RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 23 September 2011

Amour Cafe Receipt Twenty (End)

by: Prince Novel

Receipt Twenty

Kemarin itu bukan hal yang nyata. Tidak. Tidak sama sekali. Bukan aku yang kemarin ditolak Hazel, bukan aku yang nangis tengah malam dan bukan aku yang ditembak Kian. Bukan. Bukan aku.

Kakiku mondar-mandir di depan gerbang sekolah. Kegelisahan terpancar jelas di wajahku. Aku tak bisa tidur semalaman dan sekarang aku malah kecepatan datang ke sekolah. Sekolah masih sunyi—ah, tidak, dari mataku sekolah masih sangat ramai.

Tapi, tidak peduli seberapa ramainya saat ini, orang yang paling tidak ingin kutemui pagi ini cuma Kian. Ya. Dia.

“Ariel!”

Refleks, tubuhku langsung melompat ke balik tembok sekolah. Jantungku berdegup-degup sementara aku mendengar suara Adriel. Aku mengintip sedikit dan mendapati Adriel tengah mengejar Ariel memasuki gerbang. Dahiku mengerut. Kemana motor Ariel dan mobil Adriel?

“Tunggu, elo benar-benar marah?” Adriel menarik tangan Ariel. “Gue kan udah bilang kalau gue itu sebenarnya masih suka sama elo.”

“Aku nggak peduli. Kau itu memanfaatkan Hazel dan aku nggak suka cewek kayak gitu,” Ariel menyingkirkan tangan Adriel. “Aku nggak keberatan kau suka padaku atau sama siapapun tapi sori banget, Adriel, aku benar-benar udah kecewa banget. Hazel itu baik dan—ah, sudahlah.”

“Tapi kalo elo marah kayak gini. Itu berarti elo suka sama gue kan? Elo cemburu kan?”

“Bukan!” Ariel berteriak. Dia kelihatan marah sekali. Ini pertama kalinya aku melihat dia semarah itu. “Adriel, aku tahu kau suka padaku dan aku udah bilang sori semampuku tapi membuat Hazel sampai dibenci sama calon tunangannya itu udah keterlaluan banget tahu!”

Aku menutup mulutku. Apa?

“Ariel, Hazel aja nggak keberatan kok. Adiknya Felix juga ngerti kalo Hazel itu ceweknya emang banyak. Kemarin Rhea, terus berubah jadi Alex. Apa dia nggak nyadar kalo Alex suka sama Kian? Dia buta ato pura-pura nggak tahu? Gue cuma kasihan aja sama dia. Gue kan bantuin dia buat nyemburuin Alex. Alex aja yang buta ngga bisa lihat cinta begitu besar dari Hazel. Elo juga buta, udah tahu Alex nggak suka sama elo, tapi elonya masih suka sama dia.”

“Cukup,” Ariel menggeram. Rahangnya mengeras. “Kau cantik tapi hatimu busuk. Alex berusaha menjaga nama baikmu tapi kau menjelek-jelekannya di belakang. Apa sebenarnya masalahmu? Apa kau tak bisa berterima kasih sedikit saja padanya? Alex tak pernah mengeluh dan itu yang aku suka darinya bukannya kau yang tiap hari bisa memakai uangmu untuk hal yang ingin kau dapatkan.”

Adriel mengepalkan tangannya. Kemarahan terpancar jelas dari wajahnya. Aku bisa mengerti sekarang. Alasan kenapa Adriel menghindariku tak lain dan tak bukan karena dia iri. Rasanya aku ingin menangis. Sahabatku sendiri, satu-satunya orang di dunia ini yang kupercaya, menghianatiku dari belakang.

“Kenapa kalian selalu membicarakan Alex? Nggak elo, Hazel, Kian, Kevin bahkan Felix juga memuja dia. Apa hebatnya sih dia? Cantik nggak, pintar nggak, kaya apalagi! Dia itu kan cuma manfaatin gue sebagai teman—”

“Oh, jadi seperti ini wajah asli dari Nona Muda Baik Hati SMA Merah Putih?”

Adriel berhenti berkata-kata. Kian baru saja sampai. Dia turun dari sepedanya, melemparnya begitu saja dan menghampiri Adriel dengan cepat. Adriel menggigil ketakutan. Sepertinya dia pernah mendengar cerita tentang Rhea.

“Kau tak pernah berterima kasih ya. Untung saja A-ri-el bisa menangkap seperti apa kebusukanmu jadi dia tak perlu terjebak dengan gadis sepertimu selamanya,” kata Kian dingin. Tidak seperti dengan Ariel, kali ini Adriel tak bisa membalas. Dia tertunduk dan hampir menangis. “A-ri-el, kau jangan terlalu baik. Kadang gadis seperti ini juga perlu dikasarin. Dan aku beritahu padamu, Nona Kaya, Hazel memang sengaja membantumu karena dia pikir kau bisa berubah. Aku tahu betul siapa Hazel. Aku sudah mengenalnya sejak kecil jadi kau jangan bicara macam-macam.”

Ariel membuka mulutnya dan bicara pelan. “Adriel, kurasa lebih baik kita tak perlu bicara lagi mulai detik ini. Kau juga tak usah datang ke Amour. Percuma saja. Aku tak akan melihatmu. Cinta yang kau berikan membuatku takut dan kurasa lebih baik kau juga menghindari Alex. Jika kau tak ingin bersahabat dengannya lebih baik kau bilang padanya. Setidaknya kau tak akan sengsara karena dia mungkin banyak menyusahkanmu.”

“Nggak usah banyak bicara, Ketua Osis. Orang seperti ini tak mendengar ceramah,” Kian menarik Ariel untuk masuk ke gerbang sekolah. “Sialan. Kenapa moodku jadi jelek karena dia di pagi indah begini?”

Dan saat itulah Kian melihatku. Mata kami saling bertemu karena aku tak berhasil memasukan kembali kepalaku ke tembok karena aku begitu kaget sampai tak bisa bergerak.

“Alex,” desah Ariel.

Apa yang harus kulakukan? Aku melihat sahabatku sendiri menghianatiku dan dia kecewa padaku. Aku baru saja mendengar dia menjelek-jelekan aku. Harusnya aku marah. Harusnya aku histeris. Tapi aku cuma mengeluarkan parau, “Maaf, aku menguping.”

Adriel seperti kehilangan sisa darah di wajahnya. Dia memucat dengan cepat dan setelah berlalu dalam keheningan yang kaku, Adriel berbalik, tidak jadi masuk ke sekolah.

“Ada beberapa orang yang tak bisa menerima orang biasa bergabung dengan orang luar biasa, Alex,” kata Ariel mendatangiku. “Aku tahu harusnya tak boleh berkata ini tapi aku cuma mau bilang kalau Adriel tidak seperti yang kau pikirkan. Dia tidak sebaik itu. Maaf. Harusnya aku bicara dari dulu tapi sejak aku mengenalnya, tak ada satupun kebaikan tentang dirimu yang keluar dari mulutnya. Lebih baik kau menjauh darinya, Alex.”

Terlepas dari segala sesuatu yang kubayangkan tak pernah sekalipun pikiranku mencapai kesitu. Aku memercayai Adriel. Mungkin aku pernah jengkel padanya, tapi sebisa mungkin aku memercayainya.

“Aku masuk dulu. Kian, kau hibur Alex,” Ariel menepuk punggung Kian kemudian berjalan cepat meninggalkan kami.

Kian menatapku. Tatapannya sulit ditebak. Silakan mencaci-makiku karena aku tak bisa mencari teman yang lebih baik. Aku tak peduli. Aku merasa sangat sendirian. Satu per satu orang yang kucintai meninggalkanku dan rasanya tak ada lagi keramaian disana.

“Ayo bolos,” Kian menarik tanganku keluar dari gerbang sekolah.

“Apa?”

“Kondisimu nggak oke untuk belajar.”

Kian mengambil sepedanya, menaikinya dan menyuruhku untuk naik ke boncengan.

“Memangnya kita mau kemana?” tanyaku heran.

“Kencan.”

Kurasa bukan ide yang buruk.

*** Amour Café ***

Oke. Aku tarik kembali. Kencan dengan Kian benar-benar sangat buruk. Maksudku, siapa yang mau kencan dengannya di rumahnya? Aku cuma bisa terbengong melihat sepeda Kian berhenti di sebuah rumah besar coklat dengan gerbang berkilat yang menjulang tinggi. Saat kami masuk, kami harus melewati halaman dengan taman hijau lengkap dengan hiasan kolam, air mancur dan lapangan basket. Di tempat parkir ada dua mobil mengkilap dan kami baru turun dari sepeda saat seorang cowok keluar dari rumah.

“Loh, Fa? Kok pulang lagi? Bukannya harusnya di sekolah?” dan sebelum Kian menjawab, seorang cewek dengan rambut dipelintir pirang juga keluar dan matanya yang besar membelalak menatapku kemudian berkata nyaring, “Oh Mama! Rafa bawa cewek!”

“Yang cowok Abangku, Juan dan yang cewek Tanteku Manna. Mereka seumur,” Kian memperkenalkan mereka dengan nada datar. “Ayo masuk.”

Terbengong-bengong. Aku kembali terseret mengikuti Kian setelah memberikan senyuman sekilas pada dua orang di depan pintu. Isi di dalam rumah justru membuatku semakin ternganga. Rumahnya seperti istana. Lampu kristal besar-besar, lukisan mewah, kepala rusa, karpet binatang, televisi layar datar super besar, lantai berkilat dan macam-macam lagi. Astaga. Aku seperti anak kampung masuk istana. Tak pernah sekalipun aku membayangkan kalau Kian sekaya ini. Dia itu tak berkekurangan. Terus kenapa pingin jadi pelayan café?

“Ih, ada cewek!” kali ini anak kecil perempuan dengan rambut dikepang muncul. Matanya berbinar menatapku. Aku menatap Kian. Ini siapa lagi?

“Louisa. Keponakan.”

Dia juga punya keponakan? Aku menganga tak percaya. Mataku hampir saja menggelinding keluar dari rongga. “Erm, eh, ada berapa orang di rumahmu? Orang tuamu mana? Kita mau kemana?”

“Lima. Aku, Juan, Manna, Louisa dan Freddy. Louisa dititip disini karena kedua orang tuanya ada di Jepang. Seminggu lagi mereka pulang. Manna lain lagi. Karena dia paling bungsu, dia menjadi tanggung jawab Ayahku sebagai Kakak paling tua dan Freddy itu adik angkatku. Dia di asrama tapi biasanya dia pulang. Kedua orang tuaku ada di Australia. Mereka pulang sekali dalam dua bulan dan kita akan ke kamarku.”

Kali ini aku lebih melotot lagi. “Kenapa kita harus ke kamarmu?”

Karena kamarku adalah tempat paling aman dan paling normal di rumah ini,” kata Kian lagi dan tanpa disuruh dia kembali menjelaskan. “Kamar Juan penuh dengan kabel dan aku nyaris mati tahun lalu karena tersengat salah satu daya listriknya. Manna tukang dandan. Kamarnya wangi sekali dan banyak wig disana. Kau tak akan suka di kamar Louisa.”

“Memangnya kenapa?”

“Gadis itu memelihara ular sebagai peliharaan. Dia pikir mereka lucu,” Kian memutar bola matanya. “Aku paling suka kamar Freddy tapi Freddy anti-orang-asing. Dia tak akan senang ada orang yang menginjakan kaki kesana.”

Kian membuka pintu kamar dan akhirnya aku melihat hal normal di rumah ini. Kamar Kian sederhana tapi luar biasa besar. Ada tempat tidur besar rapi berwarna hijau linen di dekat jendela besar yang dekat balkon, sebuah lemari besar teronggok rapi di tengah ruangan dengan buku-buku tebal mengisi raknya, sebuah meja belajar mini dari kayu berkilat dan karpet kain. Tak ada yang berlebihan.

Untuk ukuran seorang cowok kamarnya sama bersihnya dengan kamar Hazel. Kamar Andre malah penuh sarang laba-laba.

“Aku ambil minum dulu. Duduklah dimana kau suka,” Kian melempar tasnya ke lantai, ke tumpukan CD kemudian keluar. Beberapa saat aku duduk di lantai, tapi pantatku tak betah lalu pada akhirnya aku justru mengelilingi kamarnya. Tak ada foto, poster atau lukisan yang tergantung di dinding kecuali jam dinding dan aku sekarang tahu alasannya. Foto-foto tertempel rapi di meja belajarnya, ditutupi dengan kaca transparan.

Kian pastilah menempel foto itu dengan sengaja karena dengan begitu dia bisa melihat foto itu kapanpun dia suka. Aku menemukan foto band mereka: semua personil lengkap dan kelihatan saling berkerumun untuk bisa kelihatan di kamera, foto anak-anak Amour di hari pertama pembukaan Amour—kami berbaris rapi di depan pintu saat itu kalau tak salah, kemudian foto Hazel dan Kian dengan tampang yang lebih muda—mereka memeluk anjing seputih salju sejenis Samoyed, kemudian fotoku.

Apa? Kapan foto ini diambil? Aku kaget.

“Itu. Itu. Itu ceweknya. Cantik ya, Paman?” Louisa masuk tanpa mengetuk pintu. Dia menarik tangan seorang anak laki-laki remaja yang menurutku sangat manis: wajahnya imut, pipinya gemuk, kulitnya putih, matanya bulat hitam, rambutnya lurus dan lebat, dan alisnya tebal.

“Pacar Kakak?” kata cowok itu mengerutkan dahinya. “Halo, namaku Freddy. Aku adiknya Rafael Kian.” Diluar dugaan. Anaknya ramah.

“Erm, halo, aku Alex.”

Freddy mendekat ketika Louisa menarik tangannya. Bukannya Freddy ada di asrama? Ini masih pagi kan? Kok dia cepat amat pulangnya? Apa dia nggak sekolah?

“Aku bolos, Kak. Kemarin aku kecapekan,” jawab Freddy seakan bisa menjawab pertanyaanku. “Kakak seangkatan dengan Kak Rafa ya? Aku kelas dua SMP. Apa Kak Rafa nggak pernah bikin Kakak nangis? Soalnya nggak ada cewek berani datang kesini sih. Kak Rafa kan galak. Ya kan, Louisa?”

“Ah, nggak galak kok. Cuma seram,” kata Louisa lalu memelukku dengan riangnya. “Asyik, Paman Rafa punya pacar.”

“Loh? Kalian berdua kok ada disini?” Kian terkaget-kaget. Tangannya memegangi nampan. “Freddy, kau nggak sekolah?”

“Kakak sendiri?” Freddy membalas. “Aku boleh disini ya.”

“Nggak boleh. Balik ke kamarmu sana,” kata Kian meletakan nampan ke lantai di dekat kami. “Bukannya besok kau ada ujian? Nggak belajar?”

Freddy merengut tapi dia memang keras kepala. Dengan cepat dia merebahkan dirinya di tempat tidur, memeluk guling dan menutup matanya rapat-rapat. Louisa tidak membantu. Gadis itu merengek, naik ke atas tempat tidur dan mengikuti gaya Freddy.

“Ya ampun,” Kian menyerah, membiarkan dua pengganggu cilik itu sesuka hati mereka. “Sori, Lex, biasanya mereka juga ngga ada disini.”

Aku tersenyum. Rasanya lucu sekali. Apa ya, aku tak bisa mendekripsikannya. “Hehehe.”

“Kok ketawa sih?” Kian terheran.

“Aduh, Kian, kau memang manis!”

Dan disitulah aku melihat wajah Kian merona merah lagi. Sesuatu yang aku suka dari dia.

*** Amour Café ***

Memasuki pertengahan Mei, aku merasa kalau kehidupan normal kembali seperti biasa. Adriel tak pernah dekat-dekat atau ngobrol lagi padaku sejak kejadian itu. Ariel selalu bergumam mengenai Osis setiap kali Kian mendekat dan hilang begitu saja di sekolah. Kian sekarang jadi teman baruku. Kemana-mana aku bersama dia tak peduli apapun yang terjadi. Dan Andre lebih sibuk dengan persiapan masuk SMA-nya. Dia begitu gila ingin masuk di SMA yang sama dengan Okta.

“Oke,” kata Kevin, membaca daftar yang saat ini ada di tangannya. “Kita akan membuat perubahan pada menu sesuai dengan keahlian Kian.”

“Apa?” Kian terkejut. “Hazel sebentar lagi bakal balik kan?”

Kevin salah tingkah. “Eh, ya, tapi ada perubahan rencana mengenai Hazel. Kurasa dia tak akan kerja lagi di Amour untuk sementara.”

“Dan kenapa pula harus begitu? Apa dia bekerja disana?” tukas Kian.

Kevin menatap Kian kemudian mengangguk perlahan. “Ya. Dia akan mengadakan pameran tunggal dalam dua minggu ini.”

“Apa?” kali ini kami semua terkejut.

“Mengejutkan kan? Kupikir Hazel kesana bukan cuma untuk belajar saja. Katanya waktu dia coba-coba melukis ada salah satu kolektor yang tertarik dengan karyanya dan seakan terjadi begitu saja, dia malah akan melakukan pameran tunggal. Bayangkan. Pameran tunggal untuk seorang pelukis pemula yang masih muda. Dia benar-benar luar biasa.”

Astaga. Aku tak menyangka kalau Hazel sehebat itu. Dan seakan membaca pikiran anak-anak band, mereka bergumam dengan gelisah, “Apa kami dilupakan ya disini? Masa band nggak ada vokalisnya?”

“Oh, tenang saja,” kata Kevin lagi tersenyum senang. “Hazel bilang kalau ada rumah produksi yang tertarik pada band kalian. Hazel sempat membawa beberapa rekaman lagu kalian dan—” tanpa mendengar kelanjutan perkataan Kevin, personil The Music Angel sontak berhore-ria, berteriak, memukul-mukul meja dan berulang kali mengatakan kalau Hazel sangat luar biasa sampai kemudian Kevin harus berteriak “DIAM” untuk mengambil kendali.

“Aku tak peduli kalian akan manggung atau apa tapi saat ini kalian karyawanku dan aku yang mengatur disini,” aura kepemimpian Kevin keluar. Lalu dia membacakan daftar kue-kue dan makanan yang akan dihidangkan secara permanen untuk beberapa bulan ke depan dan kami kembali bekerja lagi.

Kian tak senang. Aku bisa melihat ekspresinya yang jengkel. “Aku jadi koki dan drummer dalam waktu bersamaan. Belum lagi aku harus memikirkan ujian.”

Ujian! Aku lupa sama sekali. Aku tak memikirkan apa-apa mengenai ujian. Pelajaran di sekolah seakan terjadi begitu saja. Aku memang mengerjakan PR tapi membekasi apa yang sudah kupelajari sama sekali tak ada. Tak ada yang nempel di otakku.

Rupanya Kian juga menangkap masalah dari ekspresiku karena dia buru-buru menawarkan diri, “Bagaimana kalau kita belajar, A-Lex?”

“Ide bagus. Kita bisa bikin kelompok belajar,” Ariel menyambung, mengambil piring dari lemari. Dia nyengir bersalah pada Kian dan menambahkan. “Sori, Kian, bukannya aku tak mau membiarkan kalian berduaan. Tapi waktuku benar-benar habis untuk Amour dan Osis, jadi lebih baik kalau aku bergabung dengan kalian dalam belajar.”

Aku melirik Kian—yang wajahnya sudah merah padam—dan mengertilah aku maksud perkataan Ariel. Kian ingin belajar berdua denganku.

“Terus, kita akan belajar dimana dan kapan?” kataku. Rumahku bukan ide yang bagus. Tidak. Aku tak mau membuat Mama repot.

“Di rumahku saja. Minggu sore ini bagaimana?” kata Ariel.

Semuanya setuju. Dan tibalah hari Minggu sore dengan begitu cepat. Kian membawa motornya untuk menjemputku. Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya dan aku merasa kalau dia sangat keren dengan motor itu. Lalu kami berhenti di depan sebuah rumah putih bertingkat dua yang cantik dan apik.

Ariel sudah menunggu di depan gerbang bersama Leo, Mikho dan—yang tak kupercaya—Andre.

“SMA pilihan Okta memiliki standarisasi yang tinggi,” Andre menjelaskan padaku saat aku melihatnya dengan melotot. “Dan aku tahu kalau nilaiku tak mencukupi jadi aku akan pilih jalur ujian dan berusaha sebisa mungkin untuk masuk ke sana. Kalau kau tak keberatan, Kak.”

“Oh, tidak. Aku tak keberatan,” kataku cepat. Mana mungkin aku keberatan pada sikap adikku yang sekarang jadi ekstra belajar hanya karena cewek. Maksudku, Andre sebelumnya tak begitu ingin belajar.

Rumah Ariel kosong. Dia menjelaskan karena Papa dan Adiknya ada di luar. Jalan-jalan berdua. Setelah membawakan makanan kecil dan minuman, maka kami pun belajar. Sekeras tenagaku. Aku mempelajari satu hal yang baru saat belajar selain betapa pintarnya semua orang di sekitarku, yaitu kalau Kian dan Ariel akan bertengkar seru tentang Impuls hanya karena perbedaan angka 0.0001. Leo sampai harus menyeruak ke tengah, memisahkan mereka berdua.

“A-ri-el benar-benar membuatku jengkel. Kenapa dia tak mengaku saja kalau jawabanku benar,” Kian masih ngomel-ngomel saat dia menurunkanku di depan rumahku.

“Kalian bertengkar cuma karena itu saja sudah membuatku heran,” tukasku ikut-ikutan jengkel. “Lagipula, apa kau tak sadar kalau dia selalu jadi juara satu di angkatan kita?”

“Aku bisa saja jadi juara satu kalau aku mau, A-Lex,” kata Kian memutar bola matanya. Dia sudah melepas helmnya tapi masih menaiki motornya dan bebicara agak kelewat keras. “Tapi orang tuaku bilang kalau aku tak harus pamer kepintaran.”

“Terserah.” Aku tak peduli asalkan dia tak melampiaskan marah-marahnya padaku. “Kalau kau merasa benar, kenapa tak coba saja jawabanmu itu dan buat Ariel diam.”

“Ide bagus,” kata Kian. Kurasa aku baru saja membuat ide yang bakal membuat persahabat Kian dan Ariel pecah gara-gara Impuls. Kian menatapku. Aku bisa melihat bola matanya yang hitam sebening kaca pualam dan dia ganteng banget. Pantas saja banyak cewek suka padanya kecuali fakta kalau cewek-cewek itu tak mau mendekat karena Kian seram dan—eh—galak.

Dan aku melihat kalau bola matanya mendekat saat tangannya dengan lembut memegang lenganku dan saat terakhir yang kuingat adalah saat dia menutup matanya dan aku bisa mencium bau tubuhnya dari dekat dan merasakan bibirnya yang lembut di bibirku.

Tunggu. Dia sedang melakukan apa? Aku tak bisa bergerak. Aku terasa sangat kaku dan jantungku berdegup-degup tak karuan saat dia menciumku. Selanjutnya, setelah terasa begitu lama, bibir Kian menjauh dan dia kembali pada motornya.

“Yah, selamat malam, A-Lex,” katanya. Dia kembali memakai helmnya, menghidupkan mesin motornya dan pergi.

Aku menutup mulutku, memegangi bibirku tepatnya, dan dengan wajah yang lebih memanas dan lebih merah padam daripada sebelumnya, otakku kembali memberikan satu kalimat “Aku dicium” berulang-ulang. Ternyata begini rasanya dicium. Aku tak bilang hal yang sangat luar biasa atau sejenisnya, tapi lebih kearah, kau tahu kan, jantung.

Dan sepanjang malam aku tak bisa tidur. Memikirkan ciuman itu dan rasanya seperti terjadi terus-menerus.

*** Amour Café ***

Hari Senin di sekolahku, aku merasa seperti selebritis. Kenapa? Karena setiap kali aku melewati murid, mereka semua melirikku sambil berbisik-bisik. Aku tak perlu tanya kenapa karena tepat di papan pengumuman, aku mendapati kalau—yah—ada banyak sekali cerita-cerita fiksi tentang diriku yang menggoda cowok-cowok keren disini dan mempermainkan mereka lengkap dengan fotonya segala. Dan cowok-cowok yang kurang keren daripada Ariel ataupun Kian tak lebih membantu karena mereka malah memperburuk suasana. Mereka dengan begitu antusias menghalangi langkahku, bertanya apakah masih ada kesempatan bagi mereka untuk pacaran dengan gadis semisterius sepertiku (“Yang benar saja!” teriak salah satu cewek), bahkan memborbardirku dengan pernyataan cinta. Aku kewalahan. Sungguh.

Dan akhirnya setelah semua hal-hal sulit yang kudapatkan ini maka Ariel dengan cukup bijaksana membantuku. “Oke, guys. Jangan mengikuti dia. Dia juga butuh privasi.”

“Ah, Riel,” kata salah seorang cowok menepuk bahu Ariel. “Masa kau nggak mau kasih rahasia sih bagaimana menaklukan cewek ini? Kau mantan pacarnya kan sampai-sampai kau menolak Adriel.”

Aku ternganga. Darimana mereka tahu?

Ariel masih tenang. Kurasa itulah yang membuat dia bertahan sebagai Ketua Osis. “Alex tak pernah jadi pacarku dan harus kukatakan kalau kami cuma berteman. Benar begitu kan, Alex?”

“Tentu saja,” kataku cepat.

“Oh, jadi kau memilih Kian jadi pacarmu setelah puas mempermainkan Ketua Osis kami?” kata cewek di sudut. Dia memberikan pandangan mata menusuk. “Sok kecakepan banget sih!”

“Dia memang pacarku. Ada yang keberatan?” kata Kian yang tiba-tiba muncul dan memperburuk suasana. Dia segera berdiri disampingku, merangkul bahuku yang tak bisa bergerak sangking kagetnya. “Jika ada yang berani macam-macam. Maka kalian akan berurusan denganku.”

Sepertinya mereka tahu kalau tak ada gunanya berurusan dengan Kian karena kerumunan langsung bubar. Ariel tersenyum padaku dan Kian menepuk-nepuk punggung Ariel sambil berkata. “Thanks dan sori.”

“Sori apaan?” Ariel heran.

“Sori buat Impuls kemarin.”

Ariel terkekeh dan berkata, “Yeah, dan jawabanku benar kan?”

“Lain kali nggak bakal.”

*** Amour Café ***

“Jadi, kita pacaran sekarang?”

Aku nyaris menelan baksoku bulat-bulat tanpa dikunyah saat Kian bertanya tanpa kegugupan. Aku menatapnya. Keheranan sekali. Mata hitamnya menatapku dan seketika itu juga wajahku merah padam karena mengingat kejadian kemarin.

“Dan apa alasanmu yang membuat kita pantas menjadi pasangan sekarang?” suaraku pasti terdengar gugup, tapi aku berusaha menghentikan jantungku yang berdegup-degup secepatnya. Tidak berhasil.

“Yah,” Kian mengangkat bahu. “Kita selalu hang out bareng. Aku juga udah nembak kau. Aku juga sering banget jadi super hero waktu kau nangis dan butuh bantuan. Dan oh, ya, um—kita juga udah ciuman,” wajahnya memerah saat menyebut kata terakhir dan haruskah dia mengatakannya?

Wajahku juga merah padam. Itu sudah pasti. Dan kalau ada ICU sekarang juga mungkin aku sudah masuk menjadi pasien dengan jantung yang berdebar begitu cepat lebih dari keadaan normal. Tapi pikirkan lagi. Kami memang hang-out bareng dan tak pernah berduaan. Bagaimana mungkin kau bisa bilang hang-out bareng dengan anak-anak Amour yang selalu ada disekitar kita tiap kita pergi kemana-mana? Oh, kau memang menembakku. Di taman bermain anak-anak saat aku ditolak Hazel dan sedang menangis terpuruk. Ya, ampun, nggak romantis amat. Yah, aku tak bisa menyangkal kalau dia jadi super hero. Tapi astaga, ciuman pertamaku malah terjadi di depan rumahku sendiri saat kami baru pulang belajar dan dia dalam keadaan marah-marah pada saat itu. Nilai minusnya lebih banyak daripada plusnya. Dan sekarang dia nembak aku kedua kalinya di kantin sekolah yang lagi rame dan berisik banget. Astaga!

Tapi, tentu saja aku tak mengatakan apa yang ada di kepalaku karena aku tahu kalau Kian tak mungkin terkategori sebagai pria romantis. Dia akan masuk kategori pria tercuek.

“Kau masih suka pada Hazel ya?” katanya pelan dan kulihat ada luka di wajahnya. “Kalau kau masih suka padanya…”

Aku malah lupa akhir-akhir ini pada Hazel. “Nggak. Kurasa aku nggak suka lagi padanya,” kataku cepat. “Aku bukan cewek yang terpuruk begitu.”

Ekspresi Kian berubah lagi. “Erm, baiklah kalau begitu. Kalau kau masih butuh waktu untuk menjawab,” gumamnya.

Dan aku cuma bisa tersenyum, sesekali melihat wajah Kian yang merah padam dan merasa kalau cowok yang satu ini terasa lebih ganteng.

Kebahagiaanku menguap saat sampai di Amour. Perasaan Kevin sedang buruk dan kami tak berani bertanya. Karena dia marah-marah terus hanya karena masalah sepele, aku berteriak jengkel padanya, “Kau ini kenapa?” dan akhirnya dia meluapkan apa yang terjadi.

“Kita punya saingan baru,” Kevin mondar-mandir di kantornya—toko cake mini kami kalau kalian lupa—terlihat cemas dan jengkel. “Mereka punya pelayanan yang sama persis seperti kita: pelayan cowok, café yang romantis bahkan parahnya ada pijat ekslusif. Kita tak boleh kalah. Aku harus melakukan sesuatu sebelum café ini benar-benar bangkrut.”

Aku memutar bola mataku. “Ayolah, Kevin. Tak harus panik begitu kan?” kataku sabar. “Ini café, bukan panti pijat. Kalaupun kau ingin menambahkan pelayanan plus-plus, apa kau mau membuat malu almarhum Kakekmu dengan membuat café ini menjadi club malam? Tak perlu khawatir mengenai itu. Aku yakin sekali kalau peniru tak akan bisa bertahan. Kita punya café yang benar-benar unik. Kau yang tahu hal itu.”

“Tapi Hazel pasti—”

“Jangan bergantung pada Hazel. Kau pemimpin disini.”

Kevin duduk, memegangi kepalanya yang sakit. “Aku jadi paranoid semenjak Hazel pergi.” Dia bergumam. “Dia memang masih muda tapi dia tenang. Dia tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi begini. Aku memang ingin menariknya kembali ke café tapi—” dia berhenti. “Hazel punya impian dan aku tak mau merusaknya. Melukis adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Hazel hidup.”

Aku sekarang mengerti kekhawatirannya. Perlahan, aku berjongkok di depannya, menatapnya dan memberikan kata-kata penyemangat yang aku bisa. “Aku percaya kemampuanmu, Kevin. Kau sudah melakukan yang terbaik dan sejauh ini tak ada yang mengeluh. Aku yakin sekali pelanggan kita akan tahu apa yang membedakan pelayanan kita dengan yang lain.” Kataku lembut. “Kau punya karyawan yang luar biasa, kami juga punya pemimpin yang luar biasa sepertimu, kokimu juga tak kalah luar biasanya, cafenya oke dan cantik. Bukan karena pelayanan plus-plus itu, tapi karena kita beda. Dan ini pertama kalinya aku bertahan kerja sambilan lebih dari empat bulan.”

Untuk sejenak Kevin terdiam, menatapku dengan kelembutan luar biasa. Mungkin Hazel juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang kukatakan tapi rupanya Kevin mengutarakan yang berbeda.

“Hazel mungkin akan bilang begini: Bego benar kau ciut pada peniru itu. Bukannya ada aku dan Felix disampingmu. Kami akan mati-matian membelamu tahu.” Kevin tersenyum, matanya seakan-akan melihat Hazel ada di depannya. “Yah, kau benar, A-Lex, apa gunanya aku jauh-jauh sekolah ke Amerika kalau menangani masalah segini aja nggak beres. Kau luar biasa.”

Aku tersenyum, sedikit merasa bangga dengan pujiannya barusan.

“Alex, kau harus cepat cari pacar baru, kalau tidak aku akan mendaftar pada Mamamu sebagai cowok pertama yang melamarmu,” kata Kevin dan aku tertawa.

Ah, memang seperti inilah Amour. Cinta ada dimana-mana.

Hari-hari berikutnya sibuk sekali. Sungguh. Sampai-sampai aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Senin sampai Sabtu dari pagi sampai menjelang sore aku ada di sekolah. Sore sampai malam jam sebelas di hari yang sama aku ada di Amour, berurusan dengan pekerjaan, cinta, perkelahian, broken heart dan macam-macam lagi. Minggu sore adalah jadwal kelompok belajar yang secara rutin kuikuti di rumah Ariel—kami sempat berkenalan dengan Papanya yang super ganteng dan adiknya yang manis sekali—dan semakin mendekati ujian, maka aku malah semakin hampir gila. Karena jadwal istirahat kupakai untuk belajar juga dan Kian selalu membantuku dengan sangat baik hati dan sabar. Mungkin dia tahu kalau aku cewek terbego yang pernah diajarinya. Malah Andre berkomentar kalau dia tak seburuk aku.

Dan akhirnya, setelah ujian kenaikan kelas, aku bisa menghela napas lega. Rambutku hampir saja kriting karena itu. Sebagai Manager yang baik, Kevin juga tidak memaksa kami bekerja sampai lembur dan membiarkan kami santai sejenak tapi tetap saja, pelanggan tak bisa menunggu.

“Selamat dan semoga naik kelas,” itu kata Kevin, dia mengangkat tinggi gelas anggurnya—dan yang masih dibawah umur minum jus—dan kami bertos ria. Kemudian dia berpaling padaku. “Dan ucapkan selamatku juga pada Andre, Lex, kudengar dia masuk SMA favorit.”

Aku nyengir. Mamaku hampir saja menangis sangking bangganya ketika mendapat surat bahwa adikku lulus di SMA favorit. Ini sesuatu yang tak bisa dipercaya. Karena Okta. Aku sangat berterima kasih padanya. “Oke, Bos.”

“Dan, erm, kurasa kalian ingin kejutan?” kata Kevin lagi mengecek arlojinya. “Harusnya mereka sudah ada disini sekarang. Tapi kupikir mereka terlambat.”

“Siapa yang kau undang?”

Lonceng café berbunyi. Refleks—karena kebiasaan—kami menoleh dan berkata “selamat datang” nyaris bersamaan dan terkejut ketika melihat Hazel masuk ke café. Rambutnya sedikit lebih pendek, dia lebih pucat, lebih kurus, dan memakai kacamata berbingkai coklat. Hanya satu yang tak berbeda. Senyumannya yang penuh ketulusan.

“Hai, apa kami telat?” katanya dengan aksen Amerika. Dan tepat saat dia bilang itu, Felix mendorong minggir dirinya.

“Ampun, deh, jangan menghalangi pintu masuk,” kata Felix. Wow, aku terkejut melihat Felix mengalami perubahan drastis. Rambutnya panjang dan terlihat tak begitu rapi dan warnanya coklat terang. Jerman pastilah memberikan pengaruh yang gaul banget buat Felix. Kecuali sikapnya.

“Kapan kalian pulang?” kata Mikho cepat, berlari menyongsong Hazel dan memeluknya. Leo juga melakukan hal yang sama tapi dia menambahkan tinju di pundak Hazel.

“Baru sampai,” kata Hazel. “Pesawatku terlambat satu jam, jadi Felix harus menunggu. Hujan terus sepanjang perjalanan,” dia mendatangi Kevin dan memeluknya, lalu ganti memeluk Ariel dan Kian, dan saat melihatku, Hazel mengulurkan tangannya, “Apa kabar, Alex?”

Cara bicara Hazel resmi sekali seakan-akan persahabatan kami memudar sejak dia pergi ke Amerika. Apa boleh buat. Sejak dia menolakku dua bulan lalu, aku tak pernah lagi bicara langsung dengannya. Anehnya, aku tak merasakan apa-apa.

“Baik. Kau sendiri?” aku menjabat tangannya dengan sedikit kaku.

“Yah,” dia mengangkat bahu. Kemudian dia memelukku dan berkata, “Syukurlah kau baik-baik saja. Kian benar-benar menjagamu dengan baik.”

Saat dia melepasku, gantian Felix yang memelukku ditambahi dengan komentar pedas, “Lex, kok kau makin pendek sih?” sialan benar kan?

Lonceng kembali berbunyi lagi. Kali ini Andre yang masuk bersama dengan Okta. Dia berteriak senang ketika melihat Hazel dan langsung melompat memeluknya. “Hazel! Ya ampun, kau makin jangkung aja!”

Belum lagi beberapa detik, pintu café kembali membuka dan ada dua orang asing yang masuk lagi. Kembar identik. Cowok dan cewek. Yang cowok ganteng banget dan yang cewek cantik banget. Dan saat mereka melihat Hazel dan Kian, yang cowok berlari memeluk Felix dan yang cewek memeluk Hazel.

“Sherry,” gerutu Felix setelah melepas cowok yang jelas lebih pendek dan lebih muda darinya. “Kau harusnya memelukku dulu daripada Hazel.”

“Tapi kau tak akan muat memeluk kami berdua sekaligus. Lagipula, aku lebih kangen dengan Hazel daripada denganmu,” Sherry masih memeluk Hazel dan memberikan ciuman kilat ke bibirnya saat dia melepas Hazel dan memeluk Felix pada akhirnya.

“Sherry, aku tak keberatan kau mencium Hazel, tapi jangan didepanku,” kata cowok kembarannya jengkel. Kemudian memeluk Hazel sekilas. “Hazel, rasanya kau makin kurus saja.”

“Seperti biasa, kau benar-benar perhatian Seno,” ujar Hazel mengacak-acak rambut hitam lebatnya. “Aku bawa pesananmu tapi nanti saja ya, soalnya koperku penuh sekali.”

Barulah aku sadar kalau mereka adalah adik kembar Felix.

“Oke,” Kevin bertepuk tangan. “Saatnya pesta!”

Kami benar-benar pesta. Makanan yang pada dasarnya masih tersisa banyak di café segera di keluarkan. Hazel mengambil alih dapur, walau dia harus berkata cukup keras pada Kian kalau dia mungkin tak akan bisa sering-sering lagi di dapur. Yang sudah jauh lebih dewasa, seperti Kevin, Felix dan Hazel memilih meminum anggur. Gaya mereka sangat berkelas ketika mengeritik anggur yang baru saja setetes diminum. Sherry nempel terus dengan Hazel dan Hazel tidak terlalu keberatan. Seno-lah yang justru terlihat jengkel.

“Sherry, plis deh. Aku jadi melihat diriku yang ada disamping Hazel saat ini dan aku tak suka,” kata Seno dan kurasa aku paham maksudnya.

Felix cerita kalau Jerman benar-benar oke dan alasan dia mengubah gaya rambut bukan karena apa-apa tapi karena sebuah kesalahan. Ada yang sengaja menyemprotkan dia dengan cat kaleng berwarna hitam sehingga mau tak mau—daripada rambutnya belang—Felix memutuskan mengecat rambutnya dan soal panjangnya rambutnya itu karena dia tak punya waktu untuk potong rambut. Biasa. Orang penting.

Kian memborbardir Hazel dengan pamerannya dan dengan kalem, Hazel menjawab kalau pamerannya berlangsung dengan sangat lancar dan fakta bahwa dia menghasilkan sekitar dua ratus empat puluh satu juta dari hasil lukisannya. Leo menumpahkan jusnya karena itu. Dan ketika pembicaraan beralih menjadi band, Hazel juga bilang kalau ya, mereka akan rekaman dan ya, sekali lagi kalau label rekaman mereka ada di Amerika.

Mikho melotot. “Amerika?” desahnya tak percaya.

“Ya. Lagu-lagu kita kebanyakan berlirik bahasa Inggris,” kata Hazel, menusuk apel dan melirik Andre. “Dan kudengar, Ndre, kau juga masuk sekolah favorit. Selamat.”

Andre nyengir. “Makasih. Tapi kurasa kau membuatku semakin harus banyak belajar untuk—yah, belajar bahasa Inggris.”

Kami tertawa serentak.

“Kelihatannya kau bahagia,” aku duduk disamping Hazel dan merasa kalau aku mendapatkan kembali sahabatku yang dulu. Hazel meminum anggurnya dan tersenyum lebar, kuharap itu tak ada pengaruhnya dari anggur yang dia minum terus-terusan. “Aku senang mendengarnya.”

“Alex, aku benar-benar bahagia saat kau duduk disampingku saat ini dan kita bercakap-cakap seperti dulu sebagai sahabat baik,” kata Hazel, meminum kembali anggurnya sampai habis.

“Alkohol tak baik untukmu,” kataku.

“Terima kasih sudah menguatirkanku tapi aku benar-benar tak minum sejak ada di Amerika.” Hazel terkekeh dan aku juga ikut-ikutan. “Lalu, sudah bagaimana perkembangan kalian?” Hazel melirik Kian yang berbicara dengan Andre dan Okta, serius sekali. “Kuharap tak jalan di tempat.”

Wajahku merah padam dan dia membacanya dengan cepat. “Oh, bagus. Kalian sudah tak jalan di tempat lagi. Aku tak perlu tahu, Alex, tapi kalau kau mau konsultasi, aku bisa bantu.”

“Terima kasih,” kataku benar-benar tulus. Dia baik sekali. “Jadi, apakah Sherry pacarmu? Dia cantik sekali,” kataku sungguh-sungguh mengagumi Sherry yang rambutnya panjang hitam berkilau, kulitnya yang bersinar seputih mutiara, wajahnya yang cantik, matanya yang bulat seperti boneka. Oh ya, ampun, dia benar-benar seperti boneka.

Hazel menatap Sherry. Kuperhatikan ada kelembutan di matanya saat melihat Sherry. “Aku harus menunggu sampai dia cukup dewasa diajak kencan sesungguhnya. Dia masih empat belas—eh, tidak lima belas tahun, Alex,” dia masih menatap Sherry, sebuah senyuman tersungging di bibirnya. “Aku akan menunggunya sampai cukup dewasa. Sampai dia yakin dulu apakah cintanya padaku sekedar kekaguman atau apa. Aku sih tak keberatan dicium sekilas tapi bisa repot juga kan kalau terus-terusan?”

Aku tertawa dan Seno mendekat. Dia duduk di samping Hazel dan berbisik ke telinganya. Hazel terkekeh, mengacak rambutnya.

“Aku bercanda,” Hazel mengambil sesuatu dari kantong jeketnya. “Ini. Aku sengaja tidak memasukannya ke koper karena aku tahu kau pasti ingin segera mendapatkannya,” kuperhatikan Hazel memberikan sebuah bola kristal berukuran tiga kali bola kelereng, berwarna dan bercahaya jika digerakan, membuat cairan bening di dalamnya bergerak lembut.

“Makasih, Hazel,” dia memeluk Hazel sekali lagi dan bangkit, lalu duduk di samping Felix, memamerkan bola itu padanya. Felix menatap Hazel dan tersenyum seakan mengucapkan terima kasih.

“Apa itu?” kataku penasaran.

“Ah, hanya kelereng luar biasa besar,” jawab Hazel sambil lalu. “Karena tak ada yang menjual sesuai dekripsi Seno, aku minta teman kenalanku untuk membuatkan padaku.”

“Apakah itu mahal?” aku penasaran.

“Tentu saja nggak. Gratis,” kata Hazel. “Dia senang sekali membantuku dan marah saat aku bilang mau bayar.”

Pestanya benar-benar sampai pagi. Pagi dalam arti lain kami semua tidur di café sampai matahari benar-benar meninggi. Tak ada yang berniat bangkit dari tempat tidur karena semua orang kelihatannya sulit sekali untuk mengangkat tubuh sendiri.

Kian-lah yang bangun terlebih dahulu. Ogah-ogahan, dia menyeret tubuhnya ke dapur, mengocok kopi yang wangi. Kami segera terjaga tapi tidak bagi Hazel—Ariel bergumam mungkin dia kena jet lag—jadi kami tidak membangunkannya.

Ariel, Okta, Andre dan Kian bahu-membahu memasak di dapur. Dan Hazel bangun pada akhirnya saat dia mencium bau gosong dari arah dapur kemudian berkomentar pada Ariel yang harusnya tidak langsung memasukan ikan tanpa diberikan minyak goreng terlebih dahulu. Mikho dan Leo terbahak, nyaris menitikan air mata.

Secara keseluruhan, semuanya baik-baik saja.

“Thanks, Kian,” aku melompat dari sepeda Kian setelah sampai di depan rumahku. Andre masih di Amour, entah ngapain dan Kian rencananya hendak kembali ke Amour juga.

“Erm, boleh aku tanya sesuatu?” kata Kian ragu-ragu.

“Apa?”

Dia semakin ragu-ragu. “Saat Hazel kembali, apakah…”

Kurasa aku udah tahu pertanyaannya, jadi aku menjawab cepat, “Dia sahabatku, Kian. Terlepas dari apapun yang terjadi selama ini, dia tetap sahabatku.” Aku heran sekali kenapa aku bisa begitu mantap mengatakan ini. Aku ingin Kian tahu kalau tak ada apa-apa lagi antara aku dan Hazel selain satu kata: teman.

“Yah, tapi bisa saja—”

“Lagipula, Hazel jatuh cinta pada Sherry dan aku tak mau repot-repot membuang waktuku untuk menjadi penengah mereka,” lanjutku cepat. Kutatap Kian. Aku benar-benar suka mata hitamnya itu. “Aku tidak merasakan apa-apa lagi walau aku disamping Hazel. Getaran aja tidak.”

Karena aku tahu kalau jantungku saat ini berdetak tidak karuan hanya karena disamping Kian dan bahwa fakta, walau aku ingin kabur untuk menenangkan jantungku, aku juga tak mau dia pergi dariku.

“Kau tahu,” tambahku lagi. “Aku memikirkan perkataanmu waktu itu padaku. Tentang, kau tahu, waktu kau bilang suka padaku.”

Seketika itu juga wajah Kian merah padam. Oh, ya, ampun. Kuharap dia tak segera mengayuh sepedanya dan kabur meninggalkanku.

“Erm, ya, lalu?” kata Kian gugup. “Aku suka padamu. Tapi kalau kau tak suka—”

“Oh, aku suka padamu.” Kataku.

“Aku mengerti. Rasa sukamu pasti sama seperti rasa suka bersama Ariel, Kian, Mikho, Leo dan bahkan Felix—”

“Aku benar-benar suka padamu.”

“Sungguh, A-Lex, tak perlu memaksakan diri. Aku mengerti. Perasaan yang kukatakan padamu pasti memberatkanmu.”

“Oh, tidak. Sungguh.”

“Nggak perlu bohong. Aku tahu. Aku bisa mengerti. Jadi, eh—”

“Kian!” aku memengi sepedanya ketika dia hendak kabur. “Kau ini sebenarnya mau ngomong apa sih? Apa kau tak mendengarkanku? Aku berusaha mengutarakan perasaanku! Dan saat aku hendak mengatakannya, kau malah sok bijak mengatakan kau mengerti! Kau sama sekali tak mengeri!”

Kian tercengang. “Eh?”

Kuambil napas, memenuhi paru-paruku, berusaha menenangkan jantungku yang berdegup-degup. “Aku suka padamu, Kian, bukan sebagai teman. Aku suka padamu sebagai,” aku gagal mengucapkan kata terakhir dengan lantang karena aku menunduk, wajahku memanas dan suaraku tak lebih dari sekedar bisikan saat aku bilang, “cowok”.

Hening.

Aku jadi bertanya-tanya. Apakah aku sudah mengatakan hal yang benar pada Kian? Jadi kucoba mengangkat kepalaku dan menatap Kian.

Oh, Tuhan, harusnya aku tahu!

Wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus dan dia mengalihkan wajahnya saat aku melihatnya dan sengaja menutupi rasa malunya dengan punggung tangannya.

Bukankah dia sangat manis?

“Um,” aku mencoba bicara lagi. “Jadi, kuharap kau mengerti.”

Kian berdeham, menurunkan tangannya walau wajahnya sama merahnya sepertiku. Dia tersenyum malu-malu padaku dan suaranya sedikit bergetar saat bilang, “Jadi, kita sekarang pacaran kan?”

Ya ampun, dia benar-benar tak romantis.

Kulirik dia lagi. Merasakan kehangatan yang entah datang darimana karena aku tahu matahari disiang hari sudah sangat terik. Barulah aku sadar kalau Kian mungkin memang tidak romantis, tapi dia jujur.

Dan jujur membuatnya jadi malu-malu.

“Kian, aku lebih suka kau bilang ‘A-Lex, kau mau jadian denganku kan?’ padaku,” kataku. Karena itu terasa lebih resmi.

“Eh, oh, oh ya,” kata Kian salah tingkah, menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan salah tingkah. Wajahnya merah padam lagi saat bilang, “A-Lex, maukah kau disampingku dan mencintaiku?”

Aku tertawa. Dari sekian banyak kalimat, haruskah dia melamar jadi pacarku seperti acara gereja? Untung saja dia belum bilang “baik sedih, senang dan sakit atau sehat”

“Ya, tentu saja.”

Dan aku merasa kalau layaknya acara pernikahan gereja, dia mengeluarkan sebuah cincin dari saku kantongnya dan melingkarkannya di jariku. Aku ternganga tak percaya.

“Apa ini?” kataku heran.

“Aku cuma ingin memberi sesuatu untukmu,” gumam Kian salah tingkah. Luluhlah hatiku. Apakah dia sudah membawa-bawa cincin ini kemana-mana sampai kemudian tiba saatnya bagiku untuk jadi pacarnya? Ini benar-benar sebuah kejutan.

“Aku nggak bawa apa-apa,” kataku sedikit menyesal.

“Oh, nggak apa-apa. Sungguh,” kata Kian cepat. Lalu seakan sudah mengerti maksudnya, dia mendekatkan wajahnya padaku dan tentu saja aku sudah menyiapkan bibirku untuknya andai saja—andai saja—Mamaku tidak membuka pintu dan berseru nyaring sementara kami buru-buru menjauh.

“Lexie, kau darimana?”

“Oh!” kataku gugup dengan wajah merah padam. “Pesta. Dua temanku baru pulang dari luar negeri. Aku juga bersama Andre.”

“Dan mana Andre?”

“Masih di sana.”

Mama melirik kami berdua dengan mata menyipit. “Bawa masuk temanmu itu kedalam, Lexie, kalau dia memang ingin bertamu. Dia bisa gosong kalau terus-terusan ada di luar.”

“Iya, Mama,” kataku lagi.

Mama segera masuk kembali ke dalam rumah, membanting pintu dengan cukup keras.

“Kurasa Mamamu sedikit mencurigaiku,” Kian tersenyum kecil. “Aku harus bekerja keras untuk menarik hati calon mertua kan?”

Aku nyengir, berharap doanya terkabul. Aku tak pernah menolak punya calon suami seperti Kian. “Kau tak masuk?”

“Tak usah,” Kian menggeleng cepat. “Lebih baik aku kembali ke café,” dia melirik arlojinya. “Aku mencintaimu, A-Lex.” Katanya padaku.

Dia manis sekali sehingga ingin membuatku ingin menciumnya.

Kulakukan. Kau tahu. Aku memberikan ciuman kilat ke bibirnya dan berkata, “Aku juga mencintaimu” padanya dan berbalik sambil berlari kecil-kecil menuju rumahku, meninggalkan Kian yang masih membeku di atas sepedanya.

Saat aku berbalik lagi untuk masuk ke rumah. Kian tersenyum, melambai dan pergi dengan sepedanya.

Well, bukankah itu yang namanya cinta? Kurasa aku akan menikmati hari-hariku di Amour Café sebagai pacar Kian. Kurasa tak buruk juga.

*** Amour Café ***

*** The End ***

Medan, Jumat, 23 September 2011

8 komentar:

.:cloud:. mengatakan...

kyaaaa so sweet

bner2 perjalanan cinta yang menguras otak ya
kerennn
^^

bkin bingung orng aja Alex bakalan sama siapa
tpi yang bkin sedikit bingung
bukannya Hazelkata kevin sudh berhenti menggunakan perasaannya?
tpi Hazel suka sama Sherry?
apa bener?

.:cloud:. mengatakan...

dan oh iya
aku bingung sama Adriel
dia emg ngapain Alex sih?

sorry ya klo menuh2in comment dgn comment gag jelas
^^v

prince.novel mengatakan...

@cloud: kalo dibaca ulang, Hazel juga make perasaan sama alex. tapi hazelnya milih minggat. baca ga ya yang dibilang adriel? terus soal sherry, biar gimana pun sherry kan sepupunya. Hal itu masih rahasia alam. terserah para pembaca, karena ini kan kisahnya Alex. Loh? Bukannya si Ariel udah bilang langsung sama Alex alasan Adriel jadi benci ama Alex?

Anonim mengatakan...

Yaah... Endingnya bgus kok. Tp entah kenapa aq pngennya alex sma hazel hehehe...

Bgus bgt critanya thor!! Ditunggu novel lainnya ^^

prince.novel mengatakan...

@anonim : makasih *kiss* rencana awal emang kepikirian
tapi penulis jadi mikir ulang
ini juga kisahnya susah buat ditamatin
miss mereka semua -_____-;

Anonim mengatakan...

keren banget sumpah thor!
bikin sequel aja gimana?
ato enggak part II?

ditunggu~

Vyed W. mengatakan...

wwuaaa....so sweaaatt tenan.>.<
aku stuju klo alex sma kian tp, hazel sma sherry??hmm..agak krang stuju deh..rsanya krang klop.lbih cocok klo smaku kali.#plaakkk -_-"

buat crita bru lgi dunk thor tp, kisahnya Hazel atau ndk si playboy kevin..heheee

JEMPOL deh buat kamu..:)

prince.novel mengatakan...

Anonim: ada kok sekuelnya, tapi masih bentuk tulisan tangan, belum tahu kapan diketik ulang

Vyed W: sekuel buat seluruh kisah anak2 Amour sedang dalam serial (on hold) dan masih dalam tulisan tangan. Silakan ditunggu ya
:D

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.