, kau tetap anak kecil,” balasku, mengacak rambutnya yang basah. Dia membalasku dengan menjulurkan lidahnya.
Kami makan dengan tenang dan santai, menertawakan Fran, menggodanya, lalu mngobrol tentang kejadian hari ini. Tak ada yang banyak berubah kecuali Gabrielle. Belakangan ini Gabrielle jadi sosialis. Dia tak lagi menutup diri pada Fran dan dia mulai tertawa pada Fran, cara bicaranya sudah tak kaku lagi. Fran sepertinya mengalami kemajuan dalam mendidik Gabrielle.
Dan setelah Gabrielle memilih untuk naik ke kamar mengerjakan PR-nya, aku dan Fran segera disibukkan dengan kegiatan paling menyebalkan dalam hidupku: mencuci piring.
“Gabrielle sepertinya mulai terbuka padamu,” kataku.
Fran tersenyum kecil dan mengangguk. “Akhir-akhir ini dia banyak bercerita tentang sekolahnya. Rasanya menyenangkan mendengarkan dia.”
“Baguslah,” kataku, menyenggol bahunya. “Karena dia sekarang sudah menerimamu, bagaimana kalau kau sekarang memikirkan masa depanmu juga.”
“Jeremiah, aku sudah bilang kalau aku tak butuh perempuan. Aku baik-baik saja tanpa mereka.”
“Tapi kau tak mungkin hidup sendiri selamanya, Fran.”
“Aku punya Gabrielle, jika kau lupa.”
“Tapi Gabrielle tak mungkin menemanimu selamanya. Dia itu masih muda. Dia juga pasti punya kehidupannya sendiri.”
Fran menghela napas., menggigit bibirnya. “Sebenarnya, bukan hanya itu saja…”
“Maksudmu?” kataku, meletakkan mangkuk yang sudah kubilas ke rak piring.
Fran butuh waktu lama membuka kembali mulutnya dan mengatakan alasannya dalam bisikan kecil yang nyaris saja tak bisa kudengar andai saja suasananya tak sesunyi ini.
“Aku gay.”
Huh? Aku sama sekali tak menduga jawaban yang itu.
***
Medan, Minggu, 11 Mei 2014


 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.