RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 29 Mei 2011

Ocepa Kingdom Eps 30 (End)

Tiga Puluh (End)

“Sedang apa kau disini?”

Erold kaget ketika mendapati kalau Pangeran Christian masih di pohon yang sama ketika dia meninggalkannya disana terakhir kali. Pangeran Christian kaget, dia mundur sampai ke sudut pohon.

“Pangeran Christian kesepian, Erold… dia tak pernah mengharapkan pertolongan dari siapapun…”

“Apa pedulimu? Dia itu Deniman, kau tak harus mengurusinya.”

“Ketika melihatnya, aku merasa melihat diriku sendiri…”

Erold menahan air matanya dan mencoba tersenyum ramah.

“Jangan takut, aku cuma pemburu yang lewat disini. Kau siapa? Kenapa kau ada disini? Mana orang tuamu?”

Pangeran Christian tidak bicara. Dia masih memandang Erold dengan tatapan takut. Erold membasahi bibirnya, lalu kembali bicara dengan nada ramah.

“Kau dari mana? Kalau kau tersesat, aku akan membawamu pulang.”

Dia masih tidak memberikan reaksi yang diharapkan Erold. Erold mengulurkan tangannya, butuh waktu satu menit bagi Pangeran Christian untuk merespon dan juga mengulurkan tangannya. Erold memperhatikan tangan mungil Pangeran Christian yang kotor dan penuh dengan goresan. Penampilan dan keadaannya yang berantakan dan pukulan perang waktu itu memberikan kesan negatif apalagi jika dia ditinggalkan sendiran di hutan seperti ini.

“Keluarlah. Aku akan memberimu sesuatu. Kau lapar kan?” Erold merogoh tas kusamnya dan mengeluarkan bungkusan kue yang masih panas. Pangeran Christian menerimanya dengan takut-takut dan memakannya perlahan. “Enak?”

Dia mengangguk perlahan.

“Sudah berapa lama kau disana? Kau tidak makan?”

Pangeran Christian menggeleng, lalu perlahan dia bicara. “Jika aku keluar dari tempat ini, maka aku akan dikejar mereka lagi.”

Ternyata mereka masih mencari anak ini, batin Erold. “Siapa namamu?”

Pangeran Christian menatapnya. “Paman bukan orang jahat kan?”

“Tentu saja tidak. Aku cuma pemburu. Sebentar lagi aku juga akan pergi.”

Pangeran Christian mengangguk perlahan. “Ayahku bilang kalau namaku Glenn. Glenn Haistings. Putra dari Rofulus Haistings Dominic.”

Erold hampir terkena serangan jantung karena mendengar jawabannya. Apa yang—apa anak ini sekarang mencoba berbohong?

“Apa? Apa itu benar namamu?”

Pangeran Christian mengangguk.

“Aku Glenn Haistings, Putra dari Rofulus Haistings Dominic.”

Erold menggenggam erat tangannya. “Kau ikut denganku ya? Tidak baik anak sekecilmu tinggal di tempat begini.”

“Aku akan dibawa kemana?”

“Axantos. Itu tempat paling aman.”

Pangeran Christian tidak banyak protes, mengeluh dan bertanya ketika Erold membawanya jauh ke pedalaman hutan. Dia tidak memedulikan seberapa sulit dan menantangnya perjalanan itu, yang dia tahu adalah mengikuti Erold, tanpa suara. Lalu saat mereka sampai di Axantos, hal pertama yang dicari Erold adalah seorang Tabib.

“Apa anak ini baik-baik saja?” Erold bertanya ketika Lourian selesai memeriksa Pangeran Christian.

“Ya. Untuk anak seumurannya, dia sangat sehat,” Lourian menatap Pangeran Christian. “Dia punya mata yang indah.”

“Dia bilang kalau namanya Glenn Haistings.” Erold mencoba menjelaskan situasi yang membuatnya bingung. “Itu agak…”

Lourian menatapnya. “Kau ragu kalau dia berbohong atau kau tahu siapa anak itu sebenarnya?” Erold tersentak namun tidak menjawab sehingga Lourian harus menjelaskan. “Jika anak ini terkena shock berat dan aku juga merasa seperti itu, maka tidak diragukan lagi kalau dia hanya mengingat separuh dari bagian yang menurutnya sangat penting.”

“Maksudmu dia hilang ingatan?”

“Tidak. Aku yakin dia ingat semua memori kehidupannya, dia hanya menghapus bagian yang tidak ingin dia ingat, misalnya jika dia melihat kematian seseorang yang begitu disayanginya. Karena itu begitu menyakitkan, tanpa sadar dia melupakannya.” Lourian menatap Pangeran Christian yang dari tadi diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. “Apa menurutmu anak ini mengerti apa yang kita bicarakan?”

“Dia tak bisa bahasa Axantos.”

Lourian memperhatikan Pangeran Christian lagi. “Menurutku dia seperti orang yang mengerti.”

“Dia hanya bisa bahasa Aragra.”

“Dimana kau menemukannya?”

“Aku tak bisa memberitahumu. Ayo, Glenn.”

Pangeran Christian melompat dan mengikuti Erold kembali. Mereka masuk ke perkotaan dan Erold memutuskan untuk melepas Pangeran Christian. Setidaknya untuk saat ini nyawanya akan selamat.

“Aku akan meninggalkanmu disini, jadi hiduplah dengan baik.”

“Paman mau kemana?”

Erold merasakan kalau kekerasaannya luluh hanya karena melihat mata biru Pangeran Christian. “Aku harus kembali ke tempat dimana aku semestinya.”

“Aku boleh ikut tidak?”

Erold menggeleng.

“Kau akan kembali ketika kau siap.” Erold mengusap kepala Pangeran Christian. “Aku yakin dan percaya kalau kau suatu hari nanti akan jadi orang hebat seperti yang dikatakan Rofulus. Ini baru awalnya saja.” Tambahnya dalam bahasa Axantos. Kemudian dia bangkit dan pergi, meninggalkan Pangeran Christian sendiri.

***

Dendam yang dipendam Erold akhirnya terlampiaskan juga. Bertahun-tahun dia menunggu dan saat itu tiba. Dia menunggu dengan sabar ketika Pangeran Christian kembali walau dia tak begitu yakin seberapa besar anak itu akan membantunya melancarkan rencananya dan hasilnya di luar dugaan. Elvius dengan mudah percaya kalau Pangeran Christian adalah Pangeran Glenn, Putra Rofulus dan sikapnya benar-benar berubah total.

Dia tak lagi anak kecil lugu yang penakut melainkan seorang pemuda tangkas, berpendidikan yang begitu cerdas. Erold sama sekali tak menyangka kalau Pangeran Christian sendirilah yang memilih mendatanginya dan mendengar cerita kehidupannya selama di Axantos, menjadi Kesatria dan melewati tantangan luar biasa. Dia benar-benar dibentuk menjadi orang yang hebat. Bersamanya beberapa tahun terakhir membuatnya mengerti alasan Rofulus begitu menyayangi anak itu.

Benar. Pangeran itu benar-benar berbeda dari orang-orang yang pernah dia temui sebelumnya. Dia seseorang yang punya prinsip. Seseorang yang tahu mana yang benar dan salah. Seseorang yang tidak takut mati dan menyukai tantangan namun ada satu hal yang tidak disukai Erold dari dia, dia suka berbohong dan menutup ide-ide berbahaya untuk dirinya sendiri. Mungkin itu salah satu alasan yang membuat petinggi-petinggi Negara begitu menyukainya. Semakin lama mengenalnya, semakin dia menyayangi pemuda itu.

Dan Erold begitu dikejutkan ketika Pangeran Christian mengetahui kebohongan Rofulus. Dia tahu kalau dia seorang Denmian dan lebih memilih menjadi Dominic bersama Erold. Terheran sekaligus bingung, ternyata alasan yang diberikan Pangeran Christian sangat sepele. Dia hanya ingin menghapus perbedaan antara Denmian dan Dominic, jadi apapun dia sekarang tidak akan mengubah keadaan.

Begitu banyak bantuan yang diberikan Pangeran Christian sehingga hutang budi itu rasanya tidak dapat dilunasi selain menjadi hamba yang paling setia baginya dan Erold tidak merasa keberatan jika menjadi bawahan seorang Denmian yang begitu arif daripada bersama Dominic yang kejam seperti Erold. Pangeran Christian bahkan bersedia membantunya menjaga putri semata wayangnya yang dia tinggalkan hanya untuk mengikut Elvius. Kepercayaan yang diberikan Erold semakin lama semakin besar dan Erold bahkan merasa memiliki Rofulus lagi disisinya. Walau mereka sering berbeda pandangan, namun Erold tahu kalau Pangeran Christian selalu mendengarkannya dan ketika Pangeran Christian memanggilnya dengan sebutan “Paman”, dia merasa kalau Pangeran Christian sudah menjadi keluarganya sendiri.

“Paman, percayalah kepadaku.”

Erold memang tidak ingin mengakui dan membuat Pangeran Christian besar kepala, namun bagi Erold, kepercayaan yang dia berikan saat ini lebih besar dari kepercayaan dulu terhadap Rofulus. Lebih besar daripada siapapun di dunia ini bahkan dirinya sendiri. Perintah Pangeran Christian begitu mutlak, jika dia memerintahkan Erold untuk terjun ke jurang, Erold juga akan melakukannya.

Dan kali ini, karena kepercayaan yang diberikan Pangeran Christian-lah makanya dia ada disini, sendirian menghadapi Elvius, satu lawan satu.

“Aku hanya ingin membunuh Elvius.” Erold begitu keras kepala sehingga tidak ingin mendengar perintah Pangeran Christian.

“Aku tahu. Aku mengerti. Aku akan menyerahkannya padamu, tapi percayalah kepadaku, aku hanya ingin istana ini aman.”

Saat itu telah tiba, detik ini…

TRANK

Elvius menahan serangan Erold dengan susah payah. Pakaiannya berlumuran darah dan lantai sudah kotor karena darah yang mengucur dari kedua belah pihak. Glenn tidak ingin memastikan siapa yang paling parah karena pergerakan mereka berdua sudah mengalami penuruan yang drastis, tidak lagi sehebat setengah jam lalu. Istana masih saja sibuk berperang dan Glenn melihat sekilas dari arah jendela kalau ada banyak mayat bergelimpangan. Mereka semua mati tanpa alasan yang jelas dan tidak tahu karena mempertahankan apa. Bodoh sekali.

“Minta maaf sekarang juga atas perbuatan yang sudah kau perbuat selama ini, Elvius,” kata Erold dengan suara berbisik. “Selama hampir dua puluh lima tahun ini kau sudah membuat kekacauan. Apa kau tak tahu sudah berapa banyak yang mati hanya karena kau?”

“Aku tahu apa yang kuperjuangkan.”

“Kau hanya memperjuangkan apa yang menurutmu penting tapi tidak memikirkan yang lainnya! Bagaimana mungkin kau bisa berpikir kalau kau bisa menjadi seorang Raja?”

Mereka kembali bertarung. Lebih ganas dari sebelumnya. Keduanya tampak kelelahan dan lebih frustasi daripada sebelumnya. Glenn tahu kalau pertandingan akan segera mendekati akhir dan dia tak tahu siapa yang bakal memenangkan pertandingan. Erold-kah? Atau malah Elvius?

“Ah,” Glenn terkejut ketika Elvius menusukan pedangnya ke dada Erold. Pemandangan yang mengingatkan dia pada keadaan dua belas tahun lalu. “Paman…”

Erold mengangkat pedangnya dan menebaskannya pada Elvius. Tebasan itu merobek leher Elvius. Elvius mundur perlahan, memegangi lehernya. Tangannya merah dalam sekejap dan kelengahannya barusan membuat Erold menyerang lagi. Dia mengangkat pedangnya dan menusukan pedangnya pada Elvius.

“Selamat tinggal, Elvius…”

Pedang Elvius jatuh dan dia mundur menabrak dinding lalu kehilangan keseimbangan kemudian jatuh ke lantai, tidak bergerak lagi.

“Ha…” kata Erold. Dia tersenyum puas. “…aku menang…” dan dia jatuh ke belakang.

“Paman,” Glenn berlari menghampirinya dan membantunya untuk duduk, tapi tubuh Erold seperti kehilangan tenaga. “Paman, bertahanlah. Aku akan menghentikan darahnya—” Glenn berhenti bicara saat Erold menggenggam tangannya.

“Yang Mulia… untuk yang terakhir kalinya…” Erold menarik napas. “…aku... aku ingin sekali bertemu dengannya… kumohon…”

Glenn mengangguk. Dia tersenyum menenangkan. “Iya, aku tahu. Aku mengerti.” Glenn menggendong Erold di punggungnya. “Bertahanlah, Paman, aku akan membawamu padanya.”

***

Jeremy memaki. Dia belum juga bertemu dengan Glenn walau sudah mencarinya ke seluruh sudut istana. Pedangnya dan pakaiannya juga berlumuran darah. Sepanjang pencariannya, dia selalu bertemu dengan musuh atau mayat atau genangan darah.

“Bagaimana? Ketemu?” Duan mendatanginya, sama berantakannya dengan dirinya. Jeremy menggeleng. “Kemana perginya anak itu?”

“Ah!” Jeremy menunjuk ke depan ketika Glenn menuruni anak tangga, dengan kecepatan penuh, membawa seseorang, ke tengah pertandingan yang mengganas di luar. Duan sama terkejutnya dan mereka bersamaan melompat dari balkon dan mendarat dengan selamat. Masing-masing dari mereka segera mengangkat pedangnya kembali dan kembali menyerang orang-orang yang menghalangi jalan mereka.

Petarungan seru terjadi di istana Aclopatye, dimana terdapat banyak sekali pintu rahasia disana dan prajurit baru berdatangan, menghalangi tahanan yang kabur. Keempat Pangeran beserta dengan kesatria mereka ada disana, bertarung dengan tangkas, begitu juga dengan Jendral Rodius.

Glenn berhenti, terengah. Dia menatap ke sekelilingnya. Mereka semua bertarung dengan penuh semangat namun tanpa alasan yang jelas. Untuk apa sebenarnya mereka semua bertarung? Untuk Denmian? Untuk Dominic? Bukan. Tapi untuk diri mereka sendiri. Mereka menginginkan perubahan. Sebuah pemerintahan yang baru, yang bisa mendengarkan keluhan mereka. Sebuah pemerintahan yang dapat membantu mereka jika mereka kesulitan. Sebuah pemerintahan yang dapat memberikan mereka perlindungan ketika mereka merasa terancam.

Glenn menarik napas dan berteriak sekerasnya.

“BERHENTI!”

Suara pedang yang beradu sedikit demi sedikit menghilang. Mereka menoleh, melihat Glenn dan terkejut.

“Glenn?”

“Yang Mulia?”

Glenn mengangkat pedangnya.

“Aku Raja Ocepa, memerintahkan kalian berhenti sekarang juga! Elvius sudah mati, jadi berhentilah bertarung memperebutkan hal yang kalian sendiri juga tak tahu untuk apa!”

Para prajurit itu kebingungan. Mereka semua mengerutkan dahi. Banyak yang tak mendengar apa yang terjadi dan selanjutnya yang terdengar adalah suara dengungan yang menyebar.

“DIAM!”

Glenn berteriak kembali. Auranya menguat dan mereka yang ada di lapangan menurut dan memilih diam. Glenn memperhatikan sekelilingnya lagi. Orang yang dicarinya tak ada. Tidak. Itu tidak mungkin. Dimana dia? Dimana dia?

“Uhuk.. uhuk…”

Glenn menyipitkan matanya, darah yang mengalir di pundaknya membuatnya tak nyaman. Dan ketika dia menoleh ke arah lain, dia menemukan orang yang dia cari. Orang itu berdiri di kerumunan prajurit. Tidak bergerak dan kelihatan sama terkejutnya seperti yang lain.

“Glenn ada apa ini? Siapa ini?” Jendral Rodius keluar dari kerumunan dan mendatanginya bersama dengan Raja Joseph.

Glenn tidak mendengarkan. Dia berlari menuju orang yang dicarinya.

“Glenn, dia ingin bertemu denganmu,” kata Glenn.

Pangeran Christian tidak bergerak. Ekspresinya menunjukan kekagetan.

“Apa yang barusan kau…”

Glenn meletakan Erold secara perlahan ke rumput. Kondisinya lebih kritis dari sebelumnya. Pangeran Christian yang tampaknya tak bisa bergerak harus didorong Glenn terlebih dahulu untuk berjongkok disampingnya dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat orang yang dibawa Glenn justru orang yang tak asing lagi baginya.

“Erold…” desah Pangeran Christian.

Erold tersenyum, tampak bahagia. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Pangeran Christian dengan kasih sayang.

“Kau sudah besar… Glenn…” katanya perlahan.

Tanpa diperintah air mata Pangeran Christian jatuh.

“Kau benar-benar mirip Rofulus…” tambah Erold. Dia tersenyum bahagia sampai detik berikutnya, tangannya jatuh dan tidak bergerak lagi.

“Paman?” Glenn menepuk pipi Erold dan menyentuh lehernya. Dia menggigit bibir ketika mengetahui kalau sudah terlambat menyelamatkan Erold. Dia menatap Pangeran Christian yang kelihatan masih terkejut.

“Christian—”

“Berhentilah menyebut nama itu padaku,” Pangeran Christian memotong perkataan Raja Joseph. Dia menatap Glenn lalu tersenyum kecil, “Pangeran Christian sudah melanggar janjinya, tidak ada alasan bagiku lagi untuk memakai nama itu, iya kan, Pangeran Christian?”

Glenn terdiam beberapa detik, lalu dia memeluk Erold, menutupi wajahnya sementara bahunya begetar.

Paman, selamat jalan… Paman, aku menyayangimu…

***

Malam harinya, istana masih saja sibuk. Prajurit dan dayang bahu membahu membersihkan darah di sepanjang istana, mengumpulkan mayat-mayat dan menguburkan mereka dengan terhormat, sesuai dengan perintah Raja. Para bangsawan yang merasa tertimpa hal buruk dimintai maaf secara pribadi dan mereka semua memilih untuk pulang malam itu juga dan tak mau repot-repot diantar kepergiannya.

“Setelah ini akan sulit bagimu untuk memimpin negeri ini, Yang Mulia Christian,” Jendral Rodius mendatangi Pangeran Christian yang berdiri di balkon ruang kerjanya, mengawasi kinerja prajuritnya. Jendral Rodius tersenyum padanya. “Kau harus mencari orang yang berkompeten—sekali lagi—untuk mengisi kekosongan pemerintahan dan kuharap kau tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dua tahun terakhir ini.”

Pangeran Christian tidak berkomentar. Baik Raja Joseph dan ketiga kakaknya sama sekali tidak memberikan reaksi apapun padanya ketika mereka mengetahui kalau dia adalah Christian yang asli. Mereka bahkan seolah-olah tidak merasa mendengar apapun dan bertingkah seperti biasa.

“Kau memikirkan sesuatu?” Jendral Rodius memperhatikan raut wajah Pangeran Christian.

“Aku tidak merasa kalau aku pantas menjadi Raja. Aku mempermainkan keluargaku. Aku mempermainkan prajuritku. Aku bahkan mempermainkan nyawa orang yang tidak bersalah hanya untuk memenuhi impianku sendiri.”

Jendral Rodius berdeham. Tersenyum kecil. Dia harus memilih kata yang tepat untuk memberikan komentar pada Pangeran Christian. “Impianmu itu sangat mulia. Kau ingin menghilangkan perbedaan antara Denimian dan Dominic. Menurutku, baru kali ini ada raja yang bisa melakukannya dan dalam usia yang begitu muda. Harusnya kau bangga dengan apa yang kau perbuat.”

“Tapi menurutku, mempermainkan nyawa orang dan perasaan orang sama sekali tidak benar.”

Jendral Rodius masih tersenyum kemudian dia mengacak rambut Pangeran Christian dan berkata, “Kadang kala, kita harus menutup mata terhadap semua itu untuk sesuatu yang benar di masa depan dan kau berhasil melakukannya. Aku yakin, tak lama lagi mereka akan mengetahui bahwa apa yang kau lakukan tak salah dan mereka akan berterima kasih untuk itu.”

Pangeran Christian tersenyum dan mengangguk dalam diam.

“Sebaiknya Anda beristirahatlah, Yang Mulia. Anda pasti sudah mengalami hal yang buruk selama ini, biarkan keadaan disini kami saja yang urus.”

Pangeran Christian menggeleng. “Aku menunggu kedatangan Ibuku dan dua orang lain yang kusayangi.”

Jendral Rodius mengerutkan dahi. “Maksud Anda?”

“Yang Mulia!” Jeremy menjeblak pintu kerjanya. Dia terkejut melihat ada Jendral Rodius sehingga dia merendahkan suaranya. “Eh, Bunda Anda, maksudku, Ratu Eva, dia ada di aula…”

Pangeran Christian mengangguk. Mereka bertiga segera pergi ke aula dan menemukan banyak sekali adegan mengharukan disana. Raja Joseph dan ketiga Pangeran bertangisan di aula dan bergiliran memeluk Ratu Eva. Glenn ada diantara mereka dan dia ditarik Raja Joseph untuk memeluk Ratu Eva.

“Ah, Yang Mulia,” Ratu Eva memberikan hormat bangsawan padanya. “Terima kasih kau sudah menjaga anak-anakku dengan baik selama ini.”

Willy mendekat diri ke sisi Ratu Eva.

“Ibu, dia Christian,” Pangeran Willy berbisik padanya.

Pangeran Christian memberikan bungkukan rendah dan saat dia menegakan tubuh, Ratu Eva sudah melompat ke pelukannya.

“Putraku… Putraku…”

Pangeran Christian tersenyum dan memeluk Ratu Eva. Sudah bertahun-tahun dia tidak memeluk Ibunya, bahkan mungkin sejak lahir. Ratu Eva melepas pelukannya dan menoleh pada Glenn yang masih berdiri disamping Raja Joseph.

“Glenn, kenapa kau canggung begitu? Bagaimanapun kau ini Pangeran Keempat kan? Santailah sedikit.”

Glenn tersentak. “Ah, eh…”

“Kau punya seorang Kakak Laki-laki lagi, Christian, jadi baik-baiklah padanya.”

Pangeran Christian tertawa kecil. “Aku memang paling bungsu ya kan?”

Ratu Eva memeluk Pangeran Christian sekali lagi.

“Kau sudah mengalami banyak hal.”

“Ah, Stacy?” Louis kaget saat Stacy dan Tabib Lourian masuk ke aula. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Kami jadi Tabib Berjalan,” jawab Tabib Lourian jengkel. “Kalau kalian ingin perang tapi tak punya Tabib lebih baik jangan perang.” Lourian mendelik jengkel pada Aries. “Kalau saja bukan karena anak angkatku yang meminta, aku pasti sudah di Axantos sekarang.”

“Mereka siapa?” tanya Ratu Eva tampak tertarik pada Stacy.

“Oh, yang satu Guru Pengobatanku di Axantos, Tabib Lourian dan yang satu lagi Stacy, Tunangannya Kak Louis.” Jawab Glenn.

Wajah Louis dan Stacy memerah dengan cepat.

“Ap—tunggu. Sejak kapan aku bertunangan dengan Stacy?” kata Louis gelagapan.

Glenn menghela napas. “Stacy, kau mau tunangan dengan Kak Louis tidak?”

Stacy melirik Ratu Eva lalu Pangeran Christian, kemudian mengangguk.

“Nah, dia sudah mau sekarang Kak Louis mau tunangan dengan Stacy tidak?” gantian, Willy yang bicara dan tanpa menjawab mereka sudah pasti tahu jawabannya.

“Tapi Stacy menyukai Glenn—eh, maksudku Christian.” Wajah Louis masih saja bersemu merah.

“Aku menyukai Christian sebagai saudaraku,” jawab Stacy menatap Pangeran Christian. “Dan aku baru menyadari perasaanku ini saat dia menolakku.”

“Sekarang semua sudah jelas kan? Kakak, gadis yang kau sukai ini sudah bilang kalau dia mau tunangan denganmu, masa kau ingin menyia-nyiakannya? Nanti dia berubah pikiran, loh.” Charlie menepuk bahu Louis.

“Ya… ya, sudah. Aku juga mau tunangan dengannya,” kata Louis malu-malu.

Raja Joseph dan yang lainnya tertawa namun tiba-tiba Jendral Rodius mengingat sesuatu. “Oh, iya, kita juga harus segera mencari permaisuri Ocepa.”

Christian mengeluh.”Kita baru selesai berperang. Tidak bisakah kita memikirkan masalah ini setelah keadaan tenang?”

“Tidak, Anakku. Secepatnya kau harus mencarinya. Usiamu memang masih muda tapi lebih baik kau mencarinya dari sekarang, jangan sampai kau tua seperti Louis sehingga baru sekarang mendapatkan gadis yang pantas untuknya.” Raja Joseph melirik Louis yang sedikit tersinggung.

“Ayah, aku masih dua puluh tiga tahun. Dan aku dulu di tempat tidur selama lima tahun jika Ayah lupa.”

Christian makin mengeluh. “Aku lelah. Aku mau tidur.”

“Kau seorang Raja, kedudukanmu akan semakin kuat jika kau memiliki permaisuri disampingmu, apalagi yang mencintaimu.” Raja Joseph tidak mendengarkan keluhan Christian dan anggukan dari yang lainnya membuat Christian semakin jengkel. “Kau mau kemana Duan?”

Duan baru saja masuk dengan pakaian lengkap. Dia menunduk sedikit dan menjawab dengan sopan, “Saya mohon izin untuk kembali ke Axantos, Yang Mulia, tugasku disini sudah selesai, lebih baik aku kembali ke Axantos agar tidak mencemaskan Raja Alexandro.”

Christian mengerutkan dahi.

“Menginaplah disini, kau pulangnya saat matahari terbit saja. Berbahaya sekali kan kalau kau pulang dalam keadaan gelap sendirian.” Kata Alfred. “Apalagi di hutan banyak binatang berbahaya dan keadaan masih kacau.”

“Terima kasih, Alfred, tapi aku sudah biasa menghadapi tantangan.” Duan mengerutkan dahinya ketika Christian memegang tangannya. “Apa?”

Christian menatapnya lekat-lekat kemudian tersenyum kecil.

“Kau kenapa?” kata Duan heran.

“Aku ikut denganmu ke Axantos,” kaat Christian. Duan melotot.

“Apa?” kata Raja Joseph kaget. “Tidak. Tidak boleh. Kau raja negeri ini, Christian. Kalau kau pergi dari sini, siapa yang akan menjaga stabilitas Negara? Kau mau meninggalkan negeri ini saat rakyatmu membutuhkanmu?”

Christian masih saja menatap Duan selama beberapa detik sampai kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Glenn. “Tapi, Raja negeri ini adalah Glenn Haistings Dominic bukan Christian Wulfric Benjamin Estianus—”

“Tunggu sebentar. Aku sudah bisa menduga maksud pembicaraanmu ini,” Glenn memotong Christian dengan cepat. “Tapi tetap saja kaulah yang disahkan—hei, kau mau kemana? Dengarkan dulu orang bicara!”

Christian menarik Duan dengan paksa kembali menaiki anak tangga menuju lantai dua kemudian terdengar suara pintu yang tertutup. Ratu Eva tersenyum kecil ketika Raja Joseph dan yang lainnya tampak jengkel dengan sikap Pangeran Christian.

“Lebih baik kita biarkan Christian istirahat. Dia benar, lebih baik kita membiarkan keadaan tenang dulu lalu membicarakan masalah ini. Christian sudah melalui banyak hal, dia butuh istirahat.”

“Tapi kenapa dia harus menarik Duan mengikutinya?” Alfred mengerutkan dahi.

“Dia akan memaksa Duan tinggal di Ocepa. Pasti begitu,” kata Lourian tidak peduli. “Memang cuma anak angkatku itu saja yang bisa membuat Duan menurut.”

Mereka setuju untuk membiarkan Christian melakukan apa yang dia suka malam ini dan mereka segera beristirahat. Seluruh penghuni istana bangun ketika hari sudah siang dan tampak kelelahan dengan apa yang terjadi kemarin. Namun istana kembali dikejutkan saat Jeremy masuk ke kamar Christian dan menemukan kalau kamar itu kosong. Hanya ada selembar surat yang terletak di atas tempat tidur dengan sebuah mawar putih disana.

Aku pergi ke Axantos bersama Duan.

Aku akan kembali. Secepatnya…

Christian…

Hanya ada tulisan seperti itu.

“Anak itu… apa yang sebenarnya dia pikirkan?” Raja Joseph jengkel sekali ketika membaca isi surat itu. “Negara ini membutuhkannya dan dia kabur?”

“Aku akan ke Axantos dan menemukannya, Yang Mulia,” kata Jeremy.

“Aku rasa tidak perlu,” Ratu Eva menyela mereka.

“Tapi, Eva—”

“Putramu itu akan kembali, Tuanku. Dia tahu apa yang dia lakukan dan kau tahu seberapa besar dia memegang tanggung jawab sebagai Raja negeri ini. Aku tahu seperti apa anakku itu. Dia hanya tidak ingin membiarkan Duan pergi sendirian, biarkan saja dia melakuan keinginannya.”

“Tapi, Eva… negeri ini…”

Ratu Eva tersenyum. Dia memegang lembut tangan Raja Joseph. “Selama sepuluh tahun dia ada diluar sana, menurutmu apakah dia akan langsung menurut saja jika dipaksa untuk duduk diam di istana sepanjang waktu?”

Raja Joseph menghela napas.

“Kalau memang itu yang kau pikirkan, Ratuku… mungkin seperti itulah yang dipikirkannya.”

Aries tampak tak senang. “Aku juga harus segera bersiap untuk pergi dari sini, Yang Mulia.”

“Kau mau kemana, Guru?” Glenn terkejut.

“Tentu saja kembali ke Axantos. Ocepa bukan tempatku. Aku datang ke Ocepa karena Christian, urusanku disini sudah selesai, lebih baik aku segera pergi. Apa kau ikut aku pulang, Lourian?”

Lourian melipat tangan.

“Tentu saja aku harus pulang. Christian dan Duan pasti akan mampir ke rumah. Aku harus memasakan sesuatu pada mereka setelah mereka selesai menemui Raja Alexandro dan mempersiapkan kemungkinan yang lain. Kalian juga harus bersiap-siap, siapa tahu dugaanku benar.”

“Dugaan apa?” Aries mengerutkan dahi. Tidak mengerti.

“Kau memang tidak peka.” Lourian menggerutu. “Christian akan melamar Duan setelah dia meminta izin pada Raja Alexandro agar membiarkan Duan keluar dari Black Knight.”

Willy tersedak dan tangan Charlie yang hendak memakan apel, tiba-tiba berhenti. Louis melotot tak percaya dan kesatria yang lain saling lirik.

“Apa?” Raja Joseph melotot. “Anakku akan melamar anakmu?”

Lourian mengangguk. “Benar, Yang Mulia. Mungkin Anda tidak memerhatikan mereka tapi mereka memakai cincin yang sama persis, disini,” Lourian menunjukan jari manis di tangan kirinya dengan raut wajah yang tidak peduli. “Aku bertanya-tanya sejak kapan hubungan mereka jadi serius begitu.”

“Tapi mereka kan—”

“Kau ini sebenarnya seorang Ibu atau apa sih? Masa kau tidak melarang Duan berhubungan dengan Glenn—maksudku Christian—jika kau sudah tahu hal seperti ini akan terjadi! Masa kau akan membiarkan seorang laki-laki melamar Duan?”

Lourian mengerutkan dahi. “Memangnya kenapa? Masa Duan harus dilamar sama perempuan?”

“Maksudku, mereka berdua itu laki-laki—” Aries berhenti ketika Lourian tertawa terbahak sambil memukul-mukul meja. “Kau, kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu! Aku serius!”

“Sudah kuduga kau salah paham, Aries,” Lourian masih saja tertawa. “Duan itu perempuan. Hanya karena dia berpakaian begitu, kau menganggapnya laki-laki?”

“Ha?”

Aula seketika sunyi.

“Christian itu Tabib, Aries, dia bisa tahu kalau Duan itu perempuan hanya dengan memegang tangannya saja, kau tahu.” Lourian geleng-geleng kepala. “Memangnya aku tak pernah bilang padamu kalau aku melahirkan anak perempuan?”

“Kalau begitu, kenapa dia berpakaian begitu jika dia perempuan?”

Lourian menjawab enteng. “Oh, itu, sebenarnya Duan salah paham mengira aku lebih menyuaki anak laki-laki karena aku lebih memerhatikan Christian daripada dia. Duan jadi kesal dan berdandan seperti itu dan tanpa sadar, dia jadi banyak belajar pedang dan malah jadi Black Knight dan akhirnya Christian bersedia jadi partnernya.”

“Bukannya karena dia khawatir kalau Duan itu bisa terbunuh jika dia dibiarkan bekerja sendiri?” gumam Glenn.

“Mungkin. Tapi, yah…” Lourian mengangkat bahu. “Sifat Christian memang begitu. Mereka berdua memang cocok.” Lourian menatap Raja Joseph dan Ratu Eva yang masih terkejut. “Suatu hari nanti kita akan jadi besan, Yang Mulia. Kuharap kau memerlakukan Putriku dengan baik.”

***

Duan mengambil napas dan menggerakan badannya sedikit. Pagi hari di hutan benar-benar dingin. Christian masih tidur di dekat perapian, kelihatan lelah. Duan memang sudah melarangnya untuk ikut, tapi dia memang keras kepala sehingga Duan tak bisa menolak.

“Aku tak yakin kalau Raja Alexandro akan mengizinkan aku untuk keluar dari Black Knight setelah kau keluar dari Black Knight, Glenn.” Duan memutar-mutar lengannya.

“Apa boleh buat kan? Dia tak boleh terus-terusan membuat kita terperangkap di istana,” jawab Christian tak jelas. Dia membuka matanya secara perlahan, lalu menguap lebar. “Kau masak sesuatu?”

“Kau ingin apa?” Duan memutar-mutar kepalanya.

Christian tidak menjawab. Dia bergerak sedikit dan menyingkirkan selimutnya dan menghangatkan tangannya di dekat perapian. “Dingin sekali.”

“Apa boleh buat, sudah mendekati musim dingin,” Duan meregangkan tubuhnya. “Kenapa kau minta ikut sih? Aku kan sudah bilang kalau aku bisa pergi sendiri.”

“Tapi aku kan sudah lama tidak melihatmu,” gumam Christian tak jelas. “Berbahaya sekali kan bagi gadis sepertimu berkeliaran di hutan. Apalagi kau ceroboh.”

Duan mencibir.

“Nih, kau menjatuhkan lagi tanda Axantosmu,” Christian menunjukan papan nama berwarna perak. Duan mengambilnya dengan cepat. “Kalau aku tak ada, mungkin benda penting itu pasti entah ada dimana.”

“Aku sudah bilang kan, lebih baik biarkan aku bicara sendiri pada Raja Alexandro mengenai pengunduran diriku—”

Christian menggeleng.

“Aku tahu secara jelas sifat Raja Alexandro. Dia tak akan melepasmu. Kalau aku yang memintanya, dia akan mengabulkan.”

“Kau terlalu percaya diri,” gerutu Duan.

“Tentu saja.” Christian tersenyum. “Orang-orang sangat menyayangiku, kau tahu. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku yakin Raja Alexandro tak akan menolak permintaan Raja.”

“Ha,” tukas Duan jengkel.

Christian menerima cangkir berisi kopi yang diberikan Duan dan meminumnya.

“Duan.”

“Hm?”

“Setelah ini, kau akan menikah denganku kan?”

Duan terbatuk, menyemburkan kopi yang baru saja dia minum. “Kau ini ngomong apa? Masih mengantuk?”

Christian tersenyum. Kemudian dia menggenggam tangan Duan dan berkata, “Kau mau menikah denganku kan? Aku ingin bersamamu di Ocepa. Aku ingin hidup denganmu dan aku ingin kau mendampingiku ketika aku memimpin negeriku.”

Semburat merah jambu muncul di wajah Duan. Hutan yang dingin itu justru terasa panas, seakan-akan oksigen habis dalam sekejap sehingga membuat Duan susah mengambil napas.

“Erm… itu… memangnya aku punya alasan menolak?” gumam Duan menoleh kearah lain, tidak berani melihat mata biru safir Christian.

“Lalu?”

“Erm… ya… ya aku mau menikah denganmu…”

Christian tersenyum kecil. Dia mendekatkan wajahnya pada Duan, lalu berkata, “Kau memang mainan yang menarik.”

Duan meminum kopinya, jengkel sendiri. “Jangan menyebutku mainan saat aku menikah denganmu oke?”

“Baiklah, Permaisuriku.”

Wajah Duan kembali merah. “Jangan menyebut permaisuri dengan nada mengejek begitu!”

Christian tertawa, tampak geli dengan sikap salah tingkah Duan.

“Tidak ada yang lucu, Glenn.”

“Panggil aku Christian.”

“Aku lebih suka nama Glenn.”

“Itu bukan namaku, panggil aku Christian.”

“Baiklah, Christian. Christian. Christian.”

Christian kembali tertawa. Dia memeluk Duan dan berbisik. “Aku benar-benar sangat menyayangimu, Duan.”

Tidak akan lama lagi, kita akan mendengar bunyi lonceng gereja dari kejauhan, menyambut pasangan baru dari mempelai kerajaan. Namun saat ini kisah negeri Ocepa berakhir disini. Lembaran-lembaran berikutnya akan menjadi tulisan-tulisan kecil kisah kehidupan para pemain sesuai dengan peran mereka masing-masing. Dan ini adalah kisah kerajaan Ocepa.

TAMAT

Medan, 16 May 2011

11 komentar:

.:cloud:. mengatakan...

aku mw meluruskan beberapa hal d sni

1 jadi glen adlah christian dan christian adalh glen

2 duan itu cwek, jadi christian normalkan?

Oke
ceritany seru abis
smpet bkin prustasi krna critany yg mbulet
tapi endingny bkin jelas smuanya

TOPLAH

aku bru bca 2 novel pengn bca yg lain
te2p nulis y dan te2p bwt pmbca bingung sma alurny ^^

prince.novel mengatakan...

@cloud, ahahahah terimakasih
kok bisa sih sampe bingung? *wink
semangat buat baca yang lain, semoga makin bingung juga
karena aku tipe penulis yang bikin novel ringan ya ringan aja, dan kalo bingung ya bikin makin bingung
yang ribet dibikin makin ribet
kan nggak seru jika biasa2 aja
:D

Nurul Karro mengatakan...

Sebenernya gag rela Logan Lerman gag jadi tokoh utama, .___. #gagpenting
Jadi, Glenn yang ada di gambar tokoh itu yang jadi raja?
Glenn is so perfect, gag rela dia jadi tokoh tanpa cela. hiuw.
Tapi aku menikmati, :)
Makasih.

prince.novel mengatakan...

@Nurul Karro: huuh? Tanpa cela gimana? Aaaah, kamu terbawa alur. Huehehehe. Dari sisi penulis memandang, karena memang penulis yang menulis, dari antara seluruh tokoh di sini: dia justru paling licik dan paling pintar daripada tokoh yang lain. Dia--yang sesungguhnya--paling banyak berdosa, walau bukan yang paling nyebelin. Bahkan di bagian terakhir aja, dia tak peduli dan malah pergi tanda pamit.
=="

Vyed waruwu mengatakan...

woww....ceritanya wlaupun agak bkin pusing tp, sangat menarik.salut dehh!!!
Glennya ganteng bgt...>.< kpan pnya cow keg gthu y??hehee
#mimpikali..-_-"

Anonim mengatakan...

blh ga request epilognya mereka waktu udah punya anak ? please >_<

prince.novel mengatakan...

Vyed waruwu: terimakasih, tapi pusingnya nggak bikin rambut jadi putih kan.
Wuehehehehe

Anonim: Psssst, ada sambungannya--memang--tapi masih dalam otak penulis dan itu bukan Epilog

Seri kerajaan ada banyak versi, kebetulan yang baru selesai diketik cuma versi ini. Dikasih aja kisikannya ya:
1. Ocepa Kingdom: The Prince of Commoner (Cuma ini yang diketik)

2. Ocepa Kingdom: The Princess and The Ex-Black Knight (Masih dalam otak, draft end)

3. Ocepa Kingdom: Denmian and Dominic Princes (Ditulis tangan, story end)

4. Ocepa Kingdom: My Prince (Ditulis tangan, story end) => dari sinilah ide seluruh Ocepa Kingdom berawal.

5. Axantos and Aragra Kingdom: Hel (Ditulis tangan, story end)


Yep, penasaran? wew, tapi penulis sedang tak punya waktu mengetik. Hehe
Maaf ya

Dyah Herwiyanti mengatakan...

kakakaaa upload semua series kingdomnya dongg, yg ditulis tangan juga huhuhu

octavia valerie mengatakan...

saya sudah baca cerita ini sekitar 4/5 kali baik di blog maupun di wattpad dan tetap tidak bosan. alur ceritanya yang membuat saya salut kepada penulis, karena membuat cerita ini begitu rumit sekaligus rapih.
saya masih berandai2 dengan kelanjutan kisah2 ocepa kingdom.
apalagi prince bilang ini:

Seri kerajaan ada banyak versi, kebetulan yang baru selesai diketik cuma versi ini. Dikasih aja kisikannya ya:
1. Ocepa Kingdom: The Prince of Commoner (Cuma ini yang diketik)

2. Ocepa Kingdom: The Princess and The Ex-Black Knight (Masih dalam otak, draft end)

3. Ocepa Kingdom: Denmian and Dominic Princes (Ditulis tangan, story end)

4. Ocepa Kingdom: My Prince (Ditulis tangan, story end) => dari sinilah ide seluruh Ocepa Kingdom berawal.

5. Axantos and Aragra Kingdom: Hel (Ditulis tangan, story end)

hah saya tidak tahu lagi harus berkomentar apa. semoga cerita lain dari ocepa kingdom akan segera dipublikasikan ke blog/ wattpad/ mungkin buku heheh....

octavia valerie mengatakan...

oh ya satu lagi maaf saya terlalu banyak komentar tidak penting xD
pemeran glenn nama aslinya siapa ya? :D jawab ya prince ty

Putri Riska Pracillia mengatakan...

Fix aku bingun sama glenn dan christian yang ini trs sama duan itu cewek apa cowok

Posting Komentar

 
Copyright ::-- Prince Novel --:: 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.